
Setelah bertapa dua puluh lima jam
Hasil akhir telah ditentukan, dan pemenangnya adalah dukun cinta harus diundang agar terhindar dari kasus penikungan yang sangat mengerikan oleh ajudan yang selalu ngintilin serasa ingin ditendang.
Abang ganteng punya teman, temannya abang punya sepupu dan ia memiliki kakek yang saudara seipar dengan seorang wanita yang kenal dengan seorang pria! berilmu pengantar cinta yang menggiurkan.
Setelah melewati jalan terjang penuh akan jurang dan semak semak belukar yang saling berhamburan, akhirnya calon masa depan mbak Celine yang cantiknya tidak ketulungan ini sampai pada sebuah rumah yang harus aku bandingkan jauh jauh bahkan sangat jauh berbeda dengan rumah ayah yang ada di Jakarta.
Genteng yang berjatuhan memenuhi pinggiran rumah, dinding rumah terbuat dari anyaman bambu yang dipenuhi akan lubang lubang besar dapat diintip dari luar serta papan lebar yang dijadikan pintu semakin membuat aku merinding melihatnya.
Bukan merinding karna takut akan ada sesuatu di dalam sana, namun aku merinding bagaimana mungkin seorang abang Kharrel yang gantengnya tidak bisa disetarakan dengan manusia biasa ini masuk ke dalam serta menyapa apa yang ada di dalamnya.
Seorang El sampai di tempat seperti ini pastinya butuh perjuangan dan banyak kebohongan. Tidak tanggung tanggung sebanyak apalagi aku telah berbohong pada om Aqsa hanya untuk dapat menjajakan kedua kakiku dijenis tempat yang untuk pertama kalinya aku disinggahi ini.
Kharrel: "Yakin lo bre ini tempatnya?" tanyaku masih saja memendam keraguan.
"Masa iya gue bohong" sahutnya yang menjadi pengantar abang ganteng hingga ke tempat seperti ini.
"Kalo gue bohong, gue siap deh dic*pok sama cewe incaran lo itu"
Tanpa pikir panjang, tanpa harus menunggu detik berikutnya langsung saja tampolan maut abang kirimkan untuk kepala pitak yang habis dibuat botak.
Membuat sang empu hanya mengaduh kesakitan akibat rasa sakit yang abang layangkan.
Kharrel: "Berani main main sama gue?!"
"Hehehe.. Canda El" cengir kudanya mulai muncul menghiasi wajah buluknya.
Juqi, teman yang belum lama aku kenal karna satu kelas denganku baru baru ini.
Dia terlihat sebagai anak baik baik tanpa skandal di kelas sama sepertiku yang pendiam dan penuh karisma ini.
Dia pula satu satunya teman yang aku miliki saat ini, atau bisa jadi pula hanya dia yang akan menjadi temanku hingga lulus kuliahku nanti.
Karna sebenarnya aku adalah tipekal orang yang tidak suka sembarang bergaul dan itu menjadi penyebab utama mengapa aku hingga saat ini masih saja menyandang gelar jomblo terakreditasi SNI tanpa perlu diragukan kembali.
Juqi: "Masuk gih!" serunya membuyarkanku dari lamunan tentang tempat yang sedang kita berdua datangi kali ini.
Kharrel: "Lo ga ikut?" tanyaku mengernyit.
Juqi: "Napa?"
Juqi: "Takut masuk sendiri?" ejeknya tanpa tau aturan.
Kharrel: "Gue ga secupu itu bre!"
Dengan langkah penuh percaya diri, akhirnya abang El ini membelah rerumputan dan ilalang pendek yang masih juga menghalangi jalan abang untuk mencapai suatu tujuan.
Ya Allah, maafkan El ini ya yang telah memilih jalan seperti ini. Tapi ini bukan salah El sepenuhnya kok, kalau mau salahkan maka salahkan Celine mengapa ia tidak jatuh cinta pada abang Kharrel yang gantengnya di atas rata rata ini.
Mak.. ayah,, maafin cebong kalian ini ya. Janji deh ini yang pertama dan terakhir, batinku sebelum benar benar masuk ke dalam rumah gubug reyot sendirian dengan modal keberanian.
Namun sebelum aku menemui mbah dukun cinta, dengan cepat aku kembali menengok ke belakang dan membuka kembali papan lebar yang menjadi pintu rumah yang abang datangi.
Kharrel: "Tungguin gue loh bre!" pesanku pada Juqi yang masih diam berdiri di tempat yang sama.
Juqi: "Iya!" ngegasnya ga tau aturan.
Kharrel: "Awas kalo kabur!" tunjukku mengancam dengan jari telunjuk kanan dan juga dengan mata yang menajam.
Juqi: "Kalo gue kabur, calon pacar lo itu buat gue berarti" cengengesnya yang siap mendapatkan kiriman bogem dari kepalan tangan kanan yang telah siap aku lancarkan.
Juqi: "Dah buru masuk!"
Juqi: "Jadi ga. Kalo ga mending balik sekarang, udah mau hujan ini" ucapnya dengan melihat ke langit yang memang sedikit redup dengan nuansa adem yang menyejukan terlebih lagi ini hampir masuk ke dalam hutan.
