PAZZO

PAZZO
Episode 10



Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat wanita cantik selain emakku.


Wanita yang bahkan membuatku gila akhir akhir ini karna terus saja ingin mencarinya, menemuinya, ingin bertegur sapa dengannya dan kenal lebih dekat dengannya.


Namun itu semua ternyata tidak mudah.


Kepergiannya kala itu setelah membayar makanan yang ia bungkus membuat aku ingin mengejarnya untuk menanyakan siapa gerangan namanya, berapa nomor line nya, syukur syukur nomor whatsappnya.


Akan tetapi, aku kehilangan jejaknya.


Tepat di sebuah persimpangan yang membingungkan.


Tapi itu tidak meruntuhkan semangatku untuk terus mencarinya. Meski ada begitu banyak kemungkinan aku bisa saja tidak dapat lagi bertemu dengannya.



Belum segala usaha telah aku kerahkan. Namun yang satu ini telah aku maksimalkan, yaitu nongkrong setiap hari di warung gudegnya mbah Sinah.


Jinem: "Datang lagi mas Kharrel?" sapanya mungkin yang sudah muak melihat wajahku disetiap harinya.


Kharrel: "Iya bu. Bosan ya?" tanyaku yang telah duduk sambil memperhatikan ke sekeliling.


Jinem: "Tidak sama sekali, ibu malah senang mas Kharrel datang" sahutnya dengan terus tersenyum ramah.


"Ada orang disini yang bosan diajak kesini terus El" pria yang selalu mengikuti langkahku kemanapun aku pergi mengangkat suaranya setelah meneguk air putih karna rasa lelahnya.


Kharrel: "El tidak bertanya pada om Aqsa lah" celetukku benar benar sudah habis akal karna tidak menemukan wanita cantik titisan bidadari yang harus menjadi istri.


Aqsa: "Tapi om benar benar bosan El. Hari ini kamu akan melakukan tes akhir, kamu ini niat atau tidak untuk masuk ke Universitas Gadjah Mada?"


Aqsa: "Kalau tidak lebih baik pulang saja kita ke Jakarta"


Segala ocehannya tidak aku tanggapi, aku lebih mementingkan untuk memperhatikan sekeliling siapa tahu wanita yang aku damba, wanita yang aku puja datang menghampiri dan berharap untuk aku perkosa.


Jinem: "El mau makan apa hari ini?" tanyanya setelah lama terkikik karna mendengar perdebatanku dengan om Aqsa.


Kharrel: "Apa saja bu, terserah" sahutku asal dengan terus melihat ke arah pintu dan sesekali melihat arah jalanan depan warung bu Jinem siapa tahu ada wanita yang singgah di hati dan pikiranku saat ini.


Aqsa: "Tidak bu, kita tidak pesan. Hanya membayar nongkrong disini saja"


Jinem: "Kenapa tidak pesan?"


Aqsa: "Percuma bu pesan, yang makan juga nanti pasti saya yang bayar juga saya. Jadi mending tidak usah"


Aqsa: "Tenang nanti kita bayar kok bu karna nongkrong disini. Ini anak memang kurang ajar"


Jinem: "Oooh"


Jinem: "Memangnya nongkrong disini enak ya mas Kharrel?"


Kharrel: "Tidak" sahutku langsung tanpa sadar.


Dan karna jawaban spontan yang aku berikan, sebuah pukulan keras mendarat di keningku hingga diriku hampir tersungkur.


Aqsa: "Maafkan anak kurang ajar ini ya bu"


Kharrel: "Apa salah hamba?"


Aqsa: "Minta maaf!" serunya dengan melotot ke arahku.


Jinem: "Tidak apa apa, tempat ini memang kumuh dan tidak enak"


Kharrel: "Meski kumuh juga dihampiri bidadari. Apalah daya bangunan megah dan super mewah bila bangunan yang hendak roboh saja isinya wanita cantik"


Mendengar kalimatku yang sedikit puitis namun terdengar tragis telah membuat bu Jinem tiba tiba tersenyum ala ala iklan pasta gigi yang membuat aku dan om Aqsa terheran heran.


Jinem: "Jadi maksud mas Kharrel, ibu cantik begitu?"


Aih!


Salah tangkap ini janda anak orang.


Aku langsung loyo dan mengangguk angguk sendiri tidak ingin memperpanjang kesalah pahaman yang sebenarnya bukan itu yang hendak aku sampaikan.


Aqsa: "Maksud El bukan itu bu, maksud El pengunjung ibu ada yang menarik perhatian anak ingusan ini sampai dia tergila gila hingga datang selalu kesini hanya untuk dapat bertemu lagi dengan wanita yang El sebut sebagai titisan bidadari" terang om Aqsa setelah melihat aku hanya menunduk di atas meja dan menempelkan keningku di meja karna merasa lelah dengan semua ini.


Jinem: "Oh bukan ibu rupanya yang mas Kharrel sebut cantik, ibu kira ibu"


Jinem: "Memangnya siapa titisan bidadari itu?"


Kharrel: "Kalau El sudah tahu tidak mungkin El datang kesini setiap waktu bu Jinem" sahutku lemas dengan posisi yang sama.


Jinem: "Iya juga yah"


Jinem: "Ciri ciri wanita itu seperti apa?"


Kharrel: "Cantik"


Tidak ada sahutan dari bu Jinem. Namun saat aku mendongak, lagi lagi keningku mendapat sambaran maut dari telapak tangan om Aqsa.


Aqsa: "Ya kamu kalau ditanya jawab yang benar!" serunya semakin meninggi.


