ONE DAY

ONE DAY
ONE DAY Episode 35



" AKU minta maaf atas sikapku tadi." Setelah lama terdiam akhirnya aku memulai pembicaraan,makan siang yang tak pernah terencana,kìni aku tengah makan siang bersama Annisa.


Sejak awal dia menolak untuk makan siang bersama ku,namun kedatangan Jerica membawa keberkahan tersindiri hingga Annisa bersedia makan siang bersamaku dengan alasan butuh penjelasan.


Ekspresi wajahnya terlihat begitu datar dengan sorot matanya yang terlihat tak suka menatapku,rasa kesal serta marah bercampur aduk di benaknya,sekilas pandangan Annisa kembali terarah ke makanan yang ada di hadapannya.


" Aku terpaksa melakukan ini agar perempuan itu berhenti mengganggu ku." ujarku kembali,berharap Annisa percaya dengan ucapanku.


Annisa mengangkat wajahnya lalu ia menatapku dingin,namun ia pun kembali mengaduk makannya dengan tak berselera.


" Anda harus menjelaskan semua ini,kurasa ketika anda mengakui saya adalah istri anda hal itu cukup membuat saya merasa keberatan." ucap Annisa menatapku kembali dengan sorot mata yang penuh berbagai tuntutan.


" Ok !! Aku akan menjelaskan semuanya agar kamu tidak salah paham dengan atas apa yang aku lakukan tadi." ucapku tandas.


" Tapi sebelumnya aku mintaa maaf karena sudah melibatkan kamu dalam permasalahanku ini." balasku mengiba.


Aku menunggu reaksi perempuan cantik tersebut.Namun


Annisa hanya mengangguk dengan enggan tersenyum,


" Ok !" balasnya singkat.


Akhirnya Annisa bersedia untuk mendengar semua penjelasanku dengan berbagai pertimbangannya.


Aku mendehem untuk memulai cerita.


" Jerica adalah mantan kekasihku,tapi itu sudah lama berlalu yaa sekitar lima tahun yang lalu,dan Jerica lah yang memutuskan hubungan ini hingga ia meninggalkan aku dengan begitu saja." jelasku dengan sesekali menjeda kegiayatan makanku.


Air wajah Annisa terlihat biasa saja,namun ia terlihat mendengarkan ceritaku dengan seksama.


" Kenapa dia meninggalkan anda ?,bukankah anda tidak terlalu buruk dimata para perempuan cantik seperti Jerica?" tanya Annisa pelan,namun arti dari perkataannya seakan-akan sedang menggodaku.


Aku tersenyum hampa seraya menggeleng lucu,bagiku pernyataan perempuan ini terlalu menyepelekan ke adaanku.


Aku menghentikan aksi makanku lalu menatap Annisa begitu dalam.


" Aku yakin,tanpa aku menjelaskan seperti apa sosok Jerica,kamu pasti mampu menilainya." ujarku seraya mengajaknya tersenyum.


Namun Annisa masih enggan membalas senyumanku,justru ia semakin menatapku datar dengan enggan membalas senyumanku.


" Sedikit Arogan !!. " jawabnya singkat.


Aku menggeleng dengan tersenyum hampa.


Setidaknya Annisa mampu membaca sedikit sikapnya Jerica.


" Lebih dari Arogan,bahkan lebih buruknya ia selalu menilai akan kehidupan ini dengan sebuah materi,sehingga jika menurutnya berkilau dia akan mendekat,tapi sebaliknya,dia akan pergi meninggalkannya dengan sesuka hatinya,yah seperti itulah seorang perempuan." balasku enteng.


Annisa memperlambat kunyaahannya seraya mencoba mencerna semua perkataanku.


Annisa mendesah lalu menegakan tubuhnya dan menatapku lurus.


" Jika tolak ukur dia hanya sebuah materi,kurasa dia cukup realistis,yaa secara kehidupan tak mudah di jalani hanya dengan kata cinta saja bukan ?" seloroh Annisa dengan nada acuh.


Sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan yang mampu membuatku terpana.


Jawabanya yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya jika Annisa akan membela Jerica.


" Tapi tidak semua materi bisa mengukur sebuah kebahagiaan." balasku menyanggah opsi perempuan tersebut.


Annisa mendecih dan tersenyum angkuh.


