Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 1



Malam ini tak sesejuk malam biasanya. Lantunan kalamullah mengalir dari mulut wanita paruh baya itu. Ba'da magrib ia mulai berkutat mengerjakan perintah Allah. Tak lupa ia mengajak putra semata wayangnya yang masih berumur 7 tahun tuk mengenal sang pencipta.


"Reza selalu ingat pesan ibu ya nak seberapa sibuknya urusanmu selesaikan dulu kewajibanmu"


"Shalatkan bu? ibu selalu bilang shalat itu merupakan cara berkomunikasi sama Allah."ujarnya.


"Iya dan jangan lupa berdoa, doakan ibu sama ayah sehat selalu dan mudah rezekinya untuk sekolah Reza"


"ehhhmm"dehemnya sambil mengangguk.


Saat sibuk mengajarkan putranya membaca Al Qur'an suara benda beradu di dinding membuat mereka sontak berhenti. Langkah wanita itu ia tujukan ke ruang dapur. Sosok pria jangkung tengah berdiri dengan botol di tangan kanannya. Tatapan tajam sang pria sontak membuatnya bergidik ketakutan.


"Sial kau memang pembawa sial"


Pria itu mulai meracau tak jelas.


Langkah sempoyongnya tertuju pada wanita bermukenah putih itu. Helaan nafas takut berderu. Ia mencengkram wajah putih itu dengan kasar. Lina hanya meringis kecil. Takut sang putra terusik dan menyusul ke dapur. Tamparan dan pukulan bahkan caci maki sudah biasa ia dapatkan.


Bocah kecil itu menatap nanar sosok wanita yang dicintai tersungkur dilantai. Beling kaca berserakan di lantai porselen putih dapur. Sosok pria itu menatapnya kosong. Darah mengalir pada sudut bibir sang ibu. Reza mulai mendekat saat ayahnya pergi karena kantuk dan mabuknya yang teramat berat.


Kejadian ini sudah berlangsung sejak Reza berumur 4 tahun. Setelah dia di PHK dari kantornya membuat Ahmad frustasi. Ia sering pulang dalam keadaan mabuk setelah kalah berjudi. Uang judinya ia dapatkan dari merampas secara paksa uang hasil jerih payah Lina.


"Kamu anak yang baik"


kalimat itu selalu disebutkan sang ibu. Bagai doa agar sang anak tak mewarisi sifat tercela si ayah.


Bukankah anak cerminan dari orangtuanya. Jika orangtua itu pada saat mudanya susah diatur. Maka keturunannya akan berperilaku 2 kali lipat dari dirinya. Makanya sebagai orang tua alangkah baiknya memperbaiki diri selagi muda. Karena karma tak dapat ditawar.


"Jangan takut nak, tidurlah. Bukankah hari ini sudah teramat melelahkan. Semua akan berubah bersama datangnya mentari esok"


Kata penyemangat yang selalu ia berikan untuk sang anak.


Hari terus berganti. Sudah banyak mentari terbit yang ditunggu Reza. Kata sang ibu selalu terngiang. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Jangankan berubah, tuk melembutpun rasanya tak mungkin.


Hutang Ahmad sudah menggunung. Lani mulai sibuk berhutang kesana kemari hanya untuk memenuhi makan di rumah. Ahmad hanya pulang sekali dalam 2 hari. Menagih uang yang tak sepantasnya ia miliki.


Hari ini kejenuhan Lani sudah memuncak. Jika ia tak membawa pinjaman ke rumah maka tamparan, tendangan bahkan makian akan ia dapat. Dia masih terima kalau itu masih tertuju hanya padanya tapi belakangan ini Reza sudah mulai menjadi daging empuk sasaran sang suami.


Dan entah mengapa hari ini pria itu hanya diam seribu bahasa. Setan apa kali ini yang merasukinya. Ia hanya menghela nafas kasar dan menatap wajah sang istri nanar. Air matanya mulai mengalir dari sudut mata yang penuh dengan lingkaran hitam.


"Kau benar sudahlah. Aku terlalu jahat kalau masih mengekangmu untuk mengenyam bahtera yang sudah rapuh ini. Rezapun ku korbankan. Maafpun mungkin tak cukup tapi ini .....


Lani larisa binti sholeman aku menjatuhimu talak. Setelah talak kedua tinggalkanlah rumah ini. Dan untuk Reza yakinlah ia tak akan memiliki sifat sepertiku. Karena dia memiliki ibu yang begitu Sholehah"


Sejurus kemudian Ahmad menarik wanita itu dalam dekapannya. Hangat. Sudah terlalu lama kekejam itu ia rasakan dan kini pelukan itu tak berarti apa apa lagi. Mungkin Allah benci pada perceraian ini tapi inilah yang terbaik. Demi Reza, Ahmad dan Lani.