Aqsa: "Ditanya baik baik malah...


Kharrel: "Lah kan El juga jawabnya baik baik. Dia memang cantik kok, El tidak bohong"


Aqsa: "Ya cantik itu kan relatif. Semua wanita juga cantik El, masa iya wanita ganteng!"


Kharrel: "Au ah. Om Aqsa darting, darah tinggi"


Jinem: "Jadi mas Kharrel sering datang kesini akhir akhir ini karna mencari seorang wanita?"


Aqsa: "Iya bu"


Melihat aku yang merajuk dan tidak mau melihat ke arah om Aqsa,membuat bodyguard yang tahu luar dalamku pun akhirnya menjawab segala pertanyaan yang sebenarnya terarah untuk diriku.


Jinem: "Yang seperti apa ciri cirinya, siapa tahu ibu kenal. Atau mungkin bisa saja dia langganan tetap ibu seperti keluarga mas Kharrel" bujuknya perlahan saat aku terus saja merasa sebal pada om bodyguardku itu.


Kharrel: "Cantik" sahutku masih dengan jawaban yang sama hingga membuat om Aqsa menggeram karna kesal.


Aqsa: "Saya tidak bisa menjelaskannya secara spesifik bu, karna saya juga melihatnya hanya sepintas. El yang melihatnya dari depan, saya hanya melihat punggungnya yang sudah berlalu melewati pintu" tutur om bodyguard yang memang benar adanya.


Aqsa: "Tapi yang pasti, wanita itu ada dihari yang sama saat pertama kita berdua mengunjungi warung ibu" lanjutnya terus saja menjelaskan.


Jinem: "Pertama datang itu hari apa ya, ibu lupa?"


Aqsa: "Hari sabtu sore bu" jawabnya yang tidak aku perdulikan.


Jinem: "Aduh. Kalau hari sabtu sore lalu banyak sekali pembeli, ibu tidak bisa memprediksikan siapa yang mas Kharrel maksud"


Kharrel: "Dia yang awalnya duduk disana, waktu El baru saja datang menemui ibu"


Aku menunjuk sebuah meja yang berada di pojokan ruangan, yang kala itu ditempati oleh segerombolan kaum wanita sekitar tiga puluhan yang tertawa keras saat kedatanganku untuk yang pertama kalinya.


Kharrel: "Dia datang bersama dengan kaum ibu ibu yang berpenampilan sangat modis" kataku menjelaskan situasi saat itu, saat dimana aku melihatnya untuk yang pertama kalinya.


Jinem: "Bersama ibu ibu?" tanyanya mengernyit dan seperti memikirkan sesuatu.


Aqsa: "Jangan jangan dia sudah menikah kali El datang dengan ibu ibu"


Sekelibat kemungkinan pun menghampiri.


Berkumpul dengan kaum wanita yang telah berumur sekitar tiga puluhan itu menimbulkan kemungkinan bahwa titisan bidadari itu bisa saja sudah menikah.


Namun yang aku lihat, wanita cantik itu masih terlihat sangat muda bahkan sangat terlihat seperti sebayaku.


Apa mungkin dia sudah menikah dan melakukan pernikahan dini?


Atau mungkin dia menikah dini karna ingin menikahi orang kaya karna kecantikannya yang bisa membuat kaum pria menggila?


Apa dia wanita seperti itu?


Jinem: "Atau mungkin yang mas Kharrel maksud adalah mba Celine?" tiba tiba dirinya tergerak untuk memberikan suatu usulan yang belum pasti jawabannya.


Jinem: "Dia cantik, bahkan sangat cantik. Dia kemarin memang datang dihari minggu sore bersama dengan teman teman kuliahnya, mungkin dia yang mas Kharrel cari"


Kharrel: "Celine?" gumamku yang mendapat anggukan dari bu Jinem.


Jinem: "Tunggu sebentar ya" pamitnya yang kemudian pergi dengan sangat cepat.


Tak selang berapa lama, bu Jinem kembali dengan senyum merekah bersamaan dengan sebuah ponsel di tangan kirinya.


Jinem: "Yang ini bukan yang mas Kharrel cari" tunjuknya sebuah ponsel pada diriku.


Sebuah layar yang sedikit ada retak dibeberapa titik tidak mudah menipu bagimana gembiranya aku melihat sebuah foto yang membuat diriku kembali merasa segar.


Kharrel: "Istriku!" pekikku merasa telah menemukannya.


Namun rasa senang itu tergantikan dengan rasa kesal dangkal dan ingin menendang bagi sosok pria yang berdiri di sebelahnya dengan senyum tak sedap dipandang yang ingin abang tendang.


Kharrel: "Siapa pria buluk yang tampangnya seperti sikat toilet ini?" tunjukku menunjuk pria yang sedikit terlihat lebih tua dariku.


Jinem: "Itu anak ibu"


Suara dingin yang tidak enak didengar itu membuat aku dan om Aqsa langsung melihat ke arah bu Jinem yang mempertontonkan aura menikam yang sangat jelas.


Kharrel: "Bu Jinem, El bungkus gudegnya sepuluh bungkus dengan sambal goreng kreceknya juga. Nanti om Aqsa yang bayar"


Kharrel: "El pamit pergi dulu ya bu Jinem yang cantik jelita sejagad raya pergudegan se Indonesia" kataku mulai bangkit dan siap melarikan diri.


Kharrel: "Om!"


Kharrel: "Jangan lupa memberi uang lebih. Dan selamat menikmati" kata terkahirku setelah melangkah maju menghindari masalah.