
Reza membuka hpnya sesampainya di rumah. Dia melihat chat yang dikirimnya hanya dibaca.
"Huftt.. dibaca doang"
Reza melangkah keluar kamar setelah mendengar namanya dipanggil. Ia menatap sekeliling dapur, wanita yang paling dicintainya masih sibuk berkutat dengan masakannya. Ibu Reza bekerja di sebuah TK di komplek rumahnya. Ibunya akan pulang jam 10 dan berangkat lagi ketika sudah ba'da ashar untuk mengajar mengaji.
"Reza, hafalanmu bagaimana?" Tanya sang ibu.
"Alhamdulillah, udah nambah kok bu. Oh ya kita murajaahnya kapan? Reza takut hafalan yang kemaren jadi ngilang"ucapnya sembari menyendok nasi ke piringnya.
"Insyaallah, nanti ba'da maghrib kita uji hafalanmu. Sekarang ibu harus pergi ada yang meninggal di gang sebelah"
"Innalillahi wainna ilahi rojiun"ucapnya sesaat mendengar kabar.
Lani larisa sosok ibu penyabar yang dikirim tuhan untuk Reza. Baginya hidup sudah berakhir ketika talak itu diberikan, namun sosok Rezalah yang menguatkan dan meneguhkan langkahnya. Yang membuatnya selalu berkata kalau dibisa kalau dia itu wanita yang kuat. Sudah 10 tahun perceraian itu namun nama Ahmadlah yang masih terngiang. Apa karena mereka memiliki Reza? Apa karena lelaki remaja itu mewarisi wajah sang ayah? Lani juga tak tahu.
Reza memang hanya tinggal berdua dengan sang ibu. Tapi Lani selalu berupaya menyediakan kebutuhannya yang terbaik untuk anak semata wayangnya itu. Bukan hanya kebutuhan fisik tapi juga pengetahuan tentang hari akhir, pengetahuan agama. Karena itu sejak masih belia Lani selalu mendukung Reza untuk menghafal Al qur'an.
"Reza harus semangat mempelajari al qur'an biar nanti kalau sudah besar biar tahu mana yang hak dan mana yang bathil" jelasnya disuatu ketika.
"Tapi bu, kitakan punya dua pegangan dalam menetapkan hukum yaitu Al qur'an dan hadist, kenapa Reza cuma belajar al qur'an kenapa hadist enggak?" Ucapnya membuat sang ibu tersenyum.
"Reza mau belajar semuanya?"
"Eung, Reza mau pintar agama biar bisa bawa ibu ke surga dan hadiahin mahkota paling indah. Tapi... hafalan Reza masih sedikit, gimana dong?" Ucapnya lagi dengan nada menggemaskan.
"Sekarangkan Reza masih 6 tahun nanti mudah mudahan kalau sudah besar hafalannya nambah lagi" ujarnya mencubit hidung pria kecilnya.
Ingatan itu mengukir senyuman indah diwajah Lani. Ditatapnya Reza yang sedang makan. Ada rasa bangga dalam dirinya seorang malaikat kecil yang soleh telah lahir dari rahimnya yang hanya seorang wanita biasa.
"Kamu sekarang udah besar Za, jadi ingat kamu waktu kecil maunya jangan cuma belajar alqur'an tapi hadist juga" ujar sang ibu mengingatkan momen.
"Ya Reza ingat, sampai Reza telpon kakek di kampung biar dimasukin pesantren. Tapi ibu cuma sendiri jadi ..." ucapnya sedih.
"Oh ya kamu udah bayar hutang sama nak Nazurakan?" Tanya sang ibu mengalihkan perhatian.
"Alhamdulillah bu, tadi udah Reza bayarin"
"Ya udah kamu lanjut makannya ibu pergi dulu. Assalamualaikum" ucapnya berjalan menuju ambang pintu.
"Walaikumsalam warahmatullah" ujar Reza menghela nafas.
Ia memandang pintu hingga punggung itu berlalu meninggalkan rumah. Momen yang diingatkan sang ibu mengantarnya menuju ingatan kelam bersama Ahmad, ayahnya.
Malam berganti pagi, cahaya mentari masuk melalu celah jendela. Nazla masih terlelap dalam selimut besar nan tebal. Ting..tring..tringg... telepon itu berdering. Ia melihat sekilas nama Reza yang tercantum.
"Oh kunyuk...hah kunyuk nelpon? Tunggu kok dia nelpon bukannya libur. Atau dia oh astaga aku harus gimana dong ini? Apa aku angkat aja? ah enggak ah ntar dia gr. Tapi kalo dia marah gimana dong?"
