PAZZO

PAZZO
Episode 2



Suara yang biasa terdengar garang langsung memenuhi pelataran depan rumah dengan gelak tawanya yang tak ada habisnya.


Kakek Hadi tertawa dengan lepas untuk pertama kalinya aku dengar, tak biasanya beliau tertawa hingga lepas dan membuat aku pun ikut tertawa bersamanya.


Meskipun aku sebenarnya tidak tahu apa yang beliau tertawakan.


Bahkan beliau menepuk nepuk punggungku cukup kuat lantaran tak kuat menahan gelak tawanya sendiri.


Kakek: "Ya Allah, dari mana sebenarnya sumber keturunanku yang seperti ini"


Kakek: "Perasaan kakek dan nenek mu tidak ada yang aneh seperti kamu dan emak mu itu" serunya membuat beberapa pekerja yang berlalu lalang melihat sekilas atas suara kakek yang sangat jarang tertawa.


Setelah puas tertawa, beliau membenarkan kembali cara duduknya lalu tersenyum saat melihat langit yang cerah di pagi hari.


Kakek: "Khiya.. Khiya.." ocehnya dengan tersenyum sendiri.


Kakek: "Cesih, dulu kamu perasaan nyidamnya tidak ada yang aneh aneh kenapa kita punya anak seperti Khiya. Lebih lebih ini cucu mu laki laki, nanti kalau ketemu jodohnya bakal seperti apa" katanya berbicara entah ke arah mana.


Kharrel: "Kek. Dulu nenek cantik tidak?" tanyaku ingin membuatnya lebih senang lagi.


Kakek: "Menurutmu emak mu yang aneh itu cantiknya dari mana kalau bukan dari nenek mu?"


Aku tak menjawab dan hanya manggut manggut membenarkan perkataan beliau.


Ya memang my emak kecantikannya berada di atas rata rata mungkin itu pula yang bisa membuat ayahku jatuh cinta padanya.


Dan bisa jadi pula jika my emak tidak secantik itu, mungkin ayahku tak akan mau menikahinya atau bahkan tak mau melihatnya. Terlebih keanehan emak yang suka pelihara hewan dan suka nyanyi nyanyi tidak jelas dengan suara oktafnya yang bisa menghancurkan gendang telinga siapa saja yang mendengarnya.


Kakek: "Kamu pagi pagi sudah ngelayap begini, tidak sekolah lagi?"


Kharrel: "Tidak kek. Kharrel cuti" sahutku sembari meraih secangkir teh yang baru disuguhkan.


Kakek: "Cuti?" tanyanya lagi merasa heran.


Kakek: "Maksudnya libur?"


Kakek: "Ada acara apa libur sekolah. Bukannya kalau sudah kelas tiga itu lagi sibuk sibuknya menyiapkan materi try out dan ujian?" lanjutnya.


Kharrel: "Tidak, tidak libur. Hanya saja El sedang mengambil cuti sekolah kek"


Dari ucapanku yang sangat terbuka itu, kakek hanya mematung tanpa berkedip saat diriku sedang melihat ke arahnya juga.


Kharrel: "Begini ceritanya kek" kataku memulai berkisah.


Kharrel: "Di sekolah El ada cewe yang matanya langsung hijau kalau lihat El dikadar pandangannya" jelasku tak mau di tatap secara horor oleh pria tua yang terkenal sangar pada masanya.


Kakek: "Lalu?"


Kakek: "Bagus bukan kalau ada gadis yang naksir ke kamu, itu tandanya kamu benar benar tampan di mata seorang wanita bukan hanya di mata emakmu saja"


Kharrel: "Kalau saja dia cantik, sexy dan aduhai semamplai ok ok saja lah ini" tuturku mulai menjelaskan situasi pada saat itu.


Kakek: "Memangnya bagaimana?"


Kharrel: "Dia itu jelmaan ondel ondel kek"


Kharrel: "Badannya?" kataku dengan mata yang tiba tiba membulat.


Kharrel: "Beeeeeeh.. drum minyak saja kalah gembrotnya sama dia kek"


Kharrel: "Mukanya?"


Kharrel: "Bujubusyeeeet.. tidak bisa dijelaskan dengan kata kata kek"


Kharrel: "Intinya jeleknya diluar nalar dan pikiran. Apalagi bedaknya, aduh wajan gosong sepuluh abad saja kalah tebelnya sama muka dia kalau pakai bedak berlapis lapis" tuturku panjang lebar pada kakekku.


Kakek: "Yang benar saja kamu El, jangan suka melebih lebihkan" gurau beliau tak percaya akan ucapanku.


Kharrel: "Sugguh kek, El tidak berbohong. Lebih lebih bibirnya, kalau sekolah terlebih kalau bertemu El pakai lipstik merah merona seperti habis minum darah. Mana bibirnya jontor, tebel, pokoknya tidak sedap dipandang deh kek. Ini El saja mual ceritainnya ke kakek" terangku berusaha meyakinkannya.


Kakek: "Kamu ini ada ada saja. Memangnya kamu ini mau punya pacar yang seperti apa?"


Kharrel: "Kakek tanya El?" tanya gue berbinar binar.


Kakek: "Tidak, kakek bertanya pada rumput yang berdangdutan" tunjuknya pada rumput yang terawat dengan rapih di hadapan kita berdua.


Kharrel: "El suka cewe cantik itu poin paling utama" sahut gue mulai berangan.


Kakek: "Kakek tadi bertanya kepada rumput, bukan sama kamu"


Kharrel: "El juga suka cewe yang pintar memasak seperti emak, El juga mau punya cewe yang cinta sama El seperti emak yang cinta banget sama ayah. El juga ingin punya cewe yang kece dan menomor satukan penampilannya kaya emak. Tapi El tidak mau cewe itu berpenampilan sangat terbuka bahkan sangat sexy di depan khalayak umum" mulailah diriku berimajinasi.


Kharrel: "Intinya kriteria El harus sama persis seperti emaknya El. Cantik, baik, penyayang dan...


Kakek: "Aneh" sahut kakek melanjutkan.


Kakek: "Saran kakek cari wanita yang paling tidak lebih waras dari kamu. Bisa gila kakek nanti kalau mendengar atau mendapat berita bahwa penerus keluarga Kumara mendapatkan kembali menantu seperti menantu sebelumnya yaitu emak kamu"


Kharrel: "El waras kok kek" ocehku merasa tidak terima akan tuduhannya.


Kakek: "Kalau kamu waras lalu yang gila dan aneh itu yang seperti apa?"


Kharrel: "Ya yang seperti emak El itu" sahutku tersenyum.