
Malam hari Reza sibuk membolak balik bukunya. Suara sang ibu membuyarkan kegiatannya. Langkahnya tertuju pada kamar mandi. Asal suara sang ibu.
"Bu..."
"Bu bangun bu. Ya Allah bu"cemasnya.
Ibu Reza terkapar di sudut kamar mandi. Cairan merah amis mengalir dari kening yang mulai keriput itu. Tanpa pikir panjang dibopongnya sang ibu menuju rumah sakit.
Ia terus berlari dari apotek menuju ruangan ibunya yang sudah diperiksa oleh dokter. Paru paru basah yang sudah lama dideritanya kambuh. Tak terlalu memperhatikan jalan ditabraknya tubuh rengkuh mungil dihadapannya. Gadis berhijab itu mengumpulkan obat miliknya yang berserakan di lantai. Begitupun Reza. Mata merekapun akhirnya bertemu.
"Reza kamu disini?"tukas Nazura
"Ibu masuk rumah sakit"
"Ruangan mana?"ujarnya sedikit panik.
"Ikuti aja aku"
Ia menuntun sang gadis pada ruangan di sudut koridor bangunan di lantai 2 itu. Kamar melati VI, itu yang tertulis pada papan penanda kamar. Mereka segera masuk. Tubuh berbalut selimut terbaring lemah disalah satu kasur pojok kamar. Nazura mengangkat kedua tangannya dan berkomat kamit membaca doa kesembuhan bagi wanita paruh baya itu. Mata lelah itu terbuka. Ditatapnya si wajah sendu lekat. Semburat senyum terlukis pada wajahnya.
Nazura semakin mendekat dan duduk pada kursi yang tersedia. Matanya sibuk mengamati ruangan. Sesak. Terlalu banyak orang dalam satu ruangan. Padahal ibu Reza butuh istirahat, jika masih tetap bertahan disini maka mata takkan terpejam karena beradu pada kebisingan yang tercipta. Ia memberi kode agar Reza keluar ada hal yang perlu mereka bicarakan.
"Sebaiknya tante dipindahkan saja, ruangan itu terlalu sesak. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah istirahat yang cukup"ujarnya berusaha meyakinkan.
"Akupun ingin begitu tapi kau tau bukan uang kami tak cukup untuk kamar vvip"Ucanya lesuh menatap pintu kamar yang ternganga.
"Aku akan bantu"
"Bagaimana aku akan menggantinnya. Harganya saja sudah bisa makan dan bayar spp sekolah"ujarnya lagi memperbaiki posisi berdirinya dan bersandar pada dinding putih.
"Allah akan mempermudah jalan hambaNya bagi yang mau berusaha. Dan aku yakin kau mau berusaha"ujarnya lagi menatap lekat lawan bicaranya yang wajahnya menengadah pada langit langit .
Anggukan. Hanya anggukan jawaban dari penjelasan Nazura. Ia tersenyum Reza mau mendengarkannya. Dan Reza ia tak henti bersyukur memiliki teman yang peduli dengan kondisinya. Berusaha mengerti bukannya mengolok dengan kata miskin.
Mereka menuju meja administrasi. Ibu Reza pun dibawa ke ruangan vvip di lantai 4 rumah sakit. Kamar luas dengan fasilitas sofa, kasur single bed, AC dan juga TV yang bertengger di dinding. Reza mulai merapikan pakaian sang ibu pada lemari kecil dekat single bed di sudut kamar. Sedangkan Nazura membantu ibu Reza ,sesekali diantara mereka terdengar tawa. Ibu Reza mengusap lembut tangan gadis berhijab itu.
"Makasih ya nak kalau gak ada kamu mungkin.."
"Tante jangan bicara begitu kalau tidak saya Allah pasti mengirim orang lain untuk tante dan Reza"ujarnya mengusap punggung tangan wanita itu.
"Kamu cantik, bukan hanya wajahnya tapi juga hatinya"ujarnya dengan senyum lembut.
Diperhatikannya arloji yang melingkar pada lengannya.