Dengan hembusan nafas perlahan, akhirnya abang memantapkan diri untuk menjembut sang pelet yang dapat membuat mbak calon dokter itu jatuh cinta pada calon orang kaya yang penuh akan warisan nantinya.
Akan tetapi saat baru satu langkah kaki abang ganteng ini lebih mendekat ke dalam, tiba tiba air sejamban entah datang dari mana menyerbu badanku tanpa permisi.
Kharrel: "Buset!" pekikku kaget.
Kharrel: "Apaan nih?!" lanjutku masih dalam mode syok berat dengan mengusap wajah tampan jumawan yang banyak warisan karna tersiram air kobokan.
Namun, bukannya sahutan yang aku dapatkan melainkan lengkingan ketawa yang membahana memenuhi penjuru ruangan yang ada.
Abang syok!
Abang kaget!
Dan abang tidak menyaka.
Bayangan dimana laki laki tua yang memiliki jenggot putih panjang, cincin batu akik bertebaran di kesepuluh jari serta kalung tengkorak yang mengitari leher sama sekali tidak nampak di depan hadapanku saat ini.
Yang nampak hanya seogok tubuh yang lebih pendek dariku, rambut yang dicat merah menyala dengan dikuncir di bagian puncaknya serta celana kolor tanpa menggunakan baju alias telanjang dada.
Kharrel: "Kamu yakin seorang duk..
Belum kelar bicara itu orang yang usianya terlihat sedikit tua dariku langsung menyambar bibir seksiku dengan nampan yang begitu lebar.
Kharrel: "B*ngke!!!" jontor sudah keseksian bibir abang ganteng.
Kharrel: "Lo..
"Yang sopan kamu ya sama saya"
Ini orang yang ngomong ada di sebelah mana, kenapa ada suara ga ada orangnya. Perasaan tadi masih ada di depan abang, batinku celingukan.
"Duduk!" perintahnya yang ternyata udah ngetongsot selonjoran di lantai tepat di bawah abang.
Dengan basah kuyup dibagian atas yang dibuat olehnya tetap saja abang main nurut nurut saja dengan perintahnya.
Udahlah ikutin saja dulu apa maunya siapa tahu ini orang emang dukun cinta.
Masalah style yang dia pakai, mungkin dia telah masuk generasi jaman sekarang. Dimana dukun tidak mau ketinggalan jaman untuk merubah penampilan.
"Jadi butuh yang seperti apa?" tanyanya dengan mata terpejam dan juga badan yang ia goyang goyangkan.
Kharrel: "Seperti apa yang bagaimana ya kak?" tanyaku bingung akan arah pertanyaannya.
Namun, entah salah abang apa lagi. Tiba tiba itu nampan lebar melayang kembali mengarah pada jidat lebar yang sangat menggairahkan.
"Kak kak. Panggil saya mbah!" protesnya setelah melesatkan hantamannya.
Baru tahu abang ada orang malah ingin disebut jauh lebih tua dari usianya, batinku dengan mengelus jidat pari purna karna merasakan sakit tak terkira.
"Kamu kesini karna seorang gadis kan. Jadi jenis apa yang kamu butuhkan, saya punya banyak stok ini"
Kharrel: "Waaaah.. mbah udah tahu tujuan saya?"
Hebat hebat.
Ini mbah dukun beneran sakti berarti. Habis ini abang musti royal ke Juqi karna telah memberi solusi, batinku dengan manggut manggut sambil tepuk tangan ringan.
"Ya udah lah, kan teman kamu itu yang ngasih tahu duluan. Katanya kamu butuh pelet untuk cewe incaran kamu" seketika tepuk tangan abang terhenti dan senyum merekah abang pun hilang tak bersisa.
"Jadi kamu butuh yang seperti apa ini?"
"Yakin?"
Kharrel: "Yakin sekali ini saya" semakin mantap sudah jawaban abang.
"Tapi setiap jenis ada tantangan dan resikonya"
Kharrel: "Saya akan lewati semuanya"
Kharrel: "Walau badai menerjang, topan berhamburan serta guntur bermusikan abang Kharrel yang gantengnya maksimal ini akan melakukan semua hal demi mbak Celine ku tersayang" ucapku dengan penuh semangat dan penghayatan.
"Tidak usah lebai!" digetok lagi kepala abang pakai nampan.
Kejam banget ini dukun satu, atau semua dukun memang ringan tangan seperti ini?
Kalo ayah Ed tahu abang dipukul orang, habis lo mbah dukun. Bukan hanya sama ayah Ed, mau diperas peras juga itu leher sama perut oleh kakek Hadi.
Ga tau yah, jiwa raga gue ini udah bagaikan berlian dikeluarga Kumara dan Soekatmaja.
Anak sultan mah memang beda.
"Jadi bagaimana?"
Kharrel: "Bagaimana apanya mbah?"
"Ya kamu mau pilih yang mana bocah?!" kena lagi sudah kepala abang.