" Kebahagian seseorang itu tidak akan bisa kita tentukan dengan pendapat kita sendiri,jadi jika sebuah materi mampu menghadirkan kebahagian untuk seseorang maka itulah kebahagian bagi seseorang tersebut,lalu jika seseorang itu meninggalkan kita hanya karena sebuah materi,so kita ini bukanlah levelnya." jelas Annisa berkata dengan tanpa beban.


Aku tercenung,sesimple itukah ia menanggapi persoalan yang pernah membuat ku terjatuh hingga down.


Aku menatapi wajah perempuan yang memiliki kemiripan seratus persen dengan Annisaku dengan begitu dalam.


Aku menilik perempuan ini dengan seksama dan pikirankupun mulai di rongrong berbagai hasutan.


Berbagai pertanyaan timbul di otakku.


Apakah perempuan ini pernah jatuh cinta setolol yang aku rasakan,hingga aku merasa hancur ketika Jerica meninggalkanku.


Atau setidaknya ia pernah merasakan patah hati karena di tinggal pergi sang kekasih di saat kita tengah sayang-sayangnya.


Apakah dia pernah merasakan hal itu ???


Sehingga ia menganggap enteng semua permasalahanku.


Batinku kian penuh di liputi berbagai pertanyaan.


" Kurasa Jerica tak salah,hanya saja mungkin pada saat itu anda belum mapan saja." ucap kembali Annisa dengan enteng.


Aku menarik napas panjang,sejenak aku mencoba mengartikan semua makna dari ucapannya Annisa yang terdengar begitu simple.


Apa mungkin perempuan ini satu frekuensi dengan Jerica ?? Aku menatapnya kian dalam.


" Kamu membela perempuan itu ?" tanyaku bernada sindiran.


" Tidak juga,aku hanya sedikit memberi mu penekanan saja,ketika anda merasa mapan bahkan lebih dari itu maka anda akan mudah mendapatkan berbagai macam perempuan di luaran sana,sesungguhnya materi itu justru lebih dekat dengan para pria pria,dan sebaliknya jika perempuan memiliki banyak materi maka mereka terkadang tidak akan membutuhkan lagi para pria tersebut." jelas Annisa begitu santai dan tenang.


Aku semakin terpana mendengar pernyataan yang di ucapkan Annisa,kenapa dia memiliki pemikiran sedemikian rupa ? Apakah sesuatu buruk telah menimpa di hatinya.


" Apa yang membuat kamu merasa tertekan setelah di tinggal pergi oleh seorang perempuan ?" tanya kembali Annisa membuatku sejenak bungkam.


Kenapa ia begitu menghakimiku ??


aku membatin dengan menatapnya panjang.


" Apa anda terlalu mencintainya ?" tanya kembali,ia terus menerus menghujani aku dengan berbagai pertanyaan yang membuatku tak bisa menjawabnya.


" Kurasa wajar jika aku mencintai seseorang dengan segenap hatiku,hingga aku hancur ketika aku di tinggalkannya.


" Apa yang anda gengam selama ini hanyalah sebuah titipan yang sewaktu-waktu akan hilang atau pergi." ujar Annisa begitu lugas.


Aku terhenyak ketika perempuan itu mengatakan apa yang pernah Annisa katakan kepadaku,aku terkesiap menatapnya tak berkedip,seperti dejavu,dimana aku mengalami kondisi yang sama ketika aku berbicara dengan Almarhumah Annisa istriku.


Aku menggigit bibir bawahku,mencoba menyadarkan bawah alam sadarku,kurasa ini bukanlah sebuah mimpi yang sama aku alami dalam kenyataan hidupku.


" Tapi...," ucapku menggantung.


" Rasa sakit dan kecewa itu akan timbul dari dalam perasaan yang berlehihan,cos segala sesuatu yang berlebihan tidak akan baik." ujar Annisa mengulas senyuman.


Dek....


Senyuman itu mampu menghidupkan perasaaku kembali,perasaan yang selama ini aku simpan hanya untuk Annisa seorang.Namun kini perempuan itu meremukan kembali pertahanan perasaanku.


" Tidak seperti itu." balasku menatap ragu.


" Apakah anda menyesal telah di tinggal pedgi oleh perempuan itu ?"


" Kurasa dulu iya,tapi seiring waktu yang berjalan justru aku bersyukur jika aku di tinggal pergi olehnya." jawabku pelan.


