PAZZO

PAZZO
Episode 8




My emak tidak mungkin bisa dibujuk keputusannya kali ini. Om Aqsa pula harus tetap ikut denganku ke Jogja karna rasa kekhawatirannya pada dirinya sendiri.


Dan pada akhirnya aku harus mengalah lagi, mengikuti sketsa sang emak.


Tapi tunggu dulu, tidak semudah itu abang El yang gantengnya di atas kata normal ini kalah begitu saja dengan keputusan emak.


Jelas harus ada syarat prasyarat terlebih dahulu supaya aku tetap bisa tenang menjalani hari hariku nanti di kota pelajarannya Indonesia tercintaku ini.


Aku memiliki syarat, syarat pokok yang harus dipatuhi oleh om bodyguard super kece yang kegantengannya hampir setara dengan ayah Ed ku tapi tidak mungkin bisa menandinginya.


Syarat yang harus ia patuhi, karna kalau tidak aku memiliki hak untuk mendepaknya.


Kharrel: "Om Aqsa dilarang pamer otot disana. Yang itu berarti tidak diperbolehkan memakai pakaian ketat"


Ultimatum pertamaku yang aku bacakan di secarik kertas saat ayah, emak dan om Aqsa tengah duduk sedangkan aku berdiri dengan gagah tapi tidak berani.


Kharrel: "Om setuju?" tanyaku meminta pendapatnya.


Ayah dan emak langsung melihat ke arah om Aqsa untuk menanti jawabannya. Dan om Aqsa pun mengangguk untuk memberi jawaban sebagai pertanda setuju darinya.


Kharrel: "Yang kedua, om Aqsa dilarang berpenampilan lebih menarik dari El. Itu artinya om harus berpenampilan sebiasa biasa mungkin, tidak boleh mencolok di mata para ga..


Kharrel: "Oh maksudnya para dosen, takutnya mereka semua menyembah El karna rasa takutnya pada om Aqsa" lanjutku hampir keceplosan.


Kharrel: "Ok om?" tanyaku lagi meminta persetujuannya.


Dan lagi lagi om Aqsa hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis yang terlihat sangat terpaksa.


Kharrel: "Yang ketiga, om dilarang memakai kaos hitam polos, kaos hitam bergambar, bertulis atau apapun itu yang berwarna hitam"


Kharrel: "Om El larang keras menggunakannya, me..


"Sa, intinya El takut kamu lebih ganteng dari pada dia. El takut nanti cewe cewe lebih naksir ke kamu dari pada dia, sudah intinya hanya disitu" sela kepala keluarga yang memang benar benar tahu akan maksud yang aku sampaikan.


"Wajar juga kalau cewe cewe naksir Aqsa, salah sendiri kenapa jadi bodyguard hot. Jangankan para gadis, majikannya saja mungkin suka sama dia" timpal suara wanita yang duduk di sebelah ayahku.


Ucapan yang terdengar santai itu membuat aku dan om Aqsa langsung melihat ke arah ayahku.


Pria yang duduk santai tadinya langsung menegang dan menatap tajam ke arah emakku yang tidak menyadarinya.


Ayah: "Jadi maksud kamu, kamu naksir sama Aqsa?!" keluar sudah suara garangnya yang sangat jarang keluar.


Ayah: "Iya Khi?!" bentaknya lagi dengan nada lebih tinggi.


Emak: "Siapa yang bilang aku naksir Aqsa ayang, aku tidak bilang begitu" elaknya dengan mimik menyepelekan amukan ayah Ed ku.


Ayah: "Tadi maksud kamu bilang majikan juga bisa suka sama dia itu apa?!"


Emak: "Ya kan aku hanya bilang bisa saja. Ayang ini ih sentol, sensinya *****" elaknya terus.


Ayah: "Bisa saja berarti ada kemungkinan kamu suka sama dia kan?"


Emak: "Bisa jadi juga sih" sahutnya mengangguk aguk dengan melirik ke arah om Aqsa.


Ayah: "Khi!" panggilnya lantang dengan menarik pandangan emak untuk melihat ke arah ayahku.


