
Mataku tak berhenti berkedip saat melihat pemandangan yang sebenarnya sudah menjadi makanan bagiku disetiap hariku.
Aura cool yang terpancar dengan sangat gagah berani, badan tinggi besar yang menjadi idaman, rambut tertata rapih yang tidak pernah dibiarkan berantakan membuat aku tidak berani untuk menyampaikan apa niatanku.
Hingga aku berbalik arah dan hendak pergi lagi dari posisiku yang berada di depan pintu.
"Tapi kalau tidak pakai cara ini, memangnya ada cara lain lagi?" gumamku dan kembali berbalik arah menuju tempat semula.
Kali ini pria itu tengah memasang posisi dimana seharusnya semua wanita yang melihatnya pasti akan berteriak kegirangan.
Dirinya yang melakukan push up telah mempertontonkan otot otot lengannya yang membuat aku lantas melihat kedua tanganku yang tidak ada apa apanya.
Mengelus pelan dan berbicara dalam diri sendiri mengapa aku tidak memiliki otot yang sama seperti orang yang biasa menjaga diriku.
Kaos hitam yang membentuk tubuh dengan sempurnanya tidak luput dari pandanganku, terlebih lagi saat dirinya mengangkat bajunya untuk mengelap keringat di wajahnya, aku menjadi melihat bagian yang akan membuat wanita berteriak atau bahkan memohon untuk diperkosa oleh dirinya.
"El, mengapa bodyguard mu lebih keren dari pada dirimu?"
"Sebenarnya kamu laki laki atau bukan?"
"Bahkan meski dia sudah berusia tiga puluh empat tahun masih saja terlihat sangat muda dan berkharisma"
"Pantas saja ayah selalu kelimpungan kalau emak mulai kumat dan mengejar om Aqsa untuk memperkosanya"
Aku terus saja bergumam.
Bergumam sendiri di ambang pintu dengan terus memperhatikannya, hingga tanpa sadar pria yang telah menjagaku sedari aku baru lahir hingga saat ini pun mendekat ke arahku.
"Baru jalannya saja sudah luar biadab, pantas saja hampir semua siswi sekolahku dulu yang selalu aku tempati selalu menghadang diriku di depan gerbang. Ternyata bukan untuk menyambut abang Kharrel yang memiliki ketampanan paling sempurna sejagad raya, tapi lantaran untuk bodyguardku yang kadar gantengnya sudah tidak lagi sejagad raya namun sudah sealam semesta" gumamku lagi.
Aqsa: "Ada perlu El?" tanyanya langsung yang sudah berada di depanku.
Kharrel: "Ada om" sahutku cepat sambil mengangguk.
Aqsa: "Apa?"
Diriku membeku.
Bukan permasalahan dengan pertanyaannya yang terdengar simple dan tidak ada maksud tertentu.
Namun perkataannya itu diiringi dengan tangannya yang mengibas ibaskan rambutnya menggunakan jari jari tangan kanannya karna merasa basah oleh keringat.
Astaghfirullah.
Kalau abang ini cewe sudah abang seret om bodyguard bawa ke kamar untuk diperkosa ini batinku menggila.
Namun jangan salah, meski om Aqsa coolnya sudah tidak karuan. Gagahnya sudah seperti arjuna pandawa lima, tetap abang El tidak akan doyan sama dia.
Karna masa iya pisang mamam pisang. Bentrokan dong.
Kharrel Andez Kumara seratus persen laki laki tulen anti lekong.
Kharrel: "McD yuk om. El traktir sepuasnya" ajakku sambil menarik turunkan alis dengan senyum jumawah.
Bukannya merasa senang, om Aqsa malah menggeleng cepat dan menolak dengan raut wajah tidak sedap dipandang.
Kharrel: "Om puasa?" tanyaku merasa heran.
Gelengan kepala lagi yang aku dapatkan namun dengan raut wajah biasa.
Kharrel: "Ah!"
Kharrel: "Bagaimana kalau kopi" saranku yang lain.
Kharrel: "Starbuck om. Tadi El lihat lagi banyak promo, lumayan kan bisa ngopi sampai tenggorokan serasa mandi. Tenang El yang akan bayar semua, anak sultan mah bebas" ucapku penuh percaya diri.
Namun lagi lagi orang yang akan memporak porandakan dompet serta kartu kreditku malah menolak dengan senyuman.
Seakan dirinya ingin mengatakan bahwa aku bukan bodyguard murahan seperti yang lainnya.
Kharrel: "Ok deh, om boleh ngopi apa saja termasuk yang tidak promo juga boleh. Apapun itu boleh, tenang El ganteng tidak semelarat yang om kira hanya mentraktir waktu promo saja" ajakku lagi meski hatiku tidak menangis.
