Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 14



Aku tahu apa yang kau rasakan, tapi aku tak bisa mengikuti kata hati. Karena saat ini hati dan pikiranku tak sejalan. Kalau aku mengikuti kata hati, maka aku bisa dibilang tak berpikir. Tapi kalau aku mengikuti pikiran maka aku tak berhati. Semoga kau mengerti~ Reza Syaid Agil Al fikri.


Perbincangan itu terdengar langsung oleh Reza, akhirnya pria itu tahu apa yang dirasakan Nazla. Kalau gadis tomboy itu menyimpan rasa padanya. Namun Reza tak bisa berkata bahkan melakukan apa apa.


Annisa dan Nazla duduk berhadap hadapan, hingga diskusi itu berakhir mereka hanya saling pandang. Reza berusaha menghilangkan bahkan melupakan perkataan Nazla. Bukan karena ia tak berperasaan tapi dia tak ingin tujuan hidupnya berubah karena cinta. Cinta memang dapat membawa bahagia tapi dia juga dapat membawa pahit yang menyakitkan.


Sudah dua jam mereka diskusi, tepatnya jam satu siang. Nazura dan Mei sudah selesai memasak makan siang.


"Nazla, gak makan?" Tanya Nazura.


"Diet"ujarnya singkat.


"Lo diet La, badan kurus kerempeng gitu mau diet. Yang harusnya diet itu si..."ucap Rendi yang langsung dipotong Nazla.


"Itu body shaming namanya, gak boleh gitu curut" ujar Nazla.


Tepat jam tiga sore mereka semua pamit. Sekarang rumah sepi. Nazla dan Nazura di kamarnya masing masing. Di dalam kamar Nazura memperhatikan foto kecil itu. Foto 3 anak kecil dengan pakaian kotor mereka. Foto yang dia lupakan kapan diambil dan kenapa diambil.


Ia berniat mendatangi Nazla di kamar tapi suara gelas yang jatuh mengejutkannya. Ia bergegas berlari dan naas gadis di depannya tak sadarkan diri. Ia memeriksa kondisinya, beling kaca merobek telapak tangam Nazla. Ya Nazla tak sadarkan diri.


"Ya Allah gimana dong? Aku harus gimana?"


Nazura langsung membuka hpnya dan memesan taksi online, tak selang waktu lama taksi itu datang.


Dokter memeriksa keadaan Nazla, mulai dari cek darah, melakukan rontgen. Dokter tidak bisa mengatakan apa yang terjadi pada Nazla kepada Nazura. Pihak rumah sakit memintanya untuk segera menghubungi orang tua mereka.


Kondisi Nazla secara tiba tiba memburuk. Padahal semalam ia masih sempat tertawa. Tapi kali ini gadis dengan tingkah slenge'an itu terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.


Nazla harus dirawat di rumah sakit. Kedua orangtua mereka telah tiba dan langsung menemani Nazla di rumah sakit. Sedangkan Nazura dia harus bersekolah sendiri tanpa kembarnya.


"Lah kok sendiri Ra, mana si neklam telat lagi dia"ujar Annisa.


"Iya juga ya, kemarin diakan barang lu za, kok hari ini nggak?"tanya Rendi.


"Tadi dia sms biar gak dijemput"ujar Reza menjawab kebingungan Rendi.


"Nazla di rumah sakit"ucapnya singkat.


"WHAT?? Demi apa?? Ih gila si Nazura becanda, jangan gitu dong Ra. Masa iya, kemaren tu curut masih baek baek aja kok tiba tiba tumbang" ujar Mei yang sama koplaknya seperti Rendi.


"Ya Allah My honey gua sakit, kasihan Nazla"ujar Anton yang menyaut dari belakang membuat seisi kelas terutama Reza menatapnya sinis.


"Santay bossque... gua tau kok Nazla punya lo"ujarnya mendekati Reza.


"Terus dia dirawat dimana?"tanya Rendi.


"Di rumah sakit Sejahtera, dia masih di IGD waktu aku pergi ke sekolah tapi kalau ini sih aku belum tahu"ujarnya sedih.


Di rumah sakit orang tua mereka diminta menemui dokter di ruangannya.


"Nazla menderita kanker paru paru, memang masih stadium satu. Kita harus segera melakukan operasi agar kedua paru parunya tak mengalami kerusakan"


"Operasi dok?"


"Benar bu, pak. Ini paru paru Nazla yang terkena kanker sedangkan ini paru parunya yang masih sehat. Jika kita terlambat menanganinya maka keduanya..." ujar sang dokter tak ingin menyambung ucapannya.


