ONE DAY

ONE DAY
ONE DAY episode 20



SATU minggu sudah berlalu Annisa telah meninggalkan aku dengan segenap kerinduanku,seperti ada yang hilang dari bagian kehidupannku.Sungguh ini adalah pukulan terhebatku untuk menguji kwalitas keimananku atas keyakinanku terhadap Allah SWT yakni Tuhan semesta alam.


Begitu banyak peristiwa yang menyedihkan telah aku alami,dan ini lah peristiwa yang begitu dalam aku rasakan,untuk saat ini aku membiarkan aku terendap dalam laraku,aku yakin Tuhan sudah memperhitungkan apa yang akan aku rasakan saat ini.


Kini saatnya aku kembali lagi ke Singapur setelah dua pekan ini aku berada di Surabaya.


Ada moment yang begitu singkat namun begitu dalam tersimpan dalam hatiku.


Di kota ini dan di tempat ini aku telah menorehkan cinta suci bersama seorang perempuan terhebatku.Meski sulit untuk meninggalkan tempat ini,namun aku harus melanjutkan kembali cerita hidupku walau tanpa Annisa.


Waktu tak akan berhenti meski dunia ku runtuh atas kepergian orang yang paling aku cintai setelah Mamaku.


Yaa,Annisa telah kusandingkan di hatiku setelah Mamaku.


Aku mengemasi barang-barangku ke dalam tas rangselku,bersiap-siap untuk pulang ke Singapur.Adam terlihat berdiri di ujung pintu menatapku dengan resah,seolah-olah ia sedang ingin menyampaikan sesuatu kepadaku.


Aku menatapnya dengan perasaan kian berat,karena harus meninggalkan dia seorang diri,tentunya ini akan menjadi beban berat dalam hidupnya.


Adam mendekat lalu berdiri tepat di hadapanku.


" Kak Joan,Aku menemukan ini dari kamarnya Almarhumah Kak Annisa,dan sepertinya ini adalah curhatan Kak Annisa terhada Kak Joan." ujar Adam seraya menyodorkan sebuah buku tebal kehadapanku.


Aku terpana menatap benda yang ada di hadapanku,adakah cerita istimewa di dalam buku tersebut.


Dengan gamang aku menerima buku tersebut.


" Saya yakin jika Kak Annisa memiliki perasaan yang lain terhadap Kak Joan." ungkap Adam tersenyum.


Aku mengernyit,tak ingin aku merasa kegeeran aku pun tersenyum hampa dan mencoba menepisnya.


" Heu,kamu tau darimana jika Almarhum Kakak mu ada perasaan lain terhadapku ?" tepisku dengan mengulas senyuman.


" Di balik buku ini ada nama Kak Joan,saya memang belum melihat sepenuhnya isi buku ini,tapi saya yakin jika Kak Annisa selama ini diam-diam menorehkan separuh perasaannya terhadap Kak Joan di dalam buku ini." ujar Adam tersenyum simpul.


Aku menatap dalam buku tersebut dan berusaha mengamatinya dengan seksama.


Perlahan akupun membuka sampul buku tersebut dan netraku pun tertuju pada sebuah nama yang tertulis di belakang sampul tersebut,dan tulisan yang tak asing lagi, percis di bawah kalimat Bismillah namaku tertulis di buku tersebut.


Netraku semakin terpana ketika membaca sebait doa yang Annisa tuliskan.


Adam menatapku dengan penuh harapan jika aku bersedia membaca isi buku tersebut.


Aku menghela napas,merasakan perasaan ini tak menentu,ada gairah yang tak bisa aku ungkapkan dengan sesuatu hal apapun.


" Adam,aku tidak bisa membaca buku ini sepenuhnya,aku takut terlambat untuk ke Bandara." ungkapku dengan penuh sesal.


" Bawa saja Kak buku ini,siapa tau buku ini akan menjadi teman dalam sepi,dan Kak Joan bisa tahu jika Kak Annisa selama ini menyimpan perasaan yang sama terhadap Kak Joan." jelas Adam dengan nada berat.


Hal yang sama aku rasakan,berat rasanya jika aku mengegahui jika selama ini Annisa menyimpan perasaan yang sama terhadapku,maka aku akan merasa bersalah jika aku terlambat menjemputnya untuk bahagia.


" Baiklah,buku ini akan aku bawa,anggap saja ini adalah sosok Kakak mu." ucapku tersenyum getir.


Adam mengangguk kecil dengan menatapku penuh duka.


