ONE DAY

ONE DAY
ONE DAY Episode 26



SIANG telah berganti sore,meninggalkan sepenggal kenangan aktivitas di hari ini,ada kelelahan yang begitu melekat di raut wajah gadis berkerudung panjang yang sedang berjalan gontai menikmati hiruk pikuknya suasana sore di kota metropolitan.


Annisa berjalan melewati sebuah kedai kopi tempat orang melepas penat serta rasa lelah setelah seharian berkutat dengan berbagai pekerjaan.


Annisa memperlambat langkahnya setelah netranya melihat seseorang tengah duduk dengan raut wajah yang begitu muram.


Wajah yang seperti biasa ia lihat penuh dengan pesona serta kekaguman,kini raut wajah itu terlihat berat untuk menggerakan sebuah senyuman khasnya.


Annisa semakin memperlambat langkahnya dan ia pun berdiri tepat di sebrang seseorang tersebut.


Seseorang dengan penampilan yang begitu sangat menghawatirkan,dengan raut wajah yang begitu berat memendam sebuah perasaan yang begitu pelik.


Annisa merasa gamang menatap seseorang itu dengan berbagai perasaan.


Ini adalah kesempatan baik dia untuk menyampaikan sesuatu hal yang di amanahkan oleh adiknya.


Annisa menarik napas panjang,ia mengambil ancang-ancang untuk memberanikan diri berbicara dengan pria asing tersebut,dan ia pun sekiranya berusaha mengusir perasaan ragunya.


" Bismillah !" gumannya pelan seraya perlahan mendekat ke arah pria tersebut yang sedang larut dalam sebuah lamunan panjang.


Perlahan Annisa mendekati seseorang itu lalu berdiri tepat di belakangnya,pria tersebut tidak menyadari jika Annisa telah memperhatikannya sedari tadi.


" Tidak ada manusia yang di uji oleh TUHAN melebihi batas kemampuan hambanya." terdengar suara lembut Annisa berbicara di belakang pria tersebut.


Pria asing itu tersentak dari lamunannya dan mencoba mengenali suara yang telah berhasil membuyarkan lamunannya,dengan cepat ia pun segera menoleh ke arah suara yang tak begitu asing di telinganya.


Annisa menatapnya dengan lembut,dan sontak pria asing itu terpana akan kehadiran Annisa di dekatnya.


" Annisa." desisnya nyaris tertahan.


Annisa menatap lembut seraya melempar sebuah senyuman.


" Perjalanan hidup anda masih panjang,jadi bersedihlah secukupnya,sebab One day Tuhan akan mengubah kesedihan anda menjadi sebuah kebahagian." ujar Annisa dengan penuh kelembutan yang begitu haqiki.


Pria asing yang tiada lain Joan itu terdiam lalu terbuai dalam buayan nada suara yang teramat lembut hingga mampu menyelinap halus kedalam pendengarannya.


Akan tetapi Joan mencoba untuk tidak terlalu memperdulikan kehadiran Annisa, karena bagi dirinya itu hanya akan menambah beban persoalan nya.


Joan hanya tersenyum hampa,tanpa bereaksi apapun.


" Tak ada satu pun manusia yang luput dari pandangaNYA, semua sudah ada garis kehidupannya,jadi semua kejadian yang terjadi di atas muka bumi ini melainkan sudah menjadi kehendaknya dan itu tertulis di setiap takdir seseorang." Jelas Annisa seraya menyunggingkan senyuman manisnya.


Joan hanya mersepon dengan tersenyum getir menatap perempuan itu dengan tatapan ironis.


" Tuhan tidak akan pernah menjauh dari umat yang sedang membutukanNYA, selama kita dekat denganNYA,maka DIA pun akan lebih dekat dengan kita ,dan meski kita menjauh dengan NYA,akan tetapi DIA tetap selalu dekat dengan kita, tanpa kita sadari pertolonganNYA tidak pernah memandang diri kita siapa." imbuh kembali Annisa dengan begitu tenang,tatapannya menerawang jauh ke arah orang-orang yang berlalu lalang di depannya.


Joan mendecih seraya tersenyum sinis ke arah Annisa.


" Tapi kini Tuhan telah membuat takdirku menjadi berantakan.Dia telah membunuh semua harapan hidupku yang selama ini aku agungkan." balas pria asing itu dengan datar,nada suaranya terdengar penuh penekanan di setiap kalimatnya,sepertinya dia sedang mencoba meluapkan kekesalahannya atas takdirnya.


