
Sejuta akal seperti apapun yang om bodyguard berikan tidak akan mampu mengalahkan keinginan mamas Kharrel yang pintarnya nurun dari bapak Edwin Keenand Kumara ini.
Sepanjang jalan perdebatan karna om bodyguard ogah nemenin, akhirnya mamas yang gantengnya di atas rata rata ini laporan pada bokap yang baiknya seperti nobita.
Awalnya om Aqsa mau ikut ikut saja tanpa mamas laporan pada ayah Ed, namun dengan syarat mamas El yang ganteng di atas rata rata ini harus mengganti pakaiannya yang katanya terlalu berlebihan bahkan hanya untuk sekedar ke supermarket depan jalan dekat rumah.
Tapi karna sejak lahir sudah menjadi berlian yang selalu dijaga dan dituruti semua keinginanya tanpa terkecuali oleh ayah Ed, aku tetap bersikeras dengan keputusanku yang kekeh menggunakan setelan jas hadiah dari eyang uti Solo.
Dan karna keputusanku itu, om bodyguard juga tidak mau mengalah dan tidak mau ikut denganku.
Jangan anggap aku masih seperti anak kecil karna ke supermarket saja harus ditemani oleh om Aqsa.
Peraturan ini telah ditetapkan oleh kakek Hadi dan ayah Ed bahkan sejak pertama aku lahir ke dunia ini.
Om Aqsa telah menjadi sebagian diriku yang akan mengikuti setiap langkah kakiku termasuk ke dalam toilet umum sekalipun.
Aku kini bisa saja pergi sendiri, namun bila aku mengambil keputusan itu maka aku harus siap terkena segala ocehan dari ayah dan kakekku terutama singa Afrika betinaku yang akan mengoceh sepanjang jalan penderitaan.
Oleh sebab itu, aku harus mengajak om Aqsa bagaimanapun caranya. Hingga akhirnya keputusan terakhirku jatuh dengan melaporkan penolakan om bodyguard yang tidak mau ikut ngintilin mamas El ke supermarket pada ayah Ed.
Pinter kan mamas El yang gantengnya di atas rata rata ini.
🍂🍂🍂
Singkat cerita akhirnya mamas telah berkumpul dengan segerombolan saus tomat.
Iya segerombolan, karna mamas El yang gantengnya di atas rata rata ini tidak hanya cukup membeli satu merek saus tomat yang ada di supermarket yang kita berdua kunjungi.
Mulai dari merek abjad, merek yang menggunakan tenaga surya yang tidak mengandung gluten, merek yang seratus persen menggunakan tomat organik asli sampai merek micin sekalipun aku borong demi memuaskan lidah pecinta rasa ini.
Aqsa: "Beli sebanyak itu, kamu mau mandi saus tomat El?" tanyanya yang sedari tadi berjalan di belakangku.
Kharrel: "Jangan ngadi ngadi deh om" sahutku sewot.
Tidak tahu kenapa, akhir akhir ini tempramen mamas ganteng sedang kurang baik.
Gampang tersinggung dan mudah marah marah.
Firasat orang ganteng mengatakan bahwa mamas ganteng ini belum bertemu dengan utusan bidadari selama dua hari.
Celine oh Celine, dimanakah dirimu. Bolehkan aku memperkosamu dan menebar benih di rahimmu?
Aqsa: "Beli dua saja sudah cukup El, tidak perlu sebanyak itu" dirinya masih saja protes saat kami hendak menuju kasir.
Kharrel: "Anak sultan mah bebas"
Aqsa: "Ayah kamu bukan sultan El" protesnya terus.
Kharrel: "Dih, protes mulu sih om. Tidak lelah apa itu bibir nyerocos mulu"
Kharrel: "Kuping orang ganteng bisulan dengarnya"
Aqsa: "Siapa yang ganteng?" masih saja om bodyguard berbasa basi dengan terus mengikuti setiap langkahku.
Aqsa: "Kamu merasa ganteng El?"
Kharrel: "Jangan dibahas om, El sedang tidak mood"
Jadi selain karna telah dua hari tidak bertemu dengan titisan bidadari yang bakal dicomot jadi istri, mood mamas ganteng di atas rata rata ini hilang karna perbuatan om bodyguard.
Iya om bodyguard yang memiliki ketampanan luar biadab yang harus cepat dimusnahkan dari muka bumi ini karna membuat orang setampan Kharrel Andez Kumara minder plus iri berkelanjutan.
Bagimana tidak, baru awal masuk ke supermarket saja hampir semua pasang mata melihat ke arah kita berdua. Lebih tepatnya melihat ke arah om Aqsa yang masih dengan setelan terkecenya.
Dan yang lebih parahnya lagi, mamas yang kegantengannya sudah over dosis ini malah dianggap sebagai bodyguard oleh kebanyakan cewe cewe muda seusiaku karna berjalan di belakang om Aqsa pada waktu pertama masuk.
Kharrel: "Om bayar" kalimat perintah yang sama sekali tidak ingin ditolak.
Aqsa: "Moh!" tolaknya langsung.
Kharrel: "El tidak bawa duit om"
Aqsa: "Ya sudah berarti tidak jadi beli"
Kharrel: "Dih, mau ditaruh dimana muka El om?" tunjukku pada wajah tampan yang telah terpahat dengan sempurna.
Aqsa: "Tempat sampah banyak El, tinggal pilih mau organik atau non organik" sahutnya ngelantur.
Kharrel: "Om lah!"
Aqsa: "Ini nih yang membuat om malas sama kamu, ngakunya anak sultan tapi minta dibayarin" ocehnya namun tetap dengan mengeluarkan beberapa lembar mata uang berwarna merah.
Kharrel: "Jangan pelit om, nanti kuburan sempit"
Aqsa: "Kalau sempit nanti minta tolong sama kamu kirimin cangkul ke dalam kubur supaya om bisa gali sendiri itu kuburan" ocehnya lagi dengan kali ini yang sudah menenteng barang belanjaan.
Kharrel: "Bisa begitu yah?"
Kita berdua lantas berjalan beriringan hendak keluar dari supermarket setelah membawa cukup banyak saus tomat dengan berbagai macam merek.
Namun sebelum sempat keluar pintu, nada dering pada tubuhku berbunyi.
Firasat orang ganteng mengatakan bahwa calon istri berada disekitar mamas ganteng saat ini.
Dan benar saja, saat diriku mengedarkan pandangan terdapat seogok tubuh lemah gemulai yang sedap dipandang tengah berjalan sendiri dengan mendorong troli yang penuh akan belanjaan.
"Celine" gumamku yang tiba tiba melangkahkan kaki tanpa sadar menuju seorang wanita muda yang sangat cantik jelita.
Masya Allah, harus pakai bulu perindu atau jaran goyang ini?
Yang begini wajib in the harus menjadi istri.
Cinta ditolak, semar mesem bertindak.