
Bukan ayah Edwin Keenand Kumara bapaknya Kharrel Andez Kumara namanya kalau tidak menuruti keinginan sederhana maupun luar biasa yang dipinta oleh anaknya yang ajaibnya kaya singa Afrika.
Ayahku akhirnya menjanjikan akan mengusahakan semaksimal mungkin agar aku dapat masuk menjadi salah satu mahasiswa dari salah satu kampus yang menjadi impian sebagian besar pelajar Indonesia.
Tapi tentunya ada banyak begitu syarat yang ayahku berikan.
Salah dari sekian banyaknya adalah meningkatkan sistem pembelajaranku yang masih acak adul kaya bakul bubur di pengkolan jalan abdul.
Secara khusus mendapat guru private yang tak tanggung tanggung.
Guru matematika terutama yang diutamakan, disusul guru ekonomi sesuai dengan jurusan yang aku ambil yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial. Dan masih ada lagi guru geografi, sejarah, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Meski bahasa Inggris ku telah mumpuni, tapi ayahku tak mau ambil resiko sekecil mungkin untukku menaikkan bobot nilai ujian nasional ku nanti yang akan berpengaruh besar bisa atau tidaknya diriku masuk ke dalam salah satu fakultas yang ada di UGM.
Jangan tanya mengapa ayahku mengutamakan guru private matematika.
Karna sudah jelas dirinya paham bahwa aku sangat membenci mata pelajaran yang angkanya suka bertebaran sembarangan di atas kertas.
Dan jangan tanya mengapa aku masuk kelas IPS meski aku bisa dengan mudahnya kala itu untuk masuk kelas IPA apalagi bahasa.
Karna sudah jelas jawabannya adalah tuntutan emakku dan kakekku untuk meneruskan bisnisnya yang telah mereka iming imingi bahkan sejak aku masih kecil.
Bisnis, warisan dan perusahaan adalah sebuah dongeng bahkan lantunan nina bobo ku sebelum tidur. Menjadi bisikan bisikan kasar hingga aku harus hafal benar bahwa hanya akan ada aku di tempat yang sebenarnya tidak aku inginkan.
Jika ayah Ed ku, dia tak pernah memaksa ku sama sekali, bahkan dirinya hanya akan tersenyum saat aku berbuat salah lalu memberi tahunya secara perlahan bahwa apa yang telah aku perbuat adalah suatu kesalahan.
Kharrel: "PERCUMAAAA" teriakku membahana dengan membanting tas yang berisi buku buku cetak tebal yang mulai selalu aku bawa.
Semenjak keputusanku untuk menjadi kandidat mahasiswa UGM, sistem sekolahku mulai diubah oleh my emak.
Dari yang dilarang bolos kelas dan pelajaran, harus kerjakan semua tugas rumah tanpa ada yang tertinggal. Harus selalu membawa buku setiap mata pelajaran tanpa terkecuali dan yang paling berat aku lakukan adalah harus selalu bangun pagi supaya tidak terlambat pergi ke sekolah.
"Baru juga satu minggu sudah mengeluh ini itu" oceh suara lain yang baru saja mendekatkan diri.
Kharrel: "Emak tidak tahu rasanya jadi El" ocehku merasa tak terima diremehkan.
Emak: "Siapa suruh minta yang aneh aneh, ya rasakan sendiri akibatnya"
Emak: "Enak enak sekolah di Jakarta, dekat sama orang tua, fasilitas serba ada ini malah minta yang jauh dan minta yang terlihat mustahil. Jadi nikmatilah keputusanmu anak muda" katanya sambil mengejekku.
"Anak mau masuk sekolah favorit kok dihalang halangi" suara lain yang lebih tegas dari ayahku.
Kharrel: "Eh kakek?"
Kharrel: "Baru datang kek?"
Kharrel: "Kenapa tidak kasih kabar kabar dulu" sapaku yang langsung menggaet tangan yang kian mengeriput.
Kakek: "Assalamu'alaikum" sapanya yang telah aku salami.
"Wa'alaikumsalam" sahutku dan emak berbarengan dengan emak yang kali ini mendekatkan diri pada pria yang berstatus sebagai ayahnya.
Emak: "Daddy kenapa datang kesini?"
Emak: "Tak memberi tahu dulu pula" peluknya lalu menggandeng pria yang sudah terlihat tua itu untuk duduk disalah satu sofa.
Kakek: "Kalau daddy tidak datang kesini, memangnya kamu mau datang ke rumah daddy?" sindirnya membuatku terkikik sendiri melihat emakku disudutkan oleh ayahnya sendiri.
Emak: "Khiya tidak datang kan karna Khiya...
Kakek: "Sibuk?" selanya.
Kakek: "Halah! Sibukmu itu hanya ngurus suami satu sama anak satu kok ya tidak sempat berkunjung ke rumah daddy"
Kakek: "Nanti kalau daddy sudah tidak ada baru menyesal"
Emak: "Daddy ini ngomong apa. Tidak bagus berbicara seperti itu dad"
Kharrel: "Iya kakek ini bagaimana. Kakek kan belum lihat cucu menantu kakek, jadi harus terus hidup nanti kalau sudah ada cucu menantu Kharrel bikin dedeknya supaya kakek bisa jadi kakek uyut. Baru rame" ocehku mengalihkan kesedihan yang tertera pada wajah cantik yang mulai suram.