Annisa tersenyum,ia paham jika apa yang di ucapkan Joan semata-mata hanyalah amarah yang tertahan.


" Tuhan tiada menguji kesabaran seseorang hambanya melainkan Dia akan mengangkat Tinggi derajat hambanya kelak." sela Annisa dengan lembut,dia berbicara kepada Joan seolah-olah ia sedang berusaha menguatkannya.


Mengubah prasangka buruk pria asing tersebut menjadi lebih baik.


sejenak Joan terdiam dan mencoba mencerna dengan apa yang di ucapkan Annisa,tak lama Joan menggeleng,dan menatap Annisa dengan sedikit berbeda.


Tentu saja pandangan hidup mereka berbeda atas persoalan yang tengah menimpanya saat ini,banyak teman yang menemaninya,namun sedikit yang memahaminya.


Annisa tidak akan merasakan apa yang tengah ia rasakan saat ini,pikir Joan menatap remeh ke arah perempuan berkerdung panjang tersebut.


" Apa peduli kamu akan kehidupanku ?untuk apa kamu cape-cape mengingatkan aku,sedangkan kamu sendiri tidak mengenaliku sama sekali?" tanya Joan menatap tajam ke arah Annisa,sorot matanya terlihat penuh kerapuhan.


Pertanyaan yang tak di harapkan itu terlontar dari mulutnya,Annisa berharap pertanyaan itu tak hadir dalam percakapannya saat ini,namun bukanlah Annisa jika dia harus berkecil hati hanya dengan pertanyaan remeh seperti itu.


Annisa tersenyum,ia berusaha mengubah suasana tegang ini menjadi suasana yang begitu rileks dan nyaman.


Sejujurnya pertanyaan pria asing itu cukup menohok di hatinya,jujur saja tak ada kuasa dirinya untuk menguatkan hati pria asing tersebut,namun entah kenapa ia merasa peduli akan keadaan pria asing tersebut.


" Secara kenyataan ya, memang kita tidak saling mengenal,bahkan peduli apa saya terhadap kehidupan anda,tapi secara kemanusiaan bukan kah kita harus saling mengingatkan serta saling menguatkan ?" ujar Annisa pelan namun begitu dalam maknanya.


Joan terpana mendengar jawaban yang di lontarkan Annisa kepadanya,sebuah jawaban di luar dugaanya.Seketika pria asing itu terlihat terenyuh mendengar kata-kata bijak dari mulut seorang Annisa si wanita muslimah yang berpenampilan amat sederhana tersebut.


" Sebelumnya saya minta maaf,karena saya sudah lancang ikut campur dalam permasalahan kehidupan anda,tapi percayalah sedikitpun saya tidak ada niat buruk terhadap kehidupan nya anda." Ucap annisa seraya tertunduk.


Mendengar ucapan Annisa Joan tiba-tiba merasa bersalah atas pertanyaan yang dia lontarkan terhadap perempuan tersebut.


" Tidak apa-apa,aku minta maaf atas ucapanku." Jawab Joan dengan penuh sesal.


" Adam sudah bercerita banyak tentang masalah yang kini tengah di hadapi anda." ucap Annisa seraya mengubah posisinya dengan mengambil duduk tepat di sebrang pria asing tersebut,dia terlihat duduk agak lebih menjauh dari tempat duduknya Joan.


Annisa selalu menjaga jarak di setiap pertemuannya dengan pria tersebut.


Joan hanya terdiam menatapi wajah cantiknya Annisa yang tak terasa kian membuatnya sedikit merasa semakin nyaman atas kehadiran perempuan tersebut di dekatnya.


" Jika anda memiliki sebuah keyakinan,saya yakin anda akan lebih merasa kuat dari apapun,Tuhan akan selalu ada bersama anda, karna anda meyakinin-NYA." Jelas Annisa dengan penuh makna.


Joan kian tercenung dengan pernyataan perempuan tersebut.


" Makasih banyak,kamu sudah mengingatkanku." balas Joan terbata.


Annisa mengangguk dengan tersenyum tipis.


