
ANNISA terlihat memasang wajah cape,lalu ia pun menghempaskan tubuhnya di sebuah kursi dan ia memilih beristirahat sekaligus makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari Afartemennya.
Hari ini Annisa cukup di sibukan dengan berbagai pekerjaan dan tugasnya sebagai Dosen sekaligus guru privat,meski ia sudah menjadi seorang Dosen,tapi dengan senang hati ia menerima beberapa murid yang ingin belajar secara pribadi dengan dirinya.
Seraya menunggu pesanannya datang Annisa memilih untuk membaca Al-quran seraya melepas rasa penatanya.
tak lama ia pun larut dalam bacaanya yang begitu khusuk.
" Annisa !" Sapa seseorang tersenyum hangat ke arah dirinya.
Tanpa Annisa sadari ada seseorang menghampirinya dan memanggil namanya.
Annisa mendongkak lalu menatap lurus ke arah wajah seseorang tersebut,Annisa menatap lekat ke arah wajah seseorang tersebut,lalu beberapa saat kemudian dia pun nampak tersenyum ramah kepada seseorang tersebut.
Annisa tidak menjawab dia hanya tersenyum sambil mengangguk dengan sikap sopannya.
Seseorang itu terlihat Kaku sekaligus canggung.
" Kamu sendiri ?" Tanya seseorang itu yang tiada lain Joan.
" Ya." Jawabnya singkat,ia mulai merasakan detakan jantungnya berdetak hebat,namun ia mencoba untuk menguasai dirinya.
Annisa kembali menatap Al-Qurannya tanpa menghiraukan keberadaan Joan.
Joan terlihat melongo ke arah buku tebal yang tengah di baca Annisa,mungkin ia sedah berpikir, entah buku apa yang sedang di baca oleh Annisa.
Annisa mulai merasakan hawa panas di seluruh tubuhnya ketika Joan masih berdiri di hadapannya.
" Kamu lagi baca apa ?" Tanya Joan dengan penasaran.
Annisa menjeda kegiayatanya.
" Hmm...Aku sedang mengaji." Balas Annisa pelan.
" Oh." ucap Joan menggantung,sepertinya laki-laki tampan itu mulai kehilangan topik pembicaraan.
" OH ya.Sepertinya aku sering melihat kamu di sekitar kantorku,apa kamu tinggal di sekitar Afartemen sebrang kantorku ?" tanya Joan yang semakin penasaran akan sikap diamnya Annisa,Joan berusaha menarik perhatian nya Annisa.
Annisa kembali menatap Joan dengan datar.
" Ya." jawab Annisa kembali singkat membuat laki-laki itu semakin kikuk di buatnya.
"Hmm....,boleh aku duduk di sini ?." tanya ku dengan sopan,aku berharap dia mau mengizinkan aku duduk di kursinya.
Annisa menghentikan kegiatannya lalu menatap dalam ke arah Joan dengan berbagai perasaan dibenaknya.
Bagaimana bisa laki-laki itu memintanya untuk duduk di dekatnya,sementara dirinya berusaha menahan serbasalah yang kini mendominasi perasaanya.
Dengan ragu Annisa mempersilahkan Joan untuk duduk.
" Silahkan !!" balas Anisa tersenyum lembut ke arah Joan.
" Oh MY GOD !! senyumannya benar-benar cantik sekali."
Annisa kembali melanjutkan kegiatannya mengaji tanpa sedikitpun peduli akan kehadiran laki-laki tersebut yang sedari tak lepas menatapnya.
Joan memperhatikan dengan seksama lukisan wajah perempuan yang tengah ada di hadapan nya tersebut.
Anisa sedikitpun tidak menyadari jika sedari tadi laki-laki itu sibuk mengagumi kecantikannya,tapi Annisa terkesan acuh sehingga ia memilih untuk terus membaca buku kecil itu dengan begitu serius.
Sejenak hening.
" Oya ternyata kamu seorang Dosen ya?" tanya Joan kembali mengajak berbicara.
Annisa melirik ke arah Joan dengan sedikit heran.
" Oh Iya,." jawab Annisa kembali singkat dengan mengulas senyuman tipisnya.
" Luar biasa,masih muda tapi sudah mejadi seorang Dosen.Aku kagum kepadamu." ungkap Joan menatap lekat ke arah Annisa.
