
Setelah kejadian dimana anak kurang ajar mencela anak orang, aku memutuskan untuk mundur perlahan dari dunia pergudegan untuk sementara waktu hingga bu Jinem mereda.
Dan rasa malu yang om Aqsa bawa pulang karna ulahku tempo lalu membuat ayah Edwin ku yang paling kece mengambil alih masalah dan meminta maaf sedalam dalamnya bagai dalamnya sumur bor, bagai luasnya laut utara dan bagai besarnya alam semesta pada bu Jinem yang tidak aku cinta.
Namun meski demikian. Meski bu Jinem mengatakan bahwa telah memaafkanku namun aku masih dapat merasakan api kemarahan yang membara dalam diri bu Jinem atas celaanku yang menyebut putranya seperi sikat toilet.
Akan tetapi walaupun amarah bu Jinem belum mereda seutuhnya, tapi kali ini aku malah mendapat informasi terkini mengenai titisan bidadari yang benar benar harus aku angkat menjadi istri dari bu Jinem sendiri.
Kenyataan manis yang menampar hidupku kencang itu membuat diriku seperti orang kesetanan setiap masuk ke lingkungan kampus.
Sebuah kenyataan yang menyatakan bahwa wanita cantik berparas bidadari bernama Celine itu ternyata sama sama menimba ilmu disatu universitas yang sama denganku.
Tapi sialnya, aku tidak mendapat informasi lebih mengenai fakultas yang wanita itu ambil.
Aku gencar.
Aku menggila.
Dan aku mulai tidak sadar diri hingga aku terus saja mencarinya.
Dari pertama mengikuti seleksi akhir hingga aku diterima menjadi mahasiswa sampai aku telah masuk fakultas dan telah memilih program studi secara asal tetap saja aku belum bisa menemukan Celine yang nyata dalam imajinasi dan bayang bayang otakku.
Alih alih berharap dapat sefakultas dengannya, seprogam studi dengannya atau syukur syukur bisa sekelas dengannya namun semua harapan itu sirna saat aku tetap tidak bisa menemukannya.
Celine
Satu kata yang aku dapatkan untuk menjadi penopang dalam misi pencarianku itu belum membuahkan hasil yang sempurna.
Terakhir kali aku mendapat informasi dari om Aqsa yang aku tunjuk untuk melakukan misi pencarian calon istri ternyata berakhir tragis untuk diriku sendiri.
Om Aqsa menyampaikan padaku sebuah informasi yang ia dapatkan mengenai satu nama yang aku cari berada disatu fakultas.
Terdapat nama Celine disatu program studi dan aku yang menggila karna cinta pada pandangan pertama pun menjadi mengikutinya. Aku bergegas mengambil fakultas dan program studi yang sama dengan wanita bernama Celine sesuai laporan om Aqsa padaku.
Tapi sayangnya, apa yang berada diekspetasiku yang akan sekelas dengan titisan bidadari ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang aku terima.
Bentukan seorang wanita pendek, culun karna memakai kaca mata kuno, berpenampilan buluk dan tidak sedap dipandang itu membuat aku menyesal karna memilih fakultas bahkan program studi yang sebenarnya bukan anjuran dari ayah Ed ku.
Ilmu Ekonomi.
Suatu program studi yang berasal dari fakultas ekonomika dan bisnis yang seharusnya aku pelajari.
Satu bidang studi yang mewajibkan aku harus mempelajarinya untuk menjadi bekalku nanti dalam mengelola dua perusahaan sekaligus dimasa yang akan mendatang.
Dan kini, karna cinta pada pandangan pertama yang memabukan diriku dan membuatku telah salah memilih jalur yang bukan semestinya, bukannya memilih fakultas bisnis kali ini aku malah memilih fakultas yang sama sekali bukan bidangku terlebih lebih bukan yang nantinya akan menjadi masa depanku.
