PAZZO

PAZZO
Episode 15



Yuhuuuu...


Jalan jalan ke kota tua beli es batu.


Akhirnya aku bertemu dengan dirimu.


Wahai wanita cantik yang akan ku persunting menjadi istriku.



Aku bahagia.


Sangat bagahia saat menemukan seseorang yang sangat aku damba dambakan dan sangat aku rindukan disetiap saat kini berada dekat dengan diriku.


Iya, dekat dengan seorang pria tampan yang melebihi kapasitas alias overdosis kegantengan bernama mamas Kharrel Andez Kumara ini.


Aku yang kegirangan, aku yang kesenangan, aku yang mulai lupa diri akan keanggunan seorang pria tampan tidak lagi memperdulikan langkah cool yang selalu om bodyguard ajarkan.


Aku berjalan cepat atau bahkan bisa dikatakan sedikit berlari ke arahnya.


Mengumbar senyum sumringah ke arahnya saat wanita cantik yang tengah aku berusaha dekati juga telah menemukan keberadaanku saat ini.


Namun, karna seakan lupa diri dan melupakan situasi akhirnya aku terjungkal ke depan karna suatu benturan keras yang membuat om Aqsa langsung berlari menolongku.


Kharrel: "Woi!" pekikku membahana yang membuat semua pasang mata kini tertuju melihat ke arahku.


Niatan awal, mamas ganteng ini mau mengamuk terus mencak mencak pada sang empu yang menabrak.


Bagimana tidak, anak orang seganteng diriku yang memiliki tubuh sempurna tiba tiba ditabrak oleh sebuah troli yang sangat kencang hingga membuat diriku terjungkal siapa yang tidak akan marah.


Namun niatan ingin mengamuk pun hilang tergantikan dengan rasa malu saat orang yang kurang ajar menabrakku malah menangis.


Menangis bahkan meraung raung memanggil seseorang yang ia sebut sebagai mamake.


Kharrel: "Harusnya yang nangis itu aku, yang ditabrak. Kenapa jadi bocah ini yang menangis?" cerocosku kemudian bangun dari posisi terjatuhku.


Aqsa: "Makanya kamu kalau jalan hati hati, lihat kanan kiri bukan main nyelonong saja" petuahnya again.


Kharrel: "Tengok kanan kiri memangnya mau menyeberang?" sewotku.


Kharrel: "Woi bocah, diam atau om ganteng tembak!" perintahku dengan mempraktikkan gaya orang hendak menembak menggunakan dua isyarat pada jari kedua tangan yang membentuk suatu pistol.


Bukannya diam, itu anak kadal malah semakin mempermalukan mamas ganteng di atas rata rata bahkan di depan mbak Celine calon istri tercinta.


Aqsa: "Bukan begitu caranya bujuk anak kecil Jubaedah" dirinya menyingkirkan tubuhku agar sedikit menyingkir dari hadapan anak kecil yang belum juga berhenti menangis.


Kharrel: "Nama aku El lah om, Kharrel Andez Kumara bukan Jubaedah" ocehku tidak terima.


Ya iya lah tidak terima.


Anak ganteng dengan nama mendukung yang sudah sempurna pari purna masa iya diganti Jubaedah.


Aqsa: "Hei diam atau om tembak pakai ini" dengan gerakan cepat dan sangat tertutup om Aqsa mengeluarkan sebuah pistol dari balik bajunya.


Pistol kesayangan Aqsa Cipta Pradipta buatan Israel yang memiliki pamor mendunia akan tingkat ketangguhan dalam membidik sasaran dan kemampuan mematikannya menjadi salah satu senjata yang tidak pernah lepas jauh dari tubuh om Aqsa bahkan saat tubuh kekar sawo matang itu mandi sekalipun.


Sebuah pistol yang dikenal dengan Desert Eagle tidak hanya memiliki kemampuan menusuk objek sasarannya saja, namun kemampuan pistol ini mampu menusuk lalu meledakan objek hingga hancur berkeping keping hanya dengan menggunakan satu peluru saja.


Bukan hanya Desert Eagle, masih ada beberapa jenis pistol lain yang menjadi senjata andalan om bodyguard tangguhku ini. Bahkan ada beberapa gun pula yang mengisi penuh lemari pakaian om Aqsa yang berada di Jakarta.


Jangan bayangkan om Aqsa membeli itu semua, karna gajinya seumur hidup saja sepertinya tidak akan mampu untuk membeli salah satu dari barisan pistol yang masuk jajaran pistol termahal di dunia.


Semua itu adalah pemberian khusus yang rutin diberikan oleh ayah Ed terutama kakek Hadi disetiap tahun om Aqsa mendapat kemajuan baru dalam tingkat bela dirinya.


Om Aqsa mendapat pelatihan khusus membidik jarak jauh maupun jarak dekat sejak usianya baru dua puluh tahun yang kala itu aku baru berusia dua tahun.


Dirinya mendapat perhatian khusus dari kakek Hadi ku tercinta dan mendapat banyak pelajaran tentang bela diri entah itu tangan kosong maupun berbagai jenis senjata.


Sejauh ini selain pistol dan tangan kosong, om bodyguard juga tangguh dalam seni pedang jarak dekat.


Kharrel: "Itu yang om sebut membujuk anak kecil?" sindirku saat bocah yang sedari tadi merengek semakin mengencangkan suara tangisannya hingga membuat beberapa pasang mata itu semakin melotot ke arah kita berdua.


