Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 21



Jalan seketika basah diguyur hujan, Reza dan Nazla berhenti sejenak di sebuah kedai kopi. Pakaian mereka basah kuyup, Reza memberi jaketnya untuk dipakai gadis yang mulai kedinginan itu. Sesekali ia menampung air hujan di telapak tangannya dan memerciknya ke wajah pria berlesung pipi. Pria itu hanya menggeleng kepala dan duduk di kursi panjang yang terbuat dari bilah bambu. Kedai kopi pinggiran kota itu seakan ingin roboh mungkin itu yang terbersit dalam benaknya.


Nazla masih sibuk menampung air pada tanggannya. Reza memperhatikan gadis rapuh itu. Gadis mungil penuh misteri, terlalu rumit dari campuran zat untuk membentuk senyawa.


"Apa hujan ini akan berhenti? Rasanya kakiku membeku" ujar Nazla.


"Kita tunggu sampai reda"


"Seharusnya gak usah sampai puncak akukan gak maksa, lagi ya kita kan"


"Emang siapa yang dari kemaren bilang mau jalan terus dari tadi lo kenapa sih di kelas ngindarin si Rendi gak bicara sama si Nisa. Kalian tiga napa sih?" pertanyaan yang sudah ia tau jawabannya.


"Itu, kemaren si Rendi, si Rendi nembak gue" ucapnya cepat sambil teriak.


"Terus jawab apa?"


"Aku juga binggung kalau aku tolak dia marah terus gak mau temanan gimana?" ucapan Nazla kali ini membuat pria itu mengalihkan pandangannya pada jalanan aspal.


"Ikut kata hati aja kali, kalau ujungnya gak temanan itukan resiko. Kalau gak mau ambil resiko buat apa suka"


"Kalau gua bilang gua juga lo gimana ya La?" tanyanya dalam hati.


"Lamun aja, pulang yuk hujannya udah reda"


Sekerjap mata motor beat itu melaju melintasi ruang dan waktu.


Nazla menatap layar ponsel lama, susah rasanya menjawab dua pesan beruntun dari dua orang yang berbeda. Satu mantan yang ingin ia lupakan dan satu lagi orang yang berusaha memberanikan diri mengutarakan isi hatinya. Hingga salah satu dari mereka datang bertamu. Suara lantang pria terdengar sedang bercakap dengan sepupunya.


"Radit? Ngapain disini?"


"Salah siapa chat gak dibales, sombong amat jadi cewek"


"Ngapa ngajak reuni?" pertanyaan ketus Nazla mengundang gelak tawa pria berkacamata itu.


"Tuh minus nambah berapa?"


"Masih tetap lima, perhatian amat" ujar Radit menggoda mantannya yang hanya dapat decakan.


"Jalan yuk"


"Entar ganti baju dulu kali"ucap Nazla menaiki tangga.


"GPL, lagian kita mau jalan bukan ke kondangan"


"Iya iya cerewet amat sih lo marmut"


Lima belas menit Nazla turun dengan atasan pink dan rok tutu putih, rambut gelombang yang dibiarkan tergerai lepas. Style yang tak pernah dia tunjukkan pada teman barunya. Sifat girly yang selalu dia tutupi dalam balutan pakaian tomboy khasnya.


Sebuah kafe tongkrongan lama mereka bersama Mia dulu jadi tempat tujuan. Radit memulai perbincangan, pria ini punya sifat berbeda dari Reza yang disukainya. Reza dengan sifat introvert dan dinginnya sedangkan Radit dengan sifat sosial dan kepemimpinannya, membuat semua perempuan mudah dekat dengannya. Ancaman yang membuat hubungan mereka kandas setelah 5 tahun bersama.


"Masih jadi buaya gak sih?" kalau boleh jujur perasaan itu masih ada dan harapan untuk bersama masih kuat.


