ONE DAY

ONE DAY
ONE DAY episode 15



JAUH dari lubuk hatiku yang paling dalam,aku merasakan jika kini aku sudah merasa lebih tenang,ada beban yang terlepas dari dalam hatiku yang selama ini mengganjal perasaanku,entah kekuatan macam apa yang kini tengah menyambut hangat itikadku,terlebih ketika aku melantunkan dua kalimah syahadat rasanya seluruh aliran darahku berdesir sungguh hebat.


Wow...,sulit aku ungkapkan dengan kata-kata.


Yaahh setelah dua kalimat tersebut terucap dengan pasih dari lisanku,sontak seperti ada sebuah energi yang sangat kuat mengendalikan perasaan ini,dan aku sendiripun sulit memahaminya.


Cahaya itu menembus sutra hatiku yang terdalam,ketika aku merasa rapuh maka cahaya itulah yang selalu menuntunku kearah kedamaian,cahaya yang selalu menerangi aku dalam gelapnya kehidupan,dan cahaya itu adalah sosok bidadari yang tak pernah aku bisa menyentuhnya sebelum ada kalimat ijabkabul terlantunkan.


Cahaya itu telah membingbing aku menuju dalam kehidupannku ke yang lebih baik,dan menuntunku ke jalan yang benar.


Aku merasa lebih baik dari apa yang selama ini aku anggap baik dan benar.


Aku menghela menatap dengan penuh rasa syukur.


" Akhirnya.., ?" ucapku lirih menatap Adam yang masih duduk di sampingku.


" Selamat ya pak,bapak kini sudah menjadi seorang mualaf,dan untuk selebihnya nanti bapak bisa berikrar kembali di majlis bersama-sama para tokoh agama,untuk lebih sempurna,dan nantinya bapak juga akan mendapat sebuah sertifikat.Jadi untuk sementara bapak hanya berikrar saja dulu karena untuk saat ini situasinya serba mendadak,nanti saya akan bantu untuk mengurus prosesnya, isyaallah pasti akan ada jalan buat bapak kedepannya nanti." jelas Adam menatapku dengan penuh rasa haru.


Aku tersenyum lega,Adam begitu mulia hingga bersedia menolongku dengan tulus hati.


" Adam,rasanya aku tak sabar ingin segera sholat !" ucapku pelan, ingin rasanya aku langsung menunaikan ibadah sholat pertamaku.


" Sholat Pak..?" tanya Adam menyeringah dengan menatapku haru.


" Iyaa dam,aku ingin melakukan apa yang Annisa lakukan ketika di waktu sepertiga malam,yang begitu larut dalam lanitunan do'a-do'a yang di panjatkan." balasku lirih.


" Bapak sudah paham tentang sholat..?" tanya Adam menatapku lurus.


aku menghela lalu menatap jauh keluar halaman masjid tersebut.


" Aku selalu memperhatikan Annisa di balik kamar Afartemenku ketika dia sedang sholat." balasku menerawang jauh.


" Tapi apakah bapak sebelumnya sudah pernah memperlajari tentang bacaan sholat serta tata caranya? " tanya lagi Adam dengan menatapku ragu.


" Aku pernah mempelajari tentang hal itu dan setidaknya aku pun pernah pempelajari bagaimana tata cara sholat serta bacaannya jauh sebelum aku ingin menjadi seorang mualaf." jawabku pasti.


" Subhannallah,sungguh bapak luar biasa,mengenal islam sebelum akhirnya bapak memutuskan menjadi seorang mualaf." balas Adam tersenyum penuh kagum.


" Jujur saja,semenjak aku bertemu Kakak mu Annisa,aku langsung tertarik tentang Agama Islam,dan aku ingin mengenal jauh Agama tersebut,sehingga aku belajar memahami islam secara diam-diam." ucapku tersenyum tipis.


" Alhamdulillah,bapak sudah memahami itu dan itu artinya bapak hanya tinggal prakteknya saja serta mendalami ilmunya." jelas Adam tersenyum lega ke arahku.


" Beberapa menit lagi sholat Dzuhur,jadi sebaiknya kita menunggu waktu masuk sholat saja Pak,sebelum kita kembali ke rumah sakit.." ucap Adam seraya menoleh ke arah jam yang menempel di dingding mimbar Masjid.


