
Setelah dipenuhi banyak drama emak tidak rela ditinggalkan oleh putra yang gantengnya sudah seperti arjuna gagahnya seperti gatot kaca, akhirnya aku pergi meninggalkan rumah tanpa orang tua dalam waktu sementara untuk yang pertama kalinya.
Ya untuk pertama kalinya aku akan jauh dari ayah dan emakku jika memang benar aku akan diterima menjadi salah satu mahasiswa Universitas Gadjah Mada.
Karna sebelumnya aku tidak pernah pergi jauh terlebih dalam jangka waktu yang belum ditentukan akan kapan pulang ke kediaman dimana aku tumbuh dan kembang dari bayi hingga saat ini.
Kharrel: "Om. Sampai disana mampir di warung mbah Silah dulu ya" pintaku yang baru menyalakan mode fly karna sebentar lagi pesawat yang kita naiki akan lepas landas.
Aqsa: "Barang bawaan kita banyak El, ke rumah dulu baru kunjungi tempat lain" tolaknya yang telah memposisikan duduk senyaman mungkin.
Kharrel: "El sudah lapar om"
Aqsa: "Makan saja ini dulu untuk mengganjal perutmu, nanti kalau sudah sampai rumah dan sudah beristirahat baru mau kemana pun om antar" tolaknya lagi dengan memberi sekotak dus kecil yang baru saja diberikan oleh sang pramugari.
Kharrel: "Om. Please ya om"
Aqsa: "Tidak mau" sahutnya cepat bagai kilat.
Aqsa: "Om capek El mengikutimu dengan membawa barang bejibunmu"
Aqsa: "Nanti kalau barang barang sudah di taruh semua di rumah, baru om akan ikuti setiap langkah kamu"
Seorang Kharrel Andez Kumara diatur sama orang lain selain emak Sakhiya Malik Soekatmaja?
Mimpi!
Jangankan om bodyguard seperti om Aqsa yang sudah kenal dekat denganku dari orok, ayah Edwin Keenand Kumara yang paling ku cinta saja tidak bisa mengaturku.
Terlebih lagi dia?
Oh maaf om Aqsa permisi El mau nyanyi.
Sekarang atau lima puluh tahun lagi, kau masih tidak bisa mengaturku.
Hingga semuanya pun berakhir dengan kini aku yang pergi sendiri setelah menipu om bodyguard dan juga supir yang dipekerjakan oleh ayah untuk menjemput kami berdua di bandara.
"Mamam itu istirahat, sudah dibilang lapar ya lapar" ocehku yang kini berjalan sendiri tengah menunggu mamang gojek.
"Suruh menunggu?"
"Sorry abang tidak kenal dengan kata menunggu" ocehku terus hingga mamang gojek pun tiba setelah aku semprot karna terlalu lama datang.
Yogyakarta
Satu provinsi yang selalu gemar aku datangi.
Bila kebanyakan masyarakat Indonesia mengklaim Bali sebagai tujuan utama destinasi wilayah di Indonesia, maka aku menjawab Daerah Istimewa Yogyakarta lah yang wajib dikunjungi.
Selain karna masih kentalnya adat yang dijunjung tinggi, Yogyakarta memiliki banyak peninggalan sejarah dari masa ke masa yang masih terus terjaga.
Namun sebenarnya, bukan sisi adat maupun peninggalan sejarah yang menjadi tujuan utamaku ke provinsi terkecil kedua setelah DKI Jakarta ini.
Melainkan kuliner yang membludak banyaknya dengan harga yang sangat teramat terjangkau.
Terbukti dengan diriku sekarang yang sudah tidak sabar lagi hendak menuju salah satu tempat yang biasa aku, emakku dan ayah Ed ku kunjungi setiap datang ke kota pelajarnya Indonesia ini.
Gudeg.
Makanan yang menjadi khas akan kota Jogja,
terkenal akan rempah dan cita rasa yang nikmat saat disuguhkan bersama dengan sambal goreng krecek.
"Assalmu'alaikum!"
Suara lantang melintangku menyapa seorang penjual perempuan yang sangat aku kenali.
"Wa'alaikumussalam" sahutnya sedikit mengintip siapa gerangan anak kurang ajar yang telah mengejutkannya.
"Masya Allah mas Kharrel!" serunya langsung mengelap kedua tangan menggunakan lap yang tergantung di sebuah dinding.
Wanita berusia lima puluhan itu berjalan tergopoh gopoh mendekati diriku yang masih berdiri pahit di ambang pintu dengan senyum kurang ajar yang berusaha meledek seorang wanita berumur yang sudah tidak memiliki suami itu.
Bu Jinem, seorang wanita yang aku kenal sebagai putri dari pemilik warung gudeg mbah Silah sekaligus sebagai penerus karna semakin menuanya mbah Silah.
Warung yang konon katanya sudah berdiri sejak emak dan ayahku belum lahir itu tidak pernah sepi pelanggan bahkan sampai saat ini.
Banyaknya pembeli yang sedang mengantri bahkan sedang menyantap makanan pun ikut menjadi pemandangan pertama saat aku baru menginjakkan kedua kakiku warung gudeg yang aku tahu karna emak dan ayah yang kerap kesini setiap kali kami liburan ke Jogja.
