
Glow up, glow up, glow up
Sudah bagai suatu lantunan bagiku saat aku terus saja bercermin di depan lemari pakaian yang memiliki banyak sytle.
Kharrel: "Seperti apa glow up?"
Kharrel: "Apa aku harus membawa senter kemanapun agar terlihat bercahaya dan berkilau?"
Kharrel: "Tapi kalau memang iya, maka akan semakin anehlah diriku dipandangan Celine nanti"
Apa kata dunia bila mamas ganteng ditolak karena ketularan penyakit anehnya my emak?
Kharrel: "Jangan sampai Ya Allah, jangan sampai El menjadi pria aneh seperti emak. Cukup emak saja, El jangan"
Aku terus ngedumel layaknya anak perawan yang hendak pergi kencan saat memilah baju terbaiknya.
Dan aku terus saja mengacak ngacak isi lemari yang belum lama tertata rapih oleh mba Leni yang tidak pernah telat merapihkan semua barang yang ada di dalam kamar baruku.
Kharrel: "Glow up, glow up. Harus tampil glow up!" semangatku saat terus mencari seutas kain yang dapat merubah penampilanku.
Jadi setelah insiden drama ogah mendapat hutang budi, akhirnya mbak Celine si calon pacar mau diajak kencan yang dia anggap hanya sebatas dinner.
"El?" suara pria kurang ajar yang hampir menggagalkan rencana kencan pertamaku.
Kharrel: "El nya tidur!" seruku yang masih berada di dalam kamar.
Aqsa: "Lah itu yang jawab siapa?" gedornya masih ingin berusaha masuk.
Kharrel: "Tikus" sahutku lagi dengan suara lain.
Aqsa: "Buka pintunya!" sarkasnya tidak ingin ditolak.
Kharrel: "O...
Aqsa: "CEPAT!" gedornya kali ini yang membuat diriku berjingkrak kaget.
Dengan langkah malas, aku tetap membuka pintu untuk pria yang sudah aku anggap sebagai saudara sendiri.
Pria yang separuh dari hidupnya selalu lekat pada tubuhku tanpa ingin meninggalkanku meski sebentar saja.
Pria yang berjasa lebih besar bagi hidupku dibanding siapapun itu bahkan termasuk ayah dan emakku.
Meski dia bukan keluarga sesungguhnya, meski dia tidak memiliki darah yang sama denganku namun dia mengerti sebagian besar apa yang aku inginkan dan apa yang aku butuhkan.
Karna pada kenyataannya, aku selalu bersamanya sejak aku terbangun hingga aku terlelap untuk menyongsong hari esoknya lagi.
Aqsa: "Ini" ucapnya dengan menyerahkan sebuah kain yang terlihat masih terpasang disebuah hanger baju.
Kharrel: "Apa?" tanyaku meski dengan menerima apa yang om bodyguard berikan.
Aqsa: "Pakai kalau mau glow up" tuturnya hendak berlalu.
Aqsa: "Itu masih baru, jadi nanti kau harus minta ayahmu untuk menggantinya"
Dirinya lalu lenyap di balik pintu setelah memastikan diriku menerima sesetel pakaian yang aku yakini om bodyguard ingin aku memakainya saat kencan nanti malam.
Awalnya aku cuek, masa bodoh dengan hasilnya.
Kalau bagus yang aku pakai kalau tidak ya sudah jangan berharap banyak itu baju bisa kembali ke dalam lemari pakaian yang berdominan akan senjata mematikan.
Karna bila aku kecewa akan usulan om Aqsa, maka hanya akan ada kata wafat untuk setiap apa yang tidak aku sukai.
Dalam bentuk barang pastinya, bukan manusia. Karna mamas Kharrel yang gantengnya di atas rata rata ini masih takut Tuhan dan takut hukum.
Kharrel: "Masya Allah!" seruku.
Kharrel: "Jadi inikah yang disebut glow up?"
Mataku masih tidak dapat percaya akan apa yang aku lihat saat ini.
Penampilan tanpa lecet sedikitpun membuat diriku bahkan terpana dan membeku saat melihat cermin di hadapanku.