Ini adalah jalan yang terbaik. Lani selalu meyakini itu dalam hatinya. Talak kedua sudah ia dapatkan 2 hari yang lalu. Sebulan belakangan ini Ahmad nyaris tak pernah ke rumah. Rentenir yang biasanya datang untuk menagih hutang pun lenyap dalam semalam. Janji Ahmad ia tepati. Pria itu tak ingin mengekang, kalau tahu dirinya selama ini salah pada Lani dan Reza mengapa ia tega? Bukankah pria itu yang dengan tangguhnya datang menghadap ayah Lani dan meminangnya untuk menjadi satu-satunya wanita yang akan mengisi hidupnya hingga maut memisahkan keduanya. Tapi kini jalan perceraian adalah perpisahan terbaik. Terbaik untuk sejauh ini.


Reza kecil melangkahkan kakinya keluar rumah. Sesekali bocah itu tersenyum saat siluet kehangatan sang ayah tertangkap oleh ingatannya. Ahmad itu ayah yang baik, Reza ingin menyimpan hal itu. Tapi mengingat bagaimana ayahnya memperlakukan sang ibu dengan kejamnya membuatnya berubah pikiran. Bukan hanya sekali, ayahnya sudah terlalu sering melukai wanita yang sudah bertaruh nyawa melahirkannya ke bumi.


Disisi lain Ahmad memperhatikan kedua orang yang ia cintai melangkah menjauh dari pekarangan rumah. Pria itu tak berani mendekat. Rasanya sudah terlalu banyak sakit yang sudah ia torehkan. Janji yang dulu sempat ia ucapkan sebelum sah mempersunting Lani pun tak dapat ia wujudkan. Pria itu sudah ingkar terhadap banyak hal. Mulai dari menjaga dan menyanyangi Lani, menjadi figur ayah yang baik untuk Reza, dan menjasi pria baik seperti yang ia janjikan pada sang ibu.


Ahmad masih sibuk memperhatikan keluarga dari jauh. Hingga dari jauh dua anak kembar tengah mencoba menyebrang jalanan yang tengah padatnya. Ahmad sempat berpikir di mana agaknya orang tua dari kedua anak perempuan itu. Namun naas lima belas menit kemudian sebuah truk dengan kecepatan tinggi melaju dan mendekat. Pria itu berlari sekuat tenaga. Tapi ia hanya mampu menangkap salah satu dari keduanya. Satu tubuh lagi terlempar sejauh lima meter dari tempat kejadian. Ahmad melihat darah terus mengalir dari kepala bocah itu.


Ahmad langsung membawa mereka berdua menuju rumah sakit terdekat dibantu oleh seorang anak SMA yang melihat kejadian itu. Supir truk di bawa ke kantor polisi karena kecelakaan ini disebabkan dia mengkonsumsi alkohol sebelum berkendaraan.


"Nala, om Nala nggak papa kan ya? Ini gimana dong?" Gadis kecil itu menangis sesenggukan.


"Kita tunggu orang tua kalian ya, om bakalan disini sampai orang tua kamu datang. Kamu yang tenang ya. Om yakin saudari kamu pasti baik-baik aja." Tukasnya menenangkan anak itu.


Ahmad menghadapi banyak kenyataan pahit hari ini mulai dari keluarganya hancur oleh ulahnya. Dan dia harus melihat bagaimana seorang gadis kecil mencoba bertahan untuk hidup. Padahal selama ini dia selalu mencomooh hidupnya yang menyedihkan. Dan dia terlalu banyak meratapi pahitnya hidup daripada melihat dan menyadari ada banyak bahagia yang ia renggut hanya karena kata seandainya. Seandainya ia tidak membantu temannya yang bajingan waktu itu mungkin saja, mungkin saja hari ini dia akan masih bekerja di kantor dan pasti rumah tangganya akan nyaman dan indah. Ia yakin itu akan pasti. Tapi balik lagi itu hanya angan dan andai.


Maaf kalau aku belum bisa jadi imam yang baik untukmu dan ayah yang baik untuk putra kita. Aku berharap kalian akan selalu bahagia, karena aku yakin Allah akan selalu melindungi kalian. Maafkan ayah Reza, ayah tidak bisa menjadi super hero untukmu. Ayah terlalu pengecut hingga tidak dapat mengontrol diri. Kau tidak pernah salah begitu juga ibumu. Selamat tinggal, semoga kita dapat bertemu dengan kebahagian. - Ahmad.


Note :


Aku balik lagi setelah sekian purnama meninggalkan tulisan ini. Awalnya sempat ragu buat lanjutinnya. Walaupun judulnya berganti, tapi semua ceritanya masih sama kok tentang bagaimana cara Reza, Nazla, dan Nazura mencari arti dari kehidupan. Sebelumnya aku berterima kasih karena sudah bersedia membaca cerita ini. Kedepannya aku harap cerita ini diminati dan syukur kalau dapat membawa dampak baik buat pembaca.


Jangan lupa ninggalin jejak ya dengan like dan comment 🥰🥰


Thank you - Julinda KS.