
"Ra, kamu...kamu suka...hmmm kamu suka Reza kan?" tanya gadis bersanggul.
"Kok nanyanya gitu La, masa iya. Nggak kok" jawabnya mengalihkan pandangan.
"Hmm kayaknya entar lagi hujan deh La, aku ambil jemuran dulu ya"
"Mau dibantuin nggak?" Teriak Nazla.
"Nggak usah, dan gede juga"
Matanya gembira, senyumpun masih terpancar. Gadis sendu berhijab hanya bisa pasrah, cinta dalam diam sudah jadi pilihannya sejak awal. Kenapa harus sedih? Toh ini juga pilihanku. Kata yang selalu ia ucap untuk menyemangati.
Mereka hanya berdua di rumah, Nazura lebih memilih mengurung diri di kamar. Matanya hanya melihat ke luar, angin malam menyibak jilbabnya, memperlihatkan rambut lurus tergerai. Aurat yang selama ini dijaganya tak pernah dipertontonkan di depan yang bukan muhrimnya terbuka lebar. Hatinya terasa sakit, wajar beberapa hal yang menyakitkan baru saja terjadi. Antara cinta dan saudara pilihan apa yang kan kau buat? Jalan terjal seperti apa yang harus dilalui? Apakah keistiqomahan yang dijaga selama ini akan membawa yang indah?
Tak ada yang rugi pada wanita yang menjaga dirinya dari hal yang tidak disukai Allah. Bukan berarti menjomblo sejak lahir menandakan dirimu bukan manusia sosialis, atau tak ikut zaman. Modernisasi bukan berarti kita meninggalkan norma dan ajaran agama. Sudah jelas dalam firman Allah berikut ini:
"Dan dihalalkan mengawini wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya tidak dengan maksud berzina”. (QS Al Maidah : 5).
Tak perlu takut Allah pasti menyimpan pasangan terbaik untukmu kelak.
Matahari sudah meninggi sorot panasnya membuat ubun-ubun terasa terbakar. Hari ini kelas 12 IPA 1 sedang melaksanakan olahraga. Terik matahari makin menyiksa tak sedikit dari mereka memilih di kelas ketimbang mengikuti kelas olahraga. Seluruh anak perempuan berada di kelas sambil melihat ke bawah. Pertandingan basket antara teman lelaki di kelasnya sedang berlangsung.
"Kasihan anak orang, ehh lihat tuh si embul dah kepanasan. Sampe merah gitu mukanya" tunjuk Annisa ke bawah.
Nazla hanya diam tak menggubris sahabatnya pikirannya melayang entah kemana.
"La, lo dah ngomong ke Reza?"
"Jangankan ngomong natap dia aja gua takut wak, jujur ini kali pertama nyali gua ciut depan cowok. Kenapa coba nih mulut nggak hati-hati kalo ngomong?" tanyanya sambil memukul mulutnya. Hingga mata mereka bertemu Reza memasuki ruangan diiringi oleh teman mereka lainnya.
"Kayaknya perut gua sakit deh Sa, gua toilet dulu ya" ujar Nazla.
"Lo sakit perut lihat muka tu anak" ucap Annisa sambil menunjuk pria berlesung pipi yang mengobrol dengan beberapa laki-laki lain.
"Ga ditunjuk juga kali markonah, sengaja banget dah buat gua malu" ucap Nazla.
Nazla mulai berlari meninggalkan kelas.
" Mau ke mana, Neng?" teriak Anton yang duduk di belakang.
"Bentar lagi matematika, mau cari mati lu ya?" tanyanya lagi.
"Cari cogan, berisik amat si lu bambang" teriaknya dan kali ini gadis itu menghilang melewati pintu.
Dia bolak-balik menatap jam tangan yang diletakkannya di saku. Matanya sudah tampak bosan padahal baru 20 menit ia menetap di ruangan itu. Dia kembali mencoba memejamkan matanya, tapi matanya enggan tertidur.
"Tubuh izinkan aku tidur, kepala dan hatiku sudah lelah memikirkan masalah hari ini. Apa kau tak bisa membiarkanku sehari ini saja? Tolong selamatkan aku" celotehnya pada dirinya sendiri.
Dia menghela nafas panjang, hingga langkah kaki menyadarkan lamunannya.
"Gimana kondisi kamu La?"
"Udah baikan kok bu" ucap Nazla bangun dari tidurnya.
"Sakit perutmu memang biasa terjadi saat haid. Kamu sudah minum air hangat dan obat pereda nyerikan? InsyaAllah sakitnya tidak akan datang lagi" ucap sang guru.
