Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 4



"Hah jadi kalian ini kembar"ujar Mei si bendahara kelas.


"Kenapa? gak mirip ya"tanya Nazla kecewa.


"Kontraks banget wak. Satu MasyaAllah nah yang satu lagi Astaghfirullah"ujar Rendi yang menoleh ke belakang.


"Sembarang tu mulut ya. Ngomong gak di ayak"Sahut Nazla yang tak terima.


"Tepung kali diayak"ujar Annisa.


Masuk dua minggu mereka bersekolah di SMA BUDI LUHUR. Hampir semua anak di kelas telah bertegur sapa dengan si kembar. Ada yang percaya dan ada yang terkejut batin. Hal itupun dirasakan oleh Reza. Si ketua ketertiban yang merangkap jadi ketua kelas.


Proses belajar berlangsung dengan tertib. Hingga bel pertanda istirahat menyeruak keheningan yang melanda kelas XI IPA 1 itu. Pandangan sendu dari sosok bidadari yang sempat booming ini membuat jantungnya tak beraturan. Siapa lagi kalau bukan Reza? Pria yang mencintai seorang gadis berhijab pada pertemuan pertama.


"Kalo diperhatikan hidung Nazura lebih mancung daripada lo La"ujar Radit. Sosok yang entah mulai dari kapan menjadi musuh bebuyutan Nazla di kelas.


"Oh itu. Gini nih ceritanya. Waktu kita mau lahir gue sama Zura itu baku hantam entah mau siapa yang lahir diluan. Nah kita sibuk bersaing. Si Zura gak sengaja tendang hidung gue. Tapi syukurlah posisi nomor satu ada ditangan gue. Makanya gue jadi kakaknya dia"ujarnya menunjuk Zura. Dan yang ditunjuk hanya geleng kepala.


"Lah terus elo gak kenapa napakan Ra"pertanyaan itu berasal dari Seila.


"Jantungku gak berdetak waktu lahir"ujar Zura yang langsung membuat Nazla dan yang lainnya tersentak.


"Hehehe iya nih si Zura sempat buat keributan di ruang operasi. Alhasil si zura dibalik dengan posisi kepala di bawah. Lalu bokongnya di gampar sampai dia nangis"jelas Nazla mengusir keheningan yang terjadi entah sejak kapan.


"Astaga Ra kirain apa tadi"ujar Radit yang juga membuat Reza berbalik.


Ocehan merekapun bersambung saling sahut menyaut. Nazura yang terlahir dengan ocehan irit hanya angguk dan sesekali tertawa kecil. Merasa waktu semakin berjalan Zurapun bangkit dari duduknya dan menuju ambang pintu. Dan tentang Reza kepergiaannya tak terendus. Jika saja kepergiaannya diketahui Radit bisa habis pria itu dibuatnya.


"Ra mau kemana"tanya Nazla. Membuat semua temannya yang ngumpul memandanginya.


"Mushollah"ujarnya singkat.


"Mau ngapain "tanya Nazla lagi yang memantik kebingungan dari temannya.


"Berenang"ujar Nazura yang memilih jalan tanpa menoleh pada kembarannya.


"Gila ternyata si Zura juga bisa ngelawak"ujar Mei. Yang hanya dapat anggukan dari temannya.


Disisi lain suara tadarus sayup tertangkap oleh telinga. Surah Ar rahman dilantunkan dengan bacaan yang begitu fasih dengan suara yang indah. Membuat bulu kuduk Nazura yang masih terbalut mukenah merinding. MasyaAllah kata itu yang mampu dia ucapkan.


Punggung itu berbalik seakan mengerti isi pikiran Zura. Matanya terbelalak melihat sosok suara emas itu yang tak lain adalah Reza. Pria yang berhasil mengusik ketenangan tidurnya. Yang telah sanggup mencuri mimpi mimpinya dan menggantinya dengan kenyataan yang jauh lebih indah. Lebih indah dibandingkan mimpi.


Ia langsung menunduk. Sadar kalau gadis dihadapannya menatapnya sontak melukis senyum yang terpatri indah di wajahnya. Entah atmosfir apa yang datang. Mereka seakan taruhan siapa yang paling bisa diam. Keadaan yang begitu canggung. Helaan nafas kedua begitu berat. Rasanya sama berat.


"Shalat Dhuha juga Ra"ujar Reza mengusik keheningan.


"I iya"ujarnya canggung.


"Oh ya kamu pindahan dari mana Nazura?"tanyanya lagi.


"Aku home schooling yang pindahan itu Nazla dari SMA Bakti"


"Bukannya itu sekolah unggulan kok malah pindah"ujarnya.


"Ada masalah"ujar Nazura singkat. Tampak raut wajahnya muram seakan masalah itu tak ingin ia bahas.


Seakan mengerti Reza memilih diam dan berjalan lebih dulu. Tertunduk. Ya sepanjang jalan matanya sibuk memperhatikan ubin. Hingga kepalanya terhantuk pada punggung bidang dihadapannya. Reza mematung sesaat melihat sosok pria tegap berdiri di gerbang sekolahnya. Pria yang menghancurkan masa kecilnya.


