PSYCOPATH CEO

PSYCOPATH CEO
Chapter 26



SEASON 2


(Pertemuan singkat)


* * *


Niko, dan Rendy kini sudah tumbuh menjadi seorang remaja tampan yang terbilang famoust. Banyak cewek-cewek yang sangat mendambakan hati seorang Niko. Ya, begitupun juga dengan Rendy. Usia mereka yang hanya terpaut sepuluh bulan, tak menampakkan bahwa mereka adalah kakak beradik. Apalagi, Niko dan Rendy sangat-sangat jarang bertegur sapa, atau


hanya sekedar berpapasan.




Hari ini, hari dimana Niko memasuki masa-masa SMA-Nya. Berbeda halnya dengan Rendy yang sudah menduduki kelas sebelas.


Untuk karakter Niko dan Rendy, nggak perlu aku kasih tau, ya. Nanti kalian juga bakal tau sendiri.


“Niko, Sayang bangun dong. Ini udah jam berapa coba kamu liat! Hari ini kan kamu pertama masuk sekolah, Niko!” teriak Audy membangunkan putranya itu yang sangat suka bangun kesiangan. Itu adalah salah satu tabiat Niko. Berbeda dengan Rendy yang sangat menghargai waktu.


“Aih, bentar lagi, Ma. Niko masih ngantuk!” decak Niko menatap Audy dengan mata yang setengah tertutup.


“Niko, ini hari pertama kamu masuk sekolah. Kasian kakak kamu udah nuggu tuh!” ucap Audy lagi membujuk Niko yang sangat malas menurutnya.


“Yaudah, biarin aja dia berangkat sendiri,” balas Niko.


“Astaga, Niko. Kamu nggak boleh ngomong kaya gitu, Rendy itu kakak kamu!” omel Audy seraya berkacak pinggang. Niko menatap Audy cengo dan beranjak dari ranjangnya.


“Iya, deh, Ma iya. Udah suruh aja Rendy duluan. Nanti Niko mobil sendiri,” ucap Niko dan mengambil handuknya yang tergantung.


“Kamu yakin mau bawa mobil sendir?” tanya Aidy tak yakin dengan putranya itu.


“Iya, Ma. Niko bawa mobil sendiri aja,” jawab Niko.


“Yaudah tapi kamu buruan, ini udah jam berapa.”


“Iya, Mamaku sayang, iya. Udah Mama keluat gih!” perintah Niko dan mencium sebelah pipi mamanya itu.


“Iya, iya. Dasar kamu!” Audy melangkahkan kakinya keluar dari kamar Niko dan menuruni satu persatu anak tangga yang lumayan tinggi itu. Eit, tunggu dulu. Darren dan Audy juga punya anak cewek loh.


“Ayura!” teriak Audy seraya masih menuruni anak tangga mendekati meja makan yang dimana sudaj ada tiga orang yang tengah dengan lahapnya.


“Apa, sih, Ma? Nggak bisa apa kalo nggak teriak-teriak!” kesal gadis kecil yang masih duduk di bangku kelas dua SD itu, pada Audy.


“Kamu berangkat aja duluan bareng kak Rendy,” ucap Audy dan mendudukkan tubuhnya di samping kursi Darren.


“Niko?” tanya Rendy seraya menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. Ya, memang Rendy sangat menyayangi Niko. Tapi terkadang sikap egois Niko yang membenci Rendy membuat Rendy pasrah akan hubungannya dengan adiknya itu.


“Katanya kalian duluan aja. Dia mau naik mobil sendiri,” jawab Audy menatap Rendy, dan ersenyum sekilas.


“Nggak! Niko belom boleh naik mobil sendiri!” tegas Darren seraya menatap istrinya itu.


“Kenapa, Pa?” Niko yang baru saja turun dari anak tangga itu menyahut ucapan papanya yang tak memperbolehkannya mengendari mobil sendiri.


“Kamu kan belom punya SIM, Niko,” ucap Darren melerai. Benar juga. Tapi apa daya, Niko itu keras kepala dan egois. Tak ada yang dapat membantahnya.


“Niko kamu bisa nggak ngomong yang sopan sama kakak kamu?” tanya Darren berusaha menenangkan emosinya. Mantan psycopath dilawan.


