
Jangan tanyakan mengapa dedaunan berhamburan saat angin menggoda dan mencumbunya mesra. Sebelum janji manis yang kau ukirkan nyata, datanglah dan duduk bersamaku agar kuceritakan betapa lelah hati ini merindu~Reza Agil Al fikri.
Bulan pertama yang dilalui Reza tanpa Nazla, rindu memang menyiksa hanya doa dan harapan yang ia dapat curahkan.
"Kalau boleh kumeminta sampaikanlah isi hati ini, sampaikanlah, sampaikanlah"gerutunya dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, sinar mentari seakan membakar ubun ubun. Silau cahayanya membuat mata siapa saja mengerjit. Walau hati ingin menjerit tapi mulut tak dapat mengeluarkan suara. Seakan kunang kunang mengisi penuh perutnya, hingga suara tersangkut ditenggorokan. Jalan aspal berasap, laju kendaranan menyesak.
"Apa kau juga merindukanku? Nazla?"
Klakson mobil mengejutkannya, kebisingan ibu kota masih menjadi. Apa Nazla baik baik saja? Apa dia masih merasakan sesak? Pertanyaan itu mengusik pikirannya. Andai ia punya sayap mungkin ia akan terbang menelusuri lautan yang membentang. Dia jauh, demi apa? Apa pengobatan yang rumit itu dapat membantunya? Andai waktu itu berhenti sesaat ia akan mengatakan bahwa gadis itu telah mengisi kekosongan hatinya. Gadis yang melekatkan namanya tanpa permisi.
Kehidupan memang terus berputar dan hukum karma tak pernah terhindari. Hanya waktu yang mengatur segalanya.
Semua pemandangan seakan menghitam mirip klase hitam putih tempo dulu. Nazlapun merasa begitu. Rambut panjangnya tinggal kenangan, rambut yang ia anggap mahkota terindah telah gugur helai demi helai.
"Apa kau yakin kau akan pulih setelah berobat ke Swiss? Jauh dari semuanya? Jauh dari..."
"Jauh darimu"ucap Nazla. "Kurasa itu yang paling berat, aku selalu merepotkanmu menyuruhmu mengantarku. Membuatmu terlambat. Tapi ini hanya beberapa bulan, kurasa aku akan tetap ikut ujian akhir. Aku juga tidak akan lupa belajar. Dan dengar kau harus ambil kimia sebagai peminatan harus, pokoknya harus, kau mengerti Reza Agil al Fikri" Ucapnya cengengesan gaya sok kuat yang selalu ia tunjukkan.
"Tak usah sok kuat di depanku, lagipun kenapa aku harus menurutimu itukan ujianku"cueknya sebagai topeng kesedihaan yang menghampiri.
"Kau memang kunyuk yang kejam, tapi entah kenapa aku tak pernah membencimu tak pernah. Kuharap kau akan ambil kimia karena itu pelajaran yang membuatku dekat denganmu"gerutunya dalam hati.
"Terserah kau saja, lagi pula aku siapa yang berhak memerintahmu"
Wajah sedih Nazla masih terekam jelas, kalau boleh dihitung hanya tiga kali kesempatan Reza menjenguk dan dihari ketiga gadis itu pingsan dan tak sadarkan diri saat dibawa.
"Zura? Apa ada kabar terbaru tentang Nazla?"tanya Reza.
"Aku berusaha menghubungi tante Irene dan Nazla masih dirawat. Kondisi makin memburuk, dia sudah operasi tapi kanker itu tak pernah melepaskannya. Hingga paru paru Nazla diangkat satu bagian" jelasnya sedih, bahkan air matanya terperangkap di pelupuk mata.
"Maksudnya?"Tanya Rendi parau.
"Paru paru Nazla menghitam dan setelah operasi dia belum sadarkan diri hingga sekarang. Padahal ini sudah seminggu" dan benar saja pelupuk itu tak bertahan lama, Nazura menangis histeris membuat semua temannya ikut sedih.
Emosi itu membaur jadi satu, semua larut dalam kesedihan. Reza memilih meninggalkan kelas menuju perpustakaan tempat favorit Nazla.
"Kunyuk, lihat deh"panggilnya sambil memperlihatkan buku dengan judul Ayah disampulnya.
"Hmm... Terus?"
"Kenapa lo datar gitu sih? padahal ini adalah buku paling laris di pasaran. Selain karena ini karya dari novelis yang tak diragukan lagi keahliannya, buku ini juga membaur dalam hati pembacanya. Gua bahkan pernah nangis setiap baca bab demi babnya" jelasnya berbusa.
"Ya tujuan lo nunjukin buku itu apa?"tanya Reza walau ia tahu maksud gadis itu apa.
