Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 3



Hari ini Reza disibukkan dengan jadwal yang padat selain sebagai anggota osis dia juga ikut sebagai salah satu pemain basket. Mereka sedang latihan, tampak para gadis sibuk berteriak menyebut nama mereka. Pria berlesung pipi berusaha fokus pada latihannya, namun Nazla terus berputar dalam ingatannya.


Nazla sibuk membaca buku yang kemarin sempat membuat Reza menangis karenanya. Ia berusaha memahami maksud yang ingin disampaikan oleh penulis melalui karyanya. Semua hal itu tentang ayah. Buku ini juga berhasil membuat gadis keras itu menetaskan air mata.


"Jadi lo nangis karena baca buku ini karena berhubungan sama broken home." gumamnya.


Semua anak perempuan sudah mengerumuni lapangan basket, latihan kali ini membawa hasil yang baik. Gibran sebagai ketua tim basket berlari mencari Reza yang sedari tadi terlihat kehilangan fokusnya.


"Lo baik-baik aja?"tanya Gibran sesampainya di ruang ganti.


"Ya gitu, hari ini gua banyak pikiran."jawabnya seadanya.


"Za, gua denger kelas lo dapat dua cewek pindahan. Semua cowok di kelas gua mulai bertingkah aneh tentang siapa yang bakalan dapatin Nazla."jelas pria itu sambil mengganti pakaiannya.


"Nazla?"


"Iya, Nazla. Gue punya teman di SMA Bakti, banyak isu aneh tentang Nazla katanya tuh anak hamil di luar nikah. Tapi masa iya dia bisa masuk ke sekolah kita, gini-gini sekolah kita punya nama dan reputasi yang bagus. Iya kali mau nerima anak yang bermasalah."tukasnya.


Gibran ini adalah anak dari ketua yayasan sekolah. Walau begitu dirinya bukan anak yang ingin mendapatkan suatu hal dengan instan karena jabatan ayahnya. Dia berusaha keras agar bisa diakui dan berada diposisinya sekarang sebagai ketua tim basket.


... 🌱 🌱 🌱...


Sehari sebelum ia menjalani kehidupan normal seperti anak seusianya. Nazura sedang berdebat dengan Mami dan Papinya. Kali ini keputusannya sudah bulat. Ia tak ingin lagi penyakitnya dijadikan alasan untuk home schooling.


"Mami papi ngerti. Kamu pengen sekolah tapi sayang kondisimu tak memungkinkan"ujar sang mami.


"Kitakan belum nyoba mi. Zura pengen kaya Nala punya teman sekolah. Pi mi kali ini aja kalo emang Zura gak kuat. Zura rela kok langsung berhenti hari itu juga"ujar Zura.


"Papi ngerti tapi sayang..."


"Mami papi kali ini aja ya."pinta Nazura sesenggukan.


Sesampainya di kamar Nazura langsung menghempaskan tubuh mungilnya di kasur. Matanya sembab. Pedih kenyataan pahit yang selalu diungkit. Tapi apa karena penyakit itu dia harus jadi terpuruk? Tentu jawabannya tidak bukan.


"Zura kok dikunci. kamu kenapa?"tanya Nazla


"Zura dengerin aku ya. kamu itu..."ujar Nazla mencoba membujuk kembarannya.


"Udah La kamu kan tau kembarmu ngambek itu lama. Nanti aja dibujuknya."ujar mami meyakinkan Nazla.


Sorenya setelah lelah berdebat Nazla diperintahkan memanggil Nazura untuk turun.


"Kamu serius mau sekolah Ra?"ujar si papi.


"Iya pi"jawabnya diiringi anggukan lemah.


"Yaudah tapi dengan syarat. Satu kamu akan satu sekolah dengan Nazla. Kedua gak usah ikut ekstra apapun di sekolah. Ketiga kalau kondisimu semakin memburuk papi gak segan mengeluarkanmu dari sekolah seperti janjimu tadi"ujar sang papi sok serius.


"Makasih pi. Zura sayang papi"ujarnya sambil mencium pipi papinya.


"Tapi papi mohon Nazura harus jaga kesehatan, gak boleh kecapean dan ingat dengerin kata Nala di sekolah"ucapnya sang papi.


