
AKU tengah asyik menatap dalam ke arah Annisa yang tengah bekerja,ia nampak serius mempelajari sebuah denah lokasi untuk pembangunan gedung perkantoran,sikapnya yang tak banyak bicara mampu membuatku terkagum-kagum.
Sekilas aku mampu menyimpulkan jika Annisa adalah sosok perempuan yang cerdas,disiplin serta mandiri,jiwanya yang kritis mampu membuat perasaanku mulai tak biasa ku rasakan.
Entah kenapa setiap kali aku melihatnya aku selalu melihatnya seolah-olah ia seperti Annisa mendiang istriku dengan versi lain.
Yang membedakan di antara mereka hanya gaya berbicaranya,jika Annisa mendiang istriku lemah lembut dalam berbicara dengan di sertai senyuman,namun sebaliknya Annisa yang aku kenal sekarang ini nyaris tanpa ada senyuman sedikit pun jika berbicara padaku,tatapannya dingin sehingga mampu membekukan setiap perasaan yang menatapnya.
Mungkin setiap karakter manusia akan berbeda sekalipun manusia kembar yang terlahir bersamaan.
Aku tau ini bukanlah sosok Annisa melainkan duplikatnya Annisa.
Aku tersenyum memaklumi perasaanku.
Annisa terlihat menggulung sebuah kertas lalu tak lama ia mencopot safety yang ada di kepalanya.
Sedikit ia menggibaskan rambutnya hingga rambut pajangnya terurai panjang,dan sontak gerakan itu mampu membuatku menarik napas hingga terpana.
Jika Annisa tidak mengenakan hijab mungkin akan seperti ini,cantik dan begitu mempesona.
Aku yang melihat perempuan ini hanya sekedar mirip dengan Annisa perempuanku,namun kini justru perlahan perasaa lain bersemayang di hatiku,menapaki jejak perasaan yang perlahan menghilang,aku tersadar dari rasa kagum yang tiada tara berubah menjadi rasa yang tak biasa.
Aku pun meggeleng meyingkirkan semua perasaan yang tengah bergejolak di hatiku.Aku hanya mencintai satu perempuan yaitu Annisa mediang istriku.
" Maaf pak Joan,saya istrihat sejenak,sepertinya saya perlu sedikit amunisi untuk perutku ini." ucap Annisa mengejeutkanku,ia nampak mengelus-ngelus perutnya.
Aku tersentak dan baru menyadari jika Annisa sudah berada di hadapannku sedari tadi.
Alis tebal Annisa nampak terangkat tinggi dan menatap aksiku dengan sedikit heran.
" Apa anda sedang memikirkan sesuatu ?" tanyanya dengan datar.
Aku tersenyum hampa seraya mengalihkan penglihatanku ke tempat yang lain menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya.
Jujur saja aku sangat benci jika harus menutupi perasaanku ini.
" Tidak ada !" jawabku singkat.
Annisa mengangkat tinggi pundaknya dengan acuh.
" Baiklah,aku makan siang dulu." pamit Annisa hendak melangkah meninggalkanku.
" Boleh aku ikut ?" aku segera menyela dan sanggup menahan langkah Annisa.
Annisa terhenti,mata belonya membulat menatapku.
" Ikut ?? " tanyanya mengulang perkataanku.
" Iya ikut.Boleh kan aku makan siang bersama mu?" jelasku tersenyum.
" Tapi...," ucapan Annisa terdengar menggantung.
" Kali ini saja,mungkin hal ini tidak akan membuat kita berdosa." sela ku tersenyum enteng.
Annisa terdiam menatapku gamang,aku memperhatikan gadis itu dengan utuh.
" Apa kamu keberatan ? " tanyaku menatap penuh wajah perempuan cantik tersebut.
" Tidak juga,hanya saja aku tidak terbiasa makan siang di temanin seseorang." balas Annisa tersenyum kaku.
" Hmm,tidak ada salahnya jika mulai detik ini kamu harus membiasakan diri untuk makan siang dengan seseorang,siapapun itu orangnya." ucapku seraya melangkah mendahului Annisa yang masih terheran-heran atas perkataanku.
Aku menjeda langkahku lalu menoleh kembali ke arah Annisa yang masih mencerna ucapanku tersebut.
" Hmmm,tapi aku tidak suka keramaian." balasnya singkat.ia menolakku secara tidak langsung.
Aku terdiam mencoba mengartikan hal yang baik di balik ucapannya Annisa.
" So ?? " tanyaku risau.
