PAZZO

PAZZO
Episode 1




Aku adalah El, tapi bukan El dari tiga bersaudara yang dikenal oleh hampir seluruh rakyat Indonesia ini.


Aku murni El yang terbentuk dari sebongkah usaha ayahku untuk memilikiku dalam rahim emak tercintaku.


Kharrel Andez Kumara


Banyak yang aku miliki bukan hanya bergelimang harta meski nantinya telah memiliki istri lima, tapi aku memiliki keluarga yang lebih berharga dari pada warisan ayah Ed ku yang baiknya kaya nobita.


Yang utama dan paling utama, aku memiliki emak yang tak tergantikan sedunia dan seantariksa.


Kecantikan pari purna tiada taranya menandingi barisan wanita Korea.


Tapi kegalakkannya dapat menandingi galaknya kucing garong kena rabies tidak makan ikan tuna.


Tapi mau bagaimana lagi segalak galaknya beliau, dalam kisah ini aku diwajibkan menjadi anak penurut pada emak galak yang aku sebut my emak.


Selain memiliki ayah ter the best sedunia dan emak tergalak seantartika.


Aku juga memiliki uti dan kakung. Kakung itu bukan sayuran yang kurang ada gizinya itu ya gaes, tapi kakung itu adalah sebutan kakek untuk ayah dari ayahnya aku.


Tapi sayangnya karna jarak yang membentang tak cukup jauh tapi masih bisa memisahkan antara Jakarta dan Solo membuat aku dan uti serta kakung ku tak cukup dekat. Tak sedekat aku dengan kakek dari my emak.


Kakek Hadi Soekatmaja, pria tua yang kian bertambah usia dan tertelan oleh keriput dimana mana.


Pria berusia delapan puluh satu tahun itu yang telah resmi angkat tangan dari bisnisnya semenjak kelahiranku kedunia ini.


Dan beliau lah yang sudah aku anggap sebagai ayah kedua ter the best yang mengajariku banyak hal, terutama dalam hal menjaga diri dan keluarga yang perlu dilindungi.


Bahkan konon katanya setelah my emak resmi memiliki crindil yang tampannya tiada dua seperti aku, emak ku tercinta tak bisa langsung turun tangan mengurusku yang kala itu bertubuh ringkih dan mudah sakit dikala tertentu.


Sedangkan ayah ku harus total mengurus my emak dan menjaganya disegala situasi untuk menghindari segala kemungkinan.


Karna setelah aku lahir, emak ku tak akan pernah bisa memiliki anak kedua atau seterusnya diakibatkan karena proses pengambilan rahim secara paksa yang harus dilakukan oleh tenaga medis yang menanganinya kala itu.


Dan akhirnya aku tumbuh kembang selama hampir dua bulan bersama kakek Hadi.


Beliau yang menimangku, memberikan ku ASI yang telah disediakan oleh ayahku dan merawatku layaknya beliau merawat anaknya sendiri.


Setelah itu kakek Hadi selalu menjadi number three dalam hidup ku setelah Tuhan ku dan orang tuaku.


Seperti saat ini, saat dimana aku selalu melarikan diri jika yang aku inginkan tidak dipenuhi maka aku akan pulang ke rumah kakek Hadi tanpa membawa satu barang pun.


Karna apa?


Karna sebagian barang ku, pakaian ku bahkan seragam sekolahku pun ada di tempat kakek Hadi. Jadi tidak perlu repot repot lagi membawa koper dengan alay nya beradegan anak abg main kabur kaburan yang akhirnya kehujanan di pinggir jalan tidak tahu tujuan.


Ayah dan emak pun pasti tahu, ngambeknya aku pasti akan pulang ke rumah yang saat ini sedang aku tempati.


"Jadi kali ini kamu kabur karna apa lagi El" sapanya duduk dengan membawa segelas kopi yang aromanya menguar jelas di hidungku yang mancungnya bikin orang gila saja menjadi waras.


Kharrel: "Emak tuh kek. Sama anak satu satunya saja pelitnya seperti sama anak orang lain" aduku pada ayah dari my emak.


Kakek: "Ya kamu ini mintanya apa dulu?" tanyanya lagi dengan menaruh cangkir yang berada di tangannya pindah pada meja besar di hadapan kita.


Kharrel: "El kan lagi diare berat kek, tapi El ingin makan es krim. Makanya El minta sama emak untuk buatkan El es krim rasa salak. Tapi emak malah mencak mencak sambil bilang ke ayah kalo El anak aneh. Padahal yang suka aneh itu kan emak sendiri kan ya Kek?"