"Iya pi, Zura janji" ujarnya sambil menautkan jari kelingkingnya yang begitu mungil.


Malam itu Nazura membuka buku diary pink yang selalu bertengger di laci meja belajarnya. Tangannya terus berkutat menulis lembar demi lembaran kosong itu. Rambut panjang lebatnya diselimuti hijab. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.50 tapi matanya masih enggan terpejam. Sulit. Insomnia yang dideritanya begitu menyiksa.


"Ara, kamu jangan bandel. Nanti mami papimu marah. "ucap lelaki kecil itu di suatu siang.


"Ara gak nakal kok. Mami sama papi gak pernah bolehin Ara makan Ice cream tapi Nala boleh"ujarnya manyun.


"Itu karena Ara spesial"


"Apa anak penyakitan itu spesial?"


Nazura mengidap asma sedari kecil. Kondisinya dapat berubah sewaktu-waktu. Penyakitnya bisa kambuh karena pertukaran suhu, udara berdebu, kecapeaan dan banyak lagi. Dia juga tidak bisa makan kacang, minum susu dan makan strowberri. Dia membencinya mengapa ia terlahir lemah. Tapi kecelakaan waktu itu mengingatkannya bahwa dia masih perlu bersyukur.


Setelah kejadian naas itu ia berjanji pada Allah, dia takkan pernah mengajak Nazla bertengkar lagi. Dia berjanji kali ini akan menuruti omongan mami dan papinya. Demi Nazla, saudari yang rela bertaruh nyawa agar dirinya selamat saat kejadian itu.


Paginya ia buru buru karena Nazla kesiangan. Alhasil merekapun telat. Dengan tergopoh mereka berlari menuju lapangan. Sesekali Nazura memegang dadanya yang sesak. Nafasnya terengah.


"Ra. kamu gak papa kan?"


"I'm okay"


Sesampainya di lapangan sekerumunan orang sedang dibantu berbaris. Tangannya langsung ditarik oleh Nazla.


"Bagi yang terlambat tulis namanya"ujar pria itu.


"Ini kedua kalinya"Ujar Nazla.


"Sabar"ujar Nazura.


"Mau pulang ajalah Ra, malas aku kalau harus berdiri di lapangan lagi"jelasnya malas-malasan.


Perkataan kembarannya itu hanya membuatnya geleng kepala. Walau mereka kembar sifat Nazura dan Nazla sangatlah berbeda.


Nazla Faisal Az zahra adalah anak pertama dari keluarga Faisal. Keahliannya adalah bermain basket, ps dan dia itu anak gamers. Dari kecil Nazla itu terkesan seperti anak cowok. Kamar yang selalu berantakan. Bahkan waktu kecil ditanya mau mainan apa. Dia malah jawab yang robotanlah yang mobil mobilanlah. Namun satu hal yang menarik walaupun Nazla itu tomboy dan selengean dia anak yang suka membaca buku. Hampir setiap hari jam istirahatnya tersita dengan membaca buku di perpustakaan dan dia juga termasuk anak yang cerdas di kelasnya.


Sedangkan Nazura Faisal Az zahra dia anak yang cerdas sama seperti Nazla. Hobinya tak lain dan tak bukan membaca buku, nulis diary, baca buku lagi. Ya gitu deh. Makanya waktu umur 9 tahun matanya udah minus. Satu ciri khas dari Nazura dia tak akan melepas hijabnya kecuali di dalam kamar.


"La pakek hijab napa?"ujar Nazura suatu hari.


"Gerah Ra. Aku gak kuat biar kamu aja"ujarnya sambil asyik memakan popcorn.


"Katanya sayang papi. Udah pakek hijab sana nanti juga terbiasa"cakapnya lagi.


"Sifatku masih buruk Ra"


"Apapun alasannya kamu harus tetap pakek hijab karena menutup aurat itu wajib. Setidaknya waktu sekolah deh"


"iya tapi nanti ya. Jangan sekarang"


Nazura memilih diam. Karena seberapa kerasnya ia berbicara toh gak bakalan di dengar sama dia.


*Dear Nazla


Makasih ya udah selamatin aku waktu itu, maaf karena harus buat kamu hidup dengan hanya satu ginjal. Aku sayang sama kamu La*. - Nazura.