PAZZO

PAZZO
Episode 13



Aku membatu karna suatu penampilan.


Bukan, bukan karna Celine wanita yang aku idam idamkan melainkan pria yang telah mengenal aku luar dalam selain emakku.


Siapa lagi kalau bukan om Aqsa yang ototnya bertebaran dimana mana.


Outfit kece badai yang kini ia tampilkan di depanku benar benar membuat diriku memperhatikan akan penampilanku yang kalah jauh dengannya.


Kemeja kotak kotak ukuran besar yang memang ia sengaja, celana jeans ice blue, kaca mata hitam dan tidak pernah lupa rambut hitam pekat yang selalu tertata rapih.


Perasaan aku yang lebih muda, aku yang lebih kaya, aku yang lebih segalanya namun mengapa penampilanku malah lebih buluk dari bodyguardku sendiri, batinku menatap tajam celana pendek kain bermotif pisang yang tenar pada masanya.


Kharrel: "Om, mau kemana om?"


Aqsa: "Lah tadi katanya mau minta temenin" sahutnya yang kini sudah berdiri di sampingku.


Kharrel: "Iya memang, tapi harus banget out fit nya seperti itu?"


Aqsa: "Memangnya ada yang salah?" tanyanya balik dengan memperhatikan penampilannya sendiri.


Kharrel: "Kita hanya mau ke supermarket depan om, itu di depan jalan raya situ" tunjukku dengan sudah mengerucutkan bibirku.


Aqsa: "Semakin di depan!" serunya seperti salah satu aktor iklan merek motor Indonesia.


Kharrel: "Apanya?"


Aqsa: "Bibirmu semakin di depan!" ulangnya lagi dengan sangat lantang.


Kharrel: "Om, jangan bercanda deh om" ucapku sedang tidak ingin diejek.


Aqsa: "Siapa juga yang sedang bercanda, memangnya om suka bercanda sepertimu apa?"


Ups.


Pikun, kan yang suka bercanda itu selalu mamas Kharrel yang gantengnya pari purna rutin makan ikan tuna, bukan om Aqsa yang body nya seperti raksasa betina.



Karna sedang malas berdebat lebih lebih adu mulut dengan om bodyguard, aku putuskan untuk tidak memperpanjang masalah dengannya.


Lagi pula kalau pun aku memperpanjangnya pasti aku yang akan kalah olehnya.


Badan atletisnya tanpa lecet dengan kulit coklat matang yang sedap di pandangan mana mampu dikalahkan oleh mamas Kharrel yang tubuhnya kurus kering bagai ikan asin. Dan lagi, meski om bodyguard bekerja di bawah naungan ayah Edwin Keenand Kumara alias bapaknya mamas Kharrel Kumara yang kegantengannya di atas rata rata, namun om Aqsa tidak pernah mau tunduk pada kuasaku.


Dia hanya akan patuh pada perkataan ayah Ed, emak Khiya dan yang pasti kakek Hadi tercinta.


Kharrel: "Ayuk om" ajakku kali ini setelah memakan waktu begitu lama karna merasa tidak terima akan penampilan om bodyguard yang lebih cetar membahana.


Setelah melihat ke arahku, dirinya melongo.


Iya melongo seperti kebo **** terkena vertigo.


Aqsa: "El?"


Dia masih saja terpaku akan penampilan hakiki tanpa amnesti yang mampu membelah dunia yang terpancar dari samudra Hindia hingga perairan Srilanka.


Kharrel: "Bagaimana, ganteng kan?" tanyaku dengan menarik turunkan kedua alis tipis yang tertarik ke atas karna hasil sulam yang begitu indah meski mendapat diskon dari ibu Jubaedah yang sangat berfaedah.


Aqsa: "El?" panggilnya masih saja terbengong bengong.


Kharrel: "Al El, Al El. Dul sekalian!" sarkasku merasa kesal dengan om bodyguard yang masih saja terlihat tampan menawan dan berusaha jumawan.