Namun bagi diriku, bagi seorang Kharrel Andez Kumara itu bukanlah perkara yang besar meski amukan beberapa orang sudah menghadang di depan.
Aqsa: "Bagaimana ini El?"
Sudah berpuluh puluh kali om Aqsa diselimuti bahkan dilumuri rasa gelisah tak berkesudahan setiap ayahku menelpon ke ponselnya.
Rasa takut dan risau yang semestinya menjadi milikku malah kini berada pada diri om Aqsa yang sudah matang akan usia jantannya.
Kharrel: "Ya mau bagaimana lagi" sahutku santai dengan terus mengunyah roti yang tersedia selalu di dalam lemari penyetok barang makanan.
Aqsa: "Kamu santai sekali, tidak takut sama ayahmu dan kakekmu?"
Aqsa: "Kamu kan diijinkan kuliah disini karna terdapat fakultas bisnis. Kenapa kamu malah ambil fakultas pertanian?"
Yup.
Fakultas pertanian menjadi dasar tempatku kini untuk berdiri dari sekian banyaknya mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai fakultas beserta program studinya.
Program studi agronomi menjadi pilihan yang tidak aku sengaja karna menjadi urutan paling pertama dalam daftar program studi yang ada pada fakultas pertanian.
Aku tidak tahu dan aku bingung kala itu karna telah terjerumus, maka dari itu aku yang memiliki kemalasan bertanya tingkat tinggi ini hanya menjalani sesuatu dengan apa yang mengalir tanpa ingin bertanya.
Tidak banyak yang aku ketahui tentang agronomi, tapi yang pasti dan jelas aku ketahui ialah aku telah masuk jurusan pertanian. Berarti aku tidak akan jauh dari tanah dan tumbuhan hanya itu yang aku ketahui saat ini.
Kharrel: "Sudah terlanjur, jalani saja dulu. Toh yang melewati itu semua juga El kok bukan om"
Om Aqsa menepuk keningnya kuat melihat tingkah santaiku yang seperti tidak terjadi apa apa.
Aqsa: "Iya. Tapi ayahmu it...
Aqsa: "Nah kan, nah yang disebut telepon lagi" serunya menunjukan layar ponselnya yang memperlihatkan sebuah panggilan masuk bernama tuan Ed.
Aqsa: "Om tidak mau tahu lagi, kamu yang harus menjelaskan semuanya" om Aqsa menyodorkan ponselnya secara paksa pada diriku.
Kharrel: "Hanya menjelaskan kan?"
Aku yang memang berada dalam keadaan santai tanpa beban meski telah mengecewakan mengangkat panggilan video itu secara perlahan setelah menata rambut agar terlihat lebih tampan menawan seperti pak Wawan yang tinggal di pengkolan.
Kharrel: "Hallo ***..
"Kharrel!" suara garang yang menyela kalimat pertamaku dalam upaya menegur sapa untuk yang pertama kalinya itu mengalihkan intensitas kerja otakku.
Kharrel: "Assalamu'alaikum" kataku perlahan pada pria yang hampir tidak pernah marah bahkan meminta apapun dariku.
Ayah: "Kenapa tidak mengambil ilmu ekonomi. Kenapa memilih pertanian?!" serunya terlihat sangat serius begitu pula sangat kaku dan dingin.
Kharrel: "Assalamu'alaikum ayah" kataku masih santai meski sebenarnya aku sedang memikirkan seribu jawaban untuk pertanyaan yang akan dilontarkan oleh pria yang sangat baik dalam hidupku.
"Anak memberi contoh yang baik dijawab dulu ayah, jangan marah marah" suara lain menimpali dengan bersamaan munculnya wanita cantik pertama dalam hidupku yaitu my emak.
Ayah: "Wa'alaikumsalam"
Aku tersenyum sendu melihat pemandangan indah di layar ponsel om Aqsa yang menampilkan ayah dan emakku tengah berdampingan melihat ke arahku yang kini jauh dari jangkauan mereka berdua.
