PAZZO

PAZZO
Episode 6




Nyatanya otak standar abang ini memang tidak bisa dibohongi.


Iya dibohongi untuk semangat belajar demi cewe cantik ternyata tidak berpengaruh apa apa, tetap saja dangkal.


Hari bebas yang dulu sangat aku damba dambakan, biasa ngelayap sesuka hati sirna sudah demi menggapai suatu tujuan.


Belajar belajar dan belajar.


Handphone berdering?


Sorry abang tidak kenal.


Ya begitulah setiap kali abang El ini yang gantengnya tidak pakai aturan membuka beberapa materi yang pastinya akan menjadi bahan uji coba dalam pelaksanaan tes yang terkahir.


Tes yang akan dilangsungkan dan diawasi secara langsung dari pihak panitia penyelenggara penerimaan mahasiswa baru.


Segala doa dan jampi jampi aku lafalkan demi mencapai tingkat belajar yang maksimal.


Tahu apa doa yang aku lafalkan?


Cewe cantik cewe cantik, hanya demi cewe cantik.


Jangan sebut aku gelo, gila, error, tidak waras, pea dan sesaudara sepupu dan sekeluarganya.


Karna hanya dengan cara ini aku baru bisa belajar dan berkonsentrasi dengan benar.


"Kamu tidak boleh pergi sendiri!"


Suara lantunan yang terdengar nyaring dan mengganjal di telinga itu masuk lalu menusuk begitu dalam indra pendengaranku.


Kharrel: "El akan baik baik saja mak" bujukku pada wanita tercantik dalam hidupku.


Untuk saat ini tentunya, aku tidak tahu kalau nanti.


Karna dengar kabar angin yang berhembus bahwa anak UGM cantiknya mengalahkan barisan para bidadari.Tapi aku belum bisa menyimpulkan sendiri bila belum melihatnya secara langsung.


Yang dalam arti, poin utama aku masuk ke dalam Universitas Gadjah Mada adalah karna cewe cantik.Sisanya hanya untuk melanjutkan pendidikan saja.


Emak: "Kalau emak bilang tidak boleh ya tidak boleh. Kamu ini kalau dikasih tahu bantah terus" omelnya tidak tertahankan.


Emak: "Nanti bagaimana kalau ada apa apa. Kalau hilang?"


Emak: "Nyasar?!"


Mulai sudah drama emakku.


Semakin bertambahnya hari emakku ini semakin mendramatisir.


Awalnya aku kira dirinya hendak mengikuti kontes perfilman, hingga aku berpikir demikian.


Atau dulu aku berpikir ada sebuah janin di dalam perutnya hingga emakku menjadi pribadi yang penakut bila aku jauh darinya. Namun setelah aku mengerti dan tahu bahwa emakku tidak akan memiliki anak lagi selain aku saat umurku kala itu baru berusia delapan tahun, aku paham tentang apa yang dia khawatirkan.


Rasa khawatir tidak pernah jauh dari dirinya saat itu semua bersangkutan dengan diriku.


My emak memang galak, aku sangat aku itu.


Tapi terdapat sisi kasih sayang yang tidak ada batasnya pada dirinya hanya untuk diriku.


Dan aku memang merasakannya, sangat merasakannya hingga aku mulai bosan bila emakku bertingkah over protektif pada diriku yang sudah bujang ting ting.


Kharrel: "Nyasar juga masih di Indonesia mak, belum pindah negara. Masih di daerah dekat Jawa Tengah pula belum menerobos perbatasan Papua" terangku bernegosiasi.


Kharrel: "Iyo mak, iyo"


Satu hal yang perlu diketahui. Emakku ini sama sekali tidak jago bahasa Jawa.


Bahasa Jawanya sudah seperti es campur.


Jawa halus, Jawa kasar sampai ngapak dia campur aduk dalam suatu kalimat yang membuat orang ingin tertawa saat mendengarnya.


Tapi tidak dengan diriku.


Karna bila emakku sudah mengeluarkan bahasa Jawanya yang tidak aku ketahui artinya, maka aku hanya bisa bilang iyo dan iyo.


Bila emakku sudah tidak bisa diajak kompromi, maka dirinya akan mengeluarkan bahasa campur Jawanya dan memarahiku setengah mati bila aku tidak mengikuti apa katanya.


My emak memang terlahir dari keturunan Jawa asli. Kedua kakek nenekku lahir di kota yang penuh akan kata pepatah tua, namun tidak dengan emakku.


Emak banyak belajar bahasa Jawa pada ayah Ed ku, terlebih lagi ayah memang terlahir di kota Solo dan memang silsilah keturunan pribumi orang Jawa.


Jadi dalam arti, bisa dikatakan aku pun keturunan Jawa. Terlebih lagi aku masuk dalam urutan keluarga bangsawan keraton Solo yang masih berkembang sampai saat ini.


Emak: "Kalau kamu mau ke Jogja, kamu harus bawa Aqsa" tuturnya mulai lembut lagi dengan kali ini yang telah duduk.


Kharrel: "Jangan om Aqsa mak. Yang lain saja yang lain" tolakku duduk di sebelahnya yang berada di atas ranjangku.


Emak: "Kalau mau ke Jogja harus sama Aqsa. Kalau tidak mau ya sudah tidak usah bermimpi emak memperbolehkan kamu pergi kesana"


Astogeeee.


Demi dedemit si pinguin imigrasi ke Afrika, ini kenapa emakku susah sekali dibujuk.


Kharrel: "Mak, yang lain saja mak" rengekku meminta persetujuan dengan bersimpuh di kedua kakinya.


Kharrel: "El nurut kok kalau memang harus ada yang menemani, yang penting jangan om Aqsa"


Kharrel: "Ya mak?" masih saja aku terus memohon meminta kelonggaran.


Emak: "Pokoknya Aqsa, titik. Tidak ada yang lain, kalau tidak mau tidak usah pergi"


Bujubuset dah.


Ini emakku hati beton sekali, anti retak, anti roboh anti hantaman meski badai menerjang. Sudah memohon tapi tetap pada keputusannya bahkan meninggalkan diriku yang telah bersimpuh piluh penuh dengan derai keringat bercucuran karna mati lampu menjadi AC tidak menyala.


Keputusan my emak pasti sudah tidak bisa diganggu gugat.


Yang hanya bisa aku lakukan kali ini adalah mengancam om Aqsa untuk tidak mau ikut serta dengan diriku ke Jogja.


Karna apa?


Karna aku tidak ingin kalah sebelum berperang.


Alamak siap ketikung kalau nanti gebetan mamas Kharrel naksir sama om om bodyguard.


Aku memang tampan, menawan dan jumawan.


Tapi kalau sudah dijejerkan dengan ketua bodyguard yang telah menjagaku sedari kecil maka aku hanya akan tertinggal di belakang.


Ini semua tidak boleh dibiarkan, jangan sampai kisah ini berganti judul Cintaku ketikung selalu oleh bodyguardku.