
Dan pada akhirnya bukannya abang ganteng yang terhibur malah jadinya abang yang menghibur.
Tapi tak apa, asal emak Khiya yang cantik jelita bahagia abang Kharrel Andez Kumara yang gantengnya di atas rata rata ini rela demi ibunda tercinta.
Sudah menjadi kewajiban utamaku sejak pertama kali bernafas di dunia ini untuk memberikan semua yang emakku minta
Beliau tidak pernah meminta apapun yang terlalu tinggi pada putra semata wayangnya ini, ia hanya selalu meminta padaku untuk menjadi jauh lebih baik dari dirinya dan suaminya.
Dan kakek Hadi ku itu, beliau juga telah sepenuhnya mempercayai ayah dan diriku untuk dapat melindungi putri kesayangannya yang kadang eror sesukanya.
Selain itu, kakek juga memberiku tanggung jawab untuk tidak pernah meminta adik pada emakku bahkan saat diriku masih berusia tiga tahun. Usia dimana aku belum tahu apa itu seorang adik, apa itu hamil dan apa rasanya menjadi seorang kakak.
Sudah menjadi hal tabu bagi kedua keluarga antara Soekatmaja dan Kumara untuk membahas keturunan kedua dari seorang Edwin Keenand Kumara.
Aku sangat bersyukur menjadi berlian berkilau di dalam keluargaku sendiri. Aku sangat bersyukur mendapat perhatian dari segala pihak.
Namun aku tidak tahu, sampai kapankah rasa syukur ini akan melekat.
Karna aku mulai berfikir, bahwa sesuatu yang aku dapatkan pasti akan ada timbal balik yang harus aku korbankan.
🍂🍂🍂
Pagi hari yang cerah dengan kondisi hati yang masih mendung.
"Nasib bujang jomblo!"
"Ga punya pacar!"
"Ditinggal kencan!"
"Jadinya uring uringan!"
Langsung saja aku tampol helm hitam yang telah berstandar nasional Indonesia yang sedang melekat terpasang di kepala om bodyguard kurang ajar yang lagi membawa sepeda motor hendak mengantar abang ganteng sedunia ke kampus untuk menimba ilmu.
Kharrel: "Om nyindir El?!" pekikku karna om Aqsa melajukan motornya cukup kencang.
Aqsa: "Om lagi nge rap, bukan nyindir. Jangan kepedean!" teriaknya balik.
Kharrel: "Terus itu maksudnya ditinggal kencan apa?!"
Aqsa: "Emangnya kamu ditinggal kencan?!" dia malah balik tanya.
Kharrel: "Tau ah om" sahutku ngedumel sendiri.
Pakai acara diungkit ungkit ulang segala ini orang satu. Bilangnya ga nyindir terus maksudnya ucapannya tadi itu apa.
Nge rap?
Dikira abang El yang gantengnya mendunia ini anak tuyul baru netas kemarin apa?
Kharrel: "Turun depan situ aja om" pintaku sambil menepuk punggung kanannya dengan tangan kanan sedangkan tangan kiriku menunjuk sebuah halte bus yang jaraknya sudah tidak jauh dari kampus.
Tidak ada sahutan sama sekali, namun dari gerak gerik om bodyguard sama sekali tidak menunjukan sebuah pertanda bahwa ia akan melakukan apa yang aku pinta padanya.
Om Aqsa melewati halte bus yang belum lama ini baru saja aku tunjuk. Melewatinya bahkan dengan sangat santai dan percaya diri.
Kharrel: "Om budeg yah?!" kali ini abang ganteng teriak kuat kuat hingga menjadi pusat perhatian beberapa orang yang melintas.
Udah aku getok beberapa kali helm yang digunakan olehnya, udah aku keplak berkali kali punggungnya namun tetap saja tidak ada respon dari sang driver yang merangkap menjadi bodyguard itu.
Aqsa: "Dah sampai!" pekiknya sangat girang saat baru saja memarkirkan motor bebek produksi tahun dua ribu enam belas tepat di depan gerbang kampus.
Dengan malas dan sangat tidak suka aku pun tetap turun dan melepas helm yang sedari tadi terus melekat melindungi kepalaku untuk diberikan pada om Aqsa.
Aqsa: "Sekolah betul betul ya El" kalimatnya yang disambut dengan helm yang aku berikan secara kasar padanya.
Aqsa: "Om tunggu di pos depan sana, ok?"
Kharrel: "Mbuh!" seruku masih saja ngempet di dalam hati.
Aqsa: "Pulang nanti om traktir ciloknya mas Cecep deh" bujuknya tahu aku tengah ngambek perkara yang tadi.
Kharrel: "Cilok?"
Aqsa: "Hmmm" sahutnya dengan menarik turunkan alisnya membuat abang ganteng geli sendiri.
Kharrel: "Dikira anak lanang yang gantengnya di atas rata rata ini doyan makan cilok apa?"
Kharrel: "O G A H!!!"
Kharrel: "Ga doyan cilok!"
Kharrel: "Makan sonoh sama panci pancinya sekalian!"
Karna terlalu ngempet di dalam hati bukan hanya perkara kemarin malam yang ditinggal kencan oleh calon pacar bersama dengan calon mertua, kini bahkan dipagi hari menjelang siang yang trik lagi lagi abang ganteng harus bad mood kembali karna ulah om Aqsa yang tidak mau diajak kerja sama.