" Alhammdulillah,dan terimakasih atas pujiannya." balas Anisa tersenyum manis ke Joan sehingga semakin membuat bersemangat mengajak berbicara kepada Annisa.
" Joan !"
tiba-tiba terdengar teriakan kecil dari arah belakang mengejutkan Annisa dan Joan.
Keduanya menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
" Macam mana ini ?you cakap nak ke toilet tapi kenapa you malah duduk disini ?" ujar perempuan berbadan mungil itu sedikit menggerutu.
" Sorry Jerica,aku berte...," ucapa laki-laki itu tak lantas,dengan cepat perempuan bertubuh mungil itu memotong ucapannya.
" Siape nih perempuan ini ?." tanya perempuan itu menatap tajam ke arah Anisa.
Joan terlihat menghela dengan perasaan tak enak hati.sorot mata perempuan itu terlihat menuduhku dengan berbagai prasangka.
" Dia..." Ucapan Joan terbata.
Perempuan itu semakin menatap tidak suka ke arah Annisa.
" She is my friend." jawab Joan singkat seraya menoleh ke arah Annisa yang mulai memperhatikan kehadiran perempuan tersebut.
" Dia teman you ?? " tanya perempuan itu terlihat shok.
Annisa mengernyitkan kedua alisnya,entah kenapa ia menduga jika perempuan bertubuh mungil ini adalah some one spesialnya Joan.
Sedikit kecewa memang,tapi apalah daya laki-laki yang ada di hadapannya kini bukanlah siapa-siapanya dia,jadi tidak mungkin jika dia harus cemburu dengan kehadiran perempuan asing tersebut.
" Sayang,sejak bila you beteman dengan perempuan macam nih,aneh sekali penampilannya ?" tanya perempuan itu menatap sinis ke arah Annisa.
" No Jerica !plis jangan berkata seperti itu." sergah Joan dengan cepat,ia berusaha untuk menutup mulut peempuan itu untuk tidak berbicara sembarangan.
Annisa menatap perempuan itu dengan ujung matanya,berusaha untuk mengalihkan perhatiannya walau dalam hatinya ia merasa tersinggung dengan ucapan perempuan asing tersebut.
Perempuan itu menatap Joan dengan penuh ancaman.
" Ow really this is your frend ?" tanya perempuan itu kembali bertanya dengan menatap Joan tak percaya.
" ya." jawab Joan singkat.
Annisa menatap ke arah Joan dengan berbagai perasaan,seolah-olah ia bertanya dengan apa yang sedang terjadi.
" Ok.Ay tanya sekali lagi, sejak bila you mempunyai kawan macam dia ?" tanya kembali perempuan tersebut dengan menatap judes ke arah Anisa.Sontak pertanyaan perempun itu membuat Annisa terkesiap lalu ia pun menatap panjang ke arah perempuan asing tersebut yang masih menatapnya dengan tatapan tidak suka.
" Jerica,tolong jaga sikap kamu,tak malu nampak di orang." sergah Joan mengingatkan,dia pun menarik tangan perempuan itu untuk tidak bersikap arogan terhadap Annisa.
" Sayang,macam mana ay bisa jaga sikap bila you tak jujur pada ay." Sela Jerica dengan sikap manja.
Annisa terlihat menatap muak ke arah perempuan tersebut,namun ia berusaha bersikap tenang.
Joan terlihat berusaha menenangkan perempuan tersebut dari prasangka buruknya.
Melihat sikap tak menyenangkan dari perempuan tersebut,sontak membuat Annisa merasa tak nyaman selera untuk makan siangnya lenyap seketika,Annisa mengeluarkan selembar uang lalu di simpannya di atas buku Menu tersebut lalu beranjak dari duduknya.
" Maaf,saya permisi !" pamit Anisa seraya bangkit dari duduknya lalu merapihkan beberapa benda miliknya yang berada di atas meja tersebut,tak lama ia pun segera pergi meninggalkan Joan beserta perempuan Asing itu dengan begitu saja.
Joan merasa bersalah ketika melihat reaski Annisa yang cukup terganggu atas kehadiran kekasihnya tersebut.
" Annisa.!" panggil Joan cukup keras.
Annisa bergegas keluar dari Restoran tersebut dengan perasaan kecewa,entah kenapa ia merasa jika laki-laki itu membohonginya jika dirinya telah memiliki kekasih,dan itu artinya ia sangat berdosa jika harus berharap banyak terhadap lelaki tersebut.