" Why ,,?? " tanya Annisa memicingkan kedua matanya.


" Pegannti ??? " Annisa menatapku tak berkilah.


" Ya,Tuhan telah hadirkan seseorang dalam kehidupanku, dan seseorang itu mampu merubah segala sudut pandang dalam kehidupannku sehingga ia mampu merubah keyakinanku." balasku tersenyum.


Annisa terlihat berpikir ia mencoba menerka siapa seseorang yang aku maksudkan.


" Keyakinan ?" tanya Annisa terlihat sedikit heran.


" Ya,aku seorang mualaf dan seseorang itu telah membuat aku bersyahadat dan meyakini jika Allah itu adalah Tuhan semesta alam." jawabku mantap.


Annisa mengulas senyuman,tanpa aku sadari ia tersenyum begitu tulus ia kagum atas seseorang yang sedang aku ceritakan.


" Luar biasa seseorang itu mampu merubah ke yakinan anda menjadi lebih baik." balasnya tersenyum syahdu.


" Seseorang itu hanya pelantara,sesungguhnya semua ini berkat kasih sayangNYA yang menggerakan hatiku melalui seseoarng tersebut." balasku kembali.


Lagi-lagi Annisa tersenyum kembali tanpa ia sadari,ia tersenyum dengan begitu tulus.


Aku terenyuh ketika perempuan yang memiliki kemiripan dengan mendiang istriku tersenyum dan fix senyumannya benar-benar mirip dengan Annisa istriku.


Hatiku bergetar menahan perasaan yang tak biasa.


Dengan cepat aku segera menepis semua perasaan tersebut,aku tak ingin rindu,tak ingin rasanya aku merasakan perasaan yang mampu menyiksa hatiku,karena aku tau rindu ini takan terobati begitu saja,hanya dengan memandang wajah perempuan ini,tak cukup bagiku.


Aku terdiam menatap semua makanan yang ada di piring dengan perasaan yang berubah tak berselera,tiba-tiba saja seleraku terasa hampa jika aku harus mengingat kembali sosok mendiang istriku,Annisa.


" Apakah seseorang itu kini sudah menjadi kekasih anda ?" tanya Annisa pelan.


Aku terdiam,ada perasaan yang kian menghadangku hingga tak beraturan.


Harus apa yang aku jelaskan ketika Annisa mempertanyakan seseorang tersebut,seseorang yang telah tiada,seseorang yang telah pergi untuk selama-lamanya dari kehidupannku, yang telah pergi meninggalkan jejak yang begitu dalam di hatiku.


Ahh rasanya aku ingin menangis di hapadapan perempuan cantik ini,namun aku masih bisa menahannya.


Aku masih terdiam dengan perasaan yang begitu hebatnya,rasanya aku tak mampu jika harus mengungkit kembali bagaimana istimewanya sosok Annisa di mataku,ia mampu mencintaiku dalam diamnya,betapa besarnya perasaanya terhadapku hingga ia mampu menjaganya sampai aku datang untuk melantunkan sebuah ijab.


Aku mendesah merasakan perasaan sedih mulai berkumpul memenuhi ruangan dadaku.


Annisa menatapku dengan berbagai perasaanya,sepertinya ia memahami situasi hatiku saat ini.


" Sorry !! Sepertinya aku salah bertanya." ucap Annisa meminta maaf.


Aku tersenyum hampa dan berusaha bersikap tegar mesku sebenarnya aku rapuh.


" Tidak,tidak ada yang salah dalam pertanyaanmu,hanya saja aku tak kuasa menjawab pertanyaanmu itu,karena...." aku menjeda ucapanku,entah kenapa aku merasa jika tenggorokan ku ini terasa mengering.


Dengan cekat Annisa menggambilalkan segelas air putih lalu menyodorkannya kehadapaku,ia tersenyum penuh isyarat kepadaku.


Aku menatapnya dengan terpana.


Sikap perempuan itu tidak seburuk yang aku duga.Perlahan aku mengambil segelas air putih tersebut lalu meminumnya dengan tenang.


Annisa melanjutkan kembali makannya dengan sangat hati-hati.


" Aku tau,mungkin pertanyaanku ini mampu mengungkit kembali perasaan kecewa anda,aku tidak tau apa yang terjadi kepada seseorang itu,dan mungkin saja seseorang itu pergi meninggalkan anda kembali seperti halnya mantan kekasih anda." ujar Annisa dengan tersenyum kecil.


