Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 11



Rumah sepi, hanya Nazura sendiri. Dilihatnya jam dinding membuat perasaannya campur aduk. Pasalnya Nazla belum juga pulang padahal ini sudah jam 8 malam. Sebenarnya ia berpikir untuk menelpon Nazla tapi takut jawaban Nazla tak sesuai harapan.


15 menit kemudian dari lantai atas Nazura melihat Nazla pulang jalan kaki sendiri.


"Bukannya bareng Reza ya tadi, kok malah balik sendiri" batinnya.


Nazla hanya melihat Nazura sekilah dan berencana pergi ke kamar. Dia malas harus mendengar ceramah Nazura.


"Nazla kamu gak papakan, kok pulangnya telat terus sendiri lagi. Aku khawatir tahu sama kamu" ujarnya membuka pembicaran dan benar jawaban yang ia dapatkan tak sesuai harapan.


"Gak usah sok peduli, gua gak suka"ujarnya meletakkan ranselnya di sofa.


Nazla bisa mendengar tarikan nafas Nazura. Sepertinya dia kecewa, Nazla juga sakit harus bersikap begini. Karena ia juga menyayangi Nazura.


"Ya udah kalau gitu kamu istirahat aja" ujarnya pergi menuju kamar.


Di kamar Nazura mulai membuka buku diary pink miliknya. Buku diary pemberian Husein.


"Aku jadi penasaran apa yang terjadi sampai aku melupakan sosok lelaki yang satu ini. Entah apapun itu kuharap bisa mengingatmu lagi. Atau jangan jangan foto anak laki laki ini kamu" ujarnya memandang figura itu lekat.


Sedangkan Nazla sibuk membuka buku kimia. Kepalanya ia sandarkan pada kursi, matanya mulai memandangi langit langit kamar. Lampu LED itu ia matikan, seketika dari langit langit muncul bintang beraneka warna.


"Huftt.. Reza itu seperti bintang terasa dekat tapi tak tergapai" ujarnya mengangkat tangan seperti berusaha meraih bintang.


Hingga ketukan pintu menyadarkannya.


Ternyata Nazura mendatanginya. Tanpa dipersilahkan siempu kamar Nazura langsung duduk bersila di kasur. Membuat Nazla tersenyum geli pasalnya ketika dia datang ke kamar Nazura dia langsung nyelonong masuk.


"Kangen deh La, kayak dulu lagi. Kamu curhat..." ujar Nazura yang dipotong Nazla.


"Dan kamu bakalan dengerin semua keluh kesahku, apalagi waktu kamu belum sekolah dan harus belajar di rumah" ujar Nazla berbaring di kasur dan menyandarkan kepalanya pada paha Nazura.


"Hmm.. semua berkat kamu aku jadi ngerasain gimana rasanya sekolah dan punya teman. Tapi aku heran kenapa kakakku yang cantik ini tiba tiba berubah. Apa adik kecilmu ini berbuat salah kak?" Ucapnya mengusap rambut Nazla.


"Hmm..kakak juga gak tau dek mungkin pengaruh hormon"ujarnya menggenggam tangan Nazura.


"Masa iya aku bilang ke kamu Ra kalau aku bukan kembar kamu. Kalau kenyataan aku cuman numpang tinggal disini" batinnya sedih, membuat air mata itu keluar.


Nazura yang menyadari kalau kembarannya menangis membuatnya sedih.


"Aku juga kangen kamu Ra, kangen banget malahan" ujarnya memeluk Nazura erat.


Akhirnya mereka sepakat tidur bareng di kamar Nazla.


Pagi harinya seperti janjinya Reza datang 06.30. Tapi bukan Nazla namanya kalau gak telat walau hanya 5 menit aja. Dia senyum sendiri melihat Reza menunggu sambil memandang jam tangannya. Bahkan Reza menelponnya dan itu semakin membuatnya senang mengerjai pria itu.


"La" ujar Nazura sambil menaikkan sebelah alis.


"Iya aku turun nih" ujarnya sambil senyum puas.


Nazla keluar rumah sambil memakai haedphone dengan lagu surrender yang didengarnya.


"Lama ya Za" ujar Nazla senyum sambil memainkan matanya.


Tapi si pria hanya menatapnya tajam. Membuat Nazla sedikit tak enak.


"Ya udah cepet naik"


Sebelum mereka pergi Nazura keluar dan sebuah motor masuk dari gerbang.


"Rasyid?" Ujar Nazla.


Reza hanya memandang sekilas tampak pria itu sedikit gusar pada Rasyid. Rasyid yang melihat Nazla hanya mengangguk dan senyum. Sebelum sempat ia menyapa Reza melajukan motornya.


Di jalan Reza sedikit mengebut bukan karena masih emosi tapi mereka hampir terlambat. Kebiasaan Nazla yang tak dapat ia ubah. Al hasil Nazla, Reza, Nazura dan Rasyid terlambat. Reza hanya bisa tertunduk malu. Masa iya yang tukang catat orang terlambat malah dihukum terlambat.


Hasbi tidak bisa menahan tawanya. Membuat Reza semakin malu dan hanya bisa menunduk.


Cuma satu hal yang bisa dipegang dari seorang pria yaitu omongannya- Nazla Faizal az-zahra.