
IKRAR.......
DENGAN persiapan yang serba mendadak aku berusaha melalui proses ini dengan baik,tak banyak waktu serta persiapan yang aku miliki untuk saat ini,di benakku hanya ingin memiliki perempuan sederhana itu secepatnya,hanya sebuah tekad yang kumiliki saat ini untuk menikahi seorang Annisa secepatnya.
Yea aku sadar ini bukanlah sebuah Ambisi untuk mendapatkan sesuatu yang aku inginkan,ini lebih ke niat suciku ingin menyempurnakan keyakinanku dengan menikahi Annisa.
Entah kenapa aku memiliki firasat yang tak biasa akan kondisinya Annisa,namun aku berharap besar jika Annisa akan pulih dari rasa sakitnya yang membelenggunya saat ini.
Adam datang bersama tiga orang yang tidak sama sekali aku kenal,dia pun memperkenalkan ketiga orang tersebut kepadaku,dan di antaranya adalah seorang penghulu dan dua orang saksi atas pernikahanku.
" Pak Joan Ini adalah Bapak Ali penghulu pernikahan nya Bapak, dan ini Bapak Rahmat saksi dari pernikahannya Bapak." Jelas Adam memperkenalkan ketiga orang tersebut.
Akupun bersalaman dengan mereka dengan penuh hormat.
" Dan ini pak Nurdin pak,beliau adalah orang tua angkat saya " sela Adam kembali.
" Assalamualikum Pak.." sapaku dengan hangat.
" Walaikumsalam Nak Joan." balas Pak Nurdin dengan tersenyum ramah.
" Adam,terimakasih banyak kamu sudah mau membantu ku dalam proses pernikahan ini.." ucapku dengan perasaan penuh haru.
" Sama-sama Pak, saya bahagia Bapak mau dan berkenan menikah dengan Kakak saya dengan kondisi yang begitu memilukan,dengan senang hati saya akan menolong bapak." balas Adam dengan tersenyum penuh kehangatan.
Aku tersenyum lega,rasanya perasaan ini begitu sulit aku ungkapkan dengan apapun.
" Dan saya sendiri yang akan menjadi wali atas pernikahan nya Kak Annisa." jelas lagi Adam dengan terlihat penuh rasa kebahagiaan.
Aku hanya mengangguk pelan menatap Adam yang begitu tulus menolongku dalam proses pernikahan ini,proses dimana aku akan menikahi perempuan impianku selama ini yang begitu tanpa ada persiapan apapun.
" Baiklah,apakah sudah bisa di mulai...?" tanyaku semeringah dengan perasaan tak sabar,
Adam mengangguk pelan,ia tersenyum penuh dengan perasaan senang melihat antusiasku yang begitu tinggi.
Rasanya aku tak perlu lama-lama lagi untuk bertanya banyak hal akan kadaan yang akan segera berlangsung sekarang ini,karena aku telah menyerahkan sepenuhnya permasalahan ini kepada Adam,dan aku berharap akan ada campur tangan Tuhan,sehingga proses ini berjalan dengan baik.
Untuk saat ini aku hanya berpikir keras gimana caranya agar aku segera bisa memeluk serta mendekap erat tubuh perempuanku ini tanpa ada batasan yang menghalangi.
" Baiklah,kita akan mulai sekarang ya.!" ucap Pak penghulu seraya duduk di hadapanku.
Aku menoleh ke arah Annisa yang terbaring lemah dan
ia menatapku dengan tatapan nanar, sebuah kain panjang bermotif brukat putih menutupi kepalanya.Raut wajah yang pucat itu kini terlihat sedikit berseri,entah apa yang ada di dalam benaknya saat ini,tapi
aku yakin Annisa merasakan kebahagian atas pernikahannya ini.
Bibir mungil Annisa tergerak dan sepertinya Annisa sedang menyampaikan sesuatu hal ke padaku,terlihat garis bibirnya bergetar dengan cepat dengan menatapku lurus seolah-olah ia merasakan apa yang aku rasakan saat ini,namun sayang aku hanya mampu terdiam seraya memandanginya dengan hati yang terluka.
Aku bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari raut wajahnya Annisa,meski raut wajahnya terlihat pucat pasi.
" Aku akan segera menujumu perempuannku.." bisik batinku pelan.
" SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN KAKAK KANDUNG SAYA YANG BERNAMA ANNISA MARYAM BIN SAMSULBAHRI KEPADA ENGKAU, JOAN JONATAN DENGAN MAHAR SATU GRAM EMAS DI BAYAR TUNAI." Ucap Adam dengan lantang.
" SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINYA ANNISA MARYAM BIN
SAMSULBAHRI DENGAN MAHAR SATU GRAM EMAS DI BAYAR TUNAAIII !!" sambungku tak kalah lantang.
Sontak seluruh aliran darahku berdesir hebat melaju menelusuri tiap pernadianku.
" Gimana semuanya,sah...?" tanya seorang penghulu membagikan pandangannya ke arah para saksi.