Kita masih begitu merasa kehilangan atas kepergian Annisa.


" Kalau begitu boleh saya antar Kakak ke Bandara ?" tanya Adam menatap penuh harapan.


" Tentu,aku tidak mau melewatkan moment terakhirku di kota ini." balasku tersenyum,raut wajah Adam terlihat semeringah mendengar aku mengabulkan permintaanya.


Adam pun dengan setia mengantarkan aku hingga sampai Bandara.


" Kak Joan,saya minta maaf,selama Kak Joan disini mungkin jamuan saya kurang memuaskan." ujar Adam menatap dengan perasaan tak enak.


" Tak apa Adam,semua yang telah kau berikan kepadaku selama aku disini sudah lebih dari apapun.Kebaikan kamu begitu luar biasa." balasku tersenyum lembut.


" Aku merasakan apa yang kamu rasakan saat ini,tapi ini semua adalah takdirNYA,kita tak bisa berbuat apa-apa." ucapku kembali.


Kedua mata Adam terlihat memerah menahan tangis yang mulai menyudutkan perasaanya.


" Kak Joan,angan pernah melupakan saya kak,walaupun Kak Annisa sudah tiada tapi seengganya saya pernah menjadi bagian dari kehidupan jya Kak Joan, walaupun hanya sesingkat itu." Ujar Adam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Insyaallah,aku tak akan pernah melupakan kamu begitu saja.Pasti one day aku nak kembali ke tempat ini lagi, dan berjumpa pusaran istriku." Ucapku tersenyum penuh rasa kegetiran.


Adam mulai terguncang,tak kuasa menahan isak tangisnya.


" Makasih banyak Kak Joan." balas Adam tersenyum pahit.


Aku menepuk pelan pundak pemuda yang lebih jauh usianya dariku,mencoba menenangkannya walau perasaan sendiri ikut berperang melawan keresahan hati.


" Baiklah,sudah jam 09.00 saatnya aku harus cek in,kamu baik-baik saja di sini,jaga kesehatanmu." Ucapku tersenyum lembut ke arah Adam yang mulai terlihat berat melepas kepergiaannku.


" Iya kak,terimakasih atas perhatiannnya dan Kak Joan juga selamat dalam perjalannya dan baik baik di Singapur sana." balas Adam dengan nada bicara penuh penekanan.


" Jangan khawatir,aku akan baik-baik saja,kita saling medo'akan saja." balasku seraya merangkul hangat adik iparku tersebut,sesak memang dalam dada ini kian terasa penuh saat aku harus meninggalkan tempat yang telah menorehkan kenangan singkat bersama Annisa.


Adam hanya terdiam saat aku melepaskan rangkulannya raut wajahnya terlihat sangat berat ketika harus melepas kepergiannku,entah kenapa langkah ini tarasa berat saat aku mulai melangkah kan kaki untuk pergi menuju ruangan cek in.


" Selamat jalan Kak Joan!" seru Adam terbata.


" Selamat tinggal Adam." Balasku dengan tersenyum hambar.


Perlahan aku segera memasuki ruangan cek-in tersebut dan beberapa staf Bandara menyambutku dengan penuh keramaham,dengan sigap mereka mengecek beberapa lembar surat penting lainnya beserta tiket pesawatku.


Dengan perasaan berat aku tinggalkan kembali tanah kelahiranku ini yang telah menorehkan luka yang teramat dalam atas kepergian istriku yang tercinta,ia telah pergi untuk selama-lamanya meninggalkan kasih yang belum sempat aku jamah.


Entah kenapa aku sepertinya masih merasakan kehadiran Annisa,aroma tubuhnya masih terasa nyata,aroma khas itu tertinggal dalam di relung hatiku, seolah menjebakku dalam ketidak mampuan untuk bangkit dari raganya, hingga aku sulit untuk melenyapkannya, sekedar menghindarinya pun aku tak mampu.


Aah kurasa ini konyol, tidak mungkin aku bisa dengan mudah melenyapkan sosok Anisa dari hati dan imajinasiku, sedangkan sosok Annisa sudah mengambil bukan hanya saja separuh hidupku tapi melainkan seluruh dari hatiku.


Mataku mulai menyapu bandara yang terlihat cukup ramai, beberapa orang sibuk dengan barang bawaannya masing-masing,bahkan ada juga yang mulai mengantri untuk mengurus imigrasi,serta ada di antara mereka banyak yang mulai bersiap-siap mengucap selamat jalan bagi mereka yang hendak memulai perjalanannya.


