
Pagi menjemput, Nazla menatap sekeliling. Tampak kalau Nazura sedang sibuk mengenakan hijabnya. Jam dinding sudah menunjuk pukul 07.00, tapi gadis anti terlambat itu masih betah di rumah sakit. Nazla hanya diam tenaganya masih belum terkumpul sepenuhnya. Bibirnya mengering, wajahnya juga pucat, pandangannya menyayu. Sudah 6 botol infus yang mengalir ke tubuhnya.
Nazura menatap Nazla, tampak raut wajahnya sedih. Hingga ketukan pintu membuatnya tersadar dari lamunan. Pria berbadan tinggi tegap dengan senyum lebar menyapa. Pria paruh baya itu masuk setelah mendapat izin.
"Om Ahmad, om tahu dari mana kalau Nazla dirawat disini?"tukasnya memulai perbincangan.
"Dari papi sama maminya Nazura, katanya sudah tiga hari Nazla dirawat disini. Om khawatir makanya setelah dapat kabar, om langsung kesini"jelasnya.
Seakan mengerti Nazura hanya mengangguk sebagai tanda faham. Nazura berpamitan karena sudah waktunya berangkat sekolah. Berselang beberapa menit kepergian Nazura, Ahmad memulai perbincangan.
"Gimana keadaan kamu La?" Tanyanya.
"Ya gitu deh, Om. Cuma sedikit nyeri disini, di tempat infusnya. Selebihnya gak papa kok" ucapnya dibarengi senyum tipis.
Pria paruh baya itu tak dapat berkata apa apa, gadis mungilnya menderita. Ia hanya bisa menggenggam jemarinya, sedangkan Nazla tidur terbaring lemas.
Beberapa kali pria itu mengusap rambut Nazla, hingga helaian rambut menempel di jemarinya. Nazla menatap sedih, Ahmad hanya tersenyum seakan memberi motivasi dan kekuatan.
°Tuhan gadis ini sudah banyak menderita, tolong jangan tambahkan dengan penyakit ini. Sembuhkanlah dia, mudahkanlah pengobatannya dan angkatlah seluruh penyakitnya°batinnya.
Jalanan Sudirman meramai, kemacetan menumpuk ditambah kebisingan klakson para pengemudi yang tak sabaran semakin memperburuk keadaan. Bahkan sepeda motor Reza dan temannya tak dapat menyalip kendaraan lain. Butuh tiga puluh menit menempuh perjalan ke rumah sakit yang padahal bisa dilalui dalam waktu sepuluh menit.
Tiba di ruangan Nazla, Reza menepi. Wajahnya gundah takut gadis itu menolak kehadirannya lagi. Nazura menganggukan kepala, berusaha meyakinkan lelaki remaja itu. Di dekat Nazla tengah duduk pria yang juga berseragam sama dengan mereka, mengupas buah. Sesekali pekikan tawa terdengar dari gadis berwajah pucat. Kanker itu menrenggut semuanya, bahkan wajah merah meronanya memucat.
Annisa dan Mei berlari menghamburkan tubuhnya ke Nazla. Pelukan hangat dari sahabatnya menguatkan raganya. Sebagai sahabat baik Annisa berusaha keras membuat Nazla tertawa. Karena memang Nazla gadis yang mudah tertawa guyonan Annisa bisa membuatnya sakit perut menahan geli.
"Udah Sa, gua gak kuat"ujarnya disela tertawa.
Tawa itu hanya terukir sesaat, seorang suster yang mulai akrab dengan Nazla memasuki ruangan. Si suster tersenyum ramah dan menanyakan keadaan Nazla disela sela menusukkan jarum suntik. Gadis itu meringis tancapan jarum pada kulitnya begitu pedih. Mungkin karena zat kimia yang disuntikkan pada lengannya. Beberapa suntikan juga diberikan pada botol infusnya setelah botol itu diganti.
"Hmm.. infus ketujuh"ujarnya sembari menatap infus.
Semua berpamitan bahkan Reza pergi tanpa mengucap sepatah kata. Nazla juga seakan enggan mencakapi lelaki yang berhasil mengukir namanya dalam hati. Sadar kalau dia hanya bisa mencintai pria itu dalam diam.
"Aku tak pantas untuk pria sebaik dirimu, aku hanya gadis lemah yang bahkan tak tahu siapa ayahnya yang sebenarnya. Bahkan ibuku saja memilih bersama pria lain dan meninggalkanku dengan orang asing, orang asing yang sudah kuanggap sebagai keluarga" batinnya.