Aqsa: "El...


Kharrel: "El teroooos!" selaku langsung.


Aqsa: "Penyakitmu kumat lagi?"


Kharrel: "Penyakit?" tanyaku balik dengan sedikit mengernyit.


Kharrel: "El tidak memiliki riwayat sakit apapun om, sakit gigi saja tidak ada" terangku menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Termasuk sakit gigi yang telah menjadi penyakit langganan hampir seluruh penduduk Indonesia raya ku tercinta bahkan hingga para kaum belia yang baru memiliki gigi lima.


Gigi rapih serta putih bersih selalu terawat indah dalam balutan perawatan seorang dokter perempuan cantik yang selalu check kondisi gigiku bahkan sejak aku masih terbilang dini.


Iya dini, bagaimana tidak disebut dini bila ayah Ed pernah bercerita bahwa sejak pertama aku tumbuh gigi saat usia lima bulan sang emak telah menunjuk dokter gigi khusus untuk melihat tumbuh kembang para barisan gigi yang akan mengisi full gusi atas dan bawahku.


My emak tercinta mengajarkan banyak hal terhadapku sejak kecil termasuk merawat gigi.


Jadilah kini mamas Kharrel yang telah ganteng menjadi lebih ganteng lagi karna gigi yang terus saja terawat rapih dan bersih.


Aqsa: "Kita jadi mau ke supermarket kan?"


Kharrel: "Jadi lah!" seruku yang telah benar benar sangat siap.


Aqsa: "Kamu tidak salah pakai baju El?" ucapnya dengan terus saja memperhatikan penampilan terkece badaiku.


Kharrel: "Kenapa?"


Kharrel: "Terlalu ganteng yah?" tanyaku dengan sudah meletakan tangan di bawah dagu dengan sangat percaya diri


Aqsa: "Terlalu aneh"


Kharrel: "Om sudah bosan hidup?"


Aqsa: "Kamu ke supermarket mau belanja atau mau ke kantor?" ucapnya tidak memperdulikan ancaman yang hendak aku layangkan.


Kharrel: "Supermarket lah!"


Kharrel: "Aduh om Aqsa ini, lama kelamaan otaknya ketinggalan. Buru buru di upgrade om supaya terkini dan trendi seperti El"


Aqsa: "Kamu ke supermarket mau beli apa sampai pakai baju seperti itu?"


Kharrel: "Saos tomat om, di lemari tidak ada sepertinya mbak Leni lupa beli"


Aqsa: "Hanya saos tomat?"


Kharrel: "Iya"


Aqsa: "Hanya beli saos tomat dan kamu pakai baju seperti itu?!"


Kharrel: "Aduh bawel banget sih om. Jadi mau temenin apa tidak ini" hilang sudah kesabaran orang ganteng.


Aqsa: "Tidak mau. Om di rumah saja" sahutnya yang malah kini melepas kaca matanya dan berjalan melewatiku menuju pintu utama yang tidak jauh dari tempat kita berdua berada.


Kharrel: "Lho kenapa tidak jadi?" kataku dengan terus mengekorinya.


Aqsa: "Om rasa penyakitmu memang benar benar kumat El" gumamnya yang masih dapat ku dengar saat dirinya masih saja terus berjalan.


Aqsa: "Om tidak ingin dianggap berteman dengan orang gila" kalimatnya membuat aku merenung karna merasa heran.


Gila?


Siapa yang gila?


Aku?


Aku dianggap gila oleh bodyguardku sendiri?


Punya nyawa berapa om Aqsa ini menyebut anak bapak Edwin Keenand Kumara dan Sakhiya Malik Soekatmaja gila?


Aqsa: "Dasar pazzo boy"



Kurang ganteng apa lagi coba mamas Kharrel.


Ke supermarket mau beli saos tomat saja pakai jas.