Kharrel: "El rindu em...
Ayah: "Kenapa masuk pertanian?" selanya sebelum kalimatku terlontar semua.
Emak: "Anak mau bilang rindu kok malah disela?" ocehnya dengan menepuk bahu ayah yang dapat aku lihat.
Ayah: "Kenapa El, jawab?" tanyanya tidak menghiraukan teguran emak dan lebih fokus menatap dingin diriku yang jauh darinya.
Aku terdiam, aku tidak tahu harus menjawab apa.
Karna pada awal perjanjian dengan ayah sekaligus pemilik perusahaan perhiasan terbesar di tanah air ini dan juga pemilik delapan pelabuhan terbesar yang menjadi tempat singgah bagi impor dan ekspor barang mewah, aku berjanji padanya akan mengambil fakultas bisnis dan mempelajari ilmu ekonomi supaya dapat mengelola suatu rancangan besar yang akan menjadi dasar pokok bisnis yang akan diturunkan oleh ayahku kelak.
Beberapa jaringan di bawah tanah yang tidak nampak di luar yang ayah bentuk sejak sebelum menikah dengan emak tidak menutup kemungkinan terdapat beberapa pihak yang hendak berniat merusaknya.
Mencari keuntungan dari hancurnya lawan yang menghalangi jalan mereka menuju titik yang sama seperti yang ayah cari yaitu kesuksesan dan kejayaan abadi.
Ayah: "Kalau kamu tidak mau jawab, ayah akan tarik ulang nama kamu dan kamu terpaksa harus pulang ke Jakarta" ancamannya terdengar tidak main main.
Bukan rasa takut akan setiap kalimat dingin dan tegas yang ayah Ed ku lontarkan, namun entah mengapa lidah ini begitu kaku untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi mengapa aku salah mengambil jurusan.
Emak: "El?" panggilnya lirih mengalihkan perhatianku yang tadinya menunduk merasa bersalah.
Emak: "Emak ingin bertanya. Kamu benar mengambil fakultas pertanian?" tanyanya pelan karna aku sedari tadi hanya diam.
Aku hanya mengangguk memberikan jawaban.
Emak: "Jurusan apa?"
Kharrel: "Agronomi"
Emak: "El tahu apa itu agronomi?"
Aku menggeleng karna benar benar merasa tidak tahu. Namun sayangnya, dari gelengan kepalaku itu membuat ayahku berdecih dan terkekeh.
Emak: "El tidak tahu, tapi El mengambilnya?"
Emak: "El lupa janji El pada ayah sebelum pergi ke Jogja?" tuturnya kembali mengingatkan akan perpisahan sementara itu.
Perpisahan yang sangat menekankan diriku untuk merebut salah satu kursi mahasiswa bisnis dan harus menjadi sarjana bisnis sesuai dengan kemauan ayah dan kakek Hadi ku.
Kharrel: "El lupa mak" kataku lirih dengan begitu jujur.
Ayah: "Kamu lupa?"
Ayah: "Apa yang membuatmu lupa?"
"Wanita" celetuk pria yang sedari tadi hanya diam memperhatikan dan mendengarkan.
Aqsa: "Apa?" tanyanya polos saat aku memelototkan kedua mataku ke arahnya.
Aqsa: "Memang benar bukan. Kamu masuk pertanian karna mengejar seorang wanita?"
Aqsa: "Tapi sayangnya kamu malah salah orang"
Wah wah waaaah...
Minta dilempar granat ini anak manusia.
Aku yang merasa tidak enak hati karna mengingkari janji saja tidak berani berkata itu semua karna wanita, lah ini om Aqsa main ceplas ceplos saja pada ayah dan emakku.
Ayah: "Siapa yang dia cari?"
Ayah: "Celine kah?"
Aku syok.
Sungguh, benar benar syok saat ayahku mengetahui akan satu nama yang kini sedang singgah di hati terdangkalnya abang.
