Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 16



Lahir dari sebuah kesalahan hanya itu yang terbersit dalam benak gadis remaja bertubuh mungil itu. Bagai tersambar petir walau dramatis, itu sajalah yang dapat menggambarkan perasaannya kini.


Jadi, mereka bukanlah keluargaku? Pikir gadis yang tengah merondok dibalik tembok. Pertanyaan demi pertanyaan menerpa gadis berusia 16 tahun itu, walau pahit bukankah seharusnya ia tahu kabar ini dari awal saja. Agar tak ada timbul perasaan berkecambuk begini.


Sepanjang pelajaran fokusnya teralih pada percakapan Faizal dan Zahra di ruang tamu. Konsentrasinya terganggu, emosinya melabil seperti sedang dapat jatah bulanan. Huh... nafas itu menderu keluar.


"Nazla kamu gak papakan?"


Pertanyaan Nazura memang benar, tapi mengapa gadis yang ditanya malah acuh dan memandang benci. Salah apa dia hingga harus mendapat perlakuan begitu.


"Ra bisa gak kita gak usah sebangku dulu, aku bosan selalu dibandingin sama kamu"


"Yaudah aku ke Mei aja biar Annisa jadi teman sebangkumu"


Nazura duduk disisi ruangan, semua anak tampak heran. Palingan cuma pertengkaran saudara, asumsi mereka. Nazla memandang ke perpustakaan yang ada dilantai bawah. Nazura, Annisa dan Mei sedang tertawa.


Andai kamu tau yang terjadi Ra, kamu juga bakalan jauhin aku. Tapi aku gak bisa lihat kamu jauhin aku karena itu aku yang bakalan menjauh. Batinnya.


Nazla tersadar, air mata membasahi sudut matanya. Ketakutan yang selalu dia tutupi sebentar lagi akan terbuka. Takut temannya akan menjauh, takut Nazla tak ingin mencakapinya lagi dan takut lelaki yang disukainya juga membencinya. Semua ketakutan itu semakin merasuk, perdebatan Zahra dan Irene sayup terdengar oleh telinganya.


"Apa aku harus ikut sama tante irene? bukan mama irene"


Zahra memasuki ruangan diikuti Irene yang mendahului kakaknya. Ia memandang Nazla dari kaki sampai kepala dan mengulanginya lagi.


"Tante, bukan mama udah ambil keputusan kamu ikut sama mama. Om Andrew sudah mengatur segalanya kita akan..."


"Mungkin bagi tante ini cuma becanda, tante pergi dan setelah hilang tanpa kabar datang dan langsung ingin membawaku pergi. Sebenarnya tante anggap Nazla apa belanjaan online yang bisa tante pesan dan cancel sesuka hati? Nazla senang tante mengaku dan bukannya menyangkal tapi tante, Nazla masih belum bisa terima tante kalau tante mau pergi silahkan pergi sendiri gak usah repot mengajak Nazla"


Ucapan Nazla mengalir hanya dalam sekali tarikan nafas. Bagai terhempas angin panas yang membakar, hanya air mata yang mengalir yang mewakili perasaan wanita berumur 34 tahun itu.


Irene tak bisa memaksa semua yang dikatakan Nazla benar adanya. Kalau saja waktu bisa diputar ia akan memilih mengasuh putrinya sendiri tanpa harus memikirkan nama keluarga. Nama yang harus tetap terpandang baik dimata keluarga, tetangga dan rekan bisnis. Tak seharusnya ia terbang ke swiss dan meninggalkan Nazla sendiri.


"Mama faham Nazla belum bisa terima mama. Mama juga salah seharusnya mama..."


"Syukurlah tante masih punya rasa bersalah"


Kalimat itu kembali menyayat hatinya. Entah mengapa kakinya melemas, padahal sepatu bertumit itu sudah dilepas. Akhh... ia mengerang tiba tiba kontraksi terjadi. Faizal dan Zahra dengan sigap menopang tubuh lemah bumil itu dan membawa ke dokter kandungan.


"Apa aku terlalu kasar sama mama? kasihan dedek bayinya"


Nazla kembali dipindahkan ke ruang rawat. Kali ini Andrew suami mamanya datang dengan Isabelle adiknya. Andrew tersenyum pada gadis yang terbaring lemah, Irene memasuki ruangan dengan kursi roda. Nazura, Reza dan Husein yang baru tiba heran dengan apa yang mereka lihat. Yang pasti terekam gadis cerewet itu semakin memburuk.


"Nazla, Nazla ikut sama mama dan om Andrew" ucapnya.


Zahra berusaha menjelaskan semuanya pada putri sematawayangnya itu. Sedangkan Husein dan Reza yang ikut mendengar menatap sedih Nazla.


"Separah itu ya hidup lo La? Kenapa harus pura pura tegar?" Ucap Husein saat hanya tinggal mereka berempat diruangan.


"Masa iya gua mau nyerah gitu aja lagi pula gua gak mau dikasihani sama kalian tau gak. Apa lagi sama lo kunyuk gak usah lihat gua segitunya dong"


"Gua gak iba sama lo La, gua cuman nyesel aja karena pernah buat lo sedih" ujar Reza memandang gadis itu.


"Dan itu yang gua gak suka, lagi pula operasi gua udah dijadwal di Swiss dan mungkin jalanin beberapa kali kemoterapi habis itu gua balik normal lagi" tukasnya memotivasi diri sendiri.


"Kamu tetap ikut walau tau tante Irene..."


"Ya, tadi waktu lihat tan.. mama kesakitan rasanya kau gak tega. Aku berusaha memposisikan diriku ditempat mama dan ya mungkin kalau aku jadi dia aku akan gila"


Perkataan Nazla membuat mereka terdiam lagi. Tapi keberangkatan gadis itu tak bisa diubah lagi. Gadis berumur delapan tahun memasuki ruangan setelah mengintip. Canggung mungkin itu yang dirasakannya.


"Kak Nazla?"


"Isabelle bisa bahasa Indonesia ya, wah keren bule pake bahasa indo" ujar Husein membuat mereka tersenyum geli.


Isabelle tersenyum kecil dan memandang Nazla lagi.


"Mama sering cerita kalau aku punya kakak yang cantik, ternyata benar dia bukan cuma cantik tapi kuat dan baik hati" ucapnya memeluk Nazla.


"Oh.. Isabelle kita ternyata bisa gombal juga. Jadi mau terbang rasanya kakak" ucapnya.


"Hehhehe... kakak Nazla punya pacar, atau salah satu kakak disini pacarnya kakak?"


"Kamu kecil kecil malah bahas pacaran, kakak gak punya lah" ujarnya malu.


Membuat semua orang kembali tertawa.


Terbang, rasanya aku ingin terbang dan menari bersama angin lembut. Hingga bayangmu akan menghilang ditelan malam. Reza, aku tak pernah ingin Tuhan mengembalikan waktu seperti semula saat aku tak mengenalmu. Karena tak ada sedikitpun penyesalan dalam diriku karena hati ini jatuh sejatuh jatuhnya padamu.~ Nazla Faizal Az zahra.


Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan comment kalian sangat dibutuhkan. Stay healty reader, salam sayang dari aku🙂🙂


**Oh iya jangan lupa mampir kekaryaku satu lagi ya


judul: Afifah si gadis pemimpi.