" Tak hanya anda saja yang di uji dalam kehidupan ini,ketika saya sedang di uji oleh Tuhan,maka saya selalu berprasangka baik terhadapNYA,bahwasaanya Allah sedang menaikan level keimanan saya,dan saya akan berusaha untuk berpikir lebih fositif,bahwa Allah jauh lebih sayang kepada saya,sehingga Allah memberi ujian,agar saya menjadi manusia yang lebih berkwalitas hingga saya benar-benar lebih Takwa kepadaNYA." tutur kembali Annisa menatap pria asing tersebut dengan begitu dalam,sorot matanya terlihat berusaha menguatkan.


Sejurus kemudian Annisa pun memberi sebuah gambaran tentang sebuah pelajaran kehidupan, sebuah sikap yang begitu bijak untuk menyikapi sebuah proses dalam kehidupann,dan setidaknya sikap itu sedikitnya mampu mengurangi rasa beban yang di rasakan oleh Joan saat ini, Annisa menguatkannya secara tidak langsung.


" Maaf,saya tidak bermaksud untuk menggurui anda bahkan memberi anda nasehat,saya yakin jika anda jauh lebih berpengalaman dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan,saya hanya sekedar memberi suport,supaya anda bisa lebih kuat dalam menghadapi kenyataan hidup yang selalu jauh dari apa yang kita rencanakan,dan anda harus bisa bangkit sesegera mungkin dari ketepurukan ini." ucap Annisa dengan di iringi senyuman manisnya yang diam-diam telah menggentarkan kembali perasaan pria asing tersebut.


Pria asing tersebut terlihat menepekuri setiap perkataan yang di ucapkan Annisa yang di tujukan kepada dirinya.


" Dan perlu anda ketahui!! Ketika Tuhan menghentikan kesuksesan anda dengan sebuah kegagalan, maka ketahuilah Tuhan itu sedang menyiapkan peggantinya yang lebih istimewa dari ini untuk diri anda,dan bisa jadi itu sebuah kesuksesan yang paling besar yang belum pernah anda raih sebelumnya,saya yakin kesuksesan itu sedang menunggu anda kelak di masa yang akan datang." tutur Annisa kembali dengan lugas.


Joan kian terpana.Rasanya ia tak mampu berkata-kata untuk menimpali perkataan perempuan tersebut,ia merasa begitu speechless.


Annisa menoleh pria itu dengan penuh energi.


" Yakinlah Tuhan akan menggantinya lebih dari ini." kembali perkataan Annisa menenangkan nya.


Joan kembali mengangkat kepalanya dan menatap perempuan itu dengan seksama.


" Kenapa kamu peduli kepadaku sementara tunanganku saja pergi meninggalkanku." tanya Joan seraya menatap dengan berbagai perasaan ke arah Annisa.


Annisa tersenyum,mengulas sebuah ke luasan hati untuk iklas menghadapi berbagai cobaan hidup.


" Jika ISLAM mengajarkan tentang rasa peduli terhadap sesama manusia,maka di muka bumi ini tidak ada orang yang merasa kesusahan atau merasa putus asa dalam menghadapi kerasnya kehidupan yang kadang kala sering mencandai kita lebih dari itu,maka kita pun di anjurkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan karena sesungguhnya ISLAM itu agama yang damai dan rahmatan lilalamiin,Karena ISLAM itu sesama muslim adalah sodara seiman yang mampu saling menguatkan,saling mengingatkan,serta saling peduli,dan kalau pun kita berbeda keyakinan,maka kita adalah sodara setanah air,bukan kan seperti itu?" tanya Annisa dalam penjelasannya yang di akhiri dengan tertawa kecil.


Sungguh perkataan Annisa mampu berkesan didalam hati pria asing tersebut,luar biasa ungkapan perempuan ini mampu membuat pria asing itu tercengang cengang.


Akhirnya Joan ikut tersenyum enteng ketika mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Annisa.


" Dan kita pun berbeda keyakinan Annisa." sela Joan menatap dalam Annisa.


Sebelum menjawab Annisa mengulas senyuman yang cukup berkesan di hati pria asing tersebut.


" Berbeda atau tidaknya kita,kita dihadapan Allah sama semua,kita semua ini adalah ciptaanNYA.yang membedakan itu hanya ketakwaanya dan cara meyakininya saja." Jelas Annisa dengan tersenyum tulus.


