PAZZO

PAZZO
Episode 17



Aqsa: "Kenapa kencannya cepat sekali?"


Aqsa: "El?"


Aqsa: "Kharrel?"


Kharrel: "Pulang sekarang!"


Tanpa menunggu lama, tanpa menunggu ekspresiku yang berikutnya om Aqsa langsung saja melajukan motor yang belum lama kita berdua tinggalkan di pelataran restaurant yang berada di pusat kota pelajarnya Indonesia.


Tidak ada percakapan sama sekali antara diriku dan om Aqsa disepanjang jalan menuju rumah milik ayah yang berada di Jogja, yang bahkan tidak kalah lebih besar dari yang berada di Jakarta. Bahkan kita berdua pun masih saling diam bagai anak abg sedang saling marahan saat telah sampai di rumah.



🍂🍂🍂


Ku jatuhkan tubuh tinggi semampai yang memiliki kegantengan hakiki tanpa amnesti dan telah terakreditasi paten tanpa bisa dibantah oleh siapapun di atas ranjang besar yang sangat nyaman setelah cukup lama berendam dan membersihkan diri dari sisa sisa sakit hati yang belum lama ini baru saja melanda.


Aku rebahan layaknya anak bujang yang sedang patah hati karna ditolak secara langsung oleh bapak calon mertua bahkan sebelum abang ganteng ini berjuang diawal perjuangannya.


Aku mulai merogoh benda yang tidak pernah ku lupakan untuk selalu dibawa kemanapun aku pergi yang kini berada di saku celana depan sebelah kananku.


Ku usap layar datar yang bernilai puluhan juta itu setelah benda pipih yang ku pegang berhasil mengidentifikasi wajah tampan jumawan yang penuh dengan warisan kekayaan.


Ku ketikan sebuah nama untuk dapat melakukan panggilan video secara langsung yang saat ini sangat aku butuhkan untuk menjadi hiburan.


Seperti biasa, tak perlu lama menunggu panggilan yang aku layangkan pun langsung mendapat respon dari pihak lawan.


Kharrel: "***...


"Tunggu El! Emak mau pakai k*ncut dulu" teriaknya yang awalnya sudah menampakan diri dipermukaan.


Layar yang awalnya menunjukan wajah emak abang ganteng tersayang berubah menjadi menunjukan kilatan lampu kamar yang begitu menyilaukan. Dan selain itu, aku juga harus mendengar drama yang memang sudah biasa ku dengar hampir setiap minggu sekali kala aku masih tinggal serumah dengan ayah Ed dan emak Khiya ku.


Ayah: "Khi. Aku belum kelar!"


Emak: "Aduh nanti dulu"


Ayah: "Matiin dulu telponnya El"


Emak: "Jangan! Tuh kan k*ncutku jadi kebalik!"


Ayah: "Khi?"


Emak: "Nanti dulu. Aduh bh nya dimana?"


Emak: "Iiiiih, kok ayang cr*t disini?"


Emak: "Ayang nanti duluuu...


Emak: "Iya nanti la.. mmmh..


Emak: "El masih telpon, malu kalau El dengar Keen ahh..


Abang Kharrel Andez Kumara yang gantengnya sejagad raya ini sudah mendengar semuanya wahai my emak yang cantik jelita dengan keanehan yang telah mendunia, batinku sambil mendengus.



Emak: "Hallo El?" sapanya langsung menampakan diri dengan daster batik setelah beberapa saat telah berlalu.


Kharrel: "Assalamualaikum!" sewotku karna memang mood abang ganteng ini tengah terombang ambing.


"Wa'alaikumsalam pengganggu!" sahut suara lain yang tidak menampakan diri.


Emak: "Orang anak sendiri dibilang pengganggu!"


Ayah: "Ya emang pengganggu Khiya. Kalau bukan pengganggu ga mungkin telpon jam segini"


Ayah: "Disitu ga ada jam apa El?"


Ayah: "Kamu masih tinggal di Jogja kan bukan di Afrika?"


Ayah: "Zona waktunya masih sama kan?"


Ayah: "Tahu kan ini jam berapa?"


Ayah: "Ini itu jam nya orang istirahat, jam nya orang tidur. Kalau kamu ga mau tidur ya jangan ganggu orang lain"


Ini nih, yang namanya hasrat belum kelar tersalurkan.


Yang tadinya tipekal orang kalem dan santai kaya di pantai berubah menjadi singa kelaparan yang siap menerkam segala mangsa yang ada, batinku.


