Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 8



"Huhfft... sial kenangan itu lagi" teriaknya menggaruk kepalanya frustasi.


Pagi itu sama dengan pagi biasa. Terbangun akibat kenangan buruk, mandi dan langsung berangkat ke sekolah. Seorang wanita paruh baya mulai ngomel tak jelas dari lantai bawah. Suara kerasnya menembus lantai kayu kamar itu. Kejadian yang sudah biasa ia hadapi.


Ia mulai turun menyusuri anak tangga. Suara mengerjit terdengar setiap kali anak tangga itu terpijak. Menyisakan jejak orang yang menginjaknya. Wanita paruh baya itu berbalik mengahadap tangga seakan ia menanti sesuatu hal yang sudah lama ia tunggu.


"Hanya kita berdua?"


"....."


Yang ditanya hanya terdiam tak bisa menjawab atau ia tak tahu jawaban apa yang harus ia berikan. Hanya seulas senyum miliknya lah yang mampu ia berikan. Ia memang suka mengomel hal itu sudah dimaklumi Husein. Lelaki remaja yang sudah ia besarkan dengan kasih.


"Aku berangkat bu"


"Ohh baiklah nak"


Tak ada percakapan hangat di paginya dan itu sudah jadi makanan sehari hari. Aneh mungkin tapi kenyataan memang tak pernah sesuai ekspektasi bukan.


Husein berjalan kaki menuju sekolahnya. Bukan karena ingin sehat tapi tak ada pilihan lain buatnya. Naik ojek? Baginya ongkos ojek sudah bisa membayar sppnya. Sepanjang jalan ia bertegur sapa dengan pria tua bertopi yang bertuliskan "Urban legend". Pria itu salah satu orang yang paling dituakan di kompleks itu. Usianya sekarang menuju 80 tahun.


"Mengapa kakek hidup sendiri? Dari yang saya lihat kakek mempunyai 3 orang anak dan mereka berkecukupan untuk menanggung hidup kakek"


ucap Husein dikala waktu ia berkesempatan mengajajak pria tua itu mengobrol.


"Iya kau benar tapi tak semua orang memikirkan hal yang sama seperti begitu juga mereka"jelasnya menghela nafas panjang.


"Maksud kakek?"bingungnya.


"Duduklah dulu"sambutnya yang langsung membuat lelaki itu duduk.


"Mereka akhirnya mengoper kakek kesana kemari seakan membuat jadwal. Seminggu di tempat anak pertama, seminggu lagi di tempat anak kedua, dan anak ketiga juga begitu. Tapi sudahlah kakek harap kau tak begitu saat dewasa. Kau harus menghormati orang tua yang sudah membesarkanmu walaupun menurutmu mereka orang tua yang buruk." ujarnya seakan mengerti isi kepala bocah remaja itu.


Senyum itu ia lempar dengan penuh bahagia dan dibalas sama. Pria itu sibuk memotong tanaman pagar yang sudah lama tak diurus. Beberapa hari ini pria itu memang tak terlihat.


"Hei nak perhatikan jalanmu" ujarnya berteriak.


Husein hanya mengacungkan jempol dan dan melempar senyum.


Sesampainya di sekolah lapangan sudah sesak matanya sibuk mencari sosok wanita yang sudah lama ia nanti. Hingga matanya tertuju pada sudut pohon yang rindang menutup teriknya matahari.


"Siang cantik dah nemu tuh jawaban" ujarnya mengejukan wanita itu.


"Ya Allah Sein salam napa, terkejut tau nggak"


"Udah deh lebaynya nanti aja gue kesini mau nagih jawaban lo udah jatuh tempo"


"Hmm seminggu lagi ya. Aku belum dapat jawabnya masih binggung terus gak ingat"


"Dasar cewek ada aja alasannya. Besok lo harus ikut gue ke suatu tempat gue bakal kasih klu kedua dan kalo lo belum nemu jawabannya gua bakalan..."


"Iya tau kok tau gak usah usah ancam kali"


Tanpa ada kata kata ia melenggang pergi meniggalkan wanita itu yang sedari tadi sibuk mengingat.


"Kamu harus ingat aku Ra"ucapnya.