Terdapat suara bising disana dan disini karna penuhnya pengunjung yang beli.
Terdapat pula sebuah meja yang sejak pertama aku datang mengeluarkan suara tawa dari beberapa orang ibu ibu yang sangat keras bahkan hampir mendominan di dalam ruangan yang tidak terlalu luas.
Jinem: "Datang sendiri?" tanyanya mengalihkan perhatianku dari kaum ibu ibu yang tertawa keras.
Bu Jinem melihat ke arah belakang tubuhku.
Mungkin dia heran, karna tidak seperti biasa aku datang makan ke warung gudegnya tanpa membawa kedua orang tua berbeda jenisku itu.
Karna ayahku manusia, sedangkan emakku setengah manusia. Yang setengahnya lagi aku tidak tahu harus menyebutnya apa, karna mau bagaimana pun seaneh anehnya my emak dia tetap adalah emakku.
Jinem: "Tidak dengan emakmu itu?"
Kharrel: "Tidak bu. El datang sendiri" sahutku mulai masuk ke dalam dan memilih tempat duduk yang tidak jauh dari jendela yang menembus ke arah jalanan kota.
Jinem: "Oooh. Mau makan?"
Kharrel: "Tidak bu. El mau berenang" jawabku dengan mempraktikan kedua tanganku renang gaya bebas.
Jinem: "Kamu ini!"
Pukulan keras mendarat di bahu kananku atas aksiku tadi yang menjawabnya asal.
Jinem: "Pesan apa?"
Kharrel: "Seperti biasa" sahutku santai kali ini meski rasa sakit masih setia berada di bahu kananku.
Jinem: "Yakin kamu?!"
Kharrel: "Yakin sekali ibu Jinem"
Meski bu Jinem memperlihatkan raut wajah terkejutnya, namun beliau tetap berlalu dan kali ini datang dengan membawa pesanan yang aku inginkan.
Jinem: "Gudeg sambel goreng krecek satu porsi, sate klatak satu dan oseng oseng mercon satu" ucapnya bersamaan dengan dirinya yang meletakan tiga jenis makanan yang paling aku gemari.
Kharrel: "Matur suwun" ucapku tersenyum ramah.
Jinem: "Ampun lali bismillah mas Kharrel" katanya mengingatkan saat diriku hendak memasukan sesuap nasi ke dalam mulut.
Aku yang merasa malu hanya cengar cengir senyum kuda lumping pada bu Jinem yang hanya tersenyum melihat tingkah laku ku.
Kepergian bu Jinem yang mempersilahkan pangeran Kharrel yaitu anak lanangnya emak Khiya sing paling ganteng dewek untuk makan berakhir tragis untuk para piring yang tadinya tertata rapih di atas meja makan.
Rasa lapar yang didepak tergantikan dengan rasa kenyang yang teramat.
Perutku membuncit seketika karna makanan sedap yang kaya akan bumbu bumbu dan menggugah selera.
Namun saat diriku sedang berleha leha merasakan sakitnya perut karna terlalu rakus dan kekenyangan, tarikan keras pada telinga kananku membuat diriku mengaduh kesakitan.
"Bagus ya main kabur kaburan" kalimatnya terlontar saat aku baru saja hendak menengok siapa gerangan yang berani menarik telinga anak ganteng sejagad raya yang kekayaannya tidak akan habis hingga beristri lima.
Kharrel: "Eh. Om Aqsa, makan om" ucapku terkesiap.
Aqsa: "Makan, makan"
Aqsa: "Om kan sudah bilang, pulang ke rumah dulu baru mencari makan. Ini kenapa pergi sendiri?"
Kharrel: "El lapar om" sahutku takut takut tapi sebenarnya tidak takut.
Aqsa: "Kamu tahu tidak...
Kharrel: "Tidak om" selaku saat dirinya terus saja mengomel.
Aqsa: "Dengar dulu!" serunya memarahiku seperti memarahi anak kecil.
Kharrel: "Iya om" sahutku lagi dengan meminum es teh manis melalui pipet.
Aqsa: "Tuan Ed marah marah terlebih lagi emakmu. Hampir saja om disuruh pulang dan akan dikurung oleh emakmu bila om tidak menemukanmu disi...
Kharrel: "Masya Allah!" seruku menarik nafas dalam dalam dengan memegangi dadaku sendiri karna terkejut.
Aqsa: "Kenapa?"
Kharrel: "Lihat ke atas om" pintaku dengan mata masih tidak berkedip sama sekali.
Om Aqsa dengan polosnya melihat ke atas sesuai dengan arahanku.
Aqsa: "Ada apa di atas?" tanyanya yang masih melihat terus ke atas atap langit bangunan bu Jinem.
Aqsa: "Tidak ada apa apa juga" lanjutnya.
Kharrel: "Om?" panggilku lirih dengan mata yang masih belum berkedip dan tangan kanan yang masih memegangi dada.
Aqsa: "Apa?!"
Kharrel: "Syurga bocor ya om?"
Aqsa: "Hah?!"
Aqsa: "Jangan ngadi ngadi deh El. Om tidak suka"
Kharrel: "Itu om, ada bidadari cantik banget" tunjuknya menggunakan mulut.
Kharrel: "Sewakan kamar om, siapa tahu dia mau diperkosa sama El"