"Tante sepertinya saya harus pamit. Besok Insya Allah kalau sempat saya akan berkunjung lagi"ujarnya menyalami tangan ibu Reza.
"Baiklah nak, maaf sudah merepotkanmu. Za antar nak Nazura pulang ini sudah larut. Tak baik anak gadis pulang sendiri pada malam hari"ujarnya lagi.
"Tidak perlu Tan jemputan saya sudah menunggu di parkiran. Saya pamit tante Reza, Assalamu'alaikum"ujarnya berjalan menuju ambang pintu.
Setibanya di kediaman Faisal ketiga pasang mata tertuju padanya. Apa lagi sang papi ia hanya melihat putri bungsunya dari ujung rambut sampai kaki. Merasa risih diamati sebegitunya ia berdehem dan mengepalkan tangannya di mulut.
"Darimana aja Ra? ini udah jam sepuluh kamu baru pulang. Padahal tadi pamitnya ke papi cuma 20 menit nebus obat habis itu pulang. Tapi ini kamu udah keluar selama 2 jam lebih. Tidak biasanya putri papi seperti ini. Kamu selalu disiplin loh Ra"ujar sang papi yang memijat pangkal hidungnya. Tampak bekas kaca mata berbentuk di batang hidunya yang mancung.
"Maafin Zura pi. Tadi Zura bantu teman dulu ibunya masuk rumah sakit paru paru basah katanya. Zura bayarin kamarnya dulu sekalian jenguk makanya Zura lama. Zura gak bakal gini lagi kok pi. Tapi Zura gak janji"ujar menggelitik tawa si papi.
"Udah dimarahin juga masih bisa stand up comedy"ujar papi lagi mengusap kepala Nazura yang hanya tersipu.
"Ibu siapa Ra?"tanya Nazla.
"Ibunya Reza"
"Oh CAMERMU toh"ucapnya menekan kata camer.
"Apaan sih La pake camer segala. Aku sama Rezakan cuman teman"ujarnya cemberut.
"Oh kamu pengen lebih toh"rayunya lagi sambil menoel pipi kembarnya.
"NAZLA"Teriak Nazura dan yang diteriaki berlari masuk ke kamarnya.
Malamnya Nazura uring uringan di kasurnya. Insomnianya tak dapat diusik.
****
Proses belajar berlangsung seperti biasanya. Keheningan sempat melanda. Namun seketika keheningan itu bergeming dengan lalu lalangnya para pelajar menuju seluruh arah sekolah. Ada yang berdiam di perpus, jajan hura hura di kantin dan ada yang shalat di mushollah.
Karena lagi dapat jadwal bulanan Nazura memilih berdiam di kelas. Tentang Nazla keberadaannya tak dapat dideteksi lagi. Sibuk dengan diary pinknya tak ia sadari seorang pria duduk di sebelahnya. Matanya tertuju pada sosok gadis yang sedari tadi terus berkutat dengan diarynya tanpa terasa terganggu.
"Hai gue Rasyid Rido Husein"
"Emm aku.."
"Nazura Faisal Az zahra gue udah tahu segala hal mengenai lo. Tapi mungkin lo gak inget gue "ujar pria itu memantik kebingungan baginya.
"Emang kita pernah ketemu ya?"tanyanya sambil menguras keras otaknya tuk mengingat sosok di sebelahnya ini.
"Ya, gue kasih waktu seminggu lo harus inget gue siapa? Kenapa kita ketemu? kalo lo sampe gak inget lo gue kasih hukuman"ancam pria itu.
"Lah kok aku kayaknya kamu salah orang deh. Sepertinya orang yang kamu cari bukan aku"tukasnya.
"Aku kasih clu , taman di kompleks Bakti melati"ujarnya.
"Gua tunggu jawaban lo. Jangan terlalu lama gue gak suka nunggu. Gua pamit, inget waktu lo cuma seminggu"ujarnya sembari meninggalkan kelas.
Sepeninggalan pria misterius itu Nazura di fokuskan pada memori yang ia lupakan. Ia hanya teriak frustasi karena tak dapat menemukan penggalan dari memori itu.