Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 9



Seperi keinginan Husein mereka sampai di tempat tujuan. Sebuah tanah lapang dengan pohon tinggi menjulang. Mungkin usianya mencapai 120 tahunan. Husein mulai melangkah mendahului gadis itu, kakinya menuntunnya mendekati pohon tua.


"Tulisan di pohon itu kok kayak nama kita Sein?"tanya Nazura bingung.


"Itu memang nama kita mungkin kau melupakannya tapi nanti ada masanya kau akan ingat kembali"ujarnya menengadahkan kepalanya menatap cahaya yang menembus rimbunnya dedaunan.


"Aku juga berharap sama tapi aku sudah mencoba mengingatnya. Apa mungkin kau salah orang bisa jadi orang itu bukan aku"ujarnya.


Husein hanya diam tapi hatinya seakan berkata bahwa orang itu adalah dia, Nazura Faisal Az zahra.


________________


Nazla mulai gelisah hasil risetnya belum kunjung selesai padahal deadline udah di depan mata. Ia tak henti menatap layar itu tapi satu hurufpun belum dapat ia tulis. Hingga ia melihat daftar nama peserta disana tercantum nama sekolah yang sama dengan sekolahnya. Ia menggigit bibir bawahnya lembut dan mulai membukanya.


"Rasyid Ridha Husein?"ujarnya heran pasalnya ia pernah mendengarnya tapi lupa darimana ia mendengarnya.


Penasaran, hingga ia mengetuk jari telunjuknya pada meja belajar kayu di depannya. Hingga panggilan dari sang mama membuat lamunannya buyar.


Mendengar namanya dipanggil dari bawah ia kemudian berlari menuju meja makan. Disana papa dan mama serta Nazura sudah duduk menantinya. Tiada obrolan yang berarti hingga sang papa menanyakan riset milik Nazla.


"Masih nihil pa, Azla bingung mau mulai dari mana"ujarnya manyun.


"Yah, padahal menurut papa ide kamu itu inovatif, sayang kalau berhenti di tengah La"ujar sang papa menyemangati.


Nazla hanya tersenyum sesekali mengangguk saat sang papa memberinya ide baru.


Disisi lain Reza mulai membuka buku catatannya, tapi ia heran dengan tulisan dihalaman belakang bukunya. 'Kunyuk jangan lupa besok lolosin gue ya. Gue ada rencana telat,okay'tulisan itu mampu membuat sebuah senyuman kecil di wajahnya.


"Dasar"ujarnya, melihat kembali cacatan kecil di bukunya.


Keesokan harinya seperti yang tertera dalam catatan mini, si penulis terlambat 15 menit. Reza hanya geleng kepala melihatnya.


"Za... napa lu? lihat apaan sih"tanya hasbi temannya sesama anggota osis.


"Tuh"tunjuknya.


"Naksir lo ya"ujarnya lagi.


Yang ditanya hanya tertawa.


Sepanjang lorong hanya suara pijakan sepatu yang terdengar baik itu Nazla maupun Reza lebih memilih diam.


"Thank's ya adek ipar"ujar Nazla.


"Adek ipar?"tanyanya bingung.


"Iya lo kan sama Nazur.."


"Seuzon mulu"ujarnya nemotong.


"Terus siapa dong?"


"Penasaran? kalo penasaran coba kenali orangnya lebih jauh. Dan oh ya kalo nanti kamu telat lagi aku gak mau jamin. Karena kamu aku sampai malu di ruang osis"ujarnya.


"Emang kenapa di ruang osis?"tanya Nazla bingung.


"Itu...pokoknya aku gak mau lagi. Jadi besok jangan telat lagi" ujarnya meninggalkan Nazla sendiri.


"Dasar kunyuk" ujarnya tersenyum.


Pelajaran pun dimulai guru kimia mulai menerangkan larutan asam basa. Nazla memang suka pelajarannya tapi kelakuan Reza membuatnya bingung. Hingga ia memandang ke sudut kiri kelas, sudah seminggu ini Nazla dan Nazura tak sebangku. Sekarang Nazla lebih sering bergaul dengan Annisa, Radit dan Reza.


