PAZZO

PAZZO
Episode 20



Kharrel: "Jalan jalan ke kota Bengkulu"


Kharrel: "Jangan lupa membeli lempuk durian"


Kharrel: "Wahai wanita cantik yang bernama Celine"


Kharrel: "Mau kah kamu menghabiskan sisa harimu saat ini dengan makan cilok bersamaku?"


Satu butir cilok yang memiliki bulatan sempurna dengan warna kulit yang tidak terlalu mencolok akan putihnya yang juga dilumuri oleh bumbu kacang yang berkolaborasi menjadi satu dengan kecap dan saus masuk perlahan ke dalam mulut kecilnya yang terlihat sangat imut saat aku berusaha menyuapkan pada dirinya yang duduk tepat disebelahku.


Awalnya calon pacar terlihat sedang menimang akan menerima suapan dariku atau tidak.


Namun pada akhirnya, karna mimik muka ternistakan abang Kharrel telah lancar dipasang jadilah Celine pun mau menerima cilok yang abang tusuk disebuah tusuk bambu yang kemungkinan besar itu pun terbuat dari bahan yang sama seperti yang om Aqsa gunakan untuk menggetok kepalaku beberapa kali tadi.


Mulutnya mulai bergerak perlahan setelah menggigit separuh dari sebutir cilok yang abang suapkan, dan juga kedua matanya pun tidak mau kalah.


Dengan pandangan aneh, calon pacar menatap diriku yang baru saja menyuapinya.


Kharrel: "Kenapa?" tanyaku kepo akan isi kepalanya.


Ia menjeda ucapannya dengan terus berusaha mengunyah cilok yang berada dalam mulutnya dan juga menutup mulutnya menggunakan punggung tangan kirinya.


Celine: "Aku kira tadi kamu mau pantun" ucapnya setelah memastikan tidak ada lagi kunyahan di dalam mulutnya.


Kharrel: "Ngga"


Kharrel: "Aku ga pantun itu!" seruku yang sedang curi pandang ke arah lain.


Jadi pada akhirnya, abang ganteng bersama dengan calon pacar hanya kencan di pojokan ditemani dengan dua piring kecil cilok yang sedap dipandang seperti mbak Celine yang cantiknya tidak ketulungan.


Tidak lupa pula akan pengawasan dari sepasang mata yang sebenarnya sedari curi pandan ke arah kami berdua pula.


Siapa lagi kalau bukan om bodyguard hot kesayangan emak Khiya tercintaku.


Hanya diberi waktu setengah jam untuk kencan mana cukup. Jangankan kencan, naik motor menuju tempat tujuan romantis saja tidak akan cukup dengan waktu ngirit seperti itu.


Kharrel: "Aku hanya mengingatkanmu siapa tahu kamu mau berlibur atau mau datang ke kota Bengkulu maka jangan lupakan lempuk duriannya" lanjutku setelah melirik seseorang dari kejauhan dengan berniat menyuapi sisa dari gigitan Celine kembali.


Namun niatan itu terhenti saat calon pacar menolak suapan yang abang hendak berikan karna ia terkekeh kecil atas apa yang abang katakan padanya.


Firasat orang ganteng mengatakan bahwa sepertinya cewe cantik yang memiliki bulu mata lentik itu berharap bahwa tadi adalah rayuan gombal yang terbungkus dalam sebuah pantun jadul yang sangat tidak berguna bagi abang Kharrel yang sangat menawan.


Pantun?


Puisi?


Suara cinta?


Sorry orang ganteng ga kenal yang begituan.


Wanita cantik yang memiliki kepintaran di atas rata rata, ramah saat bertutur sapa serta manis saat menebarkan senyum tipisnya membuat Kharrel Andez Kumara ini semakin menggila untuk dapat memilikinya.


Dari raut wajahnya serta aura yang terpancar dalam dirinya terlihat jelas bahwa Celine bukanlah dari kalangan keluarga biasa.


Terlebih lagi, pria yang ia sebut sebagai daddy kala itu yang menggagalkan rencana kencanku juga tidak terlihat sebagai masyarakat kalangan menengah ataupun bawah.


Dengan ini sudah jelas, bahwa Celine bisa masuk dalam jajaran calon istrinya orang ganteng sejagad raya ini.


Satu poin utama telah ia miliki, yaitu terlahir dari kalangan atas.



Katakan aku pria tidak baik yang memilih jodoh berdasarkan latar belakang keluarganya.