Dan pemandangan itu membuatku merasa semakin asing dan merasa bahwa ingatanku seolah mulai lenyap, entahlah setelah kepergian Anisa aku merasa mungkin aku mulai kehilangan asa atau parahnya, mungkin mulai menjadi mati rasa....


Aku menghela napas panjang tiba saatnya aku akan terbang kembali ke Singapur,perlahan aku melangkah lalu sejenak menoleh ke arah Adam yang masih menatapku dari ke jauhan dengan raut wajah resah,dan perlahan ku lambaikan tangan ini dengan tersenyum penuh rasa haru.


Seandainya saja Annisa melihat akan keadaanku saat ini mungkin ia tak akan setega itu meninggalkan aku,tapi ini adalah takdirku.Aku dan Annisa di pertemukan melalui takdirNYA lalu di pisahkan kembali dengan takdir-NYA.


Sekelumit kisah cinta yang tak akan pernah sirna begitu saja dari kisah hidupku dan aku berharap apa yang dikatakan para pesyair cinta itu akan benar adanya," Jika cinta sejati akan bersua di alam nirwana kelak."


Yaaa...,aku berharap,jika aku bisa kembali di pertemukan dengan sosok Annisa meski dalam cerita lain dan TUHAN akan memberiku kesempatan untuk memilikinya walau harus dengan Versi yang berbeda.


Adam membalas lambayanku lalu ia pun tersenyum penuh rasa getir,ia mencoba menguatkan aku dari ulasan senyumannya,bahwa aku yang harus tetap berjalan melanjutkan separuh hidupku yang nyaris terbawa pergi oleh cintanya perempuan hebatku,namun aku yakin jika serpihan hati ini akan menemukan kembali dengan serpihan hati yang lain,dan tentunya akan melengkapi hidupku kelak,walau bukan dengan Annisa.


Beberapa menit kemudian aku telah memasuki ruang pesawat,ku edarkan seluruh pandangan ke arah kabin pesawat tersebut,dan memandangi nomer-nomer yang ada di kursi pesawat tersebut,lalu aku mengamati beberapa nomor yang ada di kursi tersebut dengan nomor yang ada di tiket peswatku dan tak berapa lama aku pun menemukan nomer tempat dudukku,tepatnya percis di tepi jendela pesawat.


Pasrah....


Perjalanan pulang kali ini terasa begitu melelahkan,dan aku harus menerima kenyataan yang begitu pahit,aku kembali dengan membawa luka dihati yang begitu dalam. Aku harus pulang hanya seorang diri,harapan untuk memberikan sebuah kejutan kepada Mamaku harus kandas di tengah jalan setelah hal buruk telah menimpa kehidupanku.


Masih ada beberapa menit untuk persiapan take off dan aku pun membagikan seluruh pandanganku kesekeliling ruang pesawat yang mulai ramai dengan para penumpang yang mulai membereskan barang bawaannya di bagasi pesawat,dan sebagian lainnya masih ada yang sibuk berbincang-bincang lewar seluler.


Aku menatap ke arah luar jendela pesawat di luar sana aku melihat beberapa petugas awak pesawat yang masih sibuk memindahkan barang bawaan para penumpang ke begasi pesawat,pikiranku terus melayang ke alam lain entah kenapa perasaanku begitu berat dengan peristiwa yang telah terjadi dalam kehidupanku.


Aku berusaha mengusir rasa sedih yang terus menggelayuti pikiranku ini,kenapa tidak aku masih ingin mendekap erat serta mencubui mesra sang perempuanku yang kini hanya tinggal gundukan rindu dalam perasaan yang membeku.


Teringat kembali akan semua kata-kata terakhir Annisa yang pernah ia katakan kepadaku di penghujung pertemuanku empat tahun yang lalu,bahwa TUHAN selalu memberikan sebuah hikmah di setiap musibah serta ujian yang TUHAN berikan kepada hambanya.


Dan akupun meyakini jika TUHAN sedang merencanakan sesuatu yang indah untuk ku,meski awalnya berat ku terima tapi itulah takdir yang harus aku jalani.


Sang perempuanku meninggalkan aku selama-lamanya setelah janji suci ini terikrarkan.


" OH TUHAN !!" desahku berat.


Tak terasa genangan air mata itu mengembun di mata ku lalu melaburkan semua pandanganku,tak lama embun itu berubah menjadi butiran bening yang jatuh di pipiku.


" Annisa,syurgaku." ucapku lirih.