"Jangan terlalu membenci, dia juga orang tua lo kan? Gua memang nggak ngerti dan nggak tahu gimana masa lalu lo Za, tapi lo jangan terlalu benci gitu, entar ketemu gimana? Dan ternyata gua yang nemuin kalian dua gimana?" tanya Nazla menatap Reza nanar kemudian tertawa sambil berjalan mendahului Reza.
Ingatan itu berhenti terlalu banyak momen yang sudah dihabiskan. Buku itu ia genggam erat.
"Kau benar. Keusilanmu bagaikan doa kalau kau yang akan mempertemukan kami. Kau harus pulih kau sudah janji akan kembali sebelum ujian akhir"ucapnya menatap jendela.
Rintik hujan membasahi tanah, aroma tanah yang disirami air hujan terasa hangat. Buku itu kembali ia lihat, Ayah judul itu dimuat besar menutupi dengan gambar ayah yang welas kasih sebagai foto sampulnya.
"Apa aku harus membaca buku ini? Buku yang sudah membuatmu menangis. Dan untuk kali pertama diatas atap rumah sakit aku melihatmu menangis, gadis tomboy dengan rambut sanggulnya menangis tersedu. Kau selalu sok kuat dihadapanku" ucapnya.
"Jurusan apa Za?"tanya Annisa mendekat.
"Kimia, Sa"
Annisa memandangnya sedih, bulan ketiga kepergian Nazla hanya menyisakan kegamangan. Lelaki pendiam itu semakin terpuruk keceriaannya telah hancur.
"Zura, apa Nazla udah sadar? Gua kasihan sama Reza tuh anak makin murung aja. Cuma Nazla yang bisa hibur dia" Ujar Annisa saat mereka bertiga bertemu di kafe dekat sekolah.
"Gua harap dia sadar Ra"ucap Rendi.
"Gimana kalau aku coba telpon tante irene lagi?"
Acungan jempol dari kedua sahabatnya menandakan idenya sangat brilian.
"Assalamualaikum Nazura, Nazla udah sadar nak"ujar disebrang semangat.
"Beneran Tante, kita bisa bicara sama Nazla nggak?" tanya Rendi antusias sampai lupa jawab salam.
"Bisa tapi bentar ya sayang, Nazla masih butuh istirahat"ujar sang mama.
"Kalo vidio call bisa kan tan?"tanya Annisa yang begitu rindu Nazla.
"Yaudah gak papa kalian telpon baik aja ya"ujarnya menutup sambungan.
Video call berlangsung sosok yang mereka rindukan terbaring lemas, selang oksigen masih menutup hidungnya. Nazla melihat temannya antusias.
"Hai yo, gimana kabarnya kalian disana?"tanyanya sumringah.
"La Kita rindu lo tau nggak, Reza juga tuh anak murung terus waktu lo tinggal"ujar Annisa.
"Iya dongs kan tulang rusuk dia lagi pergi"ujarnya memperbaiki posisinya menjadi duduk.
"Udah kalian jangan ngomong dulu sama Reza ya, gua bakalan pulang minggu depan"
Ucapan Nazla membuat Irene menatapnya nanar.
"Seriusan?"tanya mereka bertiga kompak.
"Iya"ujarnya, senyum itu merekah kembali.
Seusai telpon itu ditutup, senyum Nazla berubah raut wajahnya sedih. Irene memeluk tubuh ringkuh itu erat.
"Maafin Nazla ma, tapi Nazla gak bisa ninggalin Reza sendiri. Aku minta maaf, maaf, maaf ma"
Tangisan Nazla meluluhkan hati. Ibu mana yang bisa melihat putri kesayangannya menangis.
"Operasi memang berjalan dengan baik, tapi sepertinya kedua paru paru Nazla mengalami kerusakan. Kita memang sudah mengangkat sebagian tapi kanker itu menyebar cepat. Seperti kita lihat paru paru sebelahnya mulai menghitam. Perawatan Nazla masih jauh dari kata selesai, kita harus tetap melakukan kemoterapi"ujar dokter menjelaskan hasil scan.
Irene dan Andrew hanya bisa sabar, gadis kecil mereka harus tetap bertahan. Kehidupannya harus berjalan kembali, harus berjalan. Keputusan mereka menyatakannya pada Nazla, agar gadis itu faham kondisinya dan tak melakukan hal yang tak masuk akal. Apalagi berjanji pulang ditengah kondisinya yang masih memburuk.
"Aku gak tau ma, Apa hidupku bakalan bertahan lama. Tapi janjiku pada Reza harus kutepati, aku sudah janji bakalan pulang sebelum ujian akhir. Lagi pula aku itu anak yang kuat, aku nggak bakal biarin penyakit ini menghentikan mimpiku"ucapnya senyum.
Irene hanya bisa mengiyakan sekarang tugasnya menjaga putrinya, tepatnya ketiga putrinya.