Kharrel: "Nah kalau seperti ini baru anaknya ayah Edwin Keenand Kumara"
Kharrel: "Kalau yang buluk buluk in the cupu kemarin anaknya emak Khiya yang anehnya sejagad raya"
🍂🍂🍂
Kencan kencan, mamas ganteng mau kencan.
Sama cewe cantik yang bakal jadi pacar, abis itu mau mamas ajak *******.
Segala senandung telah aku kumandangkan demi menyambut bidadarinya fakultas kedokteran yang cantiknya tidak ketulungan.
Kharrel: "Ganteng?"
Aqsa: "Jangan ditanya"
Kharrel: "Keren?"
Aqsa: "Jangan ditanya"
Kharrel: "Wangi?"
Aqsa: "Jangan ditanya"
Kharrel: "Om lah!"
Aqsa: "Kalau om bilang kamu belum ganteng, belum keren, belum wangi kamu mau dandan seperti apa lagi?"
Aqsa: "Mau suruh Celine nunggu sampai berapa abad lagi, sampai bulukan?"
Kharrel: "Ya tidak begitu juga"
Aqsa: "Perempuan itu hakekatnya suka sama pria yang maskulin, kalem, cool, berwibawa, lebih lebih pintar dan cerdas dalam mengambil keputusan"
Aqsa: "Sudah bagai mukjizat untukmu karna Celine yang dicap sebagai anak pintar mau ngedate sama pria aneh yang sukanya pecicilan seperti kamu ini"
Kharrel: "El tidak aneh lah om, El hanya suka pecicilan. Yang suka aneh itu emak Khiya bukan El" bantahku atas hinaan terdasarnya.
Aqsa: "Sama saja. Kamu ini anaknya, anaknya ya tidak mungkin beda jauh dari emaknya"
Sudah menjadi tradisi bagi kita berdua untuk saling berdebat dan merasa sinis terhadap satu sama lain bila mengenai seorang wanita.
Lebih lebih diriku yang selalu cemburu terhadap om bodyguard keceku ini yang selalu laris dikerumuni oleh para kaum gadis gadis.
Kharrel: "Om nanti jangan ikut masuk yah!" peringatan pertama telah diluncurkan.
Aqsa: "Takut ketikung yah?" tebaknya tepat sasaran.
Kharrel: "Tidak" sanggahku tidak mau menerima.
Aqsa: "Halah!"
Aqsa: "Ngaku ngaku"
Motor yang dikendarai oleh om Aqsa mulai memasuki daerah pelataran parkir restoran yang menjadi tujuan utama.
Kharrel: "Om tunggu disini" perintah kedua yang meluncur saat diriku melepas helm.
Aqsa: "Tidak janji" sahutnya yang juga melepas helm yang ia kenakan.
Jadi peraturan utama saat diriku berada di kota pelajarnya Indonesia raya ku ini, aku dilarang menggunakan akses kendaraan roda empat milik ayah Ed ku sendiri.
Peraturan ini terlontar dari my emak yang sebenarnya ingin menyiksa putranya sendiri.
Namun dirinya beralasan bahwa ingin anak semata wayangnya mandiri tanpa bergantung pada apa yang orang tuanya miliki.
Memang emak laknat kan emaknya mamas El yang gantengnya di atas rata rata ini.
Percuma kaya raya seperti raja kalau anaknya saja tidak dapat merasakan semuanya.
Sejuta rasa jengkelku pada emak Khiya tercinta mulai pudar saat bisa ku lihat sepasang kursi dengan meja persegi ukuran dua meter sama sisi mulai berada di edaran pandanganku.
Bertuliskan El/Celine di atas meja yang menunjukan bahwa meja itu telah dipesan khusus untuk kita berdua yang secara langsung mamas ganteng memesannya membuat mataku berbinar binar melihatnya.
Dengan manisnya mamas duduk di salah satu kursi itu sambil dengan terus menunggu titisan bidadari yang enggan untuk mamas hindari.
Menunggu adalah hal yang menyebalkan dan sangat membosankan bagiku, namun tidak untuk yang satu ini.