"Kewajiban ibu La, tapi ibu ada urusan mendadak jadi ibu tinggal ya. Kamu juga kalau sudah baikan kembali ke kelas nanti ketinggalan materi lagi" titah guru.
"Baik bu"
Walau berat hati Nazla keluar ruangan UKS dan berjalan menuju kelas. Dia mengintip dari lorong, ternyata kelas mereka sedang jam kosong. Pertanyaan aneh mulai mengusiknya. Ia mulai meremas tangannya dan berjalan ke kelas. Saat menarik gagang pintu ruangan yang tadinya ribut hening.
"Kok diam? Emang gua setan?" tanya Nazla.
"Kirain guru, ternyata ayang gua dah balik. Dah dapat cogan beb?" teriak Anton usil, membuat teman sekelasnya memandang Nazla.
"Berisik lu"ucap Nazla sambil berjalan ke kursinya.
"Jan ngambek beb, ntar dibeliin coklat mau?"celoteh Anton lagi.
"Berisik amat sih lo, udah mingkem kerjain yang di papan tulis entar gua kumpul lo gak siap awas aja lu gua tampol habis-habisan"ucap Mei yang duduk di depan Anton.
"Iya, jan ngegas gitu Mei gua takut" ucap Anton yang berusaha meledekinya.
"Ngebacot aja terus" ujar Annisa yang sedang menanyai Nazla.
Rendi sibuk menatap Nazla dari ke jauhan, ia hanya bisa menghela nafas berat. Jalannya sudah menanjak, mungkin hal ini yang akan jadi pilihan terbaik. Dari pada memaksakan sesuatu yang belum tentu akan membalas perasaan lebih.
Sedangkan Nazla mengambil sebuah obat di dalam saku roknya. Pereda nyeri, obat yang jadi alasannya untuk menghindari Reza. Tapi kini pria itu berdiri di depan meja. Reza langsung menarik tangannya keluar, membuat seisi kelas ricuh.
"Eh tu bocah dua pacaran?"tanya Anton mendekati Annisa dan Mei yang sedang mengobrol.
"Kepo amat lu, emang kenapa kalo mereka pacaran lo cemburu?" tanya Mei.
"Ya enggak aneh aja, selera mereka dua tu aneh. Satu cowoknya dingin amat kayak es batu, yang cewek malah tomboy dan nggak punya perasaan. Kalian nggak aneh gitu lihat hubungan mereka?" tanyanya heran.
"Enggak" jawab Annisa dan Mei serentak.
"Lagian lo nggak kenal Reza sama Nazla, sifat mereka nggak gitu amat. Jadi kagak usah ngadi-ngadi lu" ucap Annisa yang beranjak dari kursinya.
Waktu istirahat sudah tiba, seisi kelas berhamburan keluar, ada yang menuju kantin, perpustakan dan nongkrong di bawah pohon. Musim pancaroba membuat cuaca tak menentu yang tadinya cerah kini berawan seperti mau hujan.
Nazla dan Reza masih hening. Mereka duduk di kursi taman. Banyak yang mulai menggosipi mereka di belakang, membuat Nazla risih.
"Za, mau ngomong apa? Semua lihatin kita dari tadi" ujar Nazla sambil menatap sepatunya.
"Bukannya kamu yang mau ngomong, kayaknya yang kemaren perlu dikasih penjelasan" ucap Reza menatap gadis itu sesaat.
"Yang itu, kemaren maksudnya becanda. Belum juga jelesin apa-apa kalian dah pada muncul kayak setan. Lagian masa iya aku balikan sama orang yang jelas-jelas..." ucapan Nazla terpotong.
"Kalau gitu kita jadian, jangan hubungin laki-laki itu lagi" ucap Reza meninggalkan Nazla.
"Hah??? Kenapa tadi???" Nazla yang masih kebingungan.
"Udah buru, dah lapar nih"teriak Reza dari ke jauhan.
"Dia nembak gua atau lagi becandaan doang. Aneh amat tu anak, masa iya? Diakan orang pasif kok berani duluan? Kok gua jadi bingung ya? baru kali ini ditembak tapi berasa becandaan" gerutunya dalam hati.
"Aku baru saja mengambil langkah yang besar. Kuharap kau mengerti terlalu lama menunggu membuatku frustasi, terlalu banyak orang yang menyukaimu. Dan terlalu sedikit harapan agar aku mendapatkanmu. Kalau kali ini gagal mungkin aku akan mundur dan jauh darimu"~ Reza.