" Sorry,aku menolak untuk makan siang bersama." jawab Annisa langsung to the point.
Sontak aku terkejut mendengar ucapan tegas dari Annisa hingga berhasil membuatku tertegun untuk beberapa detik.
Wajahku berekspersi lain mendengar penolakan dari Annisa.
Aku hanya mengangguk pelan lalu akupun menyimpulkan sendiri atas apa yang di maksud oleh Annisa,dan aku pun sadar jika Annisa kurang berkenan jika aku terlalu bersikap over kepadanya,walaupun itu hanya batas sebuah pekerjaan.
" Ok. Im Sorry !. balasku terseyum hampa.
Ada perasaan kecewa atas sikapnya Annisa namun apalah daya ia berhak menolak permintaanku.
Aku berjalan dan hendak meninggalkan Annisa namun entah datang darimana tiba-tiba Jerica sudah berada di hadapanku dengan tatapan lain ke arahku.
Sontak aku terkejut melihat kehadiran Jerica yang secara tiba-tiba.
Oh my God !! seru batinku.
Mataku membulat penuh seketika pikiranku terasa kacau.
Jerica berjalan semakin mendekat,tanpa berpikir panjang dengan sigap aku putar kembali badannku dan....,aku pun terjebak dalam ide gilaku.
Srett....
Dengan repleks aku menarik tangan Annisa untuk ku genggam sekaligus aku mengandengnya dengan mesra.
Kejadian yang begitu singkat membuatku terasa gila.
Annisa terkesiap melihat ulahku
" Sayang,sebaiknya kita makan siang di luar." ajakku dengan tersenyum penuh isyarat ke arah Annisa.
Mata bulat Annisa melotot ketika aku mengadeng tangannya tanpa seizinnya dan al hasil Annisa menatapku dengan galak.
" Hei !! Apa-apan ini ??" pekik Annisa terlihat berontak.
Aku berusaha memberi sebuah isyarat supaya Annisa diam dan tidak banyak bertanya.
Annisa semakin liar menatapku,ia bersi keras melepaskan tangannya dari genggamanku.
Jerica menatapku penuh curiga,raut wajahnya terlihat begitu penuh tanda tanya.
Annisa masih bersikap keras untuk melepaskan tangannya.
Aku mendongkak menatap penuh wajah Jerica.
Jerica menatap penuh sarkatik.
" Jerica,this is my wife." ucapku seraya menoleh Annisa yang masih berusaha melepaskan tangannya.
Jerica menatap penuh ke arah wajah Annisa,kedua alisnya terlihat mengkerut cantik.
" So !! Thi is your wife ??" tanya Jerica menatap cemooh.
" Yaa,ini adalah istriku." balasku seraya menoleh kembali ke arah wajah Annisa yang semakin tak mengerti dengan sikap konyol ku ini.
" Sayang ! Kenalkan ini adalah Jerica..," ucapku tak lantas.
Tanpa aba-aba Jerica langsung menyodorkan tangannya dengan mengangkat tinggi dagunya ia mengajak berkenalan kepada Annisa.
Annisa menoleh ke arahku dengan campur aduk.
" Ay Jerica,ex-lover your husband heu.,."Ucap Jerica seraya tersenyum penuh rasa kemenangan.
Aku terbeliak mendengar ucapannya Jerica yang memperkanalkan diri sebgai mantan kekasihku,aku menoleh Annisa dan kami saling menatap satu sama lain,berahap Annisa mampu berkompromi dengan pikiranku.
Aku mengedipkan mataku dan memberkan sebuah isyaratpermohonan agar Annisa mau menyalami Jerica.
Annisa menatapku penuh dengan berbagai tuntutan di benaknya,tentu saja aku berhutang penjelasan kepadanya.
Annisa tersenyum kecut,akhirnya ia mengikuti isyaratku.
" Annisa." balas Annisa terlihat terpaksa.
Jerica tersenyum sinis dengan memajukan lima centi bibir mungilnya,namun sejenak raut wajahnya terlihat berubah shok setelah mengingat sesuatu.
" Wait !!, nampaknya Ay pernah berjumpa dengan you,but dimana ya ??" tanya Jerica terlihat berpikir ia berusaha mengingat kembali wajah Annisa,tentu saja ia pernah melihatnya,Annisa sangat mirip dengan mendiang istriku.
Annisa kembali menatapku semakin sebal,ia masih menggerak-gerakan tangannya untuk segera lepas dari gengamanku.
" Sorry,kita belum pernah bertemu sekalipun." balas Annisa terdengar kesal akan nada bicaranya.