Ya iyalah tidak menangis, pakai logika dong hati bisa menagis.
Aqsa: "Tidak El, terimakasih atas semua tawarannya baik yang sudah ditawarkan maupun yang akan kamu tawarkan. Semuanya om tolak, om tidak mau" tolaknya langsung saat diriku hendak menawarkan yang lainnya.
Kharrel: "Jadi maksud om Aqsa, El ditolak di depan muka?"
Kharrel: "Kejamnya dirimu pada diriku!"
Kharrel: "Dimana letak ikatan kita berdua. Kita sudah seperti pasangan...
Aqsa: "Stop El!" selanya langsung membungkam mulutku menggunakan telapak tangan kirinya.
Aqsa: "Sudah cukup hari ini"
Aqsa: "Jangan biarkan om merasa hidup seperti di drama drama sinetron El. Cukup emakmu saja yang membuat om pusing, kamu jangan ikut ikutan" lanjutnya kali ini dengan mulai menurunkan telapak tangannya pada bibir seksi yang tidak lama lagi akan launching mencium wanita cantik.
Kharrel: "Om sudah bertemu emak?!"
Aqsa: "Sudah, belum lama ini" sahutnya melewati diriku yang masih berada di ambang pintu samping rumah yang terhubung pada kandang sapi peliharaannya emak.
Sedikit informasi, Jony si sapi peliharaannya emakku dulu wafat karna terlalu banyak dikawinkan oleh emakku yang ingin panen banyak anak sapi.
Diperkirakan si Jony terlalu bahagia hingga mentalnya tidak dapat ia tahan karna terlalu senang serasa di dalam Syurga.
Kharrel: "Emak bilang apa?!" nada kepo ku sudah tersetel sempurna ingin mengetahuinya dengan terus mengikuti langkahnya.
Aqsa: "Nyonya bilang, untuk menolak setiap apapun yang putranya katakan dan apapun yang putranya anjurkan termasuk teraktiran makan sepuasnya atau yang lainnya" tuturnya menjelaskan.
Memang wagelazehh sekali kan emakku ini.
Dia tahu terlebih dahulu apa yang akan aku perbuat untuk menggagalkan rencananya.
Kharrel: "Tidak perlu bilang pada emak, kita pergi saja. Rahasia kita tanggung berdua, bagaimana?" tawarku yang kali ini duduk di kursi bar dapur utama.
Aqsa: "Om tidak ingin mengambil resiko dua kali" tolaknya lagi setelah meneguk segelas air putih.
Kharrel: "Dua kali?" gumamku.
Kharrel: "Emak mengancam om Aqsa yah?" tebakku ingin tahu.
Aqsa: "Menurutmu saja El"
Kharrel: "Emak mengancam apa kepada om?" tanyaku terus karna benar benar merasa kepo.
Aqsa: "Kau ingin tahu?" tanyanya balik yang semakin membuatku berada dalam tingkat ke kepo an stadium akut.
Aku hanya mengangguk keras memberikan jawaban, ingin tahu akan ancaman yang diberikan pada om Aqsa, hingga membuat om Aqsa benar benar menolak segala tawaran menggiurkan yang telah aku berikan padanya.
Aqsa: "Bila om tidak ikut denganmu ke Jogja, maka om akan diperkosa oleh emakmu disetiap waktu"
Dasar emak laknat, enak dia tidak enak di orang lain dong kalau begitu.
Aqsa: "Dan bukan hanya disitu. Bila benar om tidak ikut denganmu ke Jogja dan membuat emakmu memperkosa om maka om dihari berikutnya pasti sudah tewas"
Aqsa: "Wafat. Kamu tahu wafat tidak?!" ucapnya dengan mata melotot.
Kharrel: "Maksudnya sehabis emak memperkosa om, emak akan membunuh om?"
Aqsa: "Bukan emakmu, tapi bapakmu!" sahutnya dengan nada lebih seram.
Aqsa: "Jadi om mohon jangan mencari perkara untuk om. Sudah cukup ayahmu itu selalu menegur om karna keganjenan emakmu yang tiada henti"
Aqsa: "Om malah bersyukur karna ditugaskan ke luar kota bahkan untuk menjagamu. Sekaligus om bisa menghindari emakmu itu yang terkadang suka kumat kalau sedang marahan dengan ayahmu"
Gagal lagi, gagal lagi.
Adakah yang merental kantong ajaibnya doraemon?
Abang mau sewa untuk mencari otak cadangan, siapa tahu otak emak abang El yang gantengnya di luar nalar pikiran ini bisa diganti.
Lelah abang memiliki emak yang bawaannya ingin memperkosa cowo yang lebih segar dari ayah El.