Tapi memang pada dasarnya, itu telah menjadi ketentuan bagi keluarga besar bahkan bukan hanya dalam keluargaku.


Pebisnis seperti keluarga Kumara dan Soekatmaja telah menerapkan ini bahkan dari generasi sebelumnya.


Tidak akan ada kata terkecuali sama sekali. Terlebih lagi pada diriku yang menjadi putra tunggal dan penerus dua keluarga sekaligus.


Memang tidak terlihat, namun aku yakin dibalik hubungan ayah dan emak dulu pasti terdapat campur tangan kakek dan kakung di dalamnya juga.


Selain itu, pakde Harlan yang sebenarnya hanya sebatas anak angkat saja juga diharuskan mendapat pendamping yang setara dengan keluarga kakek Hadi.


Kharrel: "Makan apa?" tanyaku balik dengan menaruh kembali sisa gigitan Celine di piringnya.


Celine: "Itu yang dari durian"


Kharrel: "Belum" jawabku jujur yang ditanggapi dengan anggukan kepala kecil olehnya.


Pandangannya kini beralih melihat ke sekeliling.


Melihat beberapa orang saling bertegur sapa saat melintas. Juga melihat beberapa kendaraan roda dua seperti motor dan sepeda pun ikut mengisi jalanan desa.


Saat dirinya sibuk dengan pikirannya akan apa yang ia lihat, aku malah sibuk terus melihatnya.


Mencoba mengaguminya selagi aku masih bisa.


Kharrel: "Tapi akan aku pastikan" ucapku lirih yang yang masih dapat didengar olehnya.


Kharrel: "Aku akan pergi kesana suatu saat nanti dan mencoba lempuk duriannya bersama denganmu" lanjutku menorehkan senyum tipis tak seperti biasa.


Celine: "Bersamaku?"


Raut wajahnya mengernyit mengisyaratkan bahwa dirinya tidak maksud akan apa yang aku ucapkan.


Kharrel: "Iya. Bersamamu" sahutku memperjelasnya kembali.


Kharrel: "Karna aku berniat menghabiskan masa bahagiaku bersama istriku kelak dengan menyusuri seluruh tanah yang ada dimuka bumi ini"


Kharrel: "Aku ingin, meninggalkan segala memori untuk wanita yang aku cintai di atas tanah bumi pertiwi"


Seketika Celine cengo seperti kebo.


Dan itu menjadi momen langka karna untuk pertama kalinya abang ganteng ini mendapat raut yang tidak seperti biasa ia tampilkan di depan umum.


Celine: "Eh! Itu kan bekas gigitan aku?" tunjuknya berusaha menahan separuh cilok yang telah berada tepat di depan bibir orang ganteng seantariksa.


Kharrel: "Kata pak Tejo tukang urus sapi di rumah, kalau aku suka pada seorang wanita maka makanlah apa yang menjadi sisa dari bibirnya"


Kharrel: "Katanya itu dapat menimbulkan energi gaib yang dinamakan pelet agar lawan jenis dapat merasakan apa yang aku rasakan. Aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak" kalimatku yang dibarengi dengan melihat separuh cilok yang belum masuk ke mulut.


Kharrel: "Tapi tak ada salahnya mencoba bukan?" langsung saja abang ganteng diatas rata rata ini melahap separuh cilok yang telah bingung harus berbuat apa karna menjadi perbincangan.


Kharrel: "Aku menyukaimu dan aku berharap kamu juga menyukaiku"


Dia hanya diam akan ucapanku dengan terus melihat ke arahku dengan pandangan serius.


Kharrel: "Tak apa jika kamu tidak menyukaiku saat ini, aku tidak akan memaksa karna itu adalah hak mu"


Kharrel: "Tidak hari ini maka masih ada besok, masih ada lusa, masih ada besok lusa, masih ada besok besok lusa, masih ada banyak besok lusa dan seterusnya" seutas senyum palsu abang terapkan untuk mengelabuhinya.


Banyak banyak besok lusa?


Keburu ketikung ini abang ganteng sama om bodyguard.


Mana matanya jelalatan mulu lihat ke arah sini.


Harus cari cara!


Harus cari bagaimana bisa mendapatkan Celine tanpa ha...


Ah?!


Kan masih ada namanya semar mesem, tinggal lirik kasih semlirik dikit langsung ketarik.


Atau ga kan masih ada jaran goyang, tinggal goyang goyang lawan ikut berdendang.


Atau bulu perindu?


Tinggal jambak rambutnya tante kunti kelar sudah masa lajang abang Kharrel ini.