Belum lagi saat masuk kelas.
Aku kira, mengambil fakultas pertanian dengan program studi agronomi akan jauh dari mata pelajaran yang sangat menyulitkan bahkan dari jamannya emak abang El ini.
Tapi nyatanya, matematika bahkan tetap masih melekat pada program studi di semester pertamaku.
Kharrel: "******!" teriakku belum lama setelah selesai kelas.
Kharrel: "Kepala orang ganteng pening in the pusing Saodah!" celaku terarah pada dosen yang baru saja menghilang dari pandangan.
"Kamu-
"nyumpahin dosenmu sendiri?"
Suara siapa nih?
Kok kaya kenal?
Kalau cantik abang c*pok kalau jelek abang tabok.
Batin orang ganteng mulai meronta, namun anaknya emak Khiya yang anehnya sejagad raya ini memiliki firasat baik.
Dari segi parfum yang tercium dan dari suara yang indah yang meliuk liuk serta mengetuk gendang telinga abang Kharrel yang gantengnya tidak dapat dicerna ini bisa memprediksikan bahwa siapa gerangan yang memergoki mahasiswa kurang ajar yang menghujat dosennya ini adalah wanita cantik.
Dan betul saja, saat pertama aku melihatnya. Saat pertama dia pun menatapku dengan sungguh sungguh, dia memang benar benar wanita cantik.
Wanita cantik yang belum lama ini meninggalkan orang ganteng sendiri disaat kencan pertamanya.
Kharrel: "Celine?!"
Hatiku gembira, sangat tak terkira.
Disambut bidadari, yang harus jadi istri.
Namun, berbunga bunganya hatiku kali ini tidak dapat menutup rasa kecewa dan sakit hati yang wanita itu lakukan pada diriku tadi malam yang membuat orang ganteng di atas rata rata ini tidak bisa tidur karna memikirkan kegagalan diawal mula perjuangan.
Kharrel: "Oooh Celine yah" kalimatku terlontar beriringan dengan ekspresi tak sedap dipandang.
Celine: "Kamu ga suka sama dosen tadi?"
Kharrel: "Entah" sahutku dengan mengangkat bahu.
Celine: "Kamu lagi bad mood?"
Kharrel: "Tau nih" sahutku lagi masih dalam mode sewot dengan melihat ke sekeliling untuk menghindari kontak mata dengannya.
Jangan sampai luluh El, jangan sampai kamu ngejar ngejar dia lagi. Harus Celine yang ngejar ngejar kamu. Harus!
Celine: "Aku mau ke kantin, mau bareng?" ucapnya setelah diam cukup lama.
Kharrel: "Puasa!"
Celine: "Ooooh"
Lagi lagi dia pun kembali terdiam dan tidak berkata.
Ini cewe ga ada rasa bersalahnya sama sekali atau bagaimana?
Ninggalin bujangnya emak Khiya sendirian sebelum kelar kencan, lalu ga ada permohonan maaf sama sekali?
Ngajakin dinner, memberi harapan lalu dipupuskan begitu saja?
Memangnya semua cewe seperti itu yah?
Atau mungkinkah itu berlaku pada semua wanita cantik dan pintar seperti Celine?
Memberikan harapan lalu dijatuhkan hingga ke dasar?
Untuk sesaat kedua mata ini tiba tiba tertarik untuk dapat melihat ke arahnya yang masih setia berdiri tak jauh dari jangkauanku.
Tepat saat itu pula, wanita yang aku harapkan bisa ada dalam kisah percintaan seorang Kharrel Andez Kumara pun tengah melihat ke arahku.
Celine: "Maaf" kalimatnya terlontar lirih namun terdengar pasti.
Celine: "Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, aku juga tidak tahu harus berbuat apa atas kejadian semalam. Namun yang pasti aku sungguh tidak bermaksud untuk meninggalkanmu sendiri disana semalam" terangnya terdengar sedikit ragu dalam berucap.
Celine: "Aku kira dengan mengganti makan malam dengan makan siang mungkin bisa menebus kesalahanku yang semalam"
Celine: "Namun bila kamu sedang berpuasa, mungkin lain waktu masih banyak kesempatan untukku meminta maaf lagi padamu"
What?
Ini kuping anak ganteng sejagad raya sedang tidak keseleo kan?
Ok. Tetap stay cool Kharrel, stay cool.
Kharrel: "Aiiiisshh.. aku lupa!" drama orang ganteng dimulai saat apa yang abang harapkan benar benar berada di depan mata.
Kharrel: "Ini bukan hari senin kan yah?!"
Celine: "Bukan" gelengnya pelan.
Kharrel: "Aduh orang ganteng emang kalau lupa suka tidak tahu tempat dan aturan" toyolan maut melayang untuk kepalaku sendiri.
Kharrel: "Abang El yang gantengnya di atas rata rata ini ga lagi puasa ternyata neng Celine"
Kharrel: "Bagaimana kalau traktir ciloknya mas Cecep yang ada dipengkolan depan kampus?" senyum merekah dengan sangat jumawah telah bertahta di wajah.
Kharrel: "Enak tuh dimakan siang siang. Lebih lebih kalau dipinggir sawah, sedep tuh terkena angin sepoi sepoi"