Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 17



Bahkan malam yang gelappun pasti berakhir dan matahari akan terbit~ Nazla Faizal Az zahra


Suara perut keroncongan menggelitik Nazla. Gadis itu menatap mereka bertiga sambil mengkatup bibirnya menahan tawa. Kalau boleh jujur ingin Nazla menyampaikan betapa lucunya ketiga orang yang tengah duduk sambil beradu pandang di depannya.


"Ini mah fix, kalau kalian belum pada maam" tawanya sambil memukul Reza yang ada dihadapannya.


"Lu mah parah, ketawa sambil nabok" ucap Reza mengusap lengannya yang sakit.


"Ya sorry, habisnya sih kalian lucu"


Tawa Nazla mencair kekhawatiran yang membelenggu dihati lelaki berlesung pipi itu. Walau kenyataan gadis itu akan pergi meninggalkannya untuk berobat. Rindu mungkin rasa itu yang akan berusaha merenggut ketenangannya. Gadis yang mampu membuatnya merasa kalau bahagia itu milik semua orang. Dan Reza juga berhak bahagia.


"Za, kita bisa bicara berdua?" pertanyaan itu menghenti langkahnya menuju pintu.


Nazura dan Husein pergi dan meninggalkan Nazla dan Reza.


"Za, aku punya hadiah spesial hadiah terakhir. Mungkin terlalu berlebihan, tapi sejak tahu kalau ayah kamu... Aku tahu gimana rasanya setelah tahu semuanya. Tapi pria yang kau benci masih hidup dan kau bertanggungjawab untuk menjaganya, karena kau anaknya" jelas Nazla dengan mulut berbusah.


"Kau tak mengerti Nazla, kita berbeda"


"Bahkan malam yang gelappun pasti berakhir dan matahari akan terbit. Tidak ada yang tidak mungkin kalau kau berusaha dan mencoba"


"Mencoba? Agar aku dan ibu disakiti lagi. Memang mudah mengatakannya Nazla, tapi melakukannya membutihkan ketegaran yang luar biasa" kali ini suara Reza meninggi.


"Reza yang kukenal bukan Reza yang membenci bahkan berhati dingin. Om Ahmad sudah menebus segalanya seharusnya kau coba memahaminya"


Pria yang dibacarakan sedari tadi muncul melalui bilah pinti yang terbuka. Wajah Reza mengeras, sepuluh tahun sudah ia tak bertemu pria bejat yang hanya tahu mabuk mabukan, melakukan kekerasan pada anak dan istrinya. Klase ingatan itu membawanya dalam kenangan lalu.


"Lani... lani, wanita yang menyedihkan. Mengapa aku harus menikahimu hah" ucapnya dalam keadaan mabuk.


Surat PHK itu menyakitkan hati pria berusia tiga puluh tahun yang hanya berusaha menafkahi anak dan istrinya. Sudah dua tahun Ahmad bersikap acuh tak acuh pada keluarga. Terlantar? Tentu bagaimana tidak si suami yang seharusnya menjadi nahkoda dalam rumah tangga hanya tahu menghabiskan uang di meja perjudian. Tak seharipun tanpa mabuk dan berjudi. Uang belanja yang sepatutnya diberikan pada sang istri malah dihabiskan mencicipi berbagai minuman keras yang ada.


"Jangan duit ini mas, ini buat beli sepatu Reza. Sepatunya sudah bolong kasihan setiap hujan datang sepatunya bocor" pinta Lani mencoba meraih uang yang dirampas.


"Apa peduliku? Sana kau memang hanya buat susah"dorongnya.


Dorongan Ahmad tentu menyakitinya baik fisik maupun hati. Hati wanita rapuh dia mudah luluh dan hancur. Walau sudah tahu begitu Ahmad tak berubah bahkan anaknya yang merupakan darah dagingnya sendiri ia tak peduli. Cinta itu seakan lebur dan hancur, ekonomi jadi hal yang fatal. Pria yang begitu dikagumi oleh Lani berubah menjadi manusia berhati batu.


Reza menatap pria bejat itu dari atas hingga bawah. Jujur ada rasa rindu, rasa rindu pada sosok ayah yang telah lama menghilang. Terlalu lama bahkan. Pikiran itu segera ia tepis jauh, tatapannya menajam baik pada Ahmad maupun gadis dengan selang oksigennya.


"Reza, sudah lama rasanya ayah tak bertemu denganmu" tukasnya memeluk buah hati yang ia rindu.


Tak ada balasan hangat dari lelaki remaja itu, ia hanya mematung tanpa kata.


"Saya tak menepis pelukan Anda karena ajaran Ibu saya. Bahwa menghormati orang yang jauh lebih tua itu sebuah kebaikan. Tapi permisi rasanya tidak ada yang perlu saya bahas dengan anda" ucapnya melangkah pergi.


"Biar Nazla aja om"pintanya menghenti langkah Ahmad.


Reza mempercepat langkahnya, terkadang ia berlari kecil dilorong rumah sakit. Pria itu menaiki lift menuju atap rumah sakit. Nazla mulai terengah tapi dia yang memulai harus dia yang mengakhiri. Beban itu ia pikul saat Ahmad yang beberapa hari lalu datang berkunjung menceritakan tentang Lani dan Reza putranya.