Penasaran penyebab mematungnya Reza Nazurapun melihat kearah pria yang sedari tadi diperhatikan. Dia menepuk jidatnya keras. Reza sontak berbalik menoleh padanya. Dan yang ditoleh malah berlari menuju gerbang. Kaki dan akal Reza seakan bertolak belakang. Dirinya memilih menyusul Nazura.


"Maaf om Zura lupa"ucapnya terkekeh.


"Kamu tuh ya kebiasaan deh"ucap pria itu.


Kedatangan Reza membuat mereka sontak menghentikan aktivitasnya. Pria itu menatapnya lekat. Matanya berlinang. Tanpa sadar pria itu merengkuh lelaki yang begitu ia rindukan. Reza hanya mematung tanpa ada niatan membalas pelukan itu. Nazura memandang heran pada kedua pria dihadapannya.


'Berpelukan? Ada hubungan apa om Ahmad dengan Reza.'batin zura.


"Za lepas gak tanganku sakit"


"Za lepas"


"Za"teriak Nazura dan menarik tangannya dengan paksa. Tampak bekas cengkraman di lengannya.


"Ra tanganmu.."


"Jangan sentuh"


"Maaf"ujarnya meninggalkan Zura. Pikirannya buntu.


Reza memasuki kelas dengan raut wajah yang begitu aneh. Banyak anak yang mulai membicarakannya di belakang. Selang beberapa menit Nazura memasuki kelas. Wajahnya tak kalah aneh dengan wajah Reza. Mata mereka beradu. Mata sayu Reza seakan menunjukkan penyesalan yang dalam. Nazura hanya mengangguk paham dan duduk di belakang Reza.


"Tanganmu kenapa Ra"tanya Nazla.


"Emang tangan si Zura kenapa"ujar Radit yang berusaha memengang tangan Zura untuk diamati lebih dekat.


"Ihh jangan pegang deh kunyuk. Gak muhrim"ujar Nazla menjauhkan tangan kembarannya.


"Idih Markonah"ujarnya menghadap ke depan kembali.


Pelajaran dimulai.


Saat bu Ningsih mengajar di depan. Radit mengajak Reza berbicara.


"Lo napa si Za? Si Zura juga aneh lagi. Lo ditolak Zura hah"ujar Radit.


"Gak"


"Terus"


Pertanyaan kepo Radit terhenti oleh tatapan menghunus milik Reza.


"Woles bro gue cuman becanda"


"Gak lucu"


Ucapan itu terdengar sayup di telinga Nazura. Ia melirik ke arah Nazla yang tertidur pulas di sampingnya.


"Kapan berubah si La? Guru lagi nerangin bukan nina bobo in"ujarnya pelan.


Pelajaran sejarah adalah pelajaran yang paling dibenci oleh Nazla. Banyak alasan yang membuatnya lebih memilih mengerjakan pelajaran eksak paling sulit ketimbang menjawab soal sejarah. Dia hanya unggul dipelajaran matematika,kimia dan fisika tapi tidak dengan ilmu sosial.


Saat jam istirahat Nazura dan Nazla memilih tinggal di kelas, seusai pelajaran sejarah Nazla masih belum juga bangun. Bukan belum tetapi dia memilih menutup matanya dan berdiam diri di kelas. Akhir-akhir ini ada banyak anak yang mulai usil mencari tahu alasannya pindah dari SMA Bakti. Tidak sedikit yang menuduhnya hamil di luar nikah, membuat onar, ikut club dan tawuran dan banyak tuduhan cacat moral yang dituduhkan padanya.


Nazla masih betah menidurkan kepalanya di atas meja. Hingga suara Reza, Gibran dan Haikal sayup terdengar memasuki kelas. Nazla mengangkat kepalanya sadar bahwa dia tinggal sendiri setelah Nazura pamit pergi dengan Annisa, Mei dan Radit.


"Nazla, kenalin gua Gibran..."


"Pacarnya Queen"ucap Nazla memotong pembicaraan Gibran.


Gibran hanya diam, dia tidak menyangka kalau gadis yang ditemukannya di dekat Diamond Club satu bulan yang lalu adalah Nazla. Dia masih ingat bagaimana wajah frustasi gadis itu menunggu di depan pintu club sambil membawa beberapa cup kopi.


"Lo pacarnya Dylan?"


"Lebih tepatnya mantan. Gua nggak butuh cowok brengsek kayak dia. Kalau lo datang kesini cuma mau bahas tu cowok mending nggak usah, gua terlalu malas dan sibuk buat ngurusin hal yang bisa aja buat kehidupan gua hancur."ucap Nazla sembari meninggalkan kelas.


Dylan, gua benci lo dan semua hal yang berhubungan sama lo. Please lepas gue, gue nggak pengen punya urusan sama sampah kayak lo.- Nazla.


Maaf kalo ada typo dan juga jalan cerita yang absurd.


Jangan lupa tinggalin jejak😊😊