Kedua saksi tersebut mengangguk pelan.
" SAH !! " Ucap kembali pak Penghulu mengesahkan pernikahanku dengan Annisa.
Adam terlihat mengangguk-ngangguk seraya tersenyum dengan perasaan lega.
" Alhamdulillah." sahut Pak Nurdin dengan penuh rasa haru.
" Barrakallah." sang penghulu mengakhiri dengan sebuah do'a yang khidmat.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku,aku mengucapkan sebuah ikrar janji suci yang begitu sakral,dan momen pernikahan ini sungguh di luar ekspetasiku,apa yang selama ini aku banyangkan tentang sebuah pernikahan tentunya aku membayangkan yang begitu spesial di momen seumur hidupku,tapi kenyataanya aku melangsungkan pernikahanku di momen yang penuh haru serta dramatis.
Aku menikah dengan kondisi persiapan yang super instan,sehingga persiapanya penuh dengan kejutan.
Namun meski seperti ini,tidak sedikitpun mengurasi rasa bahagiaku yang begitu dalam atas pernikahan ini,yaa meski aku baru menikah secara agama namun aku sangat bahagia karena ALLAH telah mempermudah segala urusanku.
Sungguh ALLAH telah merencankan sedemikian rupanya takdir dan jalan hidupku tanpa bisa aku menerka sebelumnya.
Aku semakin percaya akan KaruniaNYA yang sangat nyata dengan atas segala Do'a yang kupanjatkan selama ini untuk kesembuhan Annisa,dari mulai ia dalam ke adaan koma hingga kini ia sudah sadarkan diri.
Walaupun Annisa sama sekali tidak bisa membalas semua apa yang aku ucapkan dengan sempurna,namun aku mampu memahami apa yang di sampaikannya dengan keterbatasan kesehatannya dan aku tau percis jika Annisa memiliki perasaan yang sama terhadapku,dan ia pun menerima rasa cinta ini dengan tulus hati.
Aku menoleh ke arah Annisa yang tersenyum hampa dengan alat-alat masih masih membatu dirinya,aku tersenyum dan kuraih tangannya yang terkulai lemah lalu kusematkan cincin di jari manisnya dengan perasaan yang begitu haru.
Ku tatap wajahnya dengan lembut dan Annisa hanya mampu tersenyum getir di tengah tangisan harunya dengan bibirnya terkatup-katup.Lalu dia menatapku dengan tatapan yang penuh rasa pilu akan kebahagiaan yang di warnai dengan rasa duka yang begitu dalam di benakku.
Semua yang hadir di ruangan tersebut ikut merasakan atas apa yang aku rasakan bersama Annisa,pernikahan yang begitu dramatis,penuh dengan keharuan yang begitu dalam.
" Istriku." lirihku dengan menatap sendu ke arah Annisa,dengan repleks aku mengenggam erat tangannya,tangan itu terasa lembut dan dingin, Annisa terdiam menatapku tak berdaya,ia tak mampu membalas gengamanku,hanya saja ruas jarinya tergerak sedikit kuat di jariku.
Annisa menatapku dengan nanar seolah-olah ada rasa yang terlepas dari hatinya yang kini tengah menuju ke dalam hatiku.
Annisa terbaring lemah tak berdaya ia mencoba melawan kegetiran di hatinya dengan harapan baru,berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya bisa pulih kembali.
" Pak Joan." Panggil Adam lirih.
Aku menoleh ke arah Adam.
" Panggil saja aku Kakak,karena kini aku telah menjadi Kakak iparmu serta menjadi suami sah dari Kakakmu Annisa." ucapku tersenyum haru ke arah Adam.
" ............."
Adam terhenti ia tak mampu untuk berbicara,dan ia pun segera merangkulku dengan hangat, isak tangisnya pecah di pelukanku, ia menumpahkan segala kebahagiaan yang tak bisa lagi di ungkapkan dengan apapun.
" Terimakasih Kak Joan.Kak Joan bersedia menikahi Kak Annisa dengan kondisi seperti ini " Isak Adam semakin haru di dalam pelukannku.
" Aku tidak akan pernah menyesali pernikahan ini,karena Kakakmu adalah anugrah terbesar dalam hidupku dan Annisa adalah Bidadari surgaku." Ucapku lirih.
Adam terisak lembut.
" Annisa pelita kecil dalam hidupku yang cahanya akan membekas dalam hatiku,dia adalah jalah hidayahku dan dia adalah Takdir hidupku." sambungku kembali dengan terus mencoba menyakinkan Adam yang masih terisak bahagia di pelukannku.
perlahan Adam melepaskan pelukannya lalu ia menatapku dengan penuh kebanggaan.
" Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak Pak Joan...., Eehh Astagfirullah saya masih lupa saja maksud saya terimakasih banyak Kak Joan atas segalanya " Ucap Adam dengan tersipu malu di tengah-tengah isakannya dan meralat kesalahannya dalam memanggil namaku.