Sepertinya ia berusaha untuk menghiburku,namun sepertinya aku tidak tertarik atas hiburannya tersebut,ia mengira jika aku di tinggal pergi kembali.


" Yaa kamu benar,aku di tinggal pergi kembali." balasku pelan.


Kedua alis perempuan cantik itu berkerut,hingga kedua ujungnya saling bertautan satu sama lain.


" Sudah ku duga." jawabnya pelan,lalu ia pun kembali menyuapkan sepotong daging ke mulutnya.


" Tapi dia pergi meninggalkanku untuk selamanya,dan tak akan kembali lagi." ucapku pelan dengan nada suara nyaris tak sampai.


Annisa tercenung,perlahan ia menghentikan kegiatan mengunyahnya dengan ekspresi shok.Lalu ia memindahkan tatapannya ke wajahku,ia menatapku begitu dalam.


" Maksud anda ?" tanya Annisa menelan kuat makanananya.


" Dia sudah meninggal." jawabku bergetar.


" Yaa Tuhann !!" pekik Annisa shok berat.


Aku tersenyum pahit,mencoba menahan perasaan sakitku.


" Aku minta maaf atas tuduhan buruk ku." ujar Annisa meminta maaf.


" Tidak apa-apa,aku tau kau hanya bercanda." balasku tersenyum hampa.


" Aku turut berduka cita." ucap Annisa menatap penuh sesal.Ia sepertinya merasa tidak enak hati atas guroannya kepadaku.


" she is my wife " ucapku dengan hati yang bergemuruh.


Betapa tidak perasaanku harus di ingatkan kembali dengan rasa cinta yang baru saja pergi dari kehidupanku.Perasaan yang sulit aku hilangkan begitu saja.


Annisa terkesiap menatapku dengan berbagai perasaan.


" Dia sudah menjadi istri anda ?? " tanyanya setengah memekik.


" Yaa,dia sudah menjadi istriku di waktu yang begitu cepat,dan pernikahan yang begitu singkat antara aku dan dia,lalu pernikahan kami pun hanya mampu bertahan dua jam saja,setelah itu dia pergi meninggalkan aku untuk selamanya, meninggalkan seluruh perasaan cinta yang begitu dalam." ujarku seraya menerawang jauh hingga pikirannku pun kembali lagi kemasa itu,dimana kala itu aku menikahi seorang perempuan yang begitu sangat istimewa,dan kami hanya di beri waktu dua jam saja menjadi pasangan suami istri.


Dengan hati yang hancur aku kembali menceritakan semua kisahku bersama Annisa,ia lah perempuan teristimewaku yang pernah ada di sepanjang hidupku.


Namun entah kenapa aku belum mampu mengatakan jika Annisa memiliki wajah serta nama yang sama dengan perempuan yang kini tengah berada di hadapanku.


Ada keraguan yang tak biasa yang aku rasakan jika aku harus mengatakan tentang hal kemiripan tersebut.


Annisa mendengarkan seluruh ceritaku dengan penuh ketertarikan.


Ada perasaan haru yang terlahir dari sorot matanya,bahkan rasa penuh kagum terhadap sosok yang aku ceritakan.


" Luar biasa." desahnya dengan penuh sanjungan.


Aku tersenyum hampa.


" Aku yakin,istri anda bukan lah perempuan biasa," puji kembali Annisa dengan di sertai senyuman tulus.


Lagi-lagi aku melihat kembali senyuman itu,senyuman yang akan terus mengingatkan aku terhadap sosok mendiang Annisa.


Bak berada di gurun pasir yang gersang melihatnya tersenyum membuatku terasa candu,candu yang tak pernah terobati untuk sekian lamanya.


Perlahan aku menghapus sudut mataku yang terasa basah.


Dengan sisa keberaniaku aku mengatakan jika aku hanya mampu mencintai satu perempuan dan itu hanyalah Annisa.


Perempuan yang wajahnya mirip dengan mendiang istriku itu mengangguk pelan,sepertinya ia paham dengan apa yang aku rasakan saat ini.


Runtuh sudah raut wajah angkuh dari sosok Annisa yang kukenal tak lama ini.


Ia menatapku dengan penuh sesal.