" Adam,Makasih banyak kamu mau membantu aku dalam proses aku menuju jalan yang benar-benar di ridhoi Allah ." ucapku menatap Adam dengan rasa haru kearah Adam.


" Sama-sama pak,alangkah baiknya kita saling bermanfaat bagi sesama manusia karna hidup bukan sekedar hidup melainkan untuk berguna bagi sesama mahluknya,Kalau cuman hidup sekedar hidup dan tak peduli trhadap sesama itu bukan hidup tapi hanya bernapas saja pak." Jelas Adam dengan penuh kebijakan.


Aku terenyuh dengan perkataan yang di ucapkan Adam,Adam memang tidak beda jauh dari sang Kakak nya Annisa,yang selalu berkata bijak dan penuh logika,dan tak hanya iyu dia pun begitu sopan dan berahlaq.


Aku hanya tersenyum simpul sembari menatap lekat Adam yang begitu tulus membingbingku.


Beberapa menit kemudian terdengar suara Adzan berkumandang dengan begitu syahdu.


" Nah sudah Adzan pak." ucap Adam mengingatkanku.


" Kita ambil wudhu dulu pak !" ajak Adam seraya bangkit dari duduknya.


" Ok." balasku seraya menggangguk,lalu tak lama akupun mengikuti langkah Adam menuju tempat wudhu.


Air wudhu mengalir di pangkuan telapak tanganku,perasaanku tiba-tiba bergetar begitu sangat luar biasa,getaran yang tak pernah aku rasakan sebelumnya ada perasaan haru yang kian membiru atas RahmatNya yang telah aku dapat,sebuah kenikmatan yang tiada duanya aku rasakan,berada dalam ke adaan yang begitu menenangkan jiwa ini,ada sebuah rasa yang sulit aku lukisan dengan apapun,yaa tentang sebuah rasa yang akan menuju kebahagian yang Abadi.


Perlahan aku mengikuti gerak tangan Adam untuk berwudhu ini adalah hal pertama kalinya aku berwudhu.


Sulit rasanya aku membanyangkan kepuasan hati ini hingga rasa sedih beserta bahagia bercampur menjadi satu.


Aku memberanikan diri untuk berdiri sejajar dengan jamaah lainnya yang hendak sholat,aku berusaha untuk mengusir perasaan canggungku untuk melaksanakan kewajibanku beribadah pertamakalinya.


Awalnya memang tapi tekadku sudah bulat aku akan menjadi seorang muslim yang benar-benar bertakwa dan sebisa mungkin aku menjalankan atas segala kewajibanku sebagai seorang umat muslim.


Aku mengingat kembali bacaan yang pernah aku baca ketika aku mempelajari tentang sholat.


Yaa aku yakin Allah maha mengetahui dari apa yang tak sama sekali aku ketahui,karena niatku suci dan tulus untuk menjalani semua ini.


Selesai aku mengucap dua salam lalu aku menengok ke arah kana dan kekiri,seperti ada kesejukan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya,serta ada ketenangan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.


Yaa ini adalah Anugrah yang Maha Kuasa,yang maha Dasyat berupa sebuah hidayah dari NYA tanpa memandang diri kita siapa.


Dengan kerendahan hati ini aku mengangkatkan kedua tangannku menengadah ke atas langit sana memohon atas segala apa yang aku inginkan, tidak terkecuali untuk kesembuhan seseorang yang begitu berharga dalam hidupku,dan aku berharap kelak seseorang itu akan menjadi seorang Bidadari surga bersamaku.


Lantunan do'aku terpanjatkan aku meminta atas apa yang terbaik untuknya.


Aku masih ingat bahkan hapal betul dengan segala perkataan yang di ucapkan oleh Annisa beberapa tahun yang lalu.


" Karena TUHAN akan malu menolak do'a seorang Hambanya yang tulus ketika hambanya berdoa dengan mengangkat kedua tangannya untuk sebuah permohonan, Dan TUHAN pun tidak akan membiarkan hambanya menurunkan tangannya dalam tangan yang kosong.."


yaa...kata kata itu semakin terngiang di telingaku, dengan segala ketulusan hatiku aku menjerit atas do'a do'a yang kupanjatkan untuknya wahai perempuanku karena aku benar-benar telah mencintaimu sedalam ini.


" ### Aamiin...."


lirihku seraya mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahku.


" Sudah selesai pak ?" tanya Adam dari arah samping menoleh ke arahku.