Kalau saja penyakit itu terus dipikirkan, orang tuanya terus ia keluhkan. Mungkin ia akan lupa ada banyak kebaikan dari sang pencipta untuknya. Penyakit ini memang cobaan tapi ada sebuah ladang pahala baginya apabila ia bersabar.
Sabar, sabar itu tak berujung dan tak berpangkal bahkan tak berbatas. Unlimited kata anak Zaman Now. Tapi mengapa banyak yang mengatakan kalau ia telah kehabisan kesabaran dan orang itu telah melampaui batas kesabarannya. Padahal sudah jelas kalau Allah tak akan menguji hamba-Nya diluar kemampuannya. Dan Allah itu maha melihat dan maha mengetahui hamba hamba-Nya.
Astaghfirullah...hanya itu yang mengalir dari bibir Nazla. Kadang kegundahan, rasa lelah dan bosan itu memang membuatnya mengeluh.
Seorang wanita berhak tinggi dengan pakaian styles berjalan melalui pintu. Wajah Nazla memanas menatap wanita itu mendekat kearahnya.
"Nazla, tante datang. Tante takut sekali mendengar kabar tentangmu. Rasanya tante ingin langsung terbang saja, tante..." tukas wanita itu.
"Tante gak perlu khawatir kok, Nazla baik baik aja cuman sakit sedikit bentar lagi juga baikan. Gak usah repot repot menjenguk" jawabnya ketus memotong ucapan si wanita.
"Tante ada salah ya La? Kok ngomongnya gitu?" Tanyanya menuang air ke gelas Nazla.
"Tante, apa tante memang ibu kandungku?"
Mendapat pertanyaan yang menghujam, gelas yang ada digenggaman Irene terjatuh. Beling kaca yang berusaha ia kumpulkan malah mengiris jemarinya. Sesekali ia menghapus air mata yang terjatuh. Nazla hanya membisu menatap hujan yang turun membasahi. Seperkian menit hanya hening hingga nafas Nazla terengah, tiba tiba kondisinya memburuk. Irene langsung berlari memanggil dokter, langkahnya linglung, tubuhnya ia sandarkan pada dinding dingin lorong. Nazla putrinya harus masuk ICU.
Faisal dan Zahra berlari, mereka menatap Irene dengan heran. Wanita 34 tahun itu berdiri dengan perut besarnya. Irene memang sedang mengandung anak keduanya dengan pernikahan dengan suaminya.
"Kak Zahra" panggilnya.
Zahra menatapnya lekat sembari menggenggam tangan adiknya lembut. Tangannya mendingin, mungkin khawatir dengan kondisi Nazla.
"Nazla sudah tau segalanya. Nazla tahu aku ibunya, tapi bagaimana bisa? Rahasia yang sudah kita tutup rapat terbuka. Dan apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tak bisa mengacuhkannya lagi. Mungkin dulu aku masih berumur 18 tahun saat melahirkannya tapi kini aku..."
"Apa yang ingin kau lakukan?"potong Zahra.
Irene hanya terdiam bahkan Faisal tak dapat berkata apapun. Ia juga turut andil. Jarak umur 8 tahun antara Irene dan Zahra membuat mereka mengambil Nazla dan mengangkatnya sebagai anak. Dan bertepatan saat Irene mengandung Nazla, Zahra juga sedang hamil Nazura.
"Kau bisa mengaku, tapi apa kau yakin itu yang dibutuhkan Nazla? Pantas saja anak itu lebih tertutup dan sering mengunci diri. Kami pikir dia sibuk menyelesaikan riset tapi ternyata Nazla sudah tahu"
"Lagi pula kau tak mungkin membawa Nazla ke Swiss kan? Apa yang akan dipikirkan Andrew nanti? Dia juga tak tahu tentang Nazla" ucap Zahra.
"Dia sudah tahu. Dia tahu kalau Nazla putriku. Dia memang heran tapi dia sudah memakluminya dan menerima Nazla. Kurasa sebaiknya pengobatan Nazla disana saja. Aku pasti akan merawatnya dengan baik" pintanya menatap pintu ruangan ICU.
**jangan lupa tinggalin jejak🤗🤗
Dan mampir di karyaku lainnya
judul:Afifah si gadis pemimpi**