Ayah: "Kalau ayah memberi tahumu, apa imbalan yang ayah terima?"
Kharrel: "Menuruti setiap perkataan ayah terkecuali pindah universitas" sahutku mantap.
Ayah: "Kau akan bertahan dengan keputusanmu?"
Kharrel: "Iya, karna ini jalan yang telah El pilih"
Ayah: "Jalan yang bahkan kau tidak tahu dimana itu dan seperti apa jalan yang kau pilih?"
Ayah: "Apa kau sedang bercanda dengan masa depanmu?"
Aku tahu, bahwa ayahku memiliki rasa kecewa berat pada diriku lantaran salah memilih fakultas.
Namun ini telah menjadi pilihanku.
Pilihanku untuk semakin dekat dengan titisan bidadariku.
Kharrel: "Masa depan ya masa depan. Masa kini ya masa harus kita lewati"
Kharrel: "Untuk apa memikirkan hal yang terlalu jauh, bila kita saja tidak tahu apa yang akan terjadi dihari esok"
Ayah: "Ayah sedang tidak bercanda El"
Kharrel: "Apa menurut ayah El sedang bercanda?"
Aku tidak akan pernah bercanda dalam urusan wanita cantik yang sangat antik dan harus dipetik untuk dijadikan istri.
Kharrel: "El mungkin tidak berpendidikan tinggi mengenai ekonomi, namun bukankah ada ayah dan kakek Hadi?"
Kharrel: "Bukankah memiliki dua orang pria hebat dalam urusan bisnis sudah cukup bagiku untuk dijadikan sebagai guru dan teladan hidup?"
Kharrel: "Apa salahnya El memilih apa yang El inginkan. Bukankah El sedari kecil selalu dituntun oleh ayah dan kakek harus seperti ini dan itu?"
Kharrel: "Jadi bisakah kali ini El mengeluarkan pendapat El sendiri dan menikmati masa masa muda El dalam kebebasan sebelum menerima tugas dari ayah dan kakek?"
Aku serius kali ini.
Benar benar serius.
Serius ingin berpendapat mengenai masa depan diriku sendiri.
Aku memang bebas, aku memang memiliki segala yang tidak dimiliki oleh beberapa pemuda seusiaku namun aku tidak pernah bebas mengenai pendidikan dan masa depan.
Dari usia belum ganjil tiga tahun, aku telah disekolahkan.
Menerima segala pendidikan sejak dini.
Namun meski demikian, hidupku tidak sepahit anak anak pintar yang kutu buku. Ayahku tetap memberikanku kebebasan, membiarkan kenakalanku berlalu dengan seiringnya waktu. Membiarkan aku tumbuh dengan layaknya pemuda bebas yang tidak mendapat kekangan seutuhnya dari pihak keluarga.
Terlebih emakku melarang keras diriku diatur oleh orang lain. Emakku lebih senang aku menjadi jagoan dan tidak ditindas oleh siapapun.
Ayah: "Ayah ingin kamu cepat lulus dengan keputusanmu yang ini tanpa bantuan dari ayah atau siapapun"
Ayah: "Bila kamu tetap pada keputusanmu, maka luluslah karna hasil kerja kerasmu dan jangan memohon pada ayah untuk mendapat bantuan"
Kalimat yang terdengar seperti peringatan itu serasa seperti lampu hijau bagiku bahwa ayahku sepertinya setuju akan keputusanku.
Kharrel: "Eh jangan lupa, El masuk kandidat mahasiswa juga karna hasil kerja keras El sendiri bukan bantuan dari ayah" ucapku mengingatkannya kembali.
Wajah datar yang tadinya tanpa ekspresi kini menimbulkan sebuah senyuman tipis yang membuat diriku merasa lega.
Ayah: "Fakultas kedokteran semester tiga dan digadang gadang akan mendapat gelar Cumlaude"