Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 7



Suasana hening hanya tangis yang tertangkap telinga. Nazla masih belum percaya orang yang dianggapnya sahabat bahkan saudara tega mengkhianatinya.


"Ra, aku tololkan?"tanyanya mengusir sepi.


"***** apanya orang kamu sering ikut lomba"upayanya menyemangati.


"Iya sih, lomba balap karung sekomplek, padahal itu sekomplek masih aja kalah"ujarnya manyun.


"Ra serius napa aku mau curhat loh, menurutmu apa yang dirasain sama Ami waktu aku curhat Radit ke dia? Apa dia gak ngerasa kalau pertemanan kami akan hancur karena hal konyol yang dia buat? Apa selama ini dia gak peduli ke aku Ra? Apa dia......"


Drett...drettt


"Bentar La aku angkat telpon dulu ya"ucapnya mengangkat telpon.


"Bahkan hpnya Zura aja gak mau dengerin curhatku. Padahal akukan lagi sedih he..he..uaaa... sedih hiks ..."


"Ya Allah La istighfar atuh. Kok nangisnya begitu. Udah gak usah pikirin hal yang hanya melukai perasaanmu saja. Dan masalah curhat jauh lebih asyik jika kau mencurahkan segalanya pada Allah."


"Tapi waktu dzuhur masih lama Ra"


"Kan ada shalat dhuha. La aku pergi dulu ya kamu gak papakan sendiri dulu di rumah aku ada janji gak enakan kalau aku tolak. Janji itu kan hutang La."


"Hmmm jangan lama ya Ra"


Dan yang dihimbau tepat waktu hanya mengangguk lalu berlalu pergi menepati janjinya.


Nazla tinggal sendiri, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Tapi yang dinanti tak kunjung hadir. Sesekali ia membuka WA barang kali ada notif pesan kalau Nazura akan lambat pulangnya. Namun yang ada malah sebuah pesan dari orang yang nama bahkan enggan ia sebut. Sebuah pesan dari Radit terkirim. Sudah 3 menit pesan itu dibiarkan bahkan Radit sudah spam chat. Tapi Nazla masih enggan membukanya. Hingga telpon Radit datang.


"Halo La kamu dimana? Aku sekarang kesana"


"Gak perlu gak penting juga kan. Sekarangkan udah ada Ami buat apa lo masih mau ketemu gue hah"ujarku emosi.


"Ada hal yang perlu kita bahas dan ini penting La. Aku mohon kamu mau ya please"


"Gak aku gak mau ketemu kamu lagi titik"ujarnya memutus sambungan.


Akhirnya yang dinanti pulang sudah tiba. Jelas suara motor masih terdengar. Penasaran mengusiknya, siapa orang yang membuat Nazura yang pulang selama ini. Bahkan kalau Nazla yang mengajaknya saja ia enggan ikut. Seutas senyum menyeringai di wajah Nazla. Antara kesal, marah, cemburu, entahlah ia tampak tak suka melihat pemandangan itu.


"Jadi yang buat kamu pulang lama itu Reza"


"Itu aku tadi bantu Reza buat nge.."


"Gak usah dijelasin gak butuh juga"


Nazla langsung membanting pintu kamarnya.


Semalam ia tak keluar bahkan Nazura heran kenapa kembarnya berubah drastis.


"Mungkin kejadian semalam masih mengganggunya"pikirnya.


Taman komplek Bakti Melati ___________________________


8 tahun yang lalu kasus pencurian anak di bawah umur tengah marak terjadi. Para sindikan penculikan kerap beraksi di jam pulang sekolah. Dengan target sasaran anak SD, yang tujuannya mendapatkan organ si anak dan melelangnya di pasar gelap.


"Nazla hati hati ya nak. Sekarang marak kasus penculikan. Jadi kalau nanti Azla ketemu sama orang yang gak dikenal jangan ikut kalau diajak sama mereka. Terus nanti Azla tunggu pak Jojo biar dijemput."ujar sang mami yang mulai khawatir dengan kejadian ini.


"Beres bos"dengan tangan yang memberi hormat.


Dan di sudut ruangan seorang anak kecil dengan rambut lurus yang tergerai indah menatap pada kehangatan yang ia juga ingin rasakan. Terkungkung dengan keadaan fisik yang lemah mengharuskannya berdiam. Jika saja ia terlahir normal mungkin sekarang dirinya juga dinasehati seperti tadi.