“Kenapa? Apa tau tentang menghargai?” Niko bertanya seolah menentang papanya itu.


“Niko!” bentak Darren seraya berdiri dari kursinya. Matanya kini sudah memerah menatap tajam pada Niko yang tampak biasa-biasa saja. Berbeda halnya dengan Niko, yang tersenyum miring menatap papanya itu, yang kesannya seperti pilih kasih dengan Rendy.


“Pa, udah lah. Biarin aja Niko bawa mobil sendiri. Dia juga udah bisa kan bawa mobil?” ucap Rendy menenangkan Darren yang mungkin tak dapat menyulutkan emosionalnya.


“Udah-udah. Niko, sini kamu makan dulu,” ajak Audy menatap Niko yang jauh berdiri dari meja makan itu.


“Nggak usah! Niko nggak laper!” Niko berlari kecil keluar dari rumahnya itu dan memasuki sebuah mobil yang sudah terparkir rapi di halaman rumah keluarga besar Anderson.


Dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumahnya itu dan mengarah entah kemana. Bukan. Bukan ke sekolah, tapi ENTAH KEMANA. Jalanan yang dilintasinya seperti gang-gang kecil menuju perkampungan yang lumayan dekat dengan kota tempat tinggalnya. Ya, bukan kampung, sih. Cuman … kaya perkampungan. Kompleks kecil lebih tepatnya.


“B*ng*at! Anak pungut aja betingkah!” decak Niko dan tetap fokus pada jalanan yang dilintasinya. Ya, Niko memang sudah tau bahwa Rendy itu bukan anak kandung dari orang tuanya. Tapi tidak dengan Rendy. Dia belum tau akan kebenaran pahit itu. Tapi jangan salah. Tidak ada yang tau bahwa Niko telah mengetahui rahasia itu.


Ketika Niko sedang fokusnya menyetir seraya menghayal, seorang gadis SMA yang entah dari mana datanganya tiba-tiba melintas dari hadapan Niko. Sontak Niko mengerem mobilnya mendadak, tapi gadis itu sudah tertabrak oleh mobil Niko.


“Astaghfirullahalazim!” Dengan panik, Niko menuruni mobilnya dan mendekati gadis SMA itu. Dia sempat melihat bat yang dikenakan siswi itu. Ternyata, dia juga bersekolah di SMA Nusantara, SMA yang dimana Niko juga bersekolah di sana.


Niko terpaku seketika kala melihat wajah polos gadis itu, seakan baru kali ini dia melihat bidadari dunia yang telah membuat hatinya damai seketika.



“Niko. Aku Niko. Maaf ya,” ucapnya dan tersenyum sekilas, lalu membawa berdiri gadis itu.


“Aws ….” Gadis itu meringis kala kakinya terasa sangat sakit untuk dijadikan tumpuan. Dia berpegangan erat pada Niko, walaupun malu.


“Sini, ikut aku,” ajak Niko dan membawa gadis itu memasuki mobilnya.


“Hira!” teriak seseorang dari belakang tubuh mereka. Sang empunya nama itu menoleh ke belakang dan tersenyum singkat.


“Akbil,” bisik Hira karena tenggorokannya sangat kering, hingga suaranya sulit untuk dikeluarkan.



“Dia siapa?” tanya pria yang bernama Akbil itu dan menatap Niko yang tersenyum kecut.


“Oh, ini tadi aku nggak sengaja nabrak dia, jadi aku mau bawa dia pake mobil aku,” balas Niko dengan masih tersenyum kecut.


“Oh, gitu. Yaudah, Ra kamu sama aku aja. Lain kali aja kita ngobrolnya. Ini udah siang, takutnya kita telat,” ucap Akbil dan mengambil alih lengan Zahira dari tangan Niko. Akbil dan Zahira telah berlalu dari hadapannya. Setelah Zahira nengucapkan terima kasih dan sampai jumpa, Niko tampak bahagia mendengar ucapan yang tak seberapa dari mulut Zahira.


“Cih! Pertemuan yang singkat! Menyebalkan!” decak Niko dan memasuki mobilnya, kemudian melaju ke arah SMA Nusantara.


“Gua pastikan, di sana orang yang pertama gua temuin itu lo, Zahira. I love you,” monolognya dan menambah laju mobilnya.


To be continue~


Komen bawel buat Niko🗡️