
Memang benar omongan omongan mulut udang yang minta ditendang, bahwa memiliki niat baik cobaannya pasti sebukit.
Ada saja yang membuatku sangat sulit memahami suatu modul pelajaran yang akan diikut sertakan dalam suatu pertanyaan dalam soal Ujian Nasional.
Kalau saja tidak memiliki tujuan yang telah ditetapkan, mana mungkin seorang Kharrel yang tingkat kemalasan nomor satu di dunia dalam hal belajar mau bersusah susah membaca buku.
Tinggal menjentikan jari maka terkabulah semua keinginan ku tanpa terkecuali.
Tapi untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan seorang Kharrel Andez Kumara, aku telah sampai pada titik dimana kata pepatah benar adanya bahwa tidak ada usaha yang dapat membohongi hasil.
Aku lulus tahap pertama penerimaan mahasiswa tahun ajaran baru setelah melewati serentetan ujian yang membuat pusing kepala tujuh turunan, tanjakan bahkan tikungan.
Auto salto guling guling dong abang dapat berita menggembirakan.
Emak: "El diterima?!"
Emak: "Benarkah?!"
Emak: "Serius?"
Emak: "Ini kuping emak tidak lagi congek kan ya?" my emak terkaget kaget sambil memegang dadanya seperti drama drama terkena penyakit jantung.
Alay?
Kalau tidak alay bukan emak Sakhiya Malik Soekatmaja namanya.
Emak: "Ayah. Coba ayah cek sekali lagi siapa tahu bukan El, siapa tahu yang namanya Kharrel memang membludak di negri ini" perintah sang nyonya supaya suaminya mengecek kembali di salah satu pengumuman online yang tertera dalam sebuah website.
Ayah: "Memang benar El Khiya" sahutnya langsung.
Ayah: "Lihat nama sekolah menengah akhirnya juga tertera disini" tunjuk sekali lagi Edwin pada istrinya yang belum juga percaya akan kemampuan putra semata wayangnya.
Emak: "Eh tapi tunggu yah coba baca dengan kaca pembesar siapa tahu namanya bukan nama lengkap El ayah, siapa tahu di sekolah El ada lagi yang bernama Kharrel"
Emak terlaknat memang, dimana mana seorang ibu akan bangga pada anaknya jika bisa menggapai apa yang menjadi keinginannya yang terbilang cukup sulit untuk mendapatkanya atau mungkin terlihat mustahil untuk diriku sendiri.
Lah ini emakku malah bersikap sebaliknya.
Dikutuk menjadi semakin cantik baru tahu rasa.
Kharrel: "Iya jelas nama El lah mak. Kharrel Andez Kumara" kata gue dengan percaya diri.
Khareel: "Memangnya ada kemungkinan lain?"
Kharrel: "Kalau sampai benar benar ada yang memiliki nama itu, telebih lagi ada Kumara lain selain anak emak yang tingkat kegantengannya kaya j-hope berarti itu perlu dipertanyakan"
Dalam hitungan ketiga aku berani jamin cubitan maut emakku akan melayang pada tubuh ayahku batinku meringis saat membayangkan betapa pedasnya cubitan emakku yang bisa membekas seperti bekas capitan kepiting.
Satu batinku mulai menghitung.
Du..
Emak: "Ayah selingkuh di belakang emak?!"
Emak: "IYA?!"
Ini belum genap aku berhitung diangka dua kenapa emakku sudah menyembur terlebih dahulu batinku bertanya tanya.
Ayah: "Tidak Khi, tidak. Jangan percaya sama El Khi, jangan" belanya pada diri sendiri dan menatap horor ke arahku berada.
Ayah: "El?!" panggilnya lantang.
Ayah: "Kamu mau emak sama ayah kamu ini berantem lagi ya?" dari nada suaranya sudah terdengar garang dan siap menerjang namun sebagai makhluk terpintar saat mencari solusi jelas aku lebih memilih melarikan diri dari pada akhirnya aku yang dijadikan bulan bulanan oleh emakku karna harus menggantikan posisi ayah ku yang teraniaya.
Tapi ternyata masuk universitas tak semudah kita membalikan telapak tangan coy.
Aku kira sudah cukup perjuangan abang untuk masuk ke universitas yang telah menempati posisi pertama dalam negri ini bahkan telah diakui oleh dunia.
Tapi nyatanya tes yang benar benar menentukan baru saja dimulai.
Apa kabar otak abang El ini yang sudah kemebul asap karna berpikir terlalu keras?
Ok sabar orang ganteng.
Berakit rakit ke hulu
Berenang renang ke tepian
Bersusah susah dahulu
Cari cewe cantik kemudian
Semangat!!!