
Agronomi
Merupakan istilah bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu agros berarti lapangan, dan nomos yang memiliki arti pengelolaan.
Agronomi adalah ilmu terapan berbasis biologi tumbuhan yang mengkaji pengaruh, interaksi dan mengelola berbagai komponen biotik dan abiotik pada tanaman.
Hal dasar yang sebenarnya harus aku ketahui di awal ini saling berdatangan ketika tantangan yang diajukan menarik perhatianku untuk tidak kalah pada sebuah takdir yang ingin ditentukan oleh orang.
Takdirku yang ingin dibentuk oleh beberapa orang penting dalam hidupku.
Dasar yang aku ketahui mengenai tanah dan tumbuhan ternyata tidak sesimpel itu namun tidak serumit yang orang lain bayangkan.
Tanpa aku ketahui ternyata agronomi menjadi garda terdepan dalam bidang pertanian karna bertugas untuk mengelola dan menyempurnakan produksi tanaman pertanian agar dapat memperoleh hasil maksimal baik segi kuantitas maupun kualitasnya.
Pengelolaan yang dimaksud pun tidak hanya sekedar menanam merawat lalu menuaikan hasil. Akan tetapi pengelolaan yang dimaksud dimulai dari pengelolaan faktor lingkungan, pemilihan benih atau bahan tanam, sistem pertanaman, pengolahan tanah, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, panen dan pascapanen, serta teknologi budidaya yang digunakan.
Singkat cerita karna abang malas membahas hal yang kurang diminati oleh banyak orang, abang ini akan jadi tukang kebun. Bukan hanya sekedar beberapa jenis tanaman, tapi diriku ini yang sangat tampan diatas rata rata akan menganalisis segala jenis tumbuhan baik itu dijadikan pangan pokok maupun tumbuhan lain yang dapat digunakan.
Satu informasi baru telah masuk pada diriku mengenai wanita yang belum lama aku cari cari.
Tanpa sepengetahuanku dan om Aqsa ternyata ayah telah meletakan beberapa titik mata matanya yang jumlahnya tidak bisa aku ketahui maupun oleh om Aqsa.
Namun aku tidak mempermasalahkan tentang itu karna aku telah terbiasa menjadi anak yang dijaga ketat bahkan dalam jarak yang sangat dekat.
Dulu aku marah perihal diriku yang selalu diikuti secara terang terangan di depan publik. Lebih dari lima termasuk om Aqsa yang selalu mengikuti setiap langkah kakiku.
Itu bukanlah perintah dari my emak atau perintah dari ayahku dulu, namun itu perintah yang ditetapkan oleh kakek Hadi ku sejak aku terpisah darinya saat usiaku baru dua bulan.
Aku tidak tahu kekhawatiran seperti apa yang mereka miliki saat semuanya berhubungan denganku, tapi yang pasti aku bagai intan berlian yang selalu mereka jaga. Bagaikan sebuah aset yang takut hilang atau dicuri oleh orang lain.
Sedikit informasi, aku bukanlah lulusan sekolah ternama atau sekolah termahal di Jakarta yang kini banyak dimana mana.
Aku pun sejak dini selalu mendapat pendidikan standar yang tidak berbeda jauh dari kebanyakan anak muda sebayaku.
Aku sedari dulu selalu di tempatkan di sekolah sekolah yang berhubungan baik dengan keluarga uti dan kakungku. Sekolah yang berada dalam pengawasan keluarga Kumara.
Namun meski sekolah swasta dan bukan terakreditasi A di Indonesia, meski sistem sekolah tidak semaju sekolah sekolah mahal yang uang bulanannya bisa untuk membeli motor disetiap semesternya, aku tetap dibekali dengan bimbel dan banyaknya guru private yang mendukung maju kembang belajarku yang sangat pemalas.
Balik lagi pada pembahasan wanita cantik titisan bidadari yang harus menjadi istri, akhirnya aku benar benar menemukannya.
Dia memang benar benar satu kampus denganku, tapi sayangnya kita berbeda fakultas bahkan fakultas kita bagai bumi dan langit.
Dia sangat cantik dengan bertambahnya hari setelah terakhir aku menemukannya di warung gudeg mbah Silah.
Akan tetapi disini kita bukan hanya berbeda fakultas saja, namun kita sudah berbeda semester yang itu artinya dia berada di atasku.
Usut punya usut wanita yang bernama Celine itu memiliki usia yang sama denganku. Namun karna dapat bonus dari Allah dengan kepintaran berlebih yang berada di atas rata rata, dia ternyata mengikuti uji coba kurikulum baru dan lulus dengan lebih cepat dikala sekolah menengah pertama dan sekolah menengah akhirnya.
Dan kini pun telah menjadi kesayangan banyak dosen bahkan para dekan.
Kharrel: "Sudah sangat cantik eh masih diberi kepintaran lebih oleh Allah. Memang harus menjadi calon istri ini" ocehku yang sedari tadi memperhatikan betapa indahnya ciptaan Tuhan.
"Itu sih maunya kamu" timpal suara lain yang tiba tiba muncul di sebelahku namun bukan om Aqsa.
Karna merasa terganggu saat melihat pemandangan indah, aku pun menengok siapa gerangan orang kurang ajar yang berani mengacau diriku yang sangat sulit menemukan wanita pujaanku.
"Hai" sapanya tersenyum manis tapi tidak dengan diriku.
Aku menajamkan mataku untuk memperhatikan siapa yang seenak jidatnya menggangu konsentrasiku dalam upaya membayangkan hal indah yang berhubungan dengan wanita cantik.