Tanpa sadar ia menekan tombol hijau itu.
"Assalamualaikum La"
"Wa..alai..kumsalam, kenapa nelpon gua? Ini tuh weekend tau nggak. Jadi gua tutup aja yak?"
"Lu bisa turun sekarang gua udah di ruang tamu nih"
"Gak usah teriak napa?"
Nazla menuruni tangga dengan pakaian tidur. Rambutnya disanggul dan tangannya berlipat di dada. Ia menatap Nazura dan Reza bergantian.
"Hmm.. baru bangun ya putri tidur?"ejek Reza membuat Nazura tersenyum.
"Gak lucu. Mau ngapain kesini masih pagi tau nggak" ujarnya jutek sambil mengambil segelas susu di meja.
"Oh jam sebelas itu masih pagi ya mbak, baru tau saya"ujarnya lagi.
Nazla hanya bisa buang muka karena terlalu malu. Tiba tiba dari ambang pintu muncul Annisa dan Rendi bahkan Mei juga ikut. Mereka melihat Nazla dengan pakaian tidur miliknya. Telponnya kembali berdering sebuah nomor tak dikenal menghubunginya.
"Halo"
"Halo, anybody home?"ucapnya membuat Rendi tersenyum geli.
"Salah sambung ya"ucapnya memutus panggilan.
"Ya hp gua lowbat lagi"ujarnya membolak balik hpnya.
Rendi menatap Nazla dari ujung rambut sampai ujung kaki. Membuat Nazla menaikkan alisnya.
"Apa lo lihat lihat? Baru tau ya gua cantik. Emang cantik kali bawaan orok" pujinya pada diri sendiri.
"Lo belum mandi ya, pantes masih burik" ucap Rendi membuat Reza menatap Nazla.
Nazla hanya bisa menahan malu. Ia menggigit bibirnya dan berlari menaiki tangga. Lebih dari 30 menit Nazla belum datang juga membuat mereka membahas diskusi tanpanya.
Saat diskusi berjalan Nazla turun dengan setelan hoodie dan celana jeans. Pakaian yang selalu jadi andalannya. Nazla duduk di samping Rendi dengan posisi kaki sila. Nazla memegang tengkuknya dan menatap layar laptop lagi.
"La, kenapa coba gaya duduk lo harus gitu belum lagi rambut lo selalu aja disanggul. Lo itu cewek jadi betingkah juga kayak cewe dong" ucap Rendi risih melihatnya.
"Lo belum lihat gua jadi cewek aja Ren, kalo udah lihat mah gua yakin lo klepek klepek" seloronya sambil memukul lengan Rendi.
Reza, Mei dan Annisa hanya diam melihat mereka berdua bertengkar. Annisa melihat ada perubahan pada sikap Nazla. Ia mulai merasa kalau apa yang dia katakan pada Nazla kemarin membuatnya berubah jadi aneh.
Annisa menarik tangan Nazla dan membawanya keluar. Di luar Annisa hanya memandang Nazla yang sedari tadi menunduk.
"Gua bukan Reza, kenapa lo harus nunduk gitu" ujar Annisa membuat Nazla menatapnya sekilas.
"Lo aneh La, kenapa coba lo ngejauh dari Reza. Katanya gak suka, katanya gak pantes gak satu server. Terus kenapa aneh gini sih" ucapnya.
"Kalo misalnya gua bilang kalo gua suka Reza, kalo gua pantes buat dia dan kalo gua itu satu server, apa lo bakalan percaya. Gua juga gak mau gini, gua mau jujur. Tapi masa iya gua nembak cowok. Walaupun gua terkesan tomboy, slenge'an tapi gua kan cewek dan kodrat gua itu menerima dan memilih iya atau tidak bukannya mendatangi dan mengutarakan. Rezanya pasif gitu masa gua yang harus aktif" ujarnya panjang lebar.
"Apa salahnya namanya juga emansipasi" jelas annisa lagi.
"Emansipasi pala lo peang, ogah gua. Gimana kalo dia tu udah gua tembak ternyata nolak mau taro dimana muka gua hah?" Ujarnya sembari melipat tangannya di dada.
"Ya tetap disitulah masa iya dimuka gua. Lagi ya itu namanya resiko dalam cinta kalo gak ditembak ya digantung"ujar Annisa membuat Nazla mati kutu.
Jangan membuatmu menunggu karena aku bukan tipekal orang yang penyabar. Dan jangan pula membuatku melupan kodratku sebagai wanita posisiku hanya menerima dan yang mengutarakan isi hatinya itu kamu. Iya kamu, Reza. ~ Nazla Faisal Az zahra.