Tapi memang kalau dipikir pikir anak lanang yang gantengnya kaya abang diluar nalar dan pikiran ini memang sangat keterlaluan. Jelas jelas jam di atas meja nakas telah menunjukan pukul sebelas malam lebih, namun dengan santainya aku malah menelpon emakku yang lagi asik ajip ajipan sama ayah tersayangku.


Namun apalah daya, hati abang yang gantengnya di atas rata rata ini butuh hiburan dan penenang.


Ayah Ed ngamuk?


Ga takut!


Kharrel: "Kalau jam nya orang tidur kenapa ayah sama emak malah olah raga bukannya tidur?" serangan balasan dariku.


Emak: "Ayahmu tuh yang minta" selanya membela diri.


Kharrel: "Tapi emak juga suka kan?"


Ayah: "Ga perlu ditanya" celetuknya belum juga menampakan diri.


Kharrel: "Kenapa ga sore sore aja sih, atau paling ga abis sholat Isya" kataku memberi saran.


Emak: "Ga dapet fill nya El kalo jam segitu"


Kharrel: "Sore?"


Ayah: "Emakmu sibuk ngurus kandang sapi mulu kalau sore" kini sang pendonor sp*rma nongol di belakang emak.


Kharrel: "Sapi mulu perasaan dah!"


Ayah: "Tau tuh emakmu, ayahmu ini terlalu ganteng kali jadi dia mau yang lebih beda dari wanita pada umumnya"


Kharrel: "Emak kan memang aneh yah, jadi jangan heran" kikikanku mulai pecah bila membahas keanehan sang ibunda tercinta.


Ayah: "Kamu kira hanya kamu yang terbiasa dengan emak anehmu ini. Jangan lupa bahwa ayah jauh lebih lama hidup dengan emakmu ini dibanding kamu sebagai anaknya"


Memang harus ku akui. Meski aku menjadi putra tunggalnya, meski aku menjadi satu satunya keturunan yang beliau miliki namun hidup my emak memang telah banyak yang dilewati bersama ayah dibanding dengan diriku.


Pada masa bayiku yang berkulit merah saja aku bersama kakekku. Belum lagi saat pasang surutnya perusahaan ayah yang belum stabil kala itu aku berusia delapan tahun, lagi lagi aku dititipkan ke kakek dan dirawat olehnya selama dua tahun lebih.


Jadi bisa dikatakan bahwa kedua manusia yang sepenuhnya menyayangiku itu memang telah hidup bersama begitu lama, melewati berbagai cobaan dalam hubungan keluarga kecil yang mereka bina hingga memiliki diriku yang saat ini.


"Memang salah emak" suara lirih itu yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara membuat gelak tawa antara aku dan ayahku menjadi membisu.


Raut wajah suram dan penuh kesedihan nampak begitu jelas dari wajah cantik nan indahnya.


Ekspresi yang sangat jarang sekali aku lihat dari seorang emak Sakhiya Malik Soekatmaja.


Emak: "Mungkin kalau emak hamil lagi, kalau emak punya anak lagi..


Ayah: "Khi. Kamu ini ngomong apa?" kali ini pelukan hangat langsung dilayangkan oleh ayahku untuk emakku yang dapat aku lihat dari layar ponselku.


Emak: "Kan kalau El punya adik aku ga perlu urus sapi kalau kamu ga ada di rumah" mulai bisa terdengar suara isak tangis dari balik ponselku.


Ayah: "Aku ga suka yah kamu bahas bahas soal anak!"


Kharrel: "El ga butuh adik mak. El ogah rebutan warisan sama saudara"


Kharrel: "Udah warisan ayah, emak, kakek Hadi sama uti dan kakung cukup buat El aja. El ga mau berbagi, jadi jangan sampai ada adik buat El. Kalau sampai ada El karungin itu bocah terus buang di laut"


Ayah: "Tuh! Dengerin anak kamu yang mata duitan tuh, dia ga mau punya saingan"


Kharrel: "Iya mak, El ga mau punya saingan. Kalau El punya saingan apalagi lebih segalanya dari El kan gawat. Bisa berabe nanti warisan kakek Hadi yang bejibun ditikung sama adik sendiri. Gagal dong nanti cita cita El buat jadi orang kaya nomor satu se Indonesia tercinta"


Kharrel: "Jadi jangan bahas adik lagi ok?"


Kharrel: "El ga butuh adik, El butuhnya emak. Cuma emak"


Kharrel: "El sayang emak"