Perkataan Annisa mampu menghipnotis kegelisahannya menjadi sebuah harapan,Annisa mampu merubah segala sudut pandangannya dalam menyikapi sebuah kegagalan dalam hidupnya.


Joan menatap sembilu,ada banyak pikiran yang tengah merorong kepalanya,perasaan gelisah bercampur aduk di benaknya.


" Annisa. Semua telah pergi dari hidupku, Jabatan, Karir,bahkan seseorang yang mencintaiku pun pergi meninggalkanku,mereka perlahan menjauh dariku ketika aku sudah tidak memiliki apa-apa." Ucap Joan tertunduk.


Merasakan dirinya semakin rendah.


" Semua yang kita miliki adalah titipan " sela Annisa tersenyum lembut.


" Titipan ?" Tanya Joan dengan mengeryitkan kedua alisnya,lalu sejurus kemudian pria asing itu menatap penuh tanya ke arah Anisa yang masih terlihat tenang menatapnya.


" Logikanya begini,jika anda di titipkan sebuah benda bagus oleh seseorang dan anda di perbolehkan untuk mempergunakannya sesuai dengan kebutuhan anda,dan pastinya anda akan mempergunakanya dengan suka hati,tapi ingat barang yang dititipkan ONE DAY seseorang yang menitipkan barangnya akan mengambil kembali barang titipannya tersebut,lalu apa yang akan anda lakukan terhadap benda titipan tersebut ?" Tanya Anisa menatap kian tajam ke pria asing tersebut,dan dia memberikan sebuah pertanyaan yang sekilas begitu sangat mudah untuk sekedar di jawab.


Sebuah pertanyaan yang masuk di logika.


" Tentu saja aku akan mengembalikannya." Jawab Joan singkat.


" Walaupun anda sangat menyukai benda tersebut ?" tanya nya kembali dengan raut wajah serius.


" Tentu saja,karena benda itu hanya titipan." balas Joan kembali.


" Lalu anda akan sedih ketika anda harus mengembalikan barang orang tersebut.?" Tanya Annisa kian menatap Joan semakin dalam seakan-akan pandangannya menelanjangi kepintaran nya yang mulai terasa kerdil di hadapannya.


" Yaa...,Tentu saja tidak.Karena barang itu adalah titipan orang lain, dan itu bukan miliku sepenuhnya,bodoh saja jika aku marah." Jawab Joan dengan pasti.


Annisa mengulas senyuman.


..." Nahh begitupun dengan kehidupan ini,kita tidak bisa memiliki apa yang kita punya selama ini,karena apa yang selama ini kita miliki hanya bersipat titipan,titipan dari TUHAN,agar kita bisa menjaganya,Merawatnya bahkan mempergunakannya sebaik mungkin,tanpa harus ada kesombongan sedikitpun atas apa yang kita miliki sekarang ini.Harta,tahta,bahkan wanita yang anda sayangi pun itu semua hanya titipan,Tuhan akan mengambil sewaktu-waktu atas apa yang di titipkanNYA kepada kita." Jelas Annisa kian memberikan sebuah arti yang sesungguhnya, arti sebuah ketulusan yang mampu di cerna secara logika.Dan itu semua di luar dugaan sang pria asing.Sebuah pemahaman yang begitu luar biasa dan ini adalah sebuah keyakinan yang begitu sangat nyata....


...Joan tercenung ,ini adalah sesuatu hal yang sangat menakjubkan bagi dirinya,ia dapat bertukar pikiran dengan seorang perempuan muslim yang begitu cerdas serta humble, dan tentunya ini bukan hanya sekedar obrolan biasa saja, ini adalah obrolan yang memiliki makna spirit yang begitu istimewa hingga memberikan sebuah energi fositif untuk bisa bangkit dari keterpurukan ini....


... " Akan ada banyak hikmah di balik peristiwa yang telah terjadi dalam kehidupan kita.Dan kita harus bisa menyikapi setiap permasalah ini dengan penuh kesabaran." ujar Annisa tersenyum kembali....


..." Gimana caranya agar aku bisa mengetahui apa artinya hikmah itu ?" tanya Joan pelan,sorot matanya terlihat menahan rasa getir....


..." Maaf Pak....," sela Annisa tak lantas ucapannya menggangung....


..." Bisakah kamu tidak memanggilku dengan panggilan itu,panggilan yang terlalu tua bagiku." tolak Joan seraya tersenyum kecut....


