PAZZO

PAZZO
Episode 19




Demi unta imigrasi ke kutub utara.


Bagaimana bisa otak orang ganteng ini benar benar oleng ga kepikiran sama sekali dengan apa yang belum lama terlewati dihari yang sama ini.


Ingin rasanya ambil golok lalu membelah kepalaku sendiri karna abang ini ingin tahu sebesar apa sebenarnya otak orang ganteng sejagad raya keturunannya bapak Ed dan emak Khiya yang cantik jelita.


Bisa bisanya abang Kharrel yang gantengnya paripurna tanpa bahan pengawet dan pewarna buatan yang berlebel SNI ini melupakan satu hal yang telah menjadi pesan terakhir sang om bodyguard sebelum pergi meninggalkanku tadi.


"Om tunggu di pos depan sana, ok?"


"Pulang nanti om traktir ciloknya mas Cecep deh"


Dinding mana dinding, mau jedotin kepala dulu supaya ingat bahwa om Aqsa harus benar benar dijauhkan dari wanita cantik yang lagi abang lirik, sebelum ketikung bahkan sebelum memulai perjuangan.


Bisa ga merdeka merdeka ini kejombloan abang Kharrel yang gantengnya di atas rata rata kalau baru mau mulai perang saja sudah dapat serangan besar bahkan secara terang terangan.


Belum lagi calon pacar yang sedari tadi terus saja melihat ke arah om bodyguard yang juga tengah melihat kita berdua yang baru sampai di pangkalan ciloknya mas Cecep dekat kampus, semakin kelojotan sudah jiwa kejombloanku.


"Kamu kena..


Kharrel: "Maaf saya tidak kenal anda" sela orang ganteng secara langsung.


Bisa oleng tujuh turunan dan tanjakan kalau Celine terus saja menatap om bodyguard secara langsung seperti ini, batinku.


Otot bertebaran di sembarang tubuh, body cool seperti es lilin, tinggi tegap layaknya tiang bendera yang berdiri kokoh memancarkan auranya.


Lalu apalah daya seutas tubuh abang ini yang menang banyak hanya karna memiliki aura kekayaan dari sebuah warisan?



Kharrel: "Bisa geser sedikit pak, orang ganteng mau lewat" lanjutku dengan sedikit menyenggol om bodyguard supaya menyingkir dari hadapan dengan menggandeng tangan kanan calon pacar.


Namun, saat rasa lega dan senang hati menghampiri perasaanku karna bisa modus menggandeng tangannya cewe cantik anak fakultas kedokteran yang pinternya ga ketulungan yang bakal jadi pacar.


Harapan seorang abang El yang gantengnya tidak perlu dipertanyakan lagi pupus seketika setelah baru satu langkah melewati om Aqsa yang sebelumnya hanya diam tanpa banyak kata.


TUK


Kedengarannya memang pelan, namun sisi yang menjadi tumpuan dari pendaratan sebuah benda yang disebut rotan itu mendarat tepat di titik yang rasanya langsung merangsang ke otak hingga menghadirkan sejuta umat rasa sakit dan perih yang teradonan menjadi satu dalam sebuah rasa malu yang luar biasa.


Kharrel: "Aduh. Yang sopan ya pak!" protesku sedikit marah dengan banyak gaya yang mengisyaratkan pada om Aqsa untuk pura pura tidak tahu apa apa.


Aqsa: "Paaaak?!" serunya dengan mata melotot.


TUK


Kharrel: "Adaw. Sakit ini woi!"


TUK


Kharrel: "Aduh!"


Aqsa: "Masih pura pura ga kenal?"


TUK


Kharrel: "Sakit ini!"


Aqsa: "Masih mau panggil pak?"


TUK


Kharrel: "Ampun om"


Aqsa: "Masih mau?!"


TUK


TUK


TUK


Kharrel: "Ampun om. Ampun!"


Mau setebal apapun itu kulit pantat gajah, kalau dipukul pakai rotan ya pasti berbekas. Pasti mewek jejeritan itu gajah.


Lalu apa kehebatan hamba yang dipukul pakai rotan bambu di kepala yang biasa mas Cecep pakai untuk memanggil konsumen?


Kharrel: "Sadis bet sih om. Sakit ini!" protesku sambil mengelus elus puncak kepala yang terkena getok beberapa kali.


Aqsa: "Siapa suruh" sahutnya dengan tampang menjijikan karna sok berkuasa.


Kharrel: "Bilangin emak Khiya baru tahu rasa!" tunjukku merasa tidak terima karna telah dianiaya.


Aqsa: "Oooh bagus itu. Bilang sekalian sama tuan Ed, kalau bisa kakek Hadi. Biar semua pada tahu kelakuan kamu sehabis kuliah bukannya langsung pulang malah-


Ucapannya terhenti seketika, kemudian ia melihat ke arah Celine yang sedari tadi hanya memperhatikan pertikaian kecil antara aku dan om Aqsa.


Dan dengan segera, dengan kecepatan kilat dan juga dengan teleportasi tingkat tinggi yang tak tertandingi abang yang gantengnya di atas rata rata ini langsung saja menghadang pandangan om bodyguard agar tidak bisa melihat ke arah calon pacar lagi. Menjadi penghalang yang kini tepat berada di depan Celine tanpa permisi atau bahkan tanpa meminta persetujuan dari sang empu yang tengah kebingungan karna tingkahku.



Majikan dianiaya bodyguardnya ✔


Namun bila harus membuka perjanjian kontrak kerja yang selalu diperbaharui setiap tahunnya milik om Aqsa maka aku hanya bisa diam bahkan saat kedua tangannya yang berbicara.


