Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 20



"Kenapa kita kesini?" pertanyaan yang menjurus.


"Tempat ini? Bukannya? Kenapa? Kenapa Reza membawaku kesini" Ia memegang dadanya, kejadian kelam itu memenuhi bayangan.


Lama Nazla berada dalam lamunnya, hingga Reza menyenggol lengannya. Membuat gadis itu melihatnya membuat pipinya merona. Pohon besar itu masih sama dengan 10 tahun lalu. Nazla duduk bersandar pada pohon besar, ia menarik lembut nafasnya dan menatap langit biru. Reza yang heranpun ikut duduk disebelahnya. Sesekali angin sejuk datang, menggoyangkan dedaunan membuatnya jatuh. Nazla meraih daun itu dan menatapnya.


"Seperti apa aku menurutmu?"pertanyaan aneh yang membuat Reza berpikir.


"Gadis aneh yang selalu menggangguku tanpa henti"jawaban yang bahkan tak terpikir oleh Nazla.


"Sadis, bagaimana kau akan mendapat pacar kalau sikapmu begitu?"


"Kan ada kamu La"


Seperkian detik jantung Nazla berdetak tak karuan. Hingga kata kata itu membuat bayangannya jatuh berhamburan.


"Apa kau berharap aku mengatakan itu?"


"Hah??"


"Apa maksud pria ini?" tanyanya dalam hati.


"Dasar gadis ceroboh, itu hanya ujian apa kau akan termakan perkataan itu" ucapnya kembali menuil kepala Nazla.


"Dasar roller coster, sesaat kau membawaku terbang tinggi dan menjatuhkanku ke tanah. Hah meroket lalu direndahkan" gerutunya dalam hati.


Mereka hening, Nazla bahkan tidur dibawah rindangnya pohon. Angin sepoi menerbangkan rambut, aroma khas shampo Nazla merasuk hidungnya.


"Dasar ceroboh"ujarnya memandang wajah mungil itu.


"Jangan sakit lagi La, cuma lo cewek yang gua suka"


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Gadis itu masih tidur dengan balutan seragam. Ia menatap ruangan yang begitu familiar. Seorang gadis berkerudung membawa nampan memasuki kamarnya. Ya sekarang Nazla tengah tidur di ranjangnya.


"Tunggu jadi yang bawa aku kesini Reza?" tanyanya heran sambil teriak.


"Iya, kan kamu emang sama dia habis pulang sekolah"


"Kok bisa?"


Nazura akhirnya bercerita tentang apa yang terjadi pada sepupunya itu.


"Hmm.. dari yang aku lihat sih Reza nganter kamu pakai taksi karena kamu tidur. Karena di rumah cuman ada aku dan gak mungkin aku kuat buat ngangkat kamu, jadi Reza yang gendong kamu ke atas"jelasnya.


"Hah?? Kamu biarin dia masuk dengan kondisi kamarku yang berantakan, yang benar aja Ra. Ya Allah kali ini tamat riwayat hamba-Mu. Lihat aja dia bakal ngolok ngolok aku Ra.Ah....ahhh..aishh" ia mengacak rambutnya frustasi.


"Ya mau gimana lagi, udah kejadian juga"


Keesokan paginya, Nazla turun dari mobil dengan ragu, membuat Faizal menatapnya sambil tersenyum. Tangan lembut itu menghangatkan lengannya yang dingin. Pria itu masih menganggapnya sebagai putri sulungnya.


Bahkan kemarin malam mereka bertiga menonton film bareng, cerita tentang operasi Nazla dan apa yang akan dilakukan gadis itu kedepannya. Hanya tuhan yang tahu bagaimana perasaan Nazla sekarang. Disamping ia bahagia mendapat kehangatan ia juga harus bersiap menghadapi tingkah Reza yang mulai aneh. Entahlah hanya kata aneh yang dapat mewakili perasaannya saat ini.


Sebuah tangan merangkulnya, membuat Nazla terkejut dan menyikut perut yang ada dibelakang. Rendi seketika terduduk perutnya rasanya ingin meledak. Ternyata dari tadi Annisa, Rendi dan Reza mengikutinya dari belakang. Nazla melihat Reza sadar ditatap pria itu membalas tatapan itu. Membuat Nazla berlari meninggalkan mereka bertiga. Annisa mengejar Nazla, sementara Rendi dipapah oleh Reza ke uks.


Bel istirahat berbunyi tapi pria tadi belum kunjung masuk kelas. Membuat Nazla menyusulnya ke uks. Apa aku terlaku keras menyikutnya ya? Pertanyaan itu mengganggunya.


"Maaf ya Rendi, gua gak sengaja. Lagian lo sih ngapain ngejutin gua tadi hah, buat jantungan aja untung nih jantung gak copot..." perkataan itu masih panjang tapi terhenti saat tangan dingin itu menggenggam tangannya erat.


"La, sebenarnya lo tulus gak sih minta maafnya? Perasaan gak ada tau orang yang minta maaf gitu, kasar banget jadi cewek" ucapnya tersenyum.


"Loh...kenapa ini, kok dia ikutan aneh kayak Reza ya? Apa gua lagi di prank sama mereka berdua? Ia kali si Reza main gituan"


"Kok ngelamun? Kesambet juga lo lama lama"


"La gua mau ngomong serius ini gak becanda, lo cuman butuh diam doang dan dengerin gue" Nazla yang diminta hanya menggangguk.


Diluar Annisa dan Reza mendengar pembicaraan mereka.


"Gua suka lo La, gua suka lo dari dulu tapi kayak lo nggak pernah ngeh sama kehadiran gua, jadi gua..."ucapnya.


"Jangan suka gua Ren, gua gak mau sakitin lo" batinnya.


Nazla berlari meninggalkan Rendi.


"La...mo kemana?"


"Gua harus mikir Ren..." ujarnya ngosngosan.


Annisa yang diluar hanya memandang Nazla yang berlari.


"Jadi orang itu Nazla, Ren"


Ini terjadi waktu mereka nongkrong bareng di kafe. Reza juga datang setelah menyelesaikan pekerjaan part timenya. Entah apa yang merasuki benak Annisa hingga pertanyaan anehnya keluar begitu saja. Hingga harapan itu datang.


"Ren? Lo punya doi gak sih, habisnya kalo kita ngumpul berlima lo cuma bahas Nazla mulu. Atau lo suka sama Nazla?"


Rendi terdiam menguasai keadaan sebab keempat temannya menanti jawaban.


"Gu..a.. iya kali gua suka neklam. Lagi juga orang yang gua suka itu gak ada disini, dia lagi sekolah diluar jakarta" ucapnya berbohong.


"Dimana? Siapa?" tanya Anton kepo.


"Idih..kepo bat dah lu ton"


Ingatan itu berakhir. Wajah putih Annisa memucat, tangis itu mengalir dari sudut matanya.


"Ya emang benar dia diluar Jakarta, tapi kenapa lo gak jujur aja dan malah kasih gua harapan. Kenapa harus gua Ren? Kenapa?"


Gadis berkerudung itu sesengguk mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.