PAZZO

PAZZO
Episode 3



Setelah mengambil cuti sekolah selama dua hari, lagi lagi my emak dipanggil untuk datang ke sekolah permasalahan aku yang suka tidak berangkat dan suka membolos seenak wudelku dewek.


Dan setelah kejadian itu, emak ku jatuh sakit karna terlalu banyak beban pikiran. Dalam hal ini aku mulai tersadar bahwa tak semestinya aku bersikap seperti ini.


Hanya untuk menghindari jelmaan jeligen minyak tanah, aku harus bolos sekolah. Sungguh itu sangat merugikan diriku terutama masa depanku.


Mengenai masa depan entah mengapa hatiku mulai tergerak maju ingin merancang sebuah keinginan.


Kharrel: "Mak.. El nanti kalau sudah lulus sekolah mau kuliah di Jogja ya" pinta ku yang baru saja pulang sekolah dan langsung menjumpai emak ku tercinta yang baru saja sembuh dari stresnya.


Emak: "Hah?! Jogja?" tanyanya terbengong bengong dan nampak syok.


Kharrel: "Iya" sahut ku girang dan duduk di sebelahnya.


Emak: "Tidak boleh!" ucapnya dengan tegas.


Kharrel: "Lah kenapa?" tanyaku karna merasa heran.


"Karna kamu akan ayah kuliah kan di Harvard University" sahut orang lain yang sudah tertera jelas bahwa dia adalah ayahku, ayah terbaikku.


Kharrel: "Harvard University?"


Harvard University adalah salah satu Universitas swasta di Cambridge Massachusetts Amerika Serikat.


Harvard University menduduki peringkat pertama untuk program studi Bisnis dan Manajemen.


Dan Harvard University merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia dan juga Universitas ini telah menjadi kampus impian banyak pelajar di seluruh pelosok dunia tapi tidak dengan saya.


Karna apa?


Karna untuk masuk menjadi salah satu mahasiswa di Universitas yang bergengsi seperti itu sangat mustahil untuk bisa aku lakukan karna tingkat malas belajarku yang tinggi dan yang paling penting malasnya aku untuk tinggal di luar negeri dengan musim yang sangat berbeda dari tanah air tercintaku ini.


Emak: "TIDAK BOLEH!" teriak wanita itu melotot pada ayahku.


Ayah: "Kenapa tidak boleh? Harvard itu kampus terbaik Khi, aku juga lulusan Harvard. Disana menjamin masa depan El kedepannya. Bahkan jika El sudah masuk menjadi mahasiswa saja sudah menjadi kebanggaan terbesar untuk kita" terang sang ayah menjelaskan akan maksud dan tujuannya.


Emak: "Tetap tidak boleh!" my emak bersikukuh pada keputusannya.


Emak: "El hanya boleh kuliah di Jakarta, tidak di tempat lain" lanjutnya mengambil keputusannya sendiri.


Kharrel: "El tidak mau kuliah di Jakarta mak" selaku tak terima akan penuturan wanita yang telah melahirkan dan membesarkanku.


Ayah: "Nah! Itu anaknya saja tidak mau kuliah di Jakarta, ya sudah kita kirim ke Harvard University saja. Kamu mau kan El?"


Kharrel: "Tidak! El tidak mau dikirim keluar negri" tolakku menyilangkan kedua tangan.


Emak: "Tuh dengar! Anak kamu tidak mau kuliah di luar negri jadi jangan paksa dia"


Emak: "Sudah lah yah, El tidak mau dikirim jadi jangan paksa dia" bela emak memelukku sayang.


Emak: "El mau disini saja kan? Kuliah di Indonesia kan?"


Kharrel: "Iya.. tapi El juga tidak mau kuliah di Jakarta juga" ucapku yang membuat wanita yang telah melahirkanku itu kini berada dalam situasi hati yang tidak senang.


Aku tata sebaik mungkin raut wajahku untuk menjelaskan maskud dan tujuanku kali ini yang benar benar ingin mulai serius dan bersungguh sungguh akan masa depanku.


Kharrel: "Ayah.. emak, dengarkan pendapat El terlebih dahulu karna El yang akan menjalaninya" awal kalimatku yang membuat kedua orang tuaku diam menatapku.


Kharrel: "El tahu ayah ingin kirim El ke Harvard karna kualitas mumpuni dan telah terakreditasi mendunia hingga ayah ingin El nantinya bisa mandiri dan lebih bisa membanggakan ayah dan emak sesuai dengan kemampuan El nantinya"


Kharrel: "El juga tahu kenapa emak ingin El di dalam negri dan kuliah di Jakarta saja, karna emak tidak mau jauh jauh dari El sebagai putra satu satunya emak yang telah emak rawat dan emak jaga seperti iklan kecap di televisi"


Kharrel: "Tetapi Kharrel sudah besar ayah, emak. El tahu yang terbaik untuk diri El sendiri. Jadi mohon ayah dan emak cukup dukung keputusan El kali ini ya" ucapku panjang lebar menjelaskan.


Ayah: "Jadi keputusan kamu itu, keputusan yang seperti apa. Benar yang terbaik atau bukan?"


Kharrel: "El berencana ingin mendaftar ke Universitas Gadjah Mada ayah"


Emak: "UGM? Yang di Jogja itu?" sahut emak terlihat sangat syok.


Kharrel: "Betul sekali mak. Selain terakreditasi terbaik se Indonesia, Universitas Gadjah Mada telah diakui juga kualitasnya oleh dunia. Selain itu Universitas Gadjah Mada kini telah memiliki delapan belas fakultas. Jadi...


Emak: "Jadi emak tidak yakin kamu akan diterima menjadi mahasiswa UGM" selanya dengan pandangan menjatuhkan.


Ini aku anaknya loh, anak kandungnya. Anak satu satunya tapi kenapa my emak malah terlihat menjatuhkan martabat anaknya sendiri. Bukannya menyemangati atau memberi solusi terbaik, ini malah kalah sebelum mengangkat bendera perang.


Emak: "Dengan cara sekolahmu yang seperti saat ini. Urakan, suka membolos jam pelajaran, minta cuti sekolah terus, masuk ruang BK, emak suruh datang mendengar ceramah guru guru kamu. Emak semakin yakin kamu tidak akan diterima di universitas itu" psimisnya membuat aku mengkeret.


Ayah: "Iya ayah setuju. Universitas Gadjah Mada meski universitas dalam negri tapi mereka mempunyai moto dalam memilih kandidat mahasiswa baru. Tidak akan ada tempat bagimu untuk berdiri diantara murid teladan yang berada disana"


Ini sebenarnya orang tuaku atau bukan hatiku bertanya pada diri sendiri.


Kharrel: "Nah kalau itu sudah jadi tugas ayah untuk menjadi hal yang terlihat tidak mungkin menjadi mungkin" sahut ku menarik turunkan alis dengan maksud yang sudah terarah jelas.


Kharrel: "Ayah tidak mungkin tega kan melihat putra ayah sekolah di univeraitas dalam negri yang bukan kualitas terbaik?"


Kharrel: "Ayah pasti akan berusaha supaya El bisa diterima di Univeriatas Gadjah Mada kan. Iya kan?"


Ayah: "Kharrel Andez Kumara. Lebih baik kamu bercermin sekarang juga"


Kharrel: "Loh?! Kenapa? El masih tetap tampan kok yah"