"Semua ada ditangan bapak dan ibu, kami hanya tenaga medis" ujar suster memberikan hasil lab dan rontgen Nazla.


Mereka berdua sepakat akan segera melakukan operasi untuk Nazla. Sedangkan gadis itu hanya menatap keluar hujan sedang turun dengan derasnya. Seakan tahu seperti apa perasaannya kini. Mata sayunya mengeluarkan bulir, hingga suara pintu membuatnya terkejut dan segera menyeka air matanya.


"Mami papi sudah menandatangani suratnya kita hanya menunggu jadwal operasi saja. Dokter bilang mungkin minggu depan Nazla sudah dioperasi" tukasnya mengelus rambut sang putri.


"Andai aja aku gak dengar semuanya, kalau aku bukan putri kandung kalian melainkan anak haram. Mungkin hari ini rasa sakit ini akan berganti dengan rasa bahagia. Rasa bahagia karena ada kalian sebagai orang tuaku yang akan mendukungku dan mengatakan jangan takut ada kami disini. Tapi semua terlambat, aku kecewa" batinnya meringis.


Jam pulang sekolah telah datang, Nazura berjalan tergopoh menuju gerbang. Reza mengejarnya dari belakang.


"Ra.. Nazura tunggu" teriaknya.


"Reza, kenapa?"tanyanya keheranan.


"Kamu mau ke rumah sakitkan? Aku ikut ya" pintanya.


"Oh ya udah"


Selama di jalan baik Reza maupun Nazura hanya terdiam. Hingga mereka sampai ke kamar rawat Nazla. Sudah sejam ia dipindahkan dari IGD. Reza melihat Nazla duduk di kasurnya sambil memainkan hp. Orang tua mereka pergi untuk mengambil pakaian ganti Nazla yang belum sempat dikemas.


Reza langsung duduk di kursi dekat kasur. Ia menatap Nazla yang dibalas tatapan pula. Nazla hanya melihat sekilas, sebuah panggilan dari Annisa membuat senyum di wajahnya.


"Assalamualaikum La" ucap disebrang.


"Waalaikumsalam Nisa, kenapa beib?"


"Lo gak papakan? Kita khawatir tahu? Belum lagi lo tiba tiba gitu padahal kemaren baek baek aja lu" ucap Rendi. Jelas terdengar kalo temannya menghidupkan speaker.


"Ahhh... melting gua tau gak Ren, ternyata lo punya sisi so sweet juga" ucapnya.


"Gua gak becanda enge, bisa gak sih lo sekali aja gak usah becanda. Gua lagi serius tahu gak"ucap Rendi lagi.


"Ihh.. jangan dimarahin Ren, Nazlanya, kasian tahu"ucap Nisa.


"Kalian gak usah khawatir gitu I'm fine. Kalian tahu kan kalo gua itu cewek kuat, lagi juga gua cuman sakit biasa doang palingan besok udah bisa bareng lagi kita" tukasnya.


"Seriusan?? Terus riset loh gimana?" Ucap Anton.


"Gua udah telpon bu Siti sih, dia ngerti keadaan gua. Kalian do'a in aja ya biar gua cepat pulang, males gua di rumah sakit" pintanya.


"Itu dah pasti La, keep healthy, kita bakalan jenguk besok" ujar Mei yang membuat Nazla tak kuasa menahan air matanya.


Takut suaranya membuat temannya semakin khawatir Nazla memberikan hpnya pada Nazura. Nazla memakai masker yang terletak di laci. Air matanya masih mengalir, Reza hanya memandangnya.


"Nga..pain lo ke..sini hah? Ujarnya sesenggukan.


"Lo mau minum?" Tanya Reza.


"Gak usah sok peduli, lo gak perlu kasih hani gue, gue gak butuh. Lo mending pergi sekarang" ujarnya masih menangis.


"La gua.."


"Reza, lo pergi gak gua gak mau lihat muka lo, sana pergi...pergi..iii" ucapnya membuat Nazura memeluknya.


"Ra aku gak mau dia disini, aku mau dia pergi. Aku gak suka lihat dia, usir dia Ra" pintanya sambil menangis.


Nazura memandang Reza, seakan mengerti Reza meninggalkan kamar dengan wajah gusar. Wajahnya mengeras.


Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan comment kalian sangat dibutuhkan. Stay healty reader, salam sayang dari aku🙂🙂


**Oh iya jangan lupa mampir kekaryaku satu lagi ya


judul: Afifah si gadis pemimpi.


Bakal ada banyak hal yang dapat diambil dari kisahnya Fifah, karena ceritanya berasal dari pengalaman nyata**.