Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 19



Kelas riuh, anak sekelas berlari menyusuri koridor. Nazla berjalan menunduk menuju toilet. Walau sudah tiga bulan dia tak hadir, ada rasa nyaman yang selalu membawanya ingin kesana. Walau sakit yang dirasa sesekali datang sebagai pertanda dia masih ada dan kamu harus bertahan. Janji pada surat yang ia beri merupakan hutang yang ia bayar.


"Apa riasanku bisa menutupi wajah pucatku ya? Aku takut semua bakal menatapku iba, aku kesini bukan buat dikasih hani tapi demi janji" tukasnya memolesi wajah dengan make up.


Bel sudah berdering, koridor sudah sepi seperti harapannya. "Tunggu apa aku telat, kalau sesuai roster sih bukannya pak Rudi yang masuk. Aduh mati aku" ia menepuk jidatnya dan mulai berlari kecil.


Sesampainya diambang pintu ia menarik nafas panjang dan melangkah masuk. Pak Rudi yang menatap pintu menghentikan aktifitas menerangkan setelah mendengan suara ketukan pada pintu. Ia menyipitkan matanya.


"Wahh.. Nazla sayangku" teriak Rendi membuat sekelas ricuh.


"Wahh.. Nazla balik" bisik anak lainnya.


"Nazla, kamu udah baikan nak. Udah lapor ke kantorkan kalau udah mau masuk lagi" seakan tak percaya Nazla ada dihadapannya sifat killernya berubah jadi lembut.


"Alhamdulillah saya sudah baikan pak dan udah izin kok ke kantor terus saya disuruh memasuki kelas bapak" jelas Nazla.


"Yaudah kalau gitu kamu duduk di sebelah Annisa"


Annisa yang merasa namanya disebut melambaikan tangannya menyambut Nazla. Gadis itu tersenyum saat berpapasan dengan Reza. Senyuman itu berbalas, ya pria lesung pipi itu membalas senyumannya.


"Syukur deh La, lo udah balik gue rindu. Belum lagi cecungguk yang satu ini malah gangguin gue muluh waktu lo pergi"tunjuk Annisa pada Rendi.


"Wah... parah lo Sa, malah ngancurin pandangan cewek gua. Dengar ya beib ku sewaktu kamu pergi aku usaha jadi cowok yang baik tahu" ucapnya menatap Nazla jahil.


"We gila sih, gua percaya kok beib lo emang cowok yang... "seketika rasa sakit datang dari bekas operasinya.


"Kenapa? Nazla kamu kenapa?"tanya Reza cemas.


"Aku gak papa kok" senyumnya.


"kenapa kau selalu menutupnya? kau tak percaya padaku?" batin Reza.


Sepanjang hari Nazla tak henti tertawa, Rendi selalu mengeluarkan guyonan garing plus gombalan basi andalannya. Belum lagi grup mereka sudah bertambah dengan kehadiran Anton dan juga Husein.


"Ya kunyuk, kenapa lo nggak pernah hubungin gue. Cuma Nazura sama anak yang lain doang, emang lo nggak rindu gue apa. Belum lagi lo tadi dingin amat di kelas, gue itu dianggap apa..."


Reza memeluk tubuh mungil dihadapannya, membuat gadis itu berhenti bernafas. Reza yang menyadarinya melepas pelukan itu.


"Baru kali ini dipeluk, sampai gak nafas segala. Udah nafas aja dulu. Masa iya berita dikoran tertulis seorang siswi dikabarkan meninggal usai tak bernafas karena dipeluk kekasihnya, gak lucu kan?" ucap Reza.


Nazla menggigit bibirnya, kedua pipi itu memanas. Ia mencerna kembali perkataan Reza dan menyadari kata yang terselip disana.


"Kekasih? Tadi kamu bilang kekasihkan?"tanya Nazla yang membuat Reza mati kutu.


"I..tuuu pradugaan dari kasus kematianmu, jangan mengada ngada dan buang pikiran kotor yang ada diotakmu" ucapnya menuil kepala Nazla.


"Kenapa harus pradugaan? Padahal aku maunya benaran" gerutunya kecewa.


"Idih.. iya kali, ngomong sama tiang listrik sana mana tau dia mau" sinis Reza.


"Gak peka banget sih jadi cowok" gerutunya sambil manyun.


"Naik apa gua tinggal?"


"Iya.. iya gak usah pakek acara ngancam segala" ucap Nazla.


Reza hanya tersenyum ketika mengingat aksinya memeluk Nazla erat.


"Hadehh... udah nambah dosa baru" batinnya.


Sepeda motor itu melaju ditengah kemacetan ibu kota yang meradang. Nazla memakai masker menghalangi paru parunya yang rentan.


Hidup ini hanya sekali. Apa terlalu berlebihan kalau aku memintamu menjadi pengisi kekosongan? Saat diriku masih belum pantas meminta sesuatu pada-Nya. Kalau saja dia yang ditakdirkan itu engkau, Reza Syaid Agil Al Fikri. ~ note pink.