Kharrel: "Dasar Maemunah!"


Tiba tiba saja seorang ibu ibu yang penampilannya tidak kalah ramai dari ondel ondel datang menghampiri dan memeluk anak laki laki yang cengengnya sudah mengalahkan anak perempuan.


Dan karna kedatangan ibu itu pula, om bodyguard dengan cepat menyimpan kembali pistol kesayangannya di balik kemeja kotaknya.


"Nopo ingkang sampun panjenengan ngersaaken teng larene kulo !" gemlegar sudah suara betina mengepakan sayapnya hendak membidik bujang ting ting dengan bujang buluk yang ada di sebelahku.


Kharrel: "Sanes kulo bu, sanes" bela diriku sendiri seakan tidak mau disalahkan.


Aqsa: "Putrane panjenengan ingakang nakal" tunjuknya pada anak kecil yang memeluk ibunya.


Kharrel: "Eh iya, anak ibu yang nakal"


"Hanya salah paham kok ibu" suara lembut yang ikut turut serta berhasil mengalihkan pandanganku yang kini ingin terus menatapnya.


"Iya kan?" tanyanya pada anak kecil dengan memberikan sebuah ice cream.


Wanita itu tersenyum ramah, bahkan pada seorang anak ingusan yang tidak ia kenal.


Membuat banyak bagian dalam diriku menjadi retak tak bersisa karna cemburu yang tidak mau mereda.


Celine: "Teman saya ingin menegur anak ibu, namun tanpa disangka dia malah menakuti anak ibu hingga ketakutan"


Teman?


Mamas ganteng di atas rata rata dianggap teman oleh mbak titisan bidadari?


Mamas El boleh permisi boker dulu tidak?


Tidak tahan dengan sejuta rasa yang ingin dikeluarkan.


Celine: "Mohon dimaafkan ya bu"


"Kandani kui pacare bener bener yo mbak, ojo kebangetan dadi cah lanang"


Ibu itu pergi membawa anaknya meninggalkan kita bertiga setelah memberi sebuah kalimat yang melambung tinggikan diriku.


Pacar?


Mamas Kharrel pacarnya mbak Celine?


Aminin dulu ah siapa tahu ada malaikat lewat terus diijabah oleh Allah kan enak kalau memang beneran.


Bisa ajib ajib setiap malam kalau memang iya Celine menjadi cemewew mamas El yang gantengnya pari purna tanpa bahan pengawet dan pewarna buatan ini.


Kharrel: "Terima kasih ya" kataku ramah dengan penuh senyum jumawah.


Wanita cantik yang memiliki mata lentik itu hanya tersenyum kecil lalu hendak berlalu begitu saja.


Namun sebelum itu terjadi, diriku dengan sigap menghadang trolinya untuk tidak pergi begitu saja.


Kharrel: "Bagaimana kalau sebagai ucapan terima kasihku, aku memberikan nomor telephoneku?"


Dia membulatkan matanya seraya tidak percaya akan apa yang aku katakan, namun tak urung dirinya memberikan tanggapan pada apa yang aku tawarkan.


Celine: "Tidak, terima kasih" tolaknya.


Kharrel: "Bagaimana kalau belanjaan kamu ini mamas ganteng semua yang bayar?" tawarku lagi dengan masih menghalanginya.


Aqsa: "Eits. Kamu kan tidak bawa dompet El" selanya yang membuat titisan bidadari melihat ke arahnya.


Kharrel: "Pinjam uang om dulu" gumamku yang terarah pada om bodyguard.


Aqsa: "Hidiih"


Celine: "Tidak usah terima kasih" tolaknya lagi dengan masih menunjukan senyumannya.


Kharrel: "Tidak apa apa, tidak apa apa" bujukku masih berusaha.


Celine: "Tidak usah" tolaknya terus.


Kharrel: "Tapi aku tidak biasa berhutang budi pada seseorang"


Aqsa: "Kamu berhutang budi sekuwintal pada om El"


Memang dimana mana orang ketiga itu penghancur segalanya. Seperti saat ini, saat dimana aku tengah berjuang mendapatkan apa yang aku inginkan.


Kharrel: "Anggap saja dia cicak berokok" kataku mengalihkan pandangan Celine yang sesaat melihat ke arah om Aqsa.


Celine tertawa akan ucapanku yang sedikit memang terdengar aneh, dirinya menunjukan tawa kecil malu malu mpus yang membuat aku semakin gemas ingin memperkosanya bukan hanya mencubitnya.


Kharrel: "Bagimana dengan kencan?"


Kharrel: "Atau mungkin kamu ingin aku menjadi kekasihmu, aku dengan terpaksa pasti akan menerimamu sebagai calon ibu dari anak anakku"


Celine: "Aku tidak memilih keduanya" tolaknya lagi lagi dan lagi.


Saat rasa murung menghantam, om Aqsa semakin memperkeruh suasana hati orang ganteng yang memiliki ketetapan hakiki tanpa amnesti.


Aqsa: "Mampos!"


Aqsa: "Glow up dulu makanya mamas ganteng, baru unjuk gusi"



Perasaan mamas ganteng di atas rata rata sudah ganteng maksimal, apa mungkin om bodyguard matanya kena bisul jadi tidak bisa melihat ketampanan yang sudah sangat sempurna tanpa bahan pengawet buatan?