Om Aqsa bukanlah anak buah yang dimiliki ayah Ed ku. Atau kaki tangan emak Khiya yang dulu selalu mengikutinya.


Om Aqsa murni anak buah kakek Hadi tepat setelah penurunan jabatan kakek Noval yang pengsiun dari jabatannya.


Usut punya usut, awalnya kakek Noval adalah anak buah ayah Ed yang dipekerjakan untuk menjadi mata mata dikeluarga Soekatmaja hingga mendapatkan posisi tertinggi dikeamanan keluarga kakek Hadi.


Lalu muncullah om Aqsa kala itu yang hanya sebatas anak sekolah yang langsung mendapat kepercayaan untuk menjaga emak karna tingkat bela dirinya yang sangat mumpuni.


Lalu karna pengabdiannya dalam melindungi emak bahkan dimasa emak telah menikah dengan ayah Ed, om Aqsa diberi kebebasan untuk memilih dengan siapa ia akan mengabdi seutuhnya.


Dan pilihan itu jatuh pada kakek Hadi.


Awalnya om Aqsa berniat ingin menggantikan ayahnya untuk dapat melindungi kakek Hadi. Namun, lagi lagi kakek terbaikku itu malah mementingkan anggota keluarganya dari pada dirinya sendiri.


Om Aqsa benar benar diberi tanggung jawab seutuhnya sebagai bodyguard pribadiku sejak pertama aku lahir ke dunia ini.


Om Aqsa sudah bagikan perisai, pakaian bahkan jas yang akan selalu melindungiku dari segala situasi dan kondisi.


Dan ia diberi wewenang penuh dengan bebas melakukan apa pun yang ia mau terhadap diriku.


Memarahiku, menghukumku bahkan termasuk memukulku seperti saat tadi, itu adalah kebebasan yang secara langsung diberikan oleh kakek Hadi untuknya.


Meski kakung dan uti Solo menolak akan kebebasan yang diterima oleh om Aqsa dari kakek Hadi, namun emak Khiya dan ayah Ed ku selaku orang tua ku sendiri pun memberi ijin bila itu perlu dilakukan oleh om Aqsa bahkan tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada mereka berdua.


Aqsa: "Ayo pulang" ajaknya dengan menggerakan kepalanya menuju tempat dimana motor kita terparkir dengan gagah berani.


Dih.


Baru juga mau kencan ulang udah mau gagal again.


Tidak bisa, tidak boleh dibiarkan kegagalan seorang Kharrel anaknya emak Khiya yang gantengnya di atas rata rata terulang kembali.


Malu dong sama kucing mang Tatang di rumah. Itu kucing udah buntingin kucing tetangga beberapa kali, punya keturunan udah delapan generasi lah abang yang jauh segalanya dari kucing yang jarang mandi itu malah belum pernah kencan sama sekali, batinku.


Dengan segera aku pun langsung memberi kode pada om Aqsa agar mengerti akan apa yang aku inginkan saat ini.


Aqsa: "Kenapa itu mata kedip kedip terus?"


Laknat memang bodyguard abang Kharrel yang satu ini pakai acara dibilang segala, batinku.


Aqsa: "Kelilipan?"


Aqsa: "Ada beleknya?"


Aqsa: "Apa bintitan?"


Memang tidak bisa diajak kompromi ini orang satu.


Sudah sangat jelas kode yang abang berikan adalah untuk memintanya pergi sebentar agar tidak mengganggu acara kencan, namun malah yang ia lakukan seolah olah sengaja agar aku tidak bisa kencan.


Iri?


Bilang om!


Aqsa: "Ga usah manyun begitu mulutnya!" komplainnya.


Aqsa: "Om tunggu disini, nanti jam-


Ia menjeda kalimatnya untuk sekedar melihat jam tangan sport yang dibelikan oleh emak Khiya pada tangan kirinya.


Aqsa: "Jam tiga lewat dua puluh, kamu harus sudah ada disini" lanjutnya.


Awalnya orang ganteng sejagad raya udah jejingkrakan ga karuan karna terlalu senang.


Namun lagi lagi semua itu tidak pernah bertahan lama.


Kharrel: "Lah ini aja udah mau jam tiga om!" seruku melihat jam yang tidak kalah lebih mahal dari yang dimiliki om bodyguard.


Aqsa: "Setengah jam cukup, ga usah kelamaan. Ntar malah kamu bikin dosa"


Kharrel: "Paling ga genepin sampai setengah empat lah om" tawarku.


Aqsa: "Jam tiga lewat dua puluh atau tidak sama sekali"


Ngancem aja terooos!


Yo wis lah rapopo.


Yang penting pergi jauh dulu dari om Aqsa, nanti gampanglah tinggal ngulur waktu sendiri.


Aqsa: "Jangan pikir yang macem macem!" suaranya melantun mengetuk rencanaku sebelumnya.


Om Aqsa kemudian sedikit memiringkan kepalanya untuk menyelinap serta mencuri pandang terhadap wanita cantik yang masih setia berada di belakang punggungku.


Aqsa: "Kalau sudah jam tiga lewat dua puluh lekaslah menjauh darinya. Dia itu anak aneh, lebih dari setengah jam bersamanya nanti wanita cantik dan pintar sepertimu akan terkontaminasi olehnya"


Aqsa: "Saran terbaik dariku, jangan terlalu dekat dengan anak ini. Dia anak narsis yang selalu menyebut dirinya orang ganteng sejagad raya. Itu tidak akan baik untuk wanita secantik dirimu"