" Sorry Jerica,aku tidak banyak waktu,kita nak makan siang,so boleh kami pergi ?" ucapku segera mengalihkan pembicaraan,aku tidak mau urusanku semakin pangan dsn meluas.
" Tunggu Joan." Sergah Jerica dengan cepat.
Aku menghela ketika hendak melangkah,bukan lah Jerica jika suatu permasalahan harus terbahas menjadi panjang.
" Ay mulai mengenali sangat akan istri you itu,ow yaa Ay baru ingat jika You perempuan yang berbusana aneh itu kan ?? Macam mana sekarang you nampak tak pakai busana aneh itu ?"tanya Jerica yang mulai ingat akan wajahnya Annisa.
Kulit dahi Annisa terlihat berkerut manja,bola matanya menatap panjang dengan ekpresi snewen ke arah Jerica.
" Kurasa kau sedang berhalusinasi Jerica." ujarku segera menepisnya,
Aku berniat untuk menarik Annisa dan segera pergi dari hadapan Jerica.
" Ya,Ay ingat you adalah perempuan yang membuat pekerjaan Joan berantakan,macam mana you Joan mampu menikahi perempuan macam nih." ucap Jerica mulai terlihat histeris.
Annisa di buatnya heran kembali dengan perkataan Jerica.
" Jerica stop !! plis jaga sikap mu !!" gertaku kesal.
Jerica mendecih lalu terlihat tersenyum penuh cemooh.
" So,you kini berpenampilan berbeda untuk mengelabui Ay,tapi sayang Ay tak sebodoh itu." ujar Jerica menatap benci ke arah Annisa.
Annisa semakin di buatnya tak mengerti,ia kembali menatapku dengan berbagai tatapan.Perasaanya mulai terlihat jengkel.
" Enough !!, Jerica plis jaga attitude.Kamu tidak berhak untuk berbicara kurang menyenangkan terhadap Annisa." gertakku semakin kesal.
Lagi-lagi Jerica terlihat tersenyum sinis,namun raut wajahnya terlihat marah.
Aku tidak tahu jika hal ini akan menjadi serunyam ini.
Tanpa berbicara lagi aku segera menarik tangan Annisa dan memaksanya untuk pergi.
" Tak perlu you mengelak dari Ay,Ay tahu perempuan aneh ini adalah seorang perebut kekasih orang lain,macam perompak saja." ujar Jerica semakin lancang.
Annisa menepis tanganku dengan kasar hingga terlepas dari cekalanku,lalu ia kembali berjalan mendekat ke arah Jerica yang sedang berpangku tangan dengan menatapnya tidak suka.
" Nona Jerica yang terhormat,saya tidak pernah sekalipun mengenal anda,jadi tolong ada jaga ucapan anda,kalau tidak saya akan buat pasal atas tuduhan tidak menyenangkan." Annisa terlihat geram.
Aku terpana melihat sikap beraninya Annisa menghadapi seorang Jerica orang yang sama sekali tidak di kenalnya.
" Macam tuh ??" balas Jerica semakin menangtang.
Annisa mengangkat tinggi kepalanya,raut wajahnya terlihat begitu galak.
" Annisa,berhenti,sebaiknya kita pergi." ajakku seraya menarik tangan Annisa untuk segera pergi.
Annisa menoleh ke arahku yang tersenyum sekaligus panik.
Jujur saja aku tidak ingin hal buruk menimpa Annisa.
" Aku tidak tau masalah anda dengan perempuan itu,tapi karena perempuan ini menghinaku jelas aku tidak terima." balas Annisa geram.
" Ok ok,akan aku jelasin nanti,sekarang sebaiknya kita pergi." ujarku mencoba meredakan amarahnya Annisa.
Jujur saja,aku tidak menyangka jika Annisa seberani ini menghadapi caciannya Jerica.
" You tak pernah berubah,selalu membela perempuan Aneh in." ucap Jerica menatapku sinis.
" Dan kamu pun tidak pernah berubah,selalu membuat kegaduhan di setiap pertemuan." balasku dengan intonasi penuh penekanan.
Sontak wajah cantik Jerica memerah,matanya mendelik ke arahku.
Aku tersenyum penuh kemenangan.
" Ayo Annisa kita pergi." ajakku seraya menarik tangan Annisa.
Jerica terlihat kesal,ia menghentakan-hentakan kakinya ke bumi dengan wajah terlihat sebal.
Aku berjalan menjauh meninggalkan Jerica,sementara Annisa mengikuti langkahku tanpa protes.