Emak ini sudah tahu ayah pecemburu, tapi tetap saja dia ledek dengan terus menggoda pria lain bahkan sengaja di depan muka ayah.


Ayah: "Ayo!" tariknya paksa lengan kanan emakku dengan sekuat tenaga.


Emak: "Kemana?" tanyanya lirih pura pura sok polos.


Ayah: "Kamar!"


Jangan bayangkan emakku akan disiksa di dalam kamar layaknya perempuan lemah di dalam novel novel jadul masa penindasan seorang perempuan.


Seraya ingin mengatakan dari balik senyuman lebarnya pada kami berdua bahwa tolong jangan ganggu emak dan ayah, karna emak akan diperkosa oleh ayahmu untuk waktu yang sangat lama.


Panjang cerita namun aku malas menceritakannya, aku pun berkemas membawa cukup sangat banyak barang bawaanku bahkan hingga membuat om Aqsa membantu saat melihat beberapa koper besar yang mengisi penuh bagasi mobil yang hendak mengantar kita berdua ke bandara.


Aqsa: "Kamu yakin mau membawa barang sebanyak itu El?" tanyanya dengan tatapan aneh.


Kharrel: "Yakin sekali om" jawabku penuh percaya diri.


Aqsa: "Kamu kan hanya akan mengikuti seleksi tes akhir, mengapa langsung membawa barang banyak?" tanyanya lagi yang kali ini memperhatikan setiap koper yang ada.


Aqsa: "Seperti mau pindahan saja" ocehnya tidak aku tanggapi.


Aqsa: "Ini koper isinya apa?" tunjuknya memegang koper berwarna biru.


Kharrel: "Baju sama celana om" sahutku santai.


Aqsa: "Oooh. Kalau yang ini?" tunjuknya lagi menunjuk koper berwarna hitam yang lebih besar sedikit.


Kharrel: "S*mpak om" sahutku santai lagi seperti di pantai.


Aqsa: "Sekoper ini?!" tanyanya syok dan terlihat sangat terkejut.


Kharrel: "Iya"


Aqsa: "Koper sebesar ini isinya s*mpak semua El?!" tanyanya dengan nada lebih terkejut lagi.


Kharrel: "Iya om"


Kharrel: "Aduh om Aqsa ini tanya terus, sudah dijawab juga!" hilang sudah kesabaranku karna om Aqsa terus saja bertanya perihal pertanyaan yang sama.


Aqsa: "Kamu tidak salah membawa barang bawaan kan El?"


Kharrel: "Tidak lah!" sahutku mulai kehabisan kesabaran.


Aqsa: "Yang benar saja El kamu bawa s*mpak sekoper ini!"


Aqsa: "Kamu ke Jogja mau seleksi masuk universitas atau mau jualan s*mpak koleksimu?"


Kharrel: "Enak saja dijual!"


Kharrel: "Setengah mati El kumpulin ini semua tahu om" terangku dengan menepuk nepuk koper yang berisi beraneka s*mpak dari berbagai wilayah, provinsi bahkan negara.


Aqsa: "Untuk apa membawa sebanyak ini El?"


Kharrel: "Ya jelas untuk dipakai lah om, masa iya untuk bungkus nasi" celetukku sedikit kesal karna om Aqsa mempertanyakan hal yang seharusnya tidak perlu ia pertanyakan.


Aqsa: "Apa perlu sebanyak ini?"


Kharrel: "Perlu. Karna El bukan seperti om yang hanya memiliki lima s*mpak untuk satu minggu berturut turut"


Kharrel: "Om itu aneh, memiliki s*mpak hanya sedikit dan hanya satu warna"


Kharrel: "Apa bagusnya memiliki s*mpak polos bahkan semuanya satu warna?"


Aqsa: "Seaneh anehnya om, masih anehan juga kamu"


Aqsa: "Untuk apa s*mpak banyak banyak. Lebih lebih apa bagusnya s*mpak ada gambarnya, tidak ada yang lihat juga"


Kharrel: "Om itu tidak tahu seni, makanya bilang El aneh"


Kharrel: "Coba om ngaca, om Aqsa itu lebih banyak anehnya dari pada El. Om tahu itu tidak?"