Orang ganteng yang ditakdirkan kaya selamanya ini pasti rela menunggu calon nyonya Kumara berikutnya dengan sabar dan penuh keteguhan.
Kharrel: "Cantik, pintar, berwawasan dan sangat elegan sudah pasti sangat pantas untuk menjadi nyonya Kumara dari mamas Kharrel Andez Kumara"
Kharrel: "Tidak seperti ayah Ed yang payah"
Kharrel: "Memilih istri kok seperti emak Khiya, ya jadinya begini. Memiliki anak seperti aku ini"
Kharrel: "Dibilang aneh ogah, tapi dibilang normal juga bukan"
Terus saja aku ngedumel seperti burung beo yang berkicau tidak jelas.
Kadang aku merasa heran terhadap diriku sendiri.
Aku sayang terhadap emak, bahkan sangat menyayanginya. Namun entah mengapa mulutku ini tidak pernah ada habisnya mencela orang yang bahkan menurunkan sebagian besar DNA nya pada tubuhku ini. Termasuk sifat anehnya yang telah mendarah daging di dalam tubuh orang ganteng ini.
Aku dan emak sering ribut, namun bila sudah jauh seperti ini aku tidak dapat menahan segala rindu hingga akhirnya aku suka sesukaku menelpon emakku yang berada di Jakarta bahkan ditengah malam sekalipun hanya untuk melontarkan kalimat rindu dan ingin bertemu.
Kadang sesekali aku menelpon emak dikala emak sedang melakukan ritualnya dengan ayah Ed yang sedang ajip ajip, dan disaat itu aku langsung disemprot oleh ayah Ed karna tidak tahu diri dijam berapa aku memberi kabar dan ingin bertegur sapa.
Bukan salah mamas ganteng dong yah, salah sendiri memiliki anak seperti mamas El yang tingkat keanehannya tidak perlu dipertanyakan lagi.
"Sudah lama menunggu?" suara lembut dan nyaman ditelinga itu menarik pandanganku untuk segera melihat ke arahnya.
Senyuman tipis penuh ramah tamah seperti biasanya meluluhkan perasaanku seketika.
Bayangan kegarangan singa betina Afrika mamas Kharrel hilang tergantikan dengan bidadari tak bersayap yang hinggap di relung hati teramat dalam.
Akan tetapi kali ini pandanganku lebih tertarik pada seseorang yang juga kini berada tepat di sampingnya.
Bukan hanya perkara calon pacar mamas ganteng yang datang dengan orang lain yang berjenis kelamin laki laki saja, namun perkara yang lain adalah dengan tangan calon pacar mamas El yang sedang bergelayut manja dengan berpegangan pada lengan seorang pria yang bahkan jauh lebih tua ayah Ed ku.
Dia telah memiliki beberapa uban di rambutnya, rahangnya begitu tegas dan tidak kalah tinggi dari ayah Ed.
Wajahnya sangat datar dan terlihat sangat dingin, benar benar tidak sedap untuk dipandang.
Kharrel: "Om ini pacar kamu?"
Langsung saja tanpa basa basi tiba tiba diriku melontarkan kalimat yang memang berada dalam otak gantengku ini.
Celine: "Bukan" sahutnya membuat diriku langsung merasa lega.
Celine: "Dia daddy ku"
Wagelaseh sekali memang...
Anak cantik, bagai titisan bidadari memiliki bokap yang bahkan tampangnya mirip beton belakang rumah.
Kokoh, kuat dan sangat datar.
Celine: "Dad. dia...
"Kita pulang ke apartemen sekarang" suara baritonnya yang sangat tegas membuat diriku membeku.
Celine: "Tapi dy"
"Pulang sekarang"
Anjiim!
Sudah mandi minyak wangi satu baskom, minyak rambut satu loyang malah gagal ngedate gegara salah mengira bokapnya adalah kekasihnya.
Haduh mak Khiya mak Khiya...
Bisa tidak, jangan menularkan keanehan lagi pada putramu ini yang belum pernah berpacaran.
Ini mulut juga kenapa tidak bisa direm sedikit sih.