Ada banyak perasaan kesal menumpuk di dalam hatinya ketika perasaanya mulai di rasa sia-sia,ia tak ingin kecewa dengan perasaan yang tak pasti.
Annisa menoleh ke arah Joan dan perempuan itu yang terlihat kini sedang berselisih paham,entah apa yang mereka perbincangkan,ia sama sekali tak ingin banyak tau tentang mereka.
Annisa terlihat sibuk dengan pekerjaanya di dapur,dengan mengenakan sebuah celemek,ia berjibaku dengan masakannya,ia sedang menyiapkan makan malam untuk sang Adik.
" Kak Annisa." panggil Adam yang baru saja tiba berdiri di belakang Kakaknya.
Annisa menoleh lalu kembali melanjutkan kegiyatannya.
" Kamu baru pulang ?" tanya Annisa pelan.
" Iya Ka,rasanya capek banget hari ini." keluh Adam menghela panjang.
" Syukuri saja,tak ada pekerjaan yang tak beresiko cape,di luar sana masih banyak orang-orang yang mengidam-idamkan atas pekerjaanmu itu." balas Annisa seraya mengiris-ngiris salah satu bumbu dapur.
Adam tersenyum,apa yang di ucapkan Kakaknya ada benarnya.
" Adam sekarang di tempatkan di bagian Marketing pemasaran Kak,jadi ada beberapa hal yang harus Adam pelajari dari pekerjaan ini,salah satunya Adam selalu bertukar pikiran dengan salah satu staf penting di perusahaan Adam bekerja." jelas Adam tersenyum penuh arti.
Annisa menghentikan kegiyatannya lalu menatap takjub ke arah adiknya tersebut.
" Oya ?? Jadi kamu sekarang sudah naik jabatan toh ceritanya.Bagaimana bisa mereka merekrut kamu menjadi tim anggota pemasaran,sedangkan kamu awalnya hanya seorang office Boy ?" tanya Annisa menatap heran ke arah adiknya tersebut.
Adam tersenyum penuh rasa bangga melihat ketajuban sekaligus keheranan sang Kakaknya.
" Allah maha baik,dan nasib baik sedang berpihak kepadaku Kak," balas Adam tersenyum bahagia.
" Itulah kenapa Kakak selalu mengajarkan tentang sebuah keuletan serta kegigihan dalam sebuah pekerjaan,karena hasil tidak akan pernah menghianati usaha.Jika ada sebuah mutiara tertimbun lumpur,maka ia akan tetap bersinar walau sekotor apapun yang menimbunnya." ucap Annisa tersenyum.
Adam menggeleng,ia salut dengan apa yang di katakan Kakaknya tersebut,kata-katanya selalu mengena di hati.
" Jadi Kakak menganggap Adam ini sebuah mutiara ?? " tanya Adam menggoda sang Kakak.
" Kegigihan dan keuletan kamu bak mutiara." sergah Annisa menggeleng kesal.
Adam tersenyum,ia berhasil membuat sang Kakak kesal kepadanya.
Adam terkekeh melihat aksi sang Kakak.
" Oya,apa yang akan kamu sampaikan kemarin sama kakak." tanya Annisa menoleh ke arah adiknya yang kini tengah duduk di meja makan.
" Yaa Ini,masalah ini,tentang pekerjaan barunya Adam,tapi Kak....," Adam menjeda dengan membantu membersihkan sayuran yang hendak di masak Kakaknya.
" Tapi apa ?" sela Annisa dengan penasaran.
" Tapi ada sesuatu hal yang lain yang ingin ada sampaikan sama Kakak." ujar Adam seraya tangannya kini memainkan sebuah benda.
Annisa menoleh lalu menatapnya dengan berbagai tuntutan.
" Mengenai apa ?" tanya sedikit penasaran.
" Kak Nisa,Apakah Kak Nisa mengenal seorang leleki di perusahaan tempat Adam bekerja ?" tanya Adam dengan raut wajah lebih serius.
Annisa memicing menatap penuh wajah sang adik.
Annisa terlihat berpikir lebih dalam dengan apa yang di katakan adiknya tersebut.