"Om Nazla bukan bermaksud memotong cerita om, tapi Nazla akan melakukan apapun agar om bisa berbaikan dengan Reza. Karena jujur Nazla gak bisa lihat om dan Reza saling membenci" jelasnya sambil mengelus punggung tangan Ahmad sosok penyelamatnya.


Nazla terengah, tapi dia berhasil menuju atap dan si lelaki masih berlari menuju tepi.


"Za, apa sekarang kamu bisa berhenti"teriaknya sambil terengah.


Reza menatap Nazla dan berlari menuju si gadis.


"Lo gila ya? Siapa yang suruh lo ngejar gua dan lepas alat bantu pernafasan. Lo mau coba bunuh diri hah?" ujar Reza mencengkram bahu Nazla.


"Kalau itu bisa membuatmu berhenti membenci. Reza, om Ahmad sudah menebus semuanya. Om Ahmad menderita karena pengaruh minuman keras yang ia konsumsi selama ini. Aku gak mau kebencian kamu jadi penghalang buat berbakti sama orang tua" ujar Nazla mengatur nafas.


"Kamu gak tahu apapun" kata pria itu.


"Aku tahu, tapi aku tak tahu apa rasa sakit itu masih berbekas. Karena pria yang mengaku dekat dan berteman denganku menutupi perasaannya. Za kamu memang seperti buku baru yang aku hanya tahu covernya tapi tidak isinya"


Reza mendiam gadis mungil yang sudah berhasil mencuri hatinya terengah, kalimat panjangnya kadang terpenggal. Gadis yang terbiasa mengoceh tanpa henti kini lemah.


"Kamu tak usah repot memikirkan aku dan keluarga hancurku. Karena kau sama dengan yang lain hanya ingin tahu tanpa coba memahami. Yang kau buat hanya sia sia, tak ada sedikitpun tersisa rasa belah kasih pada pria bejat yang hanya tau membuat orang sengsara"pria itu membelakangi Nazla.


Terik matahari membuat kepalanya pusing. Tapi Reza dan Ahmad, ah.. masalah ini harus berakhir disini sudah berlarut larut cerita kelam ini menyapa.


"Aku bukan mereka, aku bukan cuma ingin tahu tapi aku berusah membantu. Karena aku tak ingin kau dan ayahmu saling membenci. Karena aku tak mau melihat pria yang kusuka phobia melihat buku dengan judul ayah. Dan benar Za, aku suka kamu. Tapi sepertinya kau tak mengerti karena bencimu..." kata benci jadi kata terakhir sebelum gadis itu terhuyung.


Reza mengangkat Nazla membawanya menuju ruangan. Dan lagi lagi gadis itu harus berada di ruang ICU.


Semua menengang Irene dan Andrew segera mengurus paspor dan perpindahan perawatan Nazla. Isabelle putri mereka memandangi jendela mungil yang ada di pintu kaca. Gadis kecil itu berjalan menuju Reza yang terduduk lemas, penyesalan kalau seharusnya ia tidak pergi seperti anak kecil meninggalkan kamar rawat.


"Kak Reza? Ini surat yang dikasih sama kak Nazla. Kakak harus baca ya" pintanya.


Tanpa ba bi bu Reza kembali ke atap rumah sakit. Tarikan nafasnya memanjang, surat beramplop putih itu ia buka.


**Hai kunyuk!!!


Surat ini adalah pengungkapan perasaan yang gua pendam selama ini. Gua tahu kita memang hidup di Zaman modern tapi gua pengen coba gimana rasanya ngirimin surat buat orang yang kita suka. Jujur gua bukan orang yang puitis dan pintar dalam merangkai kata kata. Karena jujur untuk membuat surat ini ada puluhan kertas yang harus terbuang.


Om Ahmad, gua yakin saat gua pertemuin kalian berdua lo bakalan langsung membenci gua. Tapi gua gak bakalan salahin lo, rasa terimakasih pada Om Ahmad meluluhkan itu semua. Om Ahmad pernah nyelamatin gua dari kasus penculikan anak waktu berumur 7 tahun. Sampai ada 12 jahitan diperutnya. Dia nggak pernah cerita karena menurutnya ia terlalu berdosa mendenskripsikan keluarganya. Tapi hari itu keberanian itu muncul rasa rindunya mengalahkan rasa takutnya.


Gua bukan penceramah, tapi gua harap lo mencoba memahami Ayah lo Za, sama seperti gua yang masih belajar menerima kehadiran mama.


Harapan gua satu Za, lo selalu bahagia karena lo pantas bahagia. oh ya jangan lupa doain gua ya, jangan selingkuh lo. Reza itu cuman milik Nazla gak ada cewek lain. Faham? 😁😁


NazlaπŸ’Œ**


Surat manis itu membuat Reza menangis. Air mata itu mengalir dari sudut mata lelaki berlesung pipi.


"La, lo harus sembuh. Lo harus tungguin gua karena lo belum tahu gua juga sayang sama lo, Nazla" ujarnya dengan senyum cerah.