Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 6



Nazura berdiri dengan tangan yang berkutat pada mukenah yang sudah ia lepaskan. Matanya beralih pada gadis yang tegah uring uringan di ranjang sambil sesekali tertawa. Nazura duduk di sudut kasur untuk mendekati kembarnya.


"Kamu gak shalat Ra?"tanya Nazura yang memperbaiki posisinya.


"Entar ya Ra Aku komen postingan si Radit dulu mantan paling halu sedunia. Dulu aja pamer pacar baru sekarang udah putus aja nih anak"ujarnya sambil terkekeh.


"Apa komen postingan orang bisa jamin kamu masuk ke jannah-Nya Allah? Hal yang dihisab pertama kali itu shalat lo La bukannya seberapa banyak dan seringnya kamu komen ini itu di sosmed. Bukannya nambah pahala malah bikin ladang dosa makin subur"ucapnya.


"Iya deh ustadzah Nazura"ujar Nazla manyun tak terima diberi nasehat oleh Nazura dan malah asyik pada layar hpnya.


"Aku bukan menggurui apalagi menahkodai aku cuman pengen kita bukan hanya kumpul sebagai satu keluarga di dunia saja. Aku juga ingin kita berkumpul bersama dalam syurga Allah"ujarnya melangkah meninggalkan Nazla. Dan yang ditinggalkan hanya melihat punggung yang sudah lenyap dibalik pintu bercat putih itu.


Waktu berbuka tiba. Diteguknya segelas air putih dan tiga buah kurma sehabisnya pergi menunaikan shalat maghrib. Setelah shalat Nazura hanya makan sendiri. Orang tuanya sedang melakukan perjalanan bisnis dan Nazla dia pergi menjeguk teman lamanya. Kangen katanya. Suara hening hanya beradu pada sendok dan piring yang saling bertautan. Memecah hening sesaat sebelum hp miliknya berdering. Tak ingin yang disebrang menunggu ia langsung mengangakat mana tau telpon itu penting.


"Halo Assalamu'alaikum"sapa pada si penghubung. Sesaat tak ada jawaban hingga memantik keinginannya memutus sambungan.


"Jangan diputusin. Ini gua Husein dah nemu tu jawaban?"tanyanya tampa menggubris ucapan salam Nazura.


"Belum, kan baru tadi dikasih clunya"jawabnya.


"Gua gak mau nunggu lama kalo lo sampe gak nemu jawabnya.Lo tau sendirikan yang...."


"Iya tau kok"ujarnya waswas.


"Okay kalo gitu.bye.."ujarnya memutus panggilan secara sepihak.


Nazura hanya bisa menghela nafas dalam dan kembali makan. Sesaat akan memasukkan makanan pada mulutnya yang sudah menganga. Hp itu berdering lagi. Helaan nafas itu sekali lagi ia hembuskan kasar.


"Halo Assalamu'alaikum"ujar pria disebrang.


"Wa'alaikumsalam Reza ada apa? Tante baik baik ajakan?"tanyanya memulai percakapan.


"Alhamdulillah, hmm Zura besokkan tanggal merah kamu bisa gak bantu aku jagain ibu. Besok aku harus kerja gak enak makek duitmu terus"


"Kalo soal tante Insya Allah aku bisa bantu. Tentang kerja kamu gak usah paksain diri deh. Aku juga belum terlalu perlu uangnya kok"ujarnya memberi penjelasan.


"Iya , wa'alaikumsalam"ujarnya yang memutus sambungan.


Insomnia makin mendera. Mata ini seakan tak ingin terpejam. Tadi ia menerima pesan singkat dari Nazla katanya akan menginap di rumah temanya yang bernama Ami. Ia juga mendapat spam chat dari Husein. Siapa sebenarnya sosok pria yang mengusik ketenangan malamnya. Biasanya Rezalah yang mampu mencuri pikirannya sekarang ditambah pada sosok misterius yang tak bertopeng.


Dan disisi lain Nazla begadang dengan Ami ia mulai curhat mengenai hubungannya dengan Radit yang kandas begitu saja.


"Mi, Lo tahukan gue sama Radit udah putus. Gak tau kenapa setelah seminggu gue pindah sekolah dia tiba tiba ngajak ketemuan. Kirain bakal ngedate romantis malah berujung pada adegan putus yang sadis"ujarnya menatap langit langit kamar.


"Gue tau dari postingan si Radit sih yang sabar ya Ra. Mungkin gak jodoh kali "ujarnya berusaha menyemangati.


"Iya juga sih, gimana lagi orang dimana mana ada pelakor bertebaran. Padahal ya gue sama si Radit udah 3 tahun pacaran. Lo mau tau siapa cewek murahan itu?"ucapnya, membuat wajah sok lugu milik Ami berubah drastis.


"Dia itu orang yang ngaku sahabatan sama gua, peduli ke gua. Padahal itu cuman jadi topeng keluguan buat nutupin hatinya yang busuk. Gua paham kok Mi jadi ini hari gua nginap di rumah lo. Makasih atas perteman palsumu"ujarnya membalikan badannya menatap keluar jendela. Lagit malam pekat itu seakan mengikuti suasana hatinya.


"La gue itu..."


"Stop gue ngerti mi, gak usah lo bahas lagi"


Matahari menyelinap masuk pada celah gorden tipis. Nazla sudah bangun sebelum adzan shubuh berkumandang. Ami berusaha meminta maaf tapi Nazla tak ingin mendengarkan. Tepat jam 7 ia sudah meninggalkan kediaman Ami dengan raut wajah yang begitu marah. Sangat marah.


Disisi lain Nazura sudah bersiap akan berangkat menuju rumah sakit. Dengan gamis syar'i berwarna krem dan hijab yang menjulur membuatnya tampak menawan.


Allah menjaga kehormatan wanita dengan memberinya perintah menutup auratnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Agar ia tak diganggu kejahatan mata dan syahwat yang tak terkendali. Apabila wanita itu masih diganggu bisa jadi ia tak berhijab hingga menjulur sampai dadanya.


Nazura sudah menanti jemputan dari Reza. Matanya selalu melirik pada arloji yang melingkar di lengannya. Hingga pandangannya teralih pada sosok gadis dengan rambut terurai sesenggukan terluntai menujunya. Ia menyemburkan badannya pada Nazura. Tangisnya tak terbendung mata sembab menunjukkan betapa ia tengah terluka saat ini.


"Ra.. Ami Ra.. Dia khianatin aku.Dia ..hiks hiks"tangisnya menyayat hati.


"Dia jadian sama Radit"ujar Nazura membuat wajah gadis itu menengadah dan kembali bersembunyi dalam pelukan.


"Dia mungkin jahat menurutmu tapi itu cara Allah untuk melindungimu. Allah jauh lebih tau mana yang baik untuk dan mana yang tidak"


"Aku bukannya nyesal diputusin sama cowok brengsek itu. Aku cuman gak suka kalau Ami pura pura baik dihadapanku. Persahabatan yang kami bangun selama ini dengan mudahnya dia hancurkan"jelasnya sambil menghapus wajahnya kasar.