Sesak ini menghimpit dadaku,rasa resah ini tak kunjung hilang,rasanya hidup ini berjalan sangat cepat sehingga peristiwa yang baru ku alami masih terasa hangat di ingatanku.


Berputar memenuhi isi relung hati ku yang masih terasa kian hampa,masih terasa kedua pipi ini basah akan tangisan air mata di pusara nya perempuanku.


Di tengah-tengah kesedihanku sesuatu hal mengingatkanku bahwa Adam sebelum aku berangkat ia memberikan ku sebuah buku miliknya Annisa.


Aku segera segera mengambil buku tersebut di dalam tasku.


Perlahan aku menatap penuh kedalam buku tersebut,selintas tak ada yang istimewa di sampul buku tersebut,hanya sebuah buku dengan cover warna hitam bergambar bulan sabit di sudut atas buku tersebut,menggantung menerangi suasa gelapnya cover buku tersebut.


Aku menghela menatap dengan perasaan tak menentu,ada getaran hebat yang begitu kuat menguasai perasaanku.


Aku masih tak percaya jika Annisa menuliskan sepenggal kisah antara aku dan dirinya,jelas selama aku mengenal Annisa sedikitpun ia tidak memperlihatkan sikap yang lebih kepadaku.


Ragu dan rasa penasaran mendomonasi pikiranku,apa yang di tulis Annisa tentangku ?


Aku menatap dalam cover buku tersebut,lalu perlahan aku pun membuka cover buku tersebut.


" Permisi !!" suara lembut tiba-tiba mengejutkan ku dari kegiyatanku.


Aku mendongkak lalu menatap si pemilik suara lembut tersebut.


Deekkkk.....


Tiba-tiba perasaan ini di buatnya tersentak setengah mati dengan atas apa yang ku lihat saat ini.


Aku terperangah melihat raut wajah si pemilik suara lembut tersebut dan ia menatapku begitu lembut.


" Astagfirullah !!" Pekik ku nyaris tak tertahan.


Si pemilik suara lembut itu menatap ku tanpa ekspresi setelah melihat keterkejutanku.


Matanya yang belo itu menyopit dengan ekspresi penuh tanda tanya.


" Oh sorry." balasku dengan cepat setelah melihat reaksi wajah wanita itu semakin aneh menatapku.


Sejurus kemudian si pemilik suara lembut itu tersenyum lembut dan merubah ekspresi wajahnya menjadi terlihat lebih ramah setelah aku mengajaknya untuk tersenyum.


Si pemilik suara lembut itu manggut dengan sopan seraya duduk si sampingku.


Sementara aku masih hanyut dalam ketidak percayaanku.


Aku menatap kembali ke arah buku yang telah aku buka,namun kembali lagi aku di buat penasaran dengan wanita yang duduk di sampingku.


Sungguh ini sulit di percaya,di tengah kegelisahan ku,aku melihat wajah perempuan yang baru saja duduk di sampingku tersebut mirip sekali dengan Annisa,perempuanku.


Yaa....,Annisa Almarhumah istriku.Tegasku dengan perasaan kian tak menentu.


Yaa TUHAN kenapa aku melihat wajah perempuan ini percis seperti aku sedang melihat wajah Annisa ?


Aku melirik dengan penuh rasa tak percaya.


Ingin rasanya aku menegaskan kembali penglihatanku untuk menatap wajah wanita tersebut,namun rasanya aku merasa canggung dan tidak etis jika aku harus memperjelas penglihatanku ini ke arah wajah wanita tersebut.


Aku tetergup menatap buku yang hendak ku baca,entah kenapa antensiku menjadi terbagi dua atas apa yang telah aku lihat.


Lalu kemudian Aku menggeser kembali bola mataku ke ujung kiri,sekilas wanita itu terlihat sedang sibuk merapihkan bawaanya dan memeriksa isi dari tasnya tersebut,dia mengeluarkan alat-alat gadgetnya dan......,


Pluukkk......


Tiba-tiba Sebuah ID cart jatuh tepat di samping kakiku dan aku pun dengan respek meraih Id cart tersebut.


Belum sirna dengan keterkejutanku atas wajah si pemilik suara lembut itu,kini aku di kejutkan kembali,dan rasa terkejut itu pun semakin memuncak ketika aku tak sengaja membaca biodata yang tercantum di ID cart tersebut yang bertuliskan nama wanita tersebut,dan nama itu pun nama perempuan yang begitu sangat aku cintai.


ANNISA.