" Kakak rasa,kakak tidak mengenali satupun laku-laki yang bekerja di perusaahan tempat kamu bekerja." jelas Annisa dengan pasti.
" Lalu kenapa pak Joan mengenal Kak Annisa ?" tanya Adam menatap penuh ke arah Kakaknya.
Annisa menjeda kegiatannya lalu mencoba mengingat nama tersehut.
" Joan ?" tanyanya sendiri seraya menoleh ke sang adik.
" Ya,Pak Joan,salah satu staf penting di perusahaan tempat Adam bekerja dan dia seorang Arsitek dari Singapur." jelas Adam dengan detail.
Annisa mencoba mengingat kembali nama laki-laki tersebut,Joan ? Joan ? bukankan itu adalah nama laki-laki yang selama ini tengah menjadi pusat perhatiannya.
Yaaa... Nama laki-laki itu Joan,ia ingat laki-laki tersebut memperkenalkan diri atas nama Joan.Annisa telah menyimpulkan dengan pasti.
Annisa tak percaya ternyata laki-laki tersehut berasal dari negara tetangga,pantas saja penampilan laki-laki tersebut sedikit berbeda.
Annisa terdiam,ia terlihat menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
" Hmm,,Kak Nisa rasa,Kak Nisa tidak mengenalnya siapa itu Joan,lalu ada apa dengan dia ?" tanya Annisa sedikit berpura-pura.
" Dia menayakan banyak hal tentang Kakak,mungkin Kakak mengenal orangnya,tapi Kakak tidak tau namanya." balas Adam tersenyum menggoda sang Kakak.
Annisa menelan kuat slavinanya,sepertinya Adam mulai mencurigai atas perasaanya.
" Sungguh Adam,Kak Nisa tidak begitu mengenal banyak laki-laki,kamu bisa melihat jika Kakak tidak pernah berteman dengan laki-laki manapun,bahkan bertemu dengan seorang laki-laki saja Kakak tidak kan ?" sergah Annisa berusaha mencari alasan untuk menutupi perasannya.
" Tapi kenapa pak Joan nisa kenal sama Kakak,bahkan dia bertanya sama Adam,apakah Kakak sudah memiliki pasangan atau kekasih ?" ujar Adam terlihat bingung.
Sontak Annisa terpana dengan ucapannya sang Adik,apa maksud dari pertanyaan laki-laki itu terhadapnya,dan tujuan dia apa mencari tahu tentang dirinya.
" Lalu kau jawab apa ? " tanya Annisa sedikit cemas.
" Ya tentu saja Kakak belum memiliki pasangan atau kekasih,dan itu benarkan ?" ujar Adam dengan menatap penuh arti.
Annisa membuang wajahnya,ia berharap sang adik tidak melihat reaksi penuh raut wajahnya,entah kenapa ia begitu bahagia mendengar kejujuran sang adiknya.
tapi......
Bukankah laki-laki tersebut telah memiliki pasangan ? untuk apa dia mencari tahu tentangnya ??
pikir Annisa dengan penasaran.
" Dan pak Joan juga meminta Adam untuk menjelaskan tentang agama yang di anut oleh kita." ucap lagi Adam polos.
" Kenapa dia seperti itu ?" tanyaku sedikit terkejut.
" Yaa secara pak Joan kan non muslim Kak,mungkin ia tertarik kali dengan ajaran agama kita." balas Adam dengan santai.
Annisa semakin berpikir keras tentang sosok laki-laki tersebut.
Annisa menghela,ia mulai merasa resah akan perasaannya sendiri,rasanya tak mungkin ia berterus terang akan perasaanya terhadap Joan kepada sang Adik.
Namun ada yang lebih membuatnya berpikir ulang,ia tidak mungkin meneruskan perasaanya terhadap sosok laki-laki tersebut,terlalu banyak rintangan menghadangnya.
Banyak perbedaan yang membuatnya tersadar,jika Tuhan telah menunjukan siapa sosok laki-laki tersebut.
Annisa merasakan perasaan yang berat,apa yang selama ini ia takuti terjadi,bahwa di akan kecewa tanpa alasan.
Sebelum ia melangkah jauh akan perasaanya,Tuhan maha baik,mengubah sisi perasaanya dengan hal yang tak pernah ia ketahui,kini perasaan itu seolah-olah berubah 180° hingga ia merasakan sebuah kekecewaan yang begitu dalam.
.................