Aku tersenyum lucu ke arah sikap polosnya Adam.
" Sama-sama Adam " Jawabku pelan seraya tersenyum simpul.
" Semoga pernikahan Kak Joan dengan kak Nisa menjadi pernikahan yang sakinah Mawwadah Warrahmah,serta penuh kebahagiaan hingga menuju JANNAHNYA.Aamiin !!" Ungkap Adam dengan tetap menatapku dengan rasa haru.
" Aamiin !! aku juga sangat berterimakasih atas segala bentuk pertolongan kamu dalam mengupayakan proses pernikahan ku ini,aku tidak menyangka aku akan menikah secepat ini." balasku tersenyum simpul.
Adam mengangguk dengan tersenyum bahagia.
Lalu aku menoleh ke arah Annisa yang berada di sampingku,aku menghela lalu menatapnya dengan intens.
" Annisa...." panggilku lirih seraya kembali meraih kembali tangannya.
Annisa tersenyum lembut dengan mata yang masih terlihat basah.
" Jangan menangis lagi simpan air mata kamu untuk kebahagiaan kita nanti karena aku yakin ALLAH akan memberi mu kesembuhan.Percayalah tidak akan ada do'a yang sia-sia !!" ucapku lirih seraya mendekatkan wajahku ke wajahnya.
Hembusan napasnya yang terasa hangat menyapu wajahku lalu ku seka airmatanya dengan lembut dan kutatap dalam raut wajah perempuannku yang begitu amat iba menatapku.
" Ak.....Ak...U...." Ucap Annisa terbata-bata.
" Sssstt,kamu tidak perlu berbicara apa yang kamu raskan,karena aku merasakan apa yang kamu rasakan, aku tulus mencintaimu dari hatiku yang paling dalam." ucapku terbata,Annisa tersenyum rapuh,dan tak lama untuk yang pertama kalinya aku mengecup lembut keningnya.
Ada yang tak biasa aku lakukan saat kecupan pertamaku mendarat di dahi Annisa,dan hal itu menjadikan aku seperti seseorang lelaki yang jauh lebih terhormat,ada kebahagiaan tersendiri ketika aku menyentuh perempuan yang kini sudah menjadi hak aku seutuhnya.
Padahal jika sebelumnya aku mengira jika kecupan dikening itu hanya terkesan biasa saja di banding aku mencium penuh hasrat bibir-bibir para mantan kekasihku, tapi entah kenapa perasaan ini lebih jauh terhormat dengan perlakuan yang aku lakukan terhadap Annisa di banding kepada perempuan di luar ikatan yang sah denganku,dan hal ini sungguh sangat luar biasa bisa aku rasakan.Kecupan terindahku.
" Kak Joan kalau begitu saya pamit keluar dulu sebentar,untuk mengantar pak pengulu serta bapak pulang,mereka masih menunggu di luar. " Ucap Adam berpamitan untuk keluar sebentar.
Aku mengannguk dengan tersenyum tipis,aku paham sepertinya Adam tidak ingin mengganggu waktuku bersama perempuanku yang baru saja aku tikahi.
Adam melangkah keluar,meninggalkan aku dan Annisa.
Aku menoleh kembali ke arah perempuanku yang sedari tadi menatapku dengan tatapan sendu dengan hiasan senyuman yang mulai memudar seiring rasa sakit yang di deranya.
" Annisa !" Panggilku pelan lalu kuraih tangannya dengan perasaan tenang tanpa ada perasaan was-was lagi.
Annisa menatapku dengan penuh manja.
Aku menatap dalam wajah pucatnya,dan tiba-tiba saja aku melihat matanya berkaka-kaca hingga kaca-kaca tersebut mengalir bening ke ujung sudut matanya.
Dan buliran butir bening tersebutpun satu persatu menitik membasai bantal putihnya.
Aku tak sampai hati melihatnya,tangisan penuh makna.
" Annisa,ku mohon kamu jangan menangis !" Ucapku menyeka air matanya di ujung sudut matanya yang semakin basah.
" Kini aku sudah halal bagimu." ungkapku lirih,aku mendaratkan sebuah kecupan lembut di dahinya yang kian terasa begitu dingin.
Annisa terdiam dengan senyuman getirnya,menatapku dengan sorot mata yang begitu lemah.
" Aku berharap,aku bisa membahagiakan dirimu dalam keterbatasan ini,meski aku terlambat menjemputmu untuk bahagia tapi aku yakin,jika saat ini akan menjadi sebuah moment yang begitu istimewa dalam kehiduapn mu." ungkapku seraya membelai lembut rambutnya yang mulai terlihat menipis.
Annisa hanya menggerakan garis bibinya mengulas senyuman yang penuh makna dengan di selingi ringisan kesakitan,ia terlihat merasakan sebuah kesakitan yang teramat dalam, sungguh membuatku semakin tak sampai hati melihatnya,perempuan ini begitu sangat istimewa yang tercipta untukku,perempuan hebat serta Sholehah.