Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 2



Azan berkumandang. Seruan tuk seluruh umat berserah diri pada sang haliq. Reza yang mulai beranjak remaja mengimami sang ibu melaksanakan shalat magrib. Sehabis shalat Reza mulai muraja'ah hafalannya. Sekarang 5 juz al Qur'an sudah melekat di otak dan hatinya.


Setelah orangtuanya bercerai Reza tinggal dengan sang ibu. Yang sejak dulu sudah menjadi sosok ayah untuknya.


"Bu, besok uang sppku harus dibayarkan."


"Oh iya, syukurlah ibu sudah menyisihkannya.... Besok ibu harus pergi ke rumah kakekmu mungkin barang seminggu ibu disana."ujar sang ibu sembari melipat mukenahnya.


"Ada apa bu? Kakek sehat bukan?"tanyanya khawatir.


"Alhamdulillah. Kakek hanya rindu pada ibu"


"Baiklah"ujarnya meninggalkan sang ibu.


Ia mulai membuka buku untuk materi besok di sekolah. Tiba tiba ingatannya bergelayat pada kenangan yang sudah lama tertinggal. Sosok ayah. Sosok yang sebenarnya ia rindukan. Walaupun kenangan manis yang terukir tak sebanding dengan kerasnya kekejaman yang dirasa.


Ingatlah para orang tua kekerasaan yang dilakukan pada sang anak bukan hanya berbekas pada fisik tapi juga psikisnya. Ada kalanya dengarkan suara hati sang anak. Rambut boleh sama hitam tapi hati tak ada yang tau bukan. Tak ada anak yang terlahir dengan perilaku yang jahat. Kenakalannya itu terlahir dari dua faktor. Satu lingkungan sosial pergaulannya. Dan mungkin dari orang tua dan keluarga besarnya.


Reza duduk di kelas XI IPA 1. Jujur itu kelas paling sengit dalam persaingan juara. Reza berada diperingkat kedua di kelas. Pelajaran favoritnya ialah kimia. Ia pun menjabat sebagai ketua kedisiplinan di sekolahnya. Setiap pagi dirinya sudah biasa menghadapi kenakalan dan keterlambatan para siswa dan siswi.


Matanya tertuju pada sosok gadis berhijab dan gadis ber rok pendek yang berada pada jajaran siswa yang terlambat. Gadis berhijab tampak tertunduk malu sedangkan yang berok pendek sibuk mengunyah permen karet di mulutnya. Reza menghela nafas keras sebelum mulai berbicara.


"Bagi yang terlambat tulis nama dan kelasnya."titahnya.


"Sekarang?"tanya si rok pendek.


Pertanyaannya itu tak digubris membuat sang cewek geram.


Reza emang cowok yang populer di sekolah. Banyak siswi yang menaruh hati padanya. Sampai setiap pagi ia menemukan setidaknya 10 surat di laci. Sebagian surat dibaca oleh teman sebangkunya Radit dan sebagian dibuang Annisa. Annisa satu satunya teman perempuan Reza sifatnya yang apa adanya membuat Reza tak masalah untuk sekedar berteman.


"Za, udah selesai ngukumnya? Noh surat udah pada nangkring di laci"ujar Radit.


"Yaelah Dit kaya gak kenal si Reza aja palingan tuh surat disuruh dibuang semua"ujar Annisa bertopang dagu.


"Tuh tau"ujar Reza singkat yang hanya mendapat gelengan dari temannya.


Pelajaran hampir di mulai. Dua orang siswi memasuki kelas. Jelas kalau mereka anak pindahan. Reza memilih membaca buku dibandingkan mendengar perkenalan yang menurutnya tak terlalu penting itu.


Kedua siswi itupun duduk di belakang Reza dan Radit. Banyak siswa yang memandang kearah mereka berdua. Tampak sekilas kalau kedua perempuan itu memperlihatkan kemiripan pada wajahnya tapi tidak tingkah dan cara berpakaiannya.


Pelajaran kesukaan Rezapun dimulai apalagi kalau bukan kimia. Seluruh anak antusias mendengar penjelasan dari bu Salwa. Guru lulusan dari salah satu universitas paling the best di indonesia. Salah satu universitas yang dicantumkan Reza dalam daftar keinginannya.