Kharrel: "Lah mbah aja belum sebutin ada berapa dan seperti apa, bagimana saya mau pilih?" ucapku dengan terus menghadang kepala agar tidak ada serangan selanjutnya.
"Jadi semua ada tiga..
Kharrel: "Hanya tiga?!" seruku menyela.
"Tidak usah nawar!" sahutnya yang hendak menggetok kembali namun terhadang oleh tanganku.
"Ada semar mesem, jaran goyang sama bulu perindu. Kamu mau pilih yang mana?"
Kharrel: "Yang paling manjur mbah!" seruku dengan penuh semangat.
"Jaran goyang?"
Kharrel: "Mana mana aja deh mbah yang penting manjur"
"Tapi ada syaratnya"
Kharrel: "Apa itu mbah syaratnya?"
"Kamu harus goyang seharian sambil berdendang dan bergadang"
Kharrel: "HAH?!"
Bisa patah pinggang dong nanti abang ganteng ini kalo suruh goyang seharian.
Kharrel: "Semar mesem aja lah mbah, ga manjur amat ga masalah yang penting masih bisa kena"
Kharrel: "Syaratnya apa mbah?"
"Main sama tuyul seharian di mall"
Kharrel: "WHAT?!!"
"Iya. Sama cebokin dia juga kalau dia beol"
Apa kata mimi peri abang ganteng main sama tuyul di mall, cebokin pula. Kaya apa itu bokernya tuyul.
Kharrel: "Bulu perindu aja deh mbah" pasrah abang memikirkan sang tuyul yang bergelayut di badan.
"Yakin?"
Kharrel: "Ga tau lah mbah. Kalau syaratnya ok saya ambil, kalo ga ok saya capcus pergi"
"Syaratnya bobo sama mba kunti" abang cuma bisa cengo mendengar penuturannya.
Kharrel: "Saya balik aja deh mbah" kataku hendak berpamitan.
"Hanya tidur berdua, mudah saja bukan. Nanti mba kunto akan berikan rambutnya padamu"
Kharrel: "Nah karna tidur berdua itu yang jadi masalah mbah. Kita bukan muhrim tidak boleh sekamar berdua apalagi tidur bareng" ngelesku kaya mamang bajai.
Tidur dengan tante Kunti?
Bukannya tidur yang ada abang yasinan sambil baca ayat kursi untuk mengusirnya, kalau bisa abang lempar sekalian itu sama kursi kursinya kalo belum mau pergi juga.
Aku yang hendak bangun dan hendak pergi pun ditahan olehnya tepat di kaki kiri.
"Tunggu dulu!"
Kharrel: "Aduh saya mau pulang aja deh mbah"
"Saya ada jalan lain, dengar dulu" masih saja dia berusaha menahan.
Kharrel: "Aduh mbah, le..
"JOKOOOO!" lengkingan suara ibu ibu serta derap beberapa kaki mengalihkan pandangan kita berdua.
"Ibu?" lirihnya yang dapat aku dengar.
"Masih main dukun dukunan?" suara lembutnya ikut membangkitkan sang mbah dukun dari duduknya.
"Ayo pulang" kini suara lain yang berjenis kelamin pria ikut meramaikan dan menuntun sang mbah dukun untuk pergi keluar.
Saat diriku masih hanyut akan pandangan mbah dukun yang pergi dengan beberapa orang yang datang tadi, tiba tiba...
BUGH
Hantaman kuat yang menerjang pantat bahendul milik abang membuat abang melengking kuat karna rasa sakit yang tiba tiba datang tanpa abang undang.
"Kamu ngajarin ga bener ya sama anak saya!" tuduhnya setelah menabok pantat terseksi sedunia dengan nampan yang belum lama terpisah dari mbah dukun yang sepertinya adalah putranya.
Kharrel: "Ih apa salah saya bu?"
"Ya kalau kamu ga datang kesini, anak saya ga akan kesini main dukun dukunan lagi!" cicitnya beserta serangannya.
Berkali kali pantat serta punggung abang menjadi hantaman karna dituduh memberikan aliran sesat kembali pada pria bernama Joko yang mengalami gangguan jiwa karna ditolak oleh beberapa jajaran kaum wanita yang disebabkan oleh fisiknya yang kurang dari kata sempurna.
Bahkan setelah puas melampiaskan amarahnya yang tidak terkendali, ibu dari mbah dukun bodong yang bernama Joko itu pergi begitu saja bahkan tanpa meminta maaf karna membuat abang babak belur.
Penampakan pria dengan basah kuyup, rambut yang acak acakan akibat dijambak serta jalan yang sedikit pincang karna berkali kali terkena pukulan dipinggang membuat diriku benar benar terlihat sangat mengenaskan.
Terlebih lagi saat diriku baru saja menapakan kaki dipelataran rumah gubug reyot itu, si Juqi sudah tidak ada di tempat.
Dari aroma aroma yang tercium, sepertinya abang Kharrel yang gantengnya sejagad raya ini ditinggal pergi sendiri di dalam hutan dengan kondisi fisik yang sangat mengerikan.
Kharrel: "Emaaaaaak"
Kharrel: "El di bully mak!"