Risih dengan keadaan, gadis itu berlari keluar menuju pintu belakang. Pintu yang hanya ia ketahui bersama dengan Nazla. Pintu yang mereka sebut sebagai pintu doraemon. Salah satu tokoh fiksi kartun kesukaan si kembar. Tangis itu masih menggema pada tanah lapang yang hanya terdapat pohon besar nan lebat di tengahnya. Dirinya terduduk dengan kepala menengadah pada langit. Matahari menunjukkan siluetnya dari balik daun yang menari dengan angin.


Dadanya sesak karena tangis yang tak kunjung henti. Sadar sudah lupa bahwa ia belum minum obatnya sedari tadi. Dan mata itu tak kuasa membuatnya terbaring pada rerumputan yang menghangat. Sesaat ia merasa berada di negeri dongeng seperti cerita sang mami mengenai dongeng 1001 malam.


Hingga sosok itu menghalangi cahaya mentari yang membuatnya tersadar. Seorang anak laki laki dengan darah segar mengalir pada sudut bibirnya. Luka lebam juga terlukis pada pipi gembulnya.


"Kukira kamu mati, nyatanya cuman tidur ya"ucapnya membuka obrolan.


"Pipimu dan bibirmu" ujarnya menyentuh bagian luka.


"Aww... Sakit pelan pelan dong kamu tuh cewek loh"


"Kok bisa?"tanyanya tanpa mengindahkan ucapan si lelaki.


"Broken home"ujarnya singkat.


Dan yang bertanya dari tadi disibukkan dengan ucapan si bocah. Hingga pikirannya melayang. Mencari tau maksud perkatan anak lelaki yang tengah duduk di sampingnya.


Mereka mulai berbincang tentang cerita anak kecil pada umumya. Sampai lawan bicaranya pamit karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 siang.


"Heii namamu siapa?"ujar si pria kecil.


"Nazura, Nazura Faisal Az zahra"ujarnya berlari kecil menuju pintu kemana saja.


"Aku Rasyid Rido Husein"ujarnya yang membuat si gadis berbalik.


"Okay asyid aku pulang dulu ya, besok jam 10 kuharap kau bisa datang."teriaknya.


"Aku janji Ra"ujar si pria dengan menunjukkan jari kelingkingnya.


Nazura hanya mengangguk dan berlari lagi sambil bersenandung kecil. Senyum itu mekar menarik simpul sudut bibirnya. Bahagia? Tentu ini hal pertama kali yang pernah ia lewati. Berbicara dengan orang asing yang disebutnya sahabat.


Semakin hari persahabatan mereka semakin kompak. Mami percaya jika Nazura tak di rumah bisa jadi ia sedang bersama Rasyid.


"Mi, apa itu broken home?"tanyanya suatu ketika.


"Loh kok Zura nanya gitu"


"Asyid pernah luka, waktu zura tanya kenapa, dia bilang broken home. Zura kan bingung, kalau nanti Zura nanya takut Asyid gak jawab"


"Hmmm Mami juga gak ngerti jelasinnya gimana tapi intinya broken home itu keadaan dimana orang tuanya selalu bertengkar"ucap sang mami sambil menyuapi anaknya.


"Berarti Asyid gak bahagia dong mi"


ucapnya murung.


"Kan ada Zura. Tugas Zura sekarang bantu dia bahagia kan Zura sahabatnya"


menyentuh hidung mungil Nazura.


"Aman itu Mi Zura pasti selalu bersama Asyid. Jadi kalau gitu Zura pergi dulu ke tempat biasa okay"


"Hmm pulangnya jangan lama lama ya nak"


"Okay bun"


Sesekali ia bersenandung lagu yang selalu mereka nyanyikan bersama. Senyum itu memudar saat melihat badan mungil itu tergulai tak berdaya. Rasyid terbaring dengan beberapa luka di sekujur badan. Membuat lututnya kaku, hingga mulutnya ditutup oleh telapak tangan legam. Tubuh mungilnya diangkat membuatnya meronta melepas diri. Tapi usaha itu gagal. Ia terus mencoba tapi tetap gagal.