Bel istirahatpun berbunyi.


Setiap kata ia resapi dengan penghayatan penuh. Matanya terbelalak saat kisah itu sesuai dengan sifat sang ayah. Ayah yang selalu mengutamakan kekerasan untuk mendapatkan keinginannya. Tamparan, tendangan sudah biasa dipertontonkan. Makian lebih sering terdengar dibandingkan kata manis.


"Dasar anak nakal. Siapa yang menyuruhmu keluar hah? sudah kukatakan tetap disini. Dasar anak tak tau malu. Kau sama seperti ibumu pembawa sial."


Kata kata itu terngiang. Ucapan yang selalu dilontarkan saat dirinya keluar untuk bermain di halaman rumah dengan teman sepantarannya. Tak terasa cairan bening itu mengalir. Ia usap kasar dengan telapak tangannya.


"Lo, baik-baik aja?" tanya seorang gadis yang tengah bersandar pada dinding sambil membaca buku.


Lama ia menunggu jawaban, hingga gadis itu menatap Reza melihat pria itu tanpa sengaja meneteskan air mata kemudian mengusapnya kasar lagi.


Reza meletakkan buku itu kembali. Berat rasanya reuni pada rasa sakit yang mulai dilupakan. Biarlah buku itu untuk para anak yang memiliki ayah yang benar benar bertingkah selayaknya seorang ayah pada anaknya. Sebagai referensi untuk bersyukur karena memiliki ayah yang baik. Sosok pria yang menjadi benteng kokoh pelindung keluarganya.


"Kalau mau nangis ya nangis aja. Nggak usah dipendem entar jadi penyakit lagi." ucap gadis itu lagi.


"Lo bisu? Tapi kayaknya enggak deh, soalnya kan lo yang tadi ngukum anak yang telat."tukasnya sembari meletakkan buku di sebelah keduanya membuat tiada jarak yang berarti.


Hingga gadis itu berjinjit dan mendekat kearah telinga Reza, namun anehnya pria itu mendekat seperti orang yang baru saja dihipnotis.


"Kalo lo punya trauma, nggak usah dibaca. kalo lo sedih ya nangis aja, nangis itu bukan berarti lo banci. Itu cuma bentuk emosi yang lagi lo rasain. Sedih itu wajar." ucapnya dan meninggalkan Reza yang mematung berusaha mencerna perkataan gadis itu.


Reza sampai di kelas. Matanya langsung tertuju pada kedua sosok kontras yang duduk dibelakangnya. Perempuan berrok pendek menatap Reza membuat keduanya beradu pandang. Hingga suara Annisa membuyarkan mereka berdua.


"Nazla, lo itu pindahan dari mana sih?" tanya Annisa antusias.


Pertanyaan Annisa membuat Nazla yang semula tersenyum cerah memilih menatap keluar jendela. Sebelum dirinya menjawab pertanyaan yang mulai mengundang banyak pandangan penasaran padanya.


"SMA Bakti" ucapnya singkat.


"Terus kenapa pindah?" kali ini Radit yang bertanya.


"Nemanin Nazura, soalnya ini tahun pertama dia sekolah." tukasnya yang hanya dijawab oh oleh banyak orang.


"Bukannya lo pindah karena ada masalah di sekolah lo ya?" tanya Queen.


Queen adalah salah satu dari sekian banyak orang yang ia ingin jauhi seumur hidup. Gadis itu cantik, Nazla mengakui hal itu. Tapi tingkahnya, ucapannya, caranya memandang dan bersikap pada orang lain membuat Nazla ingin memakannya hidup-hidup.


"Gue nggak ada urusan sama loh dan bilang sama sepupu lo yang bajingan itu, gue nggak butuh cowok yang nggak punya otak kayak dia." ucapnya berlari meninggalkan ruangan kelas yang ricuh.


Semua hal pasti berlalu, aku yakin begitu juga kesedihan dan rasa kecewa. Tapi Tuhan kalau aku boleh meminta satu keajaiban saja, kumohon bisakah aku mengulang semuanya dari awal. Aku berjanji akan memastikan cerita ini berakhir dengan bahagia. Bukan hanya untukku tapi juga untuknya. -Nazla.