Kakek: "Cucu menantu? Seperti kamu punya saja" celetuknya tertawa ringan.
Kharrel: "Untuk sekarang belum. Tapi tak lama lagi saat El berhasil masuk menjadi mahasiswa UGM, sudah dipastikan El bakal bungkus cucu menantu untuk kakek. Yang cantik, seksi, pintar, tinggi, putih, mulus kaya iklan hand and body" gurau ku lagi membuat seutas senyum mengambang di bibir emakku.
Kakek: "Sekolahmu bagaimana?"
Kakek: "Katanya mau masuk UGM. Harus rajin belajar supaya nilainya tinggi. Masuk universitas itu tidak mudah, bahkan meski bobot nilai kamu tinggi belum menjamin lulus seleksi pertama"
Petuah lagi petuah lagi, lelah telinga abang mendengarnya wahai kaum orang tua yang tak tahu perjuangan anak muda batinku mengeluh.
Emak: "Baru dibilang dad. Ini El baru seminggu saja sudah mengeluh ini lah itu lah ono lah. Yang bimbelnya terlalu banyak lah, yang bosen belajar terus lah, yang males bangun pagi lah" sang emak kompor mulai membarakan apinya membuat mode terjagaku terpasang sempurna.
Kakek: "El itu anakmu, anakmu ya seperti dirimu. Coba kamu berdiri di depan El, sudah sama persis kalian berdua" tunjuknya bergantian antara aku dan my emak.
Kharrel: "Memangnya emak kaya El dulu kek?" tanyaku duduk di sebelahnya ingin mendengar sebuah kisah.
Kakek: "Jangan ditanya" sahutnya terkekeh sendiri.
Kharrel: "Cerita kek cerita. El mau dengar masa lalu emak"
Kakek: "Kamu tanya saja pada emakmu sendiri"
Aku pun lantas langsung menatap emakku dengan hingar bingar kebahagiaan siap mendengarkan masa mudanya dulu yang belum sepenuhnya aku ketahui.
Emak: "Emak tidak ingin menceritakannya" sahutnya membuat senyumanku memudar.
Kharrel: "Lah kenapa mak?" tanyaku masih saja berharap.
Kakek: "Ya karna masa lalu emak mu itu lebih buruk dari pada yang kamu lakukan sekarang. Iya kan Khiya?"
Emak: "Khiya tidak ingin membahasnya dad" sahutnya bangkit dari duduknya.
Kharrel: "Yang dikatakan kakek benar mak?" aku mulai mengikutinya yang hendak pergi ke dapur yang tak jauh dari tempat duduk yang baru saja kita bertiga duduki.
Emak: "Ganti pembahasan" sahutnya tak menjawab pertanyaanku.
Kharrel: "Emak tidak mau mengakui kalau emak dulu lebih nakal dari El kan?"
Kharrel: "Jujur deh mak, iya kan?" masih saja aku mengikutinya yang sedang membuka kulkas.
Kharrel: "Iya kan mak?" tanyaku lagi dan lagi.
Kharrel: "Berarti nakalnya El temurun dari emak, sedangkan ketampanan El dari ayah. Malesnya El juga dari emak sedangkan tingginya El dari ayah. Lalu anehnya El juga dari emak sedangkan kharisma El dari ayah" terangku menghitung setiap kelebihan dan kekuranganku.
Emak: "Bagus yah bagus"
Emak: "Ayah yang bagus bagus sedangkan yang jelek jelek dari emak" mode kadar jahatnya mulai terpasang membuat mode siaga ku mulai terpasang pula.
Emak: "Mulai sekarang kamu sarapan atau mau makan apapun itu minta sama ayah mu jangan sama emak. Mood memasak emak sudah hilang tidak tahu sampai kapan, jadi kamu kalau lapar mau makan minta sama ayah jangan sama emak"
Kharrel: "Ampun mak, ampun tidak lagi lagi, emak El ter the best pokoknya. Ayah Ed tidak ada apa apa nya"
Kharrel: "Mak?" rengekku terus berusaha.
Emak: "Anda siapa? Sorry saya tidak kenal" sahutnya pergi begitu saja dengan membawa nampan yang berisi makanan dan segelas air putih.
Kharrel: "Ini El mak. Kharrel, anak emak" rengekku masih mengikutinya.
Emak: "Anak saya?" katanya lalu berfikir saat sedang memegang gelas hendak diletakkan di atas meja di hadapan kakek.
Emak: "Maaf saya tidak memiliki anak durhaka seperti anda"
Potek hati abang diperlakukan seperti ini.
Kharrel: "Kek.. tolong bantu El kek" rengekku pada pria yang sedari tadi tertawa melihat drama ibu dan anak.
Kakek: "Kakek? Maaf saya tidak memiliki cucu yang durhaka pada emaknya seperti anda"
Kamera mana kamera?
Ayah.. El di bully sama emak dan kakek, cepat pulang ya yah. El butuh bantuan.