"Siapa yang suruh kabur La? Pake acara pindah sekolah blokir nomor, padahal belum dengar penjelasan orangnya. Hakim persidangan saja sebelum menentukan hukuman bagi pelaku ia masih mendengar pengakuan dari tersangka. Tapi lo, lo itu keras bingung gua" ucapnya menyeruput kopi yang telah mereka pesan.


"Lagian emang kita putus?"tanya pria itu memperbaiki kacamatanya.


"Lho tapi udah satu tahun kita gak ada kabar itu artinya putuskan" jelas Nazla yang masih heran dengan pria itu.


"Emang hubungan itu dijalanin sepihak, enggak kan? Aku juga gak pernah bilang putus, jangan bilang mikir aja kagak"


"Terus Mia?" tanyanya heran.


"Emang dia siapa gua hah, gua selama ini diam bukan karena gak sayang La gua cuman takut lo...lo benci gua" ujar pria itu.


"Ya udah gimana lagi, lo sih jadi cowok membleh amat kirain putus. Jadi masih nyambung nih? Gua siapa lo?"


"Masih nyambung dan lo cewek gua"ucapan yang didengar oleh Rendi, Reza dan anak lainnya.


"Jadi lo masih pacaran La, gua kira lo udah putus ternyata lo cewek yang gak bener" tukas Annisa membuat semua orang memandangnya.


Nazla yang familiar dengan suara itu membalik badan Reza, pria berlesung pipi itu menatapnya. Ada rasa kecewa dalam tatapan pria itu. Bahkan perbincangan itu belum selesai.


"Sa gak gitu, gua...gua nggak bakalan ngindar lagi. Maaf cuman itu yang bisa gua bilang Sa, tapi jan benci gua please"Pintanya.


Annisa hanya memeluk sahabatnya dan menariknya keluar, tanpa izin pada ketiga pria yang berdiri heran.


"Pokoknya lo harus cerita siapa pria itu dan ada hubungan apa lu sama dia" ucap Annisa masih menggenggam tangan itu.


Sesampainya di rumah Annisa, Mei dan Nazura menanti pengakuan.


"Hmm...dia Radit mantan gua di SMA yang lama, dia ngajak balikan tapi gua belum jawab apa apa kalian malah langsung nimbrung kayak mercon. Gak ngasih kesempatan buat jelasin lagi. Gimana kalau si kunyuk malah salah paham sama gua, hancur dah rumah tangga gua" teriaknya histeris.


"Jadi maksud lo nanya gitu ke cowok itu?"


"Gua cuman becanda kali, kan kalian tahu gua sukanya ke si kunyuk masa iya gua balikan sama mantan yang jelas jelas selikuhin gua"jelasnya.


"Jadi gua salah paham nih"


"Iya bambang, makanya lo denger semua dulu baru nyerocos kan ada tiga orang yang heran disana"ujarnya kesal.


"Maafkeun, nggak sengaja kelez. Mana gua tau lo mau stand up tadi, kirain serius" ujarnya tertawa kecil membuat Nazla melemparinya dengan bantal sofa.


"Soal Reza, besok ceritain sejujur jujurnya biar dia percaya kalau kalian gak ada hubungan atau coba lu nembak dia duluan. Lu kan tau kunyuk lo itu pasif susah emang sama anak yang satu itu" jelas Mei.


"Iya sih, lagian dari pengamatan gua tu anak juga suka sama lo La" timbrung Annisa.


"Kayaknya iya deh" timpal Nazura walau ada kecewa dalam wajahnya.


"Apa Nazura juga suka ya sama Reza? kok ekspresinya gitu waktu yang lain semangatin buat nembak dia? Apa aku tanya langsung ke orangnya saja lagian apa salahnya biar dapat penerangan juga?" tanyanya dalam hati.


Bibir rasanya keluh, hati juga bimbang. Apa ini jalan yang terbaik melepasmu jauh? Tapi kehadiranku hanya bayangan tipis dalam penglihatanmuā™” note pinkšŸ“–.


¤Jangan lupa tinggalin jejak🄰🄰


¤Mampir ke Afifah si gadis pemimpi yuk!!!