Please Never Leave Me

Please Never Leave Me
BAB 12



Nazla dan Annisa sibuk memperbaiki buku di perpusatakan. Mereka diberi tugas merapikan buku. Annisa memandang Nazla dengan sejuta tanya.


"Kenapa sa? Ngomong aja gua gak papa kok" ujarnya menatap sahabatnya itu.


"Apa lo sama Reza pacaran?" Pertanyaannya langsung membuat gelak tawa Nazla. Bahkan dia terduduk karena tertawanya.


"Gua..haha.. pacaran sama si kunyuk?"ucapnya sambil menyeka air mata.


"Hebat lo sa bisa buat gua nangis karena ketawa."ujarnya menepuk bahu temannya.


"Gua lagi gak becanda enge"


"Lo kenal Reza jauh dari gua kenal sama tu bocah. Reza itu terkenal anti cewek masa iya gua bisa pacaran sama dia. Surat yang dikirim sama cewek sekolahan aja dibuang. Apa lagi cewek bar bar kayak gua mana mungkin jadi pacar dia" jelasnya panjang lebar.


"Gua juga pikirnya gitu kalo si Reza itu sukanya sama Nazura, kan bisa dibilang lo itu bukan tipikal cewek baik baik" ujarnya yang dijawab tatapan tajam dari Nazla.


"Tapi ya la, Reza itu selalu ngerasa nyaman waktu sama lo. Gua bahkan belum pernah lihat dia tersenyum secerah itu kalau bukan karena lo. Reza itu kayak buku baru yang lo cuman tau sampulnya doang dan nggak sama isinya" ujarnya.


"Gua itu sahabat lo sama Reza dan gua cuma berharap kalo kalian bahagia dan saling terbuka sama perasaan masing masing. Lo pasti tau maksud gua la" timpalnya lagi dan berlalu pergi menata buku di lemari berikutnya.


Ucapan Annisa di perpus membuat Nazla tak fokus di kelas. Hingga ia dilempar spidol oleh guru matematika. Guru yang terkenal killer dan tak pernah memandang bulu, mau itu siswa pintar atau bodoh sekalipun. Kalau dia tak melihatnya tertib dan tak konsen dalam mengikuti pelajarannya akan siap siap dapat hukuman darinya.


Nazla mengambil spidol itu dan maju ke depan.


"Nazla Faisal Az zahra, saya rasa kamu pasti tau kamu salah apa bukan?" Tanyanya.


"Iya pak, saya minta maaf" ujar Nazla menunduk.


"Dan kamu pasti tau kalau saya tidak mengenal kata maaf. Kalau maaf itu berlaku buat apa pemerintah bersusah payah membangun kantor polisi" timpal sang guru.


"Sekarang berdiri di depan dekat pintu"titahnya.


Nazla sudah berdiri selama 15 menit di depan kelas. Ia memandang teman temannya Annisa dan Rendi menirukan sang guru mengajar. Membuat Nazla menahan tawa di depan.


"Nazla apa saya itu sebuah lelucon buatmu? Kenapa kau tertawa. Oh apa kau senang saya hukum?" Ujarnya membuat jantung Nazla tak karuan.


"Cie...cie.. pacaran kali pak" ujar Anton salah satu murid yang suka rusuh di kelas.


Pernyataan Anton membuat kelas makin riuh dan semakin banyak cie an pastinya.


"Sudah sudah kembali pada materi kita"


Selang beberapa waktu belpun berbunyi, membuat Nazla bernafas lega. Sesaat setelah sang guru pergi Nazlapun berjalan ke bangkunya dengan tatapan ke bawah.


Ia meletakkan kepalanya di meja, membuat rambutnya menutup wajahnya. Annisa mengelus rambutnya lembut dan menyibaknya sedikit agar wajah Nazla terlihat. Gadis itu memejamkan matanya dan membukanya. Rendi menjitak kepala Nazla membuatnya emosi.


"Hey... lo berani jitak pala gue. Gak mau hidup panjang lu ya" ujar Nazla mengusap kepalanya yang sakit.


"Makanya ya neng pake jilbab napa? Lo pasti kelihatan tambah..."


"Hustt!! Jangan ceramahi gua. Gua lagi gak butuh diceramahi. Lagi pula pakek hijab itu harus dari sini nih dari hati" ujarnya.


Nazla kembali membuat kepalanya di meja. Bukan karena masih marah pada Rendi tapi dia tak bisa melihat wajah Reza. Perkataan Annisa di perpus masih mengganggunya.


Bel pulang berdering. Reza pergi entah sejak kapan. Nazla menyanggul rambut panjangnya dan berjalan ke parkiran. Disana dia melihat Reza menyerahkan amplop coklat pada Nazura. Ia kembali mengingat perkataan Annisa kalau dia menyangka Reza menyukai Nazura.


"Sepertinya Reza mendekatiku agar bisa lebih dekat dengan Nazura. Lagi pula mereka cocok satu server" batinnya.


Ia melangkah menuju gerbang dan menaiki bus menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Nazla langsung masuk kamar. Dia mengaktifkan Hpnya yang mati karena kehabisan daya.


Ada 10 panggilan tak terjawab dari Reza dan ada sebuah pesan singkat.


"Lo dimana sih La? Lo ninggalin gua ya?" Reza.


"Hah..kenapa jantung gua jadi amburadul gini sih, padahal cuman pesan singkat doang. Apa Annisa benar ya kalau aku suka sama Reza. Ahh.. entah aku gak tau, gak ngerti, gak faham" ujarnya frustasi dan teriak teriak gak jelas.


Mulut mungkin bisa berkata lain, tapi hati? Kau bisa mengatakan tidak dan terus mencari alasan untuk berkilah. Tapi hati pasti mengatakan hal lainnya. Mengikuti kata hati tidak selamanya salah.~ Annisa.