Kalau yang menggangguku seorang wanita cantik lebih lebih lagi kalau lebih cantik dari Celine abang sih tidak jadi masalah.
Lah ini yang mengganggu sudah laki laki tidak kalah ganteng dari om Aqsa, kan jadi segelintir rasa iri datang menghampiri pada diriku.
Kharrel: "Siapa yah" celetukku menjauhkan diri.
"Aku Kenrich" jawabnya dengan mengulurkan tangan kanannya berusaha memperkenalkan diri.
Kharrel: "Sorry tidak kenal" sahutku tidak mempedulikannya dan kembali melihat ke arah Celine berada.
"Maka dari itu, boleh kita kenalan?" ucapnya terus terdengar manis.
Kharrel: "Ogah!" tolakku di depan muka.
Kenrich: "Aku memang bukan wanita cantik, tapi setidaknya aku adalah pria tampan" ucapnya penuh percaya diri.
Dan karna perkataan itu, aku meliriknya tidak suka.
Hatiku serasa berkobar mendengar kalimat yang penuh percaya diri dari mulut pria yang memang terlihat tampan itu. Entah mengapa aku merasa tidak suka bila ada pria lain yang menyebut dirinya ganteng terkecuali aku. Aku ingin di dunia ini yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi hanya diriku seorang, aku tidak suka bila pria lain memiliki kepercayaan diri sekuat itu meski memang sesuai dengan kenyataanya.
Kenrich: "Kau naksir pada Celine?" tanyanya tersenyum dengan menunjuk diriku.
Kharrel: "Bukan urusanmu"
Kenrich: "Dia sangat cantik bukan?"
Kharrel: "Aku tidak ingin berbicara denganmu" ocehku malas menyahuti.
Kenrich: "Bagaimana kalau aku bantu kamu dekat dengannya?"
Kharrel: "Aku tidak butuh"
Saat diriku yang mulai jengah dengan pria ganteng namun aneh dan nyeleneh bernama Kenrich itu, aku pun ingin segera berlalu dan menjauhinya.
Takut bila Celine melihatku kali ini untuk yang pertama kalinya mengira bahwa aku doyan pada sesama.
Akan tetapi saat diriku hendak berlalu, tiba tiba saja wanita yang aku incar, wanita yang sedang berusaha aku kejar datang menghampiri tepat ke arahku.
Terus mendekat dengan senyum yang sangat lebar menawan dan hampir membuatku sariawan.
"Disini?" awal kalimatnya yang terdengar sangat merdu dan halus saat masuk ke dalam telinga dan menyapa indah gendang telingaku.
Tubuhku melamas, mataku benar benar tidak ingin melewatkan sedikit saja pergerakan indahnya saat hendak mendekat. Aku tidak mengijinkan mataku ini untuk berkedip sekali saja meski rasa perih telah begitu terasa.
"Kau selalu tampil cantik disetiap waktu" suara pria yang berada di belakangku tiba tiba menimpali dan menarik kembali kesadaranku bahwa terdapat orang lain di sekitarku selain Celine.
Wanita yang telah memberi pengaruh buruk pada diriku karna membuat jantungku berdetak tak semestinya dan tubuhku lemas bagai tak bertulang hanya terkekeh geli dalam balutan senyum yang semakin merekah atas rayuan gombal yang tidak bermutu dari mulut pria bernama Kenrich.
"Aku pamit terlebih dahulu, sebentar lagi akan ada kelas" pamitnya dengan senyum tipis yang dia arahkan pada Kenrich.
Sakit coy melihat wanita yang di damba senyum ramah pada pria yang kadar kegantengannya tidak jauh berbeda dengan mamas Kharrel bin bapak Edwin Keenand Kumara ini.
Akan tetapi, saat rasa hancur berkeping keping itu menghantam kuat kenyataan yang ada, terdapat berjuta juta kebahagian yang datang lalu menutupi saat Celine yang ku cinta tidak melewatkan diriku sama sekali.
"Mari"
Hanya satu kata namun dapat meluluh lantahkan perasaanku saat ini.
Senyum mengembang dan tutur sapa manis yang penuh sopan santun itu mengiringi kepergiannya yang kemudian berlalu tanpa aku sadari karna terlalu terbawa akan rasa yang belum bisa aku terima.
Kenrich: "Celine itu banyak yang suka" lagi lagi suaranya menarik paksa perhatianku dari kepergian Celine.
Kharrel: "Aku tidak tanya"
Kebahagiaanku ternistakan karna ucapan yang Kenrich katakan bahwasanya wanita yang ingin aku kejar sepertinya memiliki sejuta umat kaum pria yang ingin juga memilikinya.
Kenrich: "Saranku..
Kharrel: "Aku tidak ingin mendengarnya" selaku sebelum pria itu melanjutkan kalimatnya.
Kenrich: "Terserah mau terima atau tidak, tapi yang pasti coba kamu ubah penampilanmu. Agar kamu bisa lebih tampil glow up di hadapannya"
Glow up?
Bukankah aku sudah begitu sangat bersinar dan penuh dengan cahaya?
Memangnya kurang keren dan tampan seperti apa lagi mamas Kharrel ini?
Ketampanan pari purna tanpa lecet sudah menjadi ketetapan hakiki dalam jiwa dan ragaku ini.
Apa mungkin dia ini rabun?
Atau matanya tertutupi oleh bisul?
Sehingga dia buta akan kegantengan yang sudah mencapai kata maksimal ini.