" Sudah." jawabku pelan seraya menahan sesak di dalam dada dan tak terasa ada lelehan bening yang mengalir kecil dari sudut matakaku Adam tersenyum tipis menatapku.


" Kita kembali ke Rumah sakit,kita sudah cukup lama meninggalkan kak Annisa pak.." ucap Adam dengan penuh hormat lalu aku pun hanya mengangguk pelan.


~ Annisa masih terbaring lemah dengan alat bantu yang terpasang di wajah dan kepalanya.


Dan alat-alat tersebut membuatku semakin tak sampai hati melihatnya,aku yakin jika Annisa sangat menderita dengan pemasangan alat-alat tersebut,Alat yang membantunya untuk tetap terus bertahan.


Aku berdiri tak bergeming menatap nanar ke arah Annisa,pikiranku larut dalam kenangan pesonanya di beberapa tahun yang lalu.


Annisa sosok perempuan yang begitu lugu, Santun serta bijaksana.


Kecantikannya begitu sangat natural membuatku candu memandangnya,tapi kini aku melihatnya dengan perasaan getir yang sulit aku bayangkan,hingga dalam hati ini muncul ada rasa sakit yang tak bisa aku obati hanya dengan berupa pil,atau pun obat lainnya.


Adam terlihat membenarkan selimut dan kain penutup kepalanya,dengan sesekali ia menyeka wajah Annisa yang terlihat sembab.


Aku tak ingin lepas menatapnya hingga terlena.


Tiba-tiba jari jemari Annisa bergerak aku yang sedari tadi berdiri menatapnya terhenyak menatapnya.


" Annisa..." Pekikku dengan spontan.


" Adam ! Jari tangan Annisa bergerak !" Seruku dengan bahagia.


Adam menatap ke arah jari tangan Annisa lalu diapun ikut terlihat sumeringah.


" Ka Annisa.." seru Adam lirih seraya menatap lurus ke arah wajah sang Kakak.


Dengan cepat Adampun meraih tangan Kakaknya tersebut dan menggengamnya dengan penuh rasa bahagia.


Rasanya ingin ku berlari memeluknya lalu tak akan kulepas lagi,menggenggam erat tangannya seperti halnya Adam yang menggenggam erat tangannya.Namun apalah daya hasratku tak tersampaikan, tentunya aku belum bisa menggenggamnya bahkan memeluknya.


Aku tatap dalam wajah perempuanku dengan goresan hati yang teriris,tak sampai hati aku melihat Annisa dalam kondisi seperti ini.


Perlahan Annisa membuka kedua matanya,bahkan mata yang indah itu kini sudah berkantung.


Tak terasa hati ini menangis menjerit melihat akan kondisi perempuanku yang terkulai tak berdaya,air mata ini jatuh tanpa aba-aba.


Untuk yang pertama kalinya aku menangis untuk seseorang yang teramat ku cintai.


Ini serasa mimpi buruk yang sedang ku alami disaat aku tertidur.


Tatapan yang kosong terlihat mengudara,menatap dengan berbagai perasaan hampa,nyaris aku tidak melihat Annisa yang dulu pernah aku lihat, jika ia menatap,ia begitu dalam hingga membekas di hatiku,kini tatapan itu terlihat layu dalam sebuah kesakitan.


Aku tak ingin membayangkan betapa sakitnya penderitaan yang di deritanya, sekedar hanya membayangkan saja nya pun aku tak mampu.


Annisa menggerakan bibirnya,namun justru aku melihat sepertinya ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya hingga bibir itu terlihat bergetar begitu dramatis.


Sungguh aku tak mampu melihatnya,aku tak sampai hati Tuhan !!


Jeritku menagis.Jika aku bisa menjadi sebuah obta,maka aku ingin menjadi obat atas segala sakit yang di deritanya,aku ingin menjadi lentera dalam hidupnya dan menjadi penawar di dalam kesakitannya.


Yaa,aku ingin berkorban banyak untukmu Annisa,karena aku telah yakin jika aku membutuhkan mu dalam kehidupan ku kelak,engkaulah cahaya hatiku yang mampu menyinari aku dalam kegelapan.


Annisa.


Aku meratap namun tak bisa aku ekspresikan,rasanya semua terasa buntu,aku tak tak berkuasa untuk melakukah hal banyak,tapi aku memiliki effort yang tulus atas kesembuhanmu,wahai perempuan spesialku.