..." Saya hanya lebih ke menghormati anda saja." balas Annisa berusaha tenang....


... " Kurasa usia kita tidak terlalu jauh,jadi tidak ada salahnya kamu memanggilku dengan panggilan nama saja." pinta Joan dengan nada tak biasa....


...Annisa menghela,dirasa ia mulai merasakan sikap yang berbeda setelah mengenalnya secara perlahan....


..." baiklah !" balas Annisa dengan tetap tersenyum....


Joan mengangkat dua bahunya dengan senang.


..." Mungkin akan ada beberapa pengertian yang sedikit berbeda di setiap keyakinan seseorang ketika menjelaskan sebuah hikmah itu apa?karena dari sudut pandang saya artian hikmah itu sebuah pembelajaran yang di ambil dari balik sebuah musibah atau ujian seseorang.Apa yang telah terjadi dalam hidup kita.. Baik atau buruknya pasti akan ada hikmahnya." jelas Annisa lugas....


...Joan menatap panjang perempuan sederhana tersebut,ia merasakan jika dirinya tengah berhadapan dengan seseorang psikolog yang mampu memberikan sebuah pengertian....


..." Lakukan apa yang semestinya anda lakukan,tanpa harus menjadikan permasalahan hidup sebagai beban yang begitu berat,mungkin tanpa anda sadari jauh di luaran sana sebagian orang lain mengalami hal yang sama,bahkan lebih, sehingga mereka di landa stres bahkan depresi,hanya saja kita tidak pernah tau akan hal itu,bersyukur anda masih bisa menguasai seluruh kendali pemikiran anda dengan baik,karena menjadi orang yang hebat itu adalah menjadi sosok yang mampu mengendalikan pemikiran yang tak sejalan dengan hati,bahkan sebuah kenyataan yang terkadang menghianati sebuah harapan,serta menerima kenyaatan yang tak sesuai dengan harapan." jelas Anisa panjang lebar....


...Joan terdiam mencoba mencerna seluruh perkataan nya Annisa....


... " Apa anda memahami dari apa yang saya sampaikan ?" tanya Annisa menatap dalam ke arah pria tersebut....


Joan tercekat lalu membalas tatapan Annisa dengan sebuah senyuman.


" Yaa,tentu saja aku paham dengan atas apa yang kamu sampaikan kepadaku,dan setidaknya itu membuat aku merasa lebih sedikit berkurang atas perasaan kalutku ini ." ujar Joan seraya menarik napas panjang.


Annisa terdiam lalu tersenyum simpul ke arah pria tersebut.


" Boleh saja anda kecewa bahkan marah pada situasi seperti ini,itu adalah manusiawi,tapi ingat hari ini memang sebuah kenyataan yang begitu pahit tapi,masa depan adalah sebuah harapan untuk bisa kita tempuh untuk menjadi lebih baik." tungkas Annisa tersenyum.


Joan terlihat mengangguk-anggukan kepalanya,ia tengah menarik kesimpulan dari apa yang telah di sampaikan Annisa.Joan menghela merasakan perasaanya mulai terasa plong.


" Annisa."


Panggil Joan pelan lalu pria asing itu berdiri dan berniat ingin mendekati tempat duduk Annisa agar dia bisa lebih dekat dengan perempuan sederhana tersebut.


Sekilas Annisa menangkap gerak tubuh pria asing tersebut,dan ia pun sedikit terkejut dengan sikap pria tersebut yang hendak mendekatinya.


Dengan sigap Annisa segera berdiri dari posisi duduknya lalu melangkah mundur dari posisinya.


" By the way,saya lupa jika sore ini saya ada Private bersama salah satu murid saja,jadi saya permisi dulu." Pamitnya seraya bergegas hendak melangkah pergi.


Sontak Joan terkejut melihat sikapnya Annisa yang bergerak cepat ingin meninggalkannya.


" Annisa tunggu !!" Serganya dengan cepat,Annisa pun sontak menahan langkahnya lalu menoleh ke arah pria tersebut.


" Makasih banyak atas semuanya." Ucap Joan lembut.


Annisa tidak menjawab ia hanya mengangguk kan kepalanya seraya tersenyum simpul.


" Sama-sama,semoga hari-hari anda akan begitu menyenangkan,Assalamualaikum." Pamitnya seraya bergegas meninggalkan pria asing itu sendirian.