Nazla masih terbawa lamunanya hingga sang guru memanggilnya ke depan. Semua murid heran mengapa Nazla dipanggil ke depan.


"Gimana kalau saya terangin ke ibu nanti aja waktu istirahat"


"Ya udah ibu percaya sama kamu, waktu lihat ide kamu aja ibu udah terkesima"ujar sang guru yang hanya dibalas senyum tipis oleh Nazla.


Bel istirahatpun bunyi seperti yang dijanjikan Nazla menuju ruangan guru. Mereka mulai mengobrol ditengah obrolan iapun mengingat nama yang tak sengaja ia temukan di kolom nama peserta.


"Rasyid Rido Husein?"tanya sang guru memperjelas yang dijawab Nazla dengan anggukan.


"Ia sih ibu dengar dari guru sosiologi kalau dia juga punya riset, tapi kalian beda haluan makanya ibu gak kasih tau ke kamu"jelas sang guru.


"Kalau menurut Nazla ya bu, kami bisa tetap tukar ide walau beda riset"ungkapnya.


"Hmm.. ya udah, kalau begitu nanti sepulang sekolah kamu jangan pulang dulu biar ibu kenalin sama anak itu"


"Baik bu, makasih ya bu. Kalau begitu saya permisi"ujarnya meninggalkan ruangan.


Sesampainya di kelas ia melihat ketiga temannya mengobrol santai dengan Nazura. Entah kenapa Nazla begitu membenci Nazura. Melihat gadis itu tertawa membuatnya ingin mengoyak bibir itu secepatnya. Tatapan amarah itu disadari oleh Reza, ia menelusuri kemana tatapan itu tertuju. Dan betapa kagetnya dia Nazla menatap Nazura seperti ingin melahapnya habis.


"Dah balik La?"tanya Reza mengalihkan pandangan mereka menuju Nazla.


"Hmm.."jawabnya.


Saat Reza ingin membuka mulut kembali, Nazla langsung mendahuluinya.


"Nyuk, perpus yuk" ajaknya.


Bukan jawaban yang ia dapat tapi tatapan heran dari si empunya mata yang membuatnya terdiam.


"Kagak mau? Yaudah gua sendiri aja" ujarnya melangkah menuju pintu.


"Susul gih"ujar Rendi.


"Iya kunyuk, jarang tu anak ngajak orang perpus, 'bukan gitu Annisaku aku gak ajak bukan karena gak mau bareng tapi kalo kita pergi nih yang ada bukannya baca malah ngerumpi yang ada' gitu tuh kata kata Neklam"ujar Annisa mencontoh cara bicara temannya itu.


"Wah keren bisa juga lu nis contoh tu neklam"ujar Rendi cekikikan.


"Kunyuk? Neklam?"tanya Nazura heran.


"Julukan mereka dua"jawab Rendi menunjuk Reza dan Nazla yang sudah pergi terlebih dahulu.


"Oh gitu ya"ujar Nazura dengan nada lesuh.


Tanpa mengatakan apapun Reza berjalan menuju perpus. Kedua temannya jadi bingung dan merasa ada sesuatu diantara keduanya. Reza mulai melihat kesana kemari tapi Nazla tidak ada di perpus hingga ia menoleh ke lapangan basket di lantai bawah.


"Katanya perpus malah disini"ujar Reza.


"Za.. nanti kamu ada waktu nggak?" tanyanya.


"Kamu tadi manggil nama aku dan pake kata kamu gak biasanya" tanyanya heran.


"Yaudah kunyuk entar jalan yuk?" ajaknya lagi.


"Kamu kayaknya demam deh"


"Ih serius tau. Nanti aku ada pertemuan pulang sekolah soal riset kimia. Jadi kita jalan habis itu"ujarnya menatap Reza.


"Yaudah tapi gak lama ya"ujarnya.


"Okay" Saut Nazla semangat.


* Entah itu besok, lusa atau kapanpun itu aku hanya ingin kau yang ditetapkan oleh Allah sebagai jodohku yang melengkapi segala kekuranganku. Dan bersamamu membuatku bersyukur